
Pukk!
Tiana yang masih meringkuk ketakutan di bawah selimut tersentak kaget, ketika merasa ada sebuah tepukan tangan di bahunya.
"Tiana!" panggil orang yang sedang menepuk pundaknya dari belakang.
Tetapi gadis itu masih diam mematung tak bergerak sedikitpun. Sehingga membuat orang itu menarik paksa selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh gadis tersebut.
"Aaa ...." Sontak Tiana langsung berteriak kaget sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Ck ck ck ...." Sembari melipat tangan di depan dada, orang yang telah menarik selimut tadi berdetak kesal dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tiana yang terlihat sedang ketakutan.
"Hey, Tiana ini aku, Mbak Sri!" Lalu, wanita itu pun mengguncang-guncangankan tubuh Tiana.
Degg!
Seketika itu, gadis berkaos putih dan celana pendek itu langsung membalikkan badan ke arah Sri.
"Argh ... Mbak Sri! Aku seneng banget liat Mbak ada di sini." Saking girangnya gadis itu melihat Sri, dengan reflek ia langsung memeluk erat tubuh wanita tersebut.
Hingga membuat Sri hampir tak bisa bernafas karena saking kuatnya gadis itu memeluknya.
"Ya ya ya ... seneng sih seneng. Tapi ini lepasin dulu pelukannya, Tia! Mbak enggap gak bisa napas, tau!" celetuk Sri kesal.
Dengan memasang cengir kuda, gadis itu memamerkan deretan gigi putihnya kepadanya Sri. Lalu perlahan ia pun mulai melepas pelukannya.
"Hehehe ... ya maaf, Mbak! Habis aku seneng banget, ternyata yang datang ke sini Mbak Sri, bukan--" Tiana tak melanjutkan ucapannya. Ia merasa keheranan, bagaimana bisa malah si Sri yang datang ke kamarnya ini.
Sri pun mengerti apa yang sedang dirasakan gadis itu sekarang. "Ya ya ya, aku tau. Kamu pasti seneng banget karena ternyata bukan Tuan David yang datang ke sini, 'Kan?" tebaknya.
Tiana pun mengangguk. "Iya, tadi a-aku udah deg-degan banget, Mbak. Takut ketahuan sama Tuan David. Karena tadi aku melihat sendiri kalau dia sudah berada di depan kamar ini, Mbak!"
"Tapi ... kenapa jadi Mbak Sri yang masuk ke sini?" Dengan mengernyitkan dahi, gadis itu menatapnya kebingungan.
"Iya, memang tadi Tuan David sudah berada di luar kamar ini, Tia. Tapi untung saja tadi Non Kania datang tepat waktu. Jadi, dia bisa mencegah Tuan David untuk memasuki kamar ini," terang Sri sembari duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Oh, jadi begitu. Sukur alhamdulillah aku bisa selamat sekarang," ujar Tiana merasa lega.
"Tapi ... Kamu jangan senang dulu, Tia!"
"Loh, emang kenapa, Mbak?" Dengan raut wajah kebingungan gadis itu menoleh ke arah Sri.
Perlahan Sri menghela nafas panjang. Kini raut wajahnya terlihat sedih. Sehingga membuat Tiana yang melihatnya pun merasa semakin kebingungan saja.
"Mbak, ada apa? Cepetan bilang sama aku, Mbak!" ucap Tiana memohon.
"Jadi, begini, Tiana. Setelah kejadian ini semua,kurasa kita harus--" belum sempat Sri menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
Tok-tok-tok!
Sehingga otomatis membuat kedua orang itu langsung menoleh ke arah pintu. Keduanya tampak syok ketika melihat ada dua orang majikannya itu sedang berdiri di depan pintu yang belum sempat Sri tutup tadi.
"Em ... maaf, Tiana. Boleh kah kamu masuk? Kurasa kita perlu bicara!" ujar Harun.
"Oh, ya silahkan masuk, Tuan!" jawab Tiana sungkan. Sembari turun dari ranjang, gadis itu kini berdiri dan menudukkan kepalanya sopan.
Kemudian sepasang suami istri itu pun memasuki kamar kecil tersebut. Lalu, Nadia memilih untuk duduk di kursi kayu kecil yang ada di sana. Sementara Harun berjalan mendekati dua pelayan itu.
Namun, ia tidak ada pilihan lain. Dia harus mengambil keputusan ini, walaupun harus mengorbankan masa depan gadis tersebut. Ini ia lakukan demi kebaikan semua orang. Terutama kebaikan putri semata wayangnya itu dan tentu saja, masa depan dari bisnis keluarganya ini.
