
setelah berkendara selama 1 jam dengan kecepatan penuh Glen akhirnya sampai di rumah sakit tempat Bapaknya Sheila berada.
ia tak sabar ingin segera memeluk gadisnya itu, mendekap hangat untuk menenangkan hatinya yang sedang berduka. Prinsip Seorang Glen selalu ingin jadi yang pertama dan terpenting dalam hidup Sheila, ia ingin ketika gadisnya sedang bersedih ataupun senang dia selalu ada disisinya.
ia pun menelpon Sheila kembali mengabarkan ia sudah sampai, Sheila pun menyuruh Glen naik ke lantai 2.
nampak Glen berlari menghampiri Sheila yang tengah menangis di pojok bangku.
" sayang..... " sapa Glen lalu memeluknya, Sheila pun membenamkan wajahnya di dada Glen sambil menangis tersedu-sedu.
" maafin aku sayang ....aku telat hadir di samping kamu, maaf..." bisik Glen dengan suara menyesal sambil memeluk erat gadisnya, sesekali mencium rambut Sheila.
" Gak papa Glen, ini semua terjadi secara tiba-tiba, ini semua salahku karena udah ninggalin Bapak sendirian di rumah hiks hiks..." ucapku terisak makin kencang, tak sadar aku *** baju Glen.
" ini semua musibah La, kita gak pernah tau kapan musibah itu datang, semua ini udah kehendak Tuhan, kamu yang sabar dan kuat ya sayang...ada aku yang akan selalu menemani kamu..." bisik Glen lembut tanpa sedetikpun melepaskan dekapannya.
tiba - tiba sang suster datang menghampiriku dan memintaku sebagai perwakilan dari keluarga Bapak untuk mengurus surat kematian dan biayanya,
" mba... Kita minta perwakilannya ya untuk mengurus keperluan Pak Sony. " ujar suster sambil memintaku mengikutinya ke bagian administrasi.
kebetulan Mama masih pingsan, Ari sibuk menelpon para saudara dan kerabat sedangkan Andi menemani Mama, aku bertemu Glen di tempat yang agak jauh.
Glen ikut menemaniku, aku melepaskan genggaman tangannya karena tidak ingin yang lain melihat, sebab keluargaku belum tau jika aku sudah berpacaran dengannya.
setelah sampai di ruang administrasi, ada beberapa surat yang harus ditandatangani dan biaya - biaya yang harus di bayar, dengan sigap Glen langsung membayar semua biaya selama Bapak masuk rumah sakit tadi.
__ADS_1
" kamu tenang aja ya La...biar aku yang urus biayanya. " ucapnya seraya tersenyum dan mengusap bahuku.
akupun hanya mengangguk, dan membalas senyumnya. oh Glen...kamu memang penyelamatku.
setelah semua selesai kami urus, akupun menghampiri Mama yang sudah siuman dari pingsannya. Mama yang kembali menangis histeris pun semakin membuat ku sedih.
Andi memeluk dan menenangkan Mama.
" sudah Ma...yang sabar ya Ma, Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk Bapak, Bapak udh gak sakit lagi Ma... " bisik Andi menguatkan Mama yang sangat terpukul, padahal ia sendiri pun tak kalah sakit menahan tangisnya.
Ari Abang pertamaku juga terlihat lebih banyak diam, ketika aku menghampiri dan memberitahu bahwa semua urusan administrasi sudah ku urus dan sudah beres, ia pun hanya mengangguk tanpa menatap mataku. terlihat sekali penyesalan di wajahnya, yang tidak ada disaat Bapak pergi untuk selama - lamanya.
Glen yang melihat dari jarak yang cukup jauh merasa ikut hanyut dalam kesedihan, melihat sebuah keluarga yang sedang berduka ditinggalkan sang Ayah tercinta. Bagi Glen, ia belum pernah merasakan ditinggal orangtuanya pergi menghadap Tuhan, namun rasa dukanya tetap sama ketika Maminya pergi meninggalkan rumahnya dulu. Hatinya pun tak kalah hancur, merasa bagai ditinggalkan selama - lamanya, bahkan selama 20 tahun ia belum pernah lagi melihat Maminya. ia sudah menganggap Maminya tak ada lagi.
" Secepatnya aku akan menikahimu La, karena kamu anak yatim sekarang, aku lah yang akan bertanggungjawab atas kamu nanti. aku akan membahagiakanmu selamanya. " bisik Glen membulatkan tekad untuk membahagiakan Sheila sepenuhnya.
Keesokan harinya....
kediaman almarhum Sony Pradipta telah dikerumuni oleh pelayat yang datang. Ada kerabat, saudara, teman semasa kerja dan kenalannya yang lain. Rencananya jenazah akan dikuburkan sore hari pukul 4 di pemakaman umum terdekat.
Glen lah yang mengurus semua keperluan, dari mulai tenda, peti mati, makanan hingga liang lahat. Glen pun tampil percaya diri berada di tengah-tengah keluarga Sheila.
" Sayang...kamu gak usah cemas ya, semua keperluan sudah aku siapkan, kamu fokus sama acaranya Bapak aja yah " ujar Glen pada Sheila yang matanya membengkak karena terlalu banyak menangis.
" makasih banyak ya sayang, aku gak tau lagi harus bilang apa...makasih juga kamu udah nemenin aku disaat berduka seperti sekarang hiks hiks " jawabku yang merasa sedikit lebih baik karena kehadiran Glen, sampai aku tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadapku. Bahkan Mama sudah kuberitahu tentang Glen, dan ajaibnya Mama menyukai Glen, melihat betapa perhatiannya ia dan selalu setia menemani anaknya.
__ADS_1
Glen mendekapku hangat, aku pun membalas dekapannya lebih dalam lagi. Lelaki ini begitu setia menemaniku, bahkan ia rela menginap di rumah dan tidak ingin sebentar saja meninggalkan aku sendiri. aku sungguh beruntung, amat sangat beruntung !
Pukul 3 sore Tante Rita datang bersama Radith, aku tidak tau mereka tau dari mana tentang kabar berpulangnya Bapak, mungkin dari saudara-saudara ku yang lainnya.
Tante Rita langsung mengucapkan bela sungkawa nya kepada Mama dan ikut menangis karena teringat akan kepergian suaminya dulu. Ia merasa senasib dengan Mama yang kini menjadi seorang Janda.
" yang tabah dan kuat ya Mbak, semoga arwah Mas Sony tenang di sisi Tuhan. " bisiknya pada Mama yang masih setia menangis lalu mereka berpelukan melepas sedih. Radith yang berada disamping Tante Rita pun ikut mengucapkan bela sungkawa nya pada Mama.
seketika aku melirik ke arah Glen yang nampak tidak suka dengan kehadiran Radith, rupanya Glen sudah hapal dengan wajah Radith, meskipun hanya melihat dari sosmed. hmmm.... kenapa suasananya jadi begini, gumamku.
aku jadi semakin gak enak pada Glen, aku tau dia tidak suka dengan Radith, dan Radith yang tidak tau apa - apa pun juga gak salah. cuma kesalahpahaman Glen semata yang terlalu cemburu dengan kedekatan kami di foto kemarin.
tak terasa Glen pun menggenggam tanganku begitu erat seakan-akan takut aku akan diambil orang.
Radith pun melihatku dan datang menghampiri, meskipun raut wajahnya agak bingung melihat tanganku yang di genggam erat oleh seorang cowok. aku lun refleks melepas genggaman Glen.
" La...gw turut berdukacita yah atas kepergian Om Sony.... " sapa Radith lalu menyodorkan tangan untuk bersalaman, aku pun merespon dengan baik, tapi di lain sisi aku merasa gak enak pada Glen, ia hanya salah paham padahal.
Glen yang berada di dekatku memasang mata dengan seksama seperti seorang detektif, membuat Radith merasa curiga akan kehadiran sosok lelaki misterius di sampingku dengan tatapan yang tidak ramah sama sekali, huft. bagaimana ini, gumamku dalam hati.
aku pun memutar otak dan memilih mengenalkan Radit secara langsung kepada Glen.
" hmmm....Dith, kenalin ini Glen- "
" pacarnya Sheila..." lanjut Glen yang memotong kata - kataku lalu menyodorkan tangannya hendak bersalaman, aku pun refleks membulatkan mataku pada Glen, dan Glen pun pura - pura tidak melihat responku. membuat Radith terbelalak kaget mendengar perkataan Glen namun tetap menyambut tangan Glen dan mereka pun bersalaman, terlihat Glen menyunggingkan senyum palsunya dan Radith ikut tersenyum dengan paksaan.
__ADS_1
ya ampun... kenapa jadi begini sih, pekikku kesal.
# BERSAMBUNG #