
Tampak sepasang mata yang iri melihat keromantisan antara Sheila dan Glen. Perempuan itu menyipitkan matanya dengan penuh keirian, di dalam hatinya dia merasa kebahagiaan Sheila terlalu sempurna. Ia cantik, pintar dan punya pacar tampan juga kaya raya, sedangkan ia harus menderita dengan kemiskinan yang Ayahnya sebabkan, sungguh tidak adil bukan?!
dia adalah Luna yang mengintip dari arah dapur dengan penuh rasa dengki di hatinya. Sejak pertama kali melihat Sheila lagi kemarin, sebenarnya dia sudah merasa tidak suka. menyadari betapa Sheila tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan tinggi semampai dengan kulit putih menawan, sedangkan dia tidak ada apa - apanya, huh... menyebalkan sekali, pikirnya.
semenjak Ayahnya meninggal, Luna menjadi anak yang mata duitan, ia kerap memaksa minta uang ke Ibunya, padahal dia sendiri tau kalau ibunya hanya seorang buruh cuci yang penghasilannya sedikit. ia kerap membuat ibunya menangis mendengar perkataan nya yang kasar dan tidak sopan.
" ahhh dasar Ibu miskin, nyusahin aku ajah!!! " bentaknya suatu hari ketika ia tak berhasil mendapatkan sepeser uang pun dari Ibunya itu. Ibunya hanya menangis tersedu-sedu, ia sedih sekali melihat sikap anak semata wayangnya itu yang berubah 180 ° semenjak suaminya berulah dan meninggal.
" apa salahku ya Tuhan??? kenapa semua ini menimpaku ??? " keluh Amel seraya menangis tersedu-sedu melihat hidupnya yang malang.
********
semenjak Lulus SMA, Luna menjadi semakin liar. dia rela melakukan apapun demi uang, bahkan ia sering memeras cowok \- cowok yang menyukainya. Ia memang tidak terlalu cantik, tapi ia punya jurus jitu untuk menarik perhatian kaum Adam, bukankah terkadang cantik saja tidak cukup?? ya betul, dengan keahliannya yang lain Luna bisa menutupi kekurangannya dengan mulus.
Bahkan Luna yang terbilang masih belia sudah berani berkencan dengan Om - om hidung belang, hanya demi uang dan uang.
mengetahui sifat buruk sang anak, Amel memutuskan untuk mengajaknya ke Jakarta, tinggal bersama Kakaknya Renata. kebetulan ia mendengar kabar duka dari kakaknya bahwa suaminya sudah tiada, sehingga Amel menggunakan kesempatan itu untuk membawa anak semata wayangnya itu menjauhi lingkungan yang buruk, berharap di Jakarta kehidupan mereka bisa lebih baik lagi.
*******
Glen memberikan 2 koper oleh - oleh kehadapanku, membuatku terkejut melihat begitu banyak buah tangan yang ia bawa.
ya ampun, apa dia mau buka warung di rumahku,ckck dasar lebay!!!
__ADS_1
" banyak banget sih Glen oleh - olehnya, ini sih buat sekomplek juga cukup..hmmmm " Glen memang juara lebaynya, ia pun terkekeh-kekeh mendengar ucapanku.
mendengar percakapan kami di teras Mama pun datang menghampiri.
" halo Tante...apa kabar ??? " sapa Glen yang langsung terbangun melihat Mama dan menyalim tangannya.
" Tante baik - baik saja Glen, kamu sehat ???" balas Mama dengan senyuman.
" sehat Tante...owh iya, ini Glen ada oleh - oleh buat Tante sekeluarga dari Surabaya, menyodorkan 1 koper yang isinya penuh.
Tante Amel yang menyadari ada tamu pun bergegas ke luar, dan bergabung bersama Mama.
" ya ampun, banyak banget Glen oleh - olehnya, ini gak salah??? " tanya Mama dengan keheranan melihat begitu banyak isi koper tersebut, ada berbagai jenis cemilan, cinderamata, baju, dan juga tas. membuat Tante Amel yang berdiri di samping Mama ikut terkejut.
aku pun hanya tersenyum geli melihat ekspresi Mama dan Tante Amel. sampai ia lupa mengenalkan Tante Amel pada Glen.
" ohh iya, kenalin ini Tante Amel adiknya Mama " aku memberitahu Glen yang nampaknya dari tadi penasaran dengan kemunculan Tante Amel.
" hai Tante...saya Glen " sambil menyodorkan tangan.
" iya...saya Amel... Tantenya Sheila " balas Tante Amel ramah, nampaknya ia terpukau dengan pesona Glen, terlihat jelas sedari tadi Tante Amel berkali-kali menatap ke arah Glen sambil tersenyum.
wah tampan sekali teman lelaki Sheila, coba saja aku bisa punya menantu sepertinya, gumam Amel dalam hati.
__ADS_1
setelahnya Mama dan Tante Amel masuk ke dalam tidak mau mengganggu kami lebih lama.
di dalam Amel bertanya pada kakaknya.
" itu siapa kak yang di depan?? temannya Sheila yah" Amel bertanya dengan penuh semangat, berharap ada kemungkinan lelaki itu bisa ia jodohkan dengan anaknya.
" itu pacarnya Sheila Mel, kalau gak salah udah 8 bulan mereka berhubungan. " jawab Renata sambil tersenyum bangga.
" anaknya sopan sekali, tadinya saya gak suka liat Sheila pacaran tapi setelah kenal sama pacarnya saya berubah pikiran, anaknya baik dan perhatian. " tambah Renata menyunggingkan senyumnya. membuat niat Amel pupus. huh, beruntung sekali Sheila bisa mengenal lelaki setampan Glen. kenapa bukan anaknya yang bertemu dengan lelaki itu??! Glen pasti lelaki kaya, aku bisa lihat dari mobil yang terparkir di depan rumah, harganya saja bisa 1 M, tidak terbayang sebesar apa rumahnya, pikir Amel.
" wah beruntung ya Sheila mbak, bisa punya pacar seperti Glen...mbak pasti senang " Amel berpura - pura ikut senang di depan kakaknya, padahal ia iri bukan main.
ternyata Amel dan Luna memiliki sifat yang tidak jauh berbeda. sama - sama iri melihat kebahagiaan orang lain yang notabene adalah kakak dan ponakan kandungnya sendiri.
*******
Glen meminta Izin pada Mama untuk mengajakku pergi keluar bersama dan berjanji akan memulangkan ku tepat waktu. Mama pun mengiyakan.
di bangku belakang mobil, Glen langsung melingkarkan tangannya ke pinggangku, dan berbisik " I Miss you sayang... " hingga membuat leherku bergidik. aku yang merasa tidak enak dengan Pak Kemal pun berusaha melepaskan tangan Glen.
" malu ah ada pak Kemal.... " bisikku padanya, membuat Glen tertawa dan berhenti menggodaku.
kami pun sampai di sebuah restoran yang tempatnya cozy dan banyak di datangi muda - mudi ibukota.
__ADS_1
kebetulan aku juga lapar karena belum makan tadi siang, Glen memesankan Beef Fetuccine untukku dan Spaghetti Carbonara untuknya. kamipun menyantap makanan kami dengan lahap. entahlah, hatiku begitu ringan ketika bertemu lagi dengan Glen. meskipun diantara kami dialah yang lebih sering memanggilku sayang, tapi bukan berarti aku tidak menyayanginya, aku hanya belum terlalu pandai beradaptasi dengan hubungan berpacaran.