
Namaku Sheila Rasty Pradipta.
Aku hanya seorang anak yang terlahir dari keluarga sederhana, Bapakku hanya seorang PNS yang sudah sejak aku kelas 2 SMA mengalami STROKE, moment dimana hatiku sedih sekali melihat beliau yang seorang pekerja keras sejati akhirnya menyerah pada STROKE, penyakit yang bisa saja tiba - tiba menghampiri tanpa permisi. pada waktu itu, di saat SMA aku tidak punya handphone, sedangkan teman - temanku rata - rata punya handphone. Jadi ketika kejadian malang itu terjadi, aku tidak dikabari, kebetulan aku sedang sekolah. Ketika aku sampai di rumah, aku kaget bukan main melihat Bapak yang terlihat tidak berdaya di atas kasur yang diletakkan di depan ruang TV.
Aku : "Bapak kenapa Ma??" tanyaku pada Mama yang ketika itu terlihat sedih sekali.
Mama : " tadi pas istirahat Bapak pulang ke rumah tiba - tiba jatuh, trus badannya kaku...gak bisa ngomong,..." Mama menjelaskan sambil menangis, aku begitu terkejut masih tidak percaya. "terus... tadi Mama sama Andi (abangku yang kedua) langsung buru - buru bawa ke Dokter Anggun (dokter di klinik dekat rumah), katanya Bapak kena serangan STROKE " tambah Mama sambil terisak.
Ohhhh Tuhannnn....rasanya aku ingin pingsan mendengarnya, bagaimana mungkin Bapak yang begitu rajin olahraga bisa terkena STROKE!!! pikirku pilu. Sejak aku kecil setiap Subuh Bapak selalu rajin untuk lari pagi, terkadang aku suka ikut main sepeda roda 4 ku ketika Bapak sibuk lari pagi.
Tidak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku, kejadian ini seperti mimpi buruk, seperti badai yang sedang menerjang keluargaku. Apalagi kedua abangku masih kuliah dan aku masih duduk di bangku SMA yang pastinya sedang butuh biaya yang cukup besar. ohhhh Tuhannnn, berat sekali cobaan ini, aku pun tidak sanggup melihat Bapak menjadi tidak berdaya seperti itu.
beberapa hari aku Izin tidak masuk sekolah, aku ingin menjaga Bapak, meskipun ada Mama dan Andi yang sedang libur kuliah, aku tetap bersikeras ingin menemani dan menjaga Bapak. setelah beberapa hari yang lalu Bapak divonis STROKE, Bapak sudah mulai bisa berbicara meskipun masih terbata - bata, Bapak menolak dirawat, memang sejak aku kecil sekalipun tidak pernah melihat Bapak berobat atau sampai dirawat di rumah sakit, anti sekali Bapak mencium bau rumah sakit.
__ADS_1
Penampilan di wajah Bapak pun mengalami perubahan, mata dan bibir sebelah kanannya terlihat agak turun dan kaku, penglihatannya pun kabur, berjalan pun Bapak belum sanggup hanya bisa tiduran, membuat hatiku semakin sedih.
Aku : "Bapak...Bapak badannya yang mana yang sakit??" tanyaku pelan, berusaha tenang dan tersenyum walaupun sebenarnya aku ingin menangis.
Bapak ingin menjawab tapi sepertinya kesulitan, masih terbata - bata sekali. pandangannya pun kosong ke depan, seperti tidak fokus dengan lawan bicaranya. tak sadar air mataku menetes, kasihan sekali Bapakku. meski baru beberapa hari melihatnya terkulai tak berdaya, aku sudah rindu sekali berbincang dengannya. mendengar kata - katanya yang menenangkan dan selalu bijaksana. meskipun kadang aku sebal, karna kerap kali beradu argumen karna merasa Bapak terlalu banyak melarangku ini itu. wajar saja... aku masih ABG yang baru melek tentang kehidupan sedangkan Bapak pastinya sudah banyak makan asam garam.
Berhari - hari pun berlalu, setelah 2 Minggu akhirnya Bapak mulai bisa berjalan kembali, meskipun tubuh Bapak tidak bisa kembali normal 100%, begitulah STROKE, membuat tubuh tidak bisa berfungsi dengan maksimal seperti sediakala lagi.
setelah beberapa bulan, Bapak merasa sudah jauh lebih baik hingga bisa kembali mengajar meskipun harus diantar abangku Andi yang sementara cuti. begitu kuatnya semangat Bapak mencari nafkah untuk keluarganya, aku salut sekali. Bapak memang yang terbaik, cinta pertamaku.
"La...Lo mau kuliah dimana ntar??" tanya teman sebangkuku Mira. membuyarkan lamunanku tentang masa depan.
Aku : "hmmmm.... gw gak tau Mir, nanti lulus mau lanjut kuliah atau langsung kerja" jawabku tidak terlalu bersemangat, membuat raut wajah Mira berubah menjadi iba sekaligus penasaran.
__ADS_1
Mira : " kok gitu La...emang kenapa? emangnya Lo gak mau lanjutin pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi? Lo kan pinter La, masuk 5 besar di kelas, sayang loh kalo gak lanjut kuliah..." tandas Mira.
sebelum menjawab aku seketika menarik nafas, merasa sedih tapi tidak bisa berbuat apa - apa.
Aku : " bukannya gw gak mau Mir,tapi kan Lo tau bokap gw kena STROKE.... gw gak mungkin dong maksa bokap yang jelas - jelas keadaannya udah gak sekuat dulu buat cari uang untuk biayain kuliah gw yang pastinya gak sedikit." jawabku lirih, membuat Mira refleks langsung mengusap bahuku lembut.
Mira : " iya gw ngerti La...itu semua bukan kemauan Lo. Lo pasti pengen banget kuliah,tapi keadaan gak mendukung. hmmmm.....sabar ya La, maaf gw gak bisa bantu Lo apa - apa" ucap Mira lalu memelukku.
Aku : " gak papa Mir, dengan Lo udah mau peduli sama keadaan gw aja itu udah berarti banget buat gw..." jawabku sambil tersenyum. aku sangat menghargai perhatian Mira yang begitu tulus dari hati. Dia selalu jadi teman yang manis selama hampir setahun kami sebangku di kelas 3, kemana - mana kami selalu berdua, sering mampir ke mall selepas pulang sekolah hanya untuk sekedar nongkrong atau jajan ice cream.
beberapa bulan kemudian, aku lulus dari bangku SMA. bagi teman \- temanku mungkin ini saat yang membahagiakan, karena mereka akan lanjut kuliah di kampus pilihan mereka. sedangkan aku yang walaupun lulus dengan nilai yang baik, tetap saja tidak punya kesempatan untuk kuliah di kampus yang aku inginkan.
__ADS_1
\* \* \*