
"Aa ...." Tiana kembali terpekik kaget. Karena dengan tanpa terduga ternyata David malah menarik tangannya dan langsung memanggul tubuhnya di atas bahu.
Sudah seperti karung beras saja, tubuh atletis itu dengan mudah menganggkat tubuh rampingnya yang terasa sangat ringan baginya.
Sontak membuat Tiana langsung meronta-ronta. Dengan menggerakkan kakinya, kedua tangannya memukuli punggung kekar laki-laki yang kini tengah mengendongnya dengan paksa.
Namun, pukulan itu tak berarti apa-apa baginya. Lelaki itu seolah tak merasa kesakitan sama sekali oleh serangannya ini.
Kemudian dengan kasar David menjatuhkan tubuh gadis itu di atas kasur. Dan dengan cepat ia menindih wanita tersebut.
"Mulai sekarang, bersiap-siaplah menanggung akibatnya, Tiana!" David kembali menyambar bibirnya lagi. Menekannya dan memaksanya untuk mau membalas dan mengimbangi permainnanya.
Namun gadis itu masih menutup rapat bibirnya tidak mau membalasnya. Terpaksa David menggigitnya, sehingga membuat Tiana pun membuka mulutnya. Dan ini kesempatannya untuk memperdalam ciumannya.
"Emmgh ... !" Tiana masih terus berusaha meronta. Namun satu tangan lelaki kekar itu mengunci kedua tangannya ke atas. Sedangkan tangan yang satunya lagi mulai menyelinap masuk, menyentuh kulit mulusnya. Membuat hasratnya semakin menjadi.
Bibir David mulai bergerak turun ke ceruk lehernya, menghisap kuat dan meninggalkan beberapa jejak di sana.
"Ahk ... le-lepaskan aku, brengsek! Dasar bajingan kamu! Lepaskan aku! Tolong ... ! Siapapun di sini. Tolong aku!" Pada akhirnya Tiana mulai mengumpat dan berteriak. Berharap ada yang datang ke kamar itu dan bisa menyelamatkan dirinya dari pemerkosaan ini.
Air matanya mulai mengalir deras di pelupuk matanya. Ia benar-benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini lagi. Tiana semakin memberontak saat David mulai menemukan apa yang dia cari di balik bajunya itu.
Lalu pria tersebut meremasnya dengan kasar di awalnya, tapi lambat laun gerakannya semakin melembut. Sehingga membuat Tiana secara tidak sadar mulai melenggkuh ikut terbawa oleh permainannya.
"Akhh ... !" Satu suara pun berhasil lolos dari bibirnya. Sehingga membuat lelaki itu bertambah semangat ingin melanjutkan aksinya menikmati tubuh wanita yang ada di bawah kukungannya ini.
Sekuat tenaga Tiana melawannya, namun tubuhnya bereaksi lain. Tubuh itu mulai menikmati sentuhan lembut pria brengsek yang kini menyentuhnya di setiap jenggkal tubuhnya tanpa ada yang terlewatkan.
Ketika gadis HK itu sudah mulai terbuai, David melepasnya sebentar. Namun, ia masih menganggakanginya sambil melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya sendiri.
Ketika David sedang terlihat sibuk melepas pakaiannya, Tiana berusaha bangun dan ingin kabur dari sana. Tetapi, lagi-lagi pria yang kini sudah bertelanjang dada itu lebih cepat menahan tubuhnya kembali, dan mengurungnya dalam kungkunganya lagi.
"Mau ke mana, hah?" Bentaknya dengan mata melotot tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu memang tidak bisa diajak bekerja sama, ya! Kamu maunya dikerasin, hah!" Pria itu sudah mulai kesal dengan tingkah Tiana yang selalu saja menolaknya.
Padahal kalau gadis lain saja malah dengan senang hati melayaninya. Namun, gadis ini selalu saja membuatnya merasa kesal.
Tiana kini menggeleng lemah seraya terus menatapnya memelas dan memohon agar dia tidak melanjutkan aksi bejajnya ini. "Tidak, aku mohon. Lepaskan aku! Jangan lakukan ini lagi. Aku mohon!"
Namun, David tidak peduli. Dia terus bergerak menikmati tubuh wanita yang ada di bawahnya kini.
"Teruslah memohon, dan aku tidak akan pernah melepasmu lagi, Tiana!" David berbisik di dekat telinganya, ia mulai mengerakan bagian bawahnya dan menerobos paksa ke dalam tubuhnya.
"Ahhk!" Jerit Tiana menahan sakit. Lagi dan lagi selalu bagini, ia selalu lemah di hadapannya dan tidak bisa melawannya.
Tiana sudah tidak berdaya, sudah tidak bisa melawannya lagi. Tenaganya sudah terkuras habis. Ia kini hanya bisa pasrah nenerimanya. Hingga dengan lambat laun rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan.
Tiana hanya diam saja tidak bergerak, ia memejamkan kedua matanya tidak mampu melihat orang yang sangat ia benci sedang berada di atasnya menikmati tubuhnya lagi.
Air matanya tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya. Sungguh ia sangat membenci laki-laki ini dan sangat menyesali semua ini.
Setelah itu dia mengecup kening Tiana yang penuh dengan keringat itu cukup dengan lama.
Lalu sembari tersenyum puas yang terlihat sangat menjijikan bagi Tiana, pria itu pun berkata, "Terimakasih, Sayang. Kau sungguh memuaskan."
David ingin mengecup bibirnya lagi. Namun, dengan cepat Tiana melengos. Sehingga membuat lelaki itu hanya bisa menyeringai melihatnya seperti itu.
Kemudian lelaki itu membaringkan tubuhnya di samping gadis tersebut. Dan ia pun tertidur sembari memeluk tubuhnya dari samping.
Sementara Tiana hanya bisa menangis dan menyesal. Kenapa ini bisa terjadi lagi pada dirinnya? Hingga karena merasa lelah ia pun ikut tertidur juga.
Selang beberapa jam kemudian, gadis itu pun terbangun. Sambil menahan tangisnya agar tidak mengeluarkan suaranya. Ia bergerak perlahan, agar tidak membangunkannya. Ia pelan-pelan turun dari ranjang itu dan memunguti pakainnya yang tercecer di lantai.
Memakai kembali dan segera mencari kunci kamar. Ia celingukan mencarinya, hingga ia menemukanya tergeletak dia atas meja dekat ranjangnya. Lalu Tiana langsung mengambilnya dan bergegas keluar dari sana.
Ketika gadis itu sudah keluar dari kamar, David tersenyum penuh kemenangan. Karena sebenarnya ia juga telah terbangun, namun ia berpura-pura masih tertidur dan membiarkan Tiana keluar dari sana.
__ADS_1
"Hahaha ... liat saja, Tiana. Kamu pasti akan kembali ke sini lagi besok," ujarnya sambil menyeringai. Kemudian ia pun kembali melanjutkan tidurnya hingga pagi hari.
Sementara Tiana gegas berjalan menuju lokernya lagi. Begitu sampai di sana ia langsung duduk meringkuk dan kembali menagis dengan sejadi-jadinya.
"Hiks ... hiks! Kenapa, Tuhan? Kenapa Engkau biarkan ini terjadi padaku lagi? Kenapa?" gumamnya di sela-sela isaknya.
Sesaat kemudian, ia mengusap air matanya dengan kasar dan langsung menghentikan tangisnya.
"Hanya itukah yang bisa kamu lakukan, Tiana? Tidak tidak tidak! Aku tidak boleh lemah seperti ini terus. Aku harus kuat, dan harus bisa melawannya. Ayo, Tiana! Cepatlah berpikir, harus bagaimana sekarang?" ujarnya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Ia benar-benar bingung, kenapa ini bisa terjadi berulang kali kepadanya. Dan bagaimana si David bisa menngenalinya? Tidak mau ambil pusing lagi, dia bangkit dan segera mengganti bajunya.
Tak peduli apapun lagi, ia langsung pulang menuju kostannya tanpa berpamitan atau meminta izin terlebih dahulu kepada atasanya.
Sesampainya di kostanya itu, ia melanjutkan tangisnya di sana. Hingga akhirnya ia pun tertidur sambil menangis hingga pagi hari datang menjelang.
Saking lelahnya ia pun tertidur sampai bangun kesiangan. Ia terbangun karena suara ponselnya yang terus saja berdering . Sehingga membuatnya mau tidak mau harus mengangkat banda pipih yang tergeletak di atas meja samping ranjangnya.
Kedua matanya masih tertutup rapat dan terasa sangat berat, enggan sekali untuk membukanya. Namun, tanganya bergerak mencari ponsel itu. Hingga ia menemukanya dan segera meraihnya.
Tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya kini, dengan malasnya ia pun langsung menjawab.
"Hallo, Assalamu'alaikum. Siapa ini?"
"Hallo, selamat pagi, Sayang."
Deg!
Kedua kelopak mata Tiana yang semula masih tertutup rapat, seketika itu langsung terbuka lebar karena syok saat mendengar suara bariton dari benda pipih tersebut.
Dan ia sangat mengenal siapa si pemilik suara bariton tersebut.
"Da-David?!"
__ADS_1