Baru sekejap Tiana bisa merasa lega. Kini ia harus kembali merasa panik dan juga ketakutan. Karena dirinya tak tau apa yang akan majikannya lakukan kepadanya nanti.
Sungguh perasaannya kini menjadi tidak karuan. Dan dengan harap-harap cemas ia menunggu apa yang akan diucapkan oleh pria tersebut.
Kini pria paruh baya itu berdiri tepat di hadapannya. Lalu dengan menghela nafasnya berat, ia pun berkata, "Jadi begini, Tiana. Sebeĺumnya kami sekeluarga, terutama Kania memohon maaf padamu. Karena kami telah memaksamu untuk menjadi pengganti pengganti kemarin."
"Sehingga membuat ... kamu harus kehilangan mahkotamu. Dan--"
"Ah ... udahlah, Pah! Jangan bertele-tele! Kelamaan tau!" sela Nadia yang merasa sangat kesal pada suaminya.
"Pokoknya mulai sekarang kamu harus pergi dari sini dan jangan pernah kamu berani muncul lagi di sini!" celetuk Nadia ketus.
__ADS_1
"Apaa! Ja-jadi, maksud, Nyo-nya ...." Sontak Tiana langsung terlihat sangat syok mendengarnya.
"Ya, kami telah memecatmu sekarang juga. Jadi, sekarang kamu siap-siap untuk pergi dari sini!" sambung Nadia. Dengan tanpa rasa bersalah ataupun tanpa belas kasihan, perempuan paruh baya itu langsung memecat dan mengusir Tiana.
"A-apa! Ja-jadi sa-saya dipecat?" Dengan wajah yang terlihat pucat pasi, seketika itu sekujur tubuh Tiana terasa lemas dan seolah-olah tulangnya melemah tidak bisa menopang bobot tubuhnya. Sehingga ia pun hampir ambruk ke lantai, jika saja Sri tidak langsung menangkap tubuhnya itu.
"Tiana, Kamu tidak apa-apa?" ujar Sri merasa sangat khawatir padanya. Dengan pelan-pelan ia menuntunnya untuk duduk di pinggir ranjang.
Sungguh saat ini Tiana merasa sangat terpukul dan juga sedih. Setelah ia sudah melakukan semua perintah dari kedua majikannya itu. Dia malah dipecat. Bukankah ini sangat tidak adil buatnya?
Mereka benar-benar jahat. Bukankah ini sama saja 'Habis manis sepah dibuang'?
"Please diem deh, Mah! Bisa Papah saja yang bicara sama Tiana!" bentak Harun yang sangat kesal dan merasa malu dengan sikap tidak tahu terimakasih istrinya itu.
"Jika Mamah gak bisa diem. Lebih baik Mama keluar saja dari sini!" usir Harun tegas.
Cepp!
Begitu melihat raut wajah kemarahan suaminya itu, Nadia pun langsung terdiam tak berani bersuara lagi.
Sementara Sri, dengan raut wajah yang sangat sedih, ia menatap iba Tiana. Sungguh ia merasa sangat tak tega melihatnya.
"Em ... Tiana. Mungkin ini sangatlah tidak adil buatmu." Harun mulai kembali berbicara.
"Tetapi ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Karena jika kamu tetap berada di sini, ini malah sangat membahayakanmu. Bukan hanya kamu saja yang akan merasa terancam ataupun bahaya. Tetapi kami sekeluarga bahkan lebih ketakutan dibanding kamu."
"Kamu tau sendiri, entah apa yang akan dilakukan David ke pada kita semua. Jika ia tau kalau kita telah menipunya kemarin, pasti dia akan sangat murka dan marah besar. Dan dia bisa berbuat apa saja pada kita nanti. Bahkan bisa saja menjebloskan kita ke penjara!"
Degg!
"Apaa! Dipenjara? Gal-gak-gak, aku gak mau dipenjara," batin Tiana resah dan sangat ketakutan.
Tiana yang kembali syok langsung mendongak menoleh ke arah pria itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika harus berada di balik jeruji besi. Sungguh dia tidak mau itu terjadi.
"Jadi, dengan berat hati. Saya mohon pergilah dari sini sejauh mungkin! Jangan sampai kamu bertemu lagi dengan David! Dan ... ini ada sesuatu untuk kamu. Semoga bisa sedikit membantumu nanti!"
__ADS_1
Harun menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Tiana.
Dengan tatapan keheranan, gadis itu pun menerima amplop coklat itu sembari berkata, "A-apa, ini, Tuan?"