
Brugh!
Sri yang sedang tergesa-gesa berlari masuk ke dalam rumah, dengan tanpa sengaja ia malah menabrak sang majikan yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Aduh, Maaf, Tuan!" ujar Sri menunduk kepalanya.
"Sri, kamu ini kenapa sih? Kaya lagi dikejar-kejar setan aja!" celetuk Harun merasa keheranan melihatnya.
"I-itu, Tuan, gawat!" jawab Sri dengan wajah yang terlihat tegang dan gugup ia menunjuk ke arah kolam renang.
"Hah, gawat! Apanya yang gawat," sambar Nadia yang baru saja akan memanggil suaminya untuk makan malam, merasa ikut penasaran mendengar ucapan Sri.
Kini ketiga orang itu tengah berdiri di tengah-tengah ruangan yang berada tepat di depan tangga. Lalu dengan saling melempar pandang satu dengan yang lainnya, sepasang suami istri itu menjadi ikut panik ketika melihat wajah tegang pelayannya itu.
"Ih ... Sri malah diam saja, sih!" tegur Nadia yang kesal melihat pelayanan itu malah terdiam.
"Sebaiknya kalian tenang dulu. Ayo kita ke ruang tengah saja! Lalu ceritakan kepada kami secara pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Sri?" tukas Harun.
Terlihat Sri menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian mereka bergerak mendekat ke sebuah sofa empuk yang membentang di tengah ruangan. Setelahnya kedua majikannya itu pun duduk di sofa tersebut. Sedangkan Sri pun ikut terduduk di sofa yang ada di hadapkan mereka berdua.
Lalu sambil menunduk, wanita yang sudah bekerja di rumah tersebut selama 3 tahunan itu mencoba mengatur nafasnya yang tampak ngos-ngosan karena saking paniknya tadi.
"Jadi begini, Tuan, Nyonya. Tadi setelah saya mengantarkan minuman untuk Tuan David. T-tuan David malah melontarkan beberapa pertanyaan kepada saya, Nyonya," terang Sri mulai bercerita.
"Terus?" sahut Nadia menatap serius padanya.
"Dan dia--" Kemudian wanita berkulit sawo matang itu menceritakan semua percakapannya dengan David tadi.
Seketika itu, sepasang paru baya itu langsung tampak syok dan juga panik. Mereka merasa takut jika apa yang sedang dirasakan oleh Sri adalah benar.
"Aduh ... bagaimana ini, Pah?" ujar Nadia dengan raut wajah yang tampak tegang ia menatap ke arah suaminya.
"Kamu tenang dulu, Mah! Bisa saja ini hanya perasaan kita saja, Mah," ujar Harun mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Tapi ini, 'kan aneh, Pah. Buat apa David menanyakan soal pelayan di sini?" sahut Nadia.
"Ya, mungkin apa yang dikatakannya memang benar, Mah. Dia hanya ingin menjadikan pelayan yang masih muda dari sini sebagai pelayan pribadinya Kania nanti."
"Tapi ... tetep saja Mama merasa aneh deh, Pah."
"Begini saja. Andai memang benar David telah melihat wajah Tiana kemarin. Berarti kita harus segera menyuruh Tiana untuk pergi dari rumah ini. Jangan sampai David menemukannya nanti," ujar Harun.
Nadia mengangguk-anggukkan kepalanya, sangat setuju dengan saran suaminya ini.
Sementara Sri, hanya terdiam merasa bingung dan sekaligus sedih memikirkan bagaimana nasib Tiana nanti.
"Ya udah, sekarang kita harus tetap terlihat tenang di depan David! Nanti setelah David sudah pergi dari sini. Kita akan membahas tentang Tiana lagi, oke?" tukas Harun.
Kedua wanita beda usia itu pun mengangguk secara bersamaan. Lalu tiba-tiba saja ketiga orang itu merasa sangat keheranan. Ketika melihat Kania yang sedang terburu-buru berlari menuruni anak tangga.
Dengan tanpa menoleh ke arah tiga orang yang sedang terbengong menatap ke arahnya. Wajah gadis itu terlihat sangat panik, terus berlari menuju ke kolam renang.
Sontak membuat kedua orang tuanya yang merasa panik melihatnya seperti itu, langsung berseru, "Kania ada apa?"
Sehingga ketiga orang yang semula sedang terduduk di sofa langsung bangkit dan ikut berlari mengikuti gadis tersebut.
Namun, apa yang terjadi? Di saat Kania telah sampai di dekat kolam renang itu, ia melihat David sudah berada tepat di depan pintu kamar Tiana.
Begitu juga dengan ketiga orang yang ada di belakang lansung membelalakan mata sangat syok ketika melihat pemuda itu sedang berada di sana.
Sementara David, dengan perasaan yang tidak karuan, kini jantungnya semakin berdetak kencang. Lalu dengan ragu-ragu tangan lelaki itu mulai terulur akan meraih gagang pintu. Setelahnya ia pun ingin segera membuka pintu kamar tersebut.
Namun, di saat ia baru akan memutar gagang pintu itu, tiba-tiba saja terdengar ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Sayang, kamu ngapain di situ?" tegur Kania, yang baru kembali dari kamarnya itu langsung membelalakan matanya syok, ketika melihat suaminya sedang berdiri di depan kamar pelayan.
Dan yang membuatnya semakin syok adalah saat ia melihat tangan laki-laki itu telah meraih gagang pintu dan siap untuk membukanya.
__ADS_1
Sehingga dengan cepat ia pun langsung berlari mendekatinya dan mencegah pria berkemeja hitam itu untuk membuka pintu. Kini gadis berambut pirang tersebut berdiri tepat menghadangnya di depan pintu itu.
Degg!
Seketika itu David tampak tertegun menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ia bisa melihat di raut wajah gadis itu tampak ketakutan. Sehingga membuatnya merasa tambah penasaran saja, ingin melihat ke dalam kamar itu.
"Sayang, kamu mo ngapain di sini?" tanya Kania.
Lalu dengan cengir kuda, David menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Oh ... itu tadi aku lagi iseng jalan-jalan saja. Terus gak sengaja aku mendengar ada suara benda jatuh dari dalam sini. Ya, jadi aku merasa penasaran saja ingin melihatnya. Apakah di dalam sini ada orang?" terang David sebisa mungkin ia bersikap biasa agar tidak terlihat mencurigakan.
"Ih, Kamu kurang kerjaan banget deh, David! Ini, 'kan kamar pelayan. Ngapain juga kamu di sini, sih?" celetuk Kania kesal.
"Oh, jadi ini kamar pelayan?" David berpura-pura kaget.
"Iya, udah ah, ayo sekarang kita makan malam dulu! Tuh, udah ditungguin sama Mama dan Papah, tau!" Gadis bergaung pink itu segera meraih lengan kekar suaminya. Kemudian ia menuntunnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"E-eh ... itu apa gak dilihat dulu? Siapa tau di dalam sana ada orang yang jatuh bagaimana? Kita harus menolongnya, Kania!" protes David yang merasa tidak rela untuk beranjak pergi dari sana.
"Palingan tadi itu cuma kucing, David. Orang di dalam sana gak ada orang kok. Kalau kamu gak percaya, tuh tanya aja sama Mbak Sri. Orang itu, 'kan kamar dia," jawab Kania sewot.
"Ta-tapi--"
"Ah, udah yuk! Kita ke ruang makan sekarang!"
Dengan sangat terpaksa, akhirnya lelaki itu hanya bisa pasrah dituntun oleh Kania masuk ke dalam rumah. Sembari terus menoleh ke arah kamar kecil itu, ia pun melewati ketiga orang yang sedang berdiri di dekat kursi.
Dan ia pun melirik tajam ke arah pelayan yang ditemuinya tadi. Seolah-olah pria itu sedang memberi ancaman kepada pelayan tersebut.
Sehingga membuat pelayan wanita itu langsung menundukkan kepala ketakutan melihatnya.
Sungguh David merasa sangat penasaran dan curiga kepada semua orang yang ada di keluarga ini.
__ADS_1
"Pokoknya, bagaimana pun juga. Aku harus bisa menyelidiki ini semua!" batin David.