
Glen merasa begitu gembira, hal itu terlihat jelas dari mimik wajahnya setelah mendengar jawabanku, penuh kebanggaan dan kepuasan. dengan refleks ia menggenggam tanganku dengan erat sambil berujar " thanks La...sekarang manggilnya jangan Gw Lo yah...biar lebih enak ajah..."
" aku kamu gitu maksudnya??" tanyaku memastikan.
" Yaps....biar keliatan lebih dekat aja, kalo Lo Gw kesannya gak sopan banget ya kan....hehehe " tambahnya lagi sambil melirikku mesra.
semakin hari kedekatan kami semakin terasa begitu dekat dan intens. Selagi aku tidak bekerja Glen pasti selalu menanyakan ku, entah itu melalui WhatsApp atau telpon. dan sering sekali mengajakku keluar untuk makan, nonton, atau sekedar nongkrong di cafe sambil berbincang, pulang pun aku selalu diantarkan olehnya.
hingga Mama curiga padaku yang terlihat semakin sibuk tak seperti biasanya. entahlah, naluri seorang ibu memang sangat sensitif terhadap anaknya. namun, sebisa mungkin aku menjelaskan bahwa kesibukanku kini tak jauh-jauh dari tuntutan pekerjaanku. untungnya Mama tidak menaruh curiga dan memilih percaya padaku.
setelah sebulan kami berpacaran, hari - hariku menjadi semakin indah. Glen begitu perhatian padaku, bahkan ia membelikan semua kebutuhanku dan tak pernah absen untuk mentransfer sejumlah uang padaku setiap bulan. awalnya jelas aku menolak keras, aku bukan cewek matre! tapi sekeras apapun aku menolak, Glen selalu punya cara untuk meluluhkan ku. ini pertama kalinya aku jatuh cinta, dan seorang cewek yang jatuh cinta bisa saja begitu menurut dan tidak mempedulikan yang lain.
" aku cuma gak mau pacarku gak keurus, aku mau memastikan pacarku terawat dengan baik, makan enak, bisa pakai pakaian yang layak dan tentunya gak pernah kekurangan. " ucap Glen ketika itu bersikeras, disaat aku menolak niat baiknya untuk mentransfer sejumlah uang yang jumlahnya jauh melebihi gajiku sebulan. membuat gajiku utuh sehingga aku bisa semakin banyak menabung untuk kuliahku nanti dan membantu orangtuaku tentunya.
belum lagi dalam sebulan ini Glen sudah memberikan ku cincin berlian dan kalung yang aku sendiri pilih tentunya dengan paksaan darinya. Aku sudah menolak keras, karena kami baru saja berpacaran dalam sebulan, dan semua hadiah ini terlihat berlebihan untukku. jelas saja untukku yang selama ini sering diremehkan teman - teman cewek sekolahku karena tidak bisa ikut bergaya seperti mereka dan dijauhkan, tentu pemberian Glen terlihat sangat amat berlebihan, tapi ya....lagi - lagi aku luluh olehnya.
dia memaksaku memakai cincin di jari manis ku sebagai tanda bahwa aku sudah punya pacar, sehingga tidak ada cowok lain yang berani menggangguku. ternyata benar saja, cincin yang melingkar di jari manis ku itu membuat teman - teman kerjaku memperhatikan. terutama Ilham yang sepertinya menaruh perasaan terhadapku.
" Lo udah jadian La sama mas Glen??? " tanya Ilham sinis tak seramah biasanya. tanpa aku jawab pun mereka semua pasti tau, karena Glen secara terang - terangan menjemputku di depan tempat kerja. membuat semua mata terbelalak melihat seorang waitress yang pulang dijemput dengan mobil mewah.
dan lagi - lagi Glen lah yang bersikeras melakukan itu, agar semua orang tau bahwa sekarang ia pacarku, huft...sungguh posesif ternyata cowok keren dan tidak suka basa - basi itu.
bukannya tanpa alasan Glen melakukan itu, semua berawal dari ketika Glen yang sedang makan di kantin dan mendengar teman kerjaku Ilham dan Danu membicarakan aku. mereka membicarakan betapa cantiknya aku dan berharap bisa menjadikanku pacar. jelas saja Glen merasa tidak suka dan memilih cara itu supaya semua tau aku adalah pacarnya.
__ADS_1
entah kenapa teman - teman cewekku juga sikapnya menjadi berubah, terlebih lagi kak Dara yang sekarang kerap sinis padaku, dan Desi yang biasanya begitu akrab denganku terlihat menjauh, begitu juga yang lainnya Ela dan Susi. mereka berubah 180 derajat, membuatku jadi canggung karena merasa tidak punya teman mengobrol lagi, huhu....
aku pun dengan galaunya sampai terbawa bad mood seharian. sewaktu istirahat Glen menyuruhku datang ke bengkelnya, tepatnya menemuinya di lantai 2 ruangannya. Aku datang dengan wajah cemberut yang tidak bisa aku tutupi.
" kamu kenapa sayang??? kok cemberut gitu??" tanya Glen yang menghentikan kerjanya yang sebelum aku datang sibuk memeriksa pekerjaannya di MacBook nya.
" gak papa kok...." jawabku dengan lesu, rasanya aku bad mood sekali sambil merebahkan diriku di sofa berwarna abu - abu yang ada di ruangan itu.
" jangan bohong deh, muka kamu cemberut gitu kok...masa gak apa - apa..." ujar Glen tidak percaya dan beranjak dari kursinya lalu duduk di sebelahku.
" hmmmm....temenku pada ketus semua sama aku, aku gak tau salah aku dimana, mungkin gara - gara mereka tau aku pacaran sama kamu, terus mereka jadi gak suka deh..." ucapku polos dengan mimik begitu sedih, membuat Glen dengan refleks memelukku. dan aku tidak menolak, jelas pelukannya sangat aku perlukan untuk mengibur hariku yang buruk ini, huft.....
" biarin aja La mereka begitu, kan bukan mereka yang ngatur hidup kamu, mau kamu pacaran sama siapapun itu bukan urusan mereka, udah cuekin aja yahh..." bujuknya seraya mengelus pipiku dengan lembut, seketika aku menatapnya dengan penuh arti merasakan perhatian Glen yang tulus tiba - tiba secepat kilat Glen menciumku, membuatku tersentak dengan mata terbelalak, aku sempat menolak dan berusaha mendorong tubuhnya, tapi Glen menahan tubuhku, semakin melumat bibirku lebih dalam dan panas hingga tanpa tersadar tