
"Siapa kamu?" tanya David menatap tajam ke arah wanita cantik bergaun merah yang sedang berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
Deg!
Kania langsung tersadar dari lamunannya. Kini raut wajahnya tampak gugup dan juga kebingungan.
"H-hay, kamu sudah bangun?" tanya Kania tergagap. Dengan tersenyum manis, sebisa mungkin ia bersikap normal seperti tidak pernah terjadi sesuatu di hari kemarin.
Padahal kalau boleh jujur, hatinya kini terasa deg-deg ser tidak karuan. Ia sangat gugup dan juga ketakutan sedang menduga jangan-jangan lelaki itu sudah melihat wajah Tiana semalam.
Perlahan wanita itu berjalan mendekati David yang masih terbengong terus menatapnya kebingungan.
"Tunggu-tunggu-tunggu! Sebenarnya kamu ini siapa? Dan kenapa pula kamu berada di sini, huh?" bentak David. Ia merasa sangat yakin kalau wanita yang ada di hadapannya ini bukanlah Kania.
Lelaki berparas tampan itu masih mengingat dengan jelas bagaimana rupa wajah Kania semalam jelas sangat berbeda jauh dengan wanita ini. Ya, walaupun dengan sekilas kalau dilihat dari postur tubuhnya yang ramping, warna rambut dan mata kecokkatan milik keduanya memang hampir sama. Tetapi setelah ia membuka maskernya semalam, jika dibandingkan wajah mereka jelas berbeda jauh.
Kalau gadis yang semalam mempunyai hidung mancung tapi mungil, bibirnya tipis dan pipinya agak cabi dan pandangan matanya sangat lembut dan sayu. Sehingga membuat gadis itu lebih terlihat cantik, imut dan menggemaskan.
Sedangkan wanita ini mempunyai hidung mancung ataupun bangir, bibirnya agak tebal sensasional, pipinya tirus, dagunya juga lancip dan sorot matanya terlihat tajam dan angkuh. Jadi wajah wanita ini lebih terkesan dewasa san seksi.
Dan satu lagi, suara mereka juga jwoas berbeda sekali. kalau yang semalam suaranya begitu lembut enak terdengar di telinga. Sedangkan dia keras ataupun cempreng membuat telinganya seperti ditusuk-tusuk saja mendengarnya. Ya akan lain lagi apabila dia sedang mendesah mungkin akan terdengan sangat seksi dan menggoda sekali.
"Aih ... kenapa aku malah jadi terbayang dengan ******* gadis yang semalam itu?" rutuknya diam membatin.
"Ya ampun, David! Masa kamu lupa sama istri sendiri? Baru juga kemarin kita menikah. Dan ... a-pakah kita semalam--" belum sempat Kania menyelesaikan ucapannya. Terlebih dahulu David menyelanya.
"Hah! Istri?" Jelas David langsung terpekik kaget.
"I-iya. aku ini Kania, David!"
"Apa, Kania? Kamu ini ngigau ya? Ngaku-ngaku jadi istri aku." Pria itu tertawa miring dengan sinis menatap tidak percaya.
"Tuh, kan. Jangan-jangan semalam David sudah melihat wajah Tiana. Dan berarti tadi Tiana telah berbohong? Awas aja kamu Tiana! Akan kuberi pelajaran nanti!" Dengan sangat geram gadis itu terus membatin kesal.
__ADS_1
"Jika dia sudah melihat wajah Tiana, terus sekarang aku harus bagaimana ini?" Kania mulai gusar. "Huff... tenang-tenang, kamu harus tetap tenang, Kania! Ayo cepatlah berpikir!"
"Em, jadi begini David. Mungkin karena kemarin aku memakai masker, sehingga kamu tidak mengenaliku sekarang," ujar Kania berusaha untuk meyakinkannya.
Untuk sesaat lelaki itu terdiam merasa sangat kebingungan. Di dalam hatinya sedang berpikir dan mencoba untuk mencerna ucapannya gadis itu.
Lalu di detik berikutnya, ia merasa sedikit syok ketika ia teringat dengan beberapa kejadian ataupun sikap aneh dari gadis yang kemarin.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dia mengaku sebagai Kania? Jika dia adalah Kania, lalu gadis yang semalam itu siapa?" ujar David dalam hati.
"Atau ... jangan-jangan ini ada kaitanya dengan semua kejadian tadi malam? Hem ... benar-benar sangat membingungan. Dan aku curiga, mereka kini sedang merencanakan sesuatu hal yang buruk kepadaku."
"Oke, untuk saat ini mungkin aku akan berpura-pura bodoh saja dan akan mengikuti skenario wanita ini. Aku ingin lihat sebenarnya apa tujuan mereka semua?" pikir David.
"Oh, begitu ya. Sorry, mungkin karena aku mabuk semalam. Sehingga tidak begitu bisa mengingat wajahmu dengan jelas," ujar David dengan memasang raut wajah yang bodoh, pria itu cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan ia pun mengarang cerita agar gadis yang sedang berdiri di samping ranjangnya itu tidak merasa curiga padanya.
"Ya gak papa, kok. Berarti ... apakah semalam kita telah--" Sembari menunjuk ke arah dada telanjang laki-laki itu, Kania menggantung ucapannya.
"O-oh, i-iya. Semalam karena aku mabuk berat jadi aku minta maaf, ya! Mungkin secara tidak sadar aku telah bermain kasar sama kamu." Sambil tersenyum licik, lelaki itu terus bersandiwara.
Deg!
"Apaa?! Dasar brengsek! Sialan kau Tiana! Berani-beraninya kamu membohongiku! Berarti benar dugaanku, kalau semalam mereka telah melakukan malam pertama." Tangan Kania langsung mengepal dengan keras. Di dalam hatinya terus mengumpat, merasa sangat marah pada Tiana.
"Untung saja, David dalam keadaan mabuk. Kalau tidak, pasti sekarang urusannya jadi gawat nih. Bisa saja si David ini langsung membatalkan pernikahan ini. Dan aku gagal menjadi seorang nyonya dari David Abrahan." Wanita berambut pirang itu masih terus terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sehingga membuat David semakin menatapnya aneh. "Hallo ... kok malah diem aja?" tegurnya.
Kania langsung terkesiak kaget dan tersadar dari lamunannya. "Oh, gak. Apa gak sebaiknya kamu mandi dulu. Nanti setelahnya kita sarapan, Ok?"
"Ok, kalau begitu aku mau mandi sekarang." Kemudian dengan tanpa rasa malu ataupun risih, David langsung beranjak dari tempat tidur dan segera berjalan menuju kamar mandi.
Sehingga membuat Kania yang menyaksikan tubuh polosnya itu pun langsung membekalakan mata terperangah melihatnya.
__ADS_1
"Wah ... gila. Tubuhnya benar-benar macho dan seksi sekali!" ujar batinya sambil menelan ludahnya kasar.
Sebelum David turun dari ranjang, ia sempat menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur. Lalu ia bawa masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu sudah berada di dalam kamar mandi, dengan bergerak gusar lelaki itu kini berjalan mondar mandir di depan sebuah westafel dengan cermin besar di dekatnya.
Lalu dengan ponsel yang sengaja ia bawa tadi, David segera menghubungi seseorang.
"Hallo, Ren. Cepat kirimkan foto Kania yang diberikan Papa dulu!" titahnya.
"Ya, baik, Bang," jawab si orang tersebut
Ting!
Tak perlu menunggu lama terdengar ada suara notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Dengan segera lelaki itu membuka pesan tersebut. Dan benar saja, di layar ponselnya itu ia melihat ada foto Kania yang asli di sana.
"Hah! Jadi dia adalah Kania yang asli! Lalu yang semalam itu siapa?" Dengan raut wajah kebingungan, lelaki itu terus menatap foto itu.
Dirinya masih belum bisa percaya, kalau wanita yang tidur dengannya semalam itu bukanlah Kania yang sesungguhnya.
"Argh ... sebenarnya ada apa ini?" David mengacak-acak rambutnya yang terlihat sudah sedikit panjang itu dengan kedua tangan. Dia benar-benar merasa tidak mengerti dengan semua ini.
"Sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan padaku? Jadi, semalam mereka memang sengaja telah menipuku. Tapi apa tujuan mereka melakukan ini semua?"
"Argh ... sungguh semuanya membuatku semakin bingung dan pusing saja."
"Ok-ok, mulai sekarang aku harus hati-hati dengan keluarga licik itu. Dan aku juga harus segera menyelidiki ini semua," pikirnya lagi.
Lalu di detik berikutnya, lelaki yang masih berdiri mematung di depan cermin kamar mandi itu menghubungi kembali asistennya.
"Hallo, Ren! Sekarang juga kamu harus selidiki siapa saja orang yang tinggal di rumah keluarga Pak Harun!"
__ADS_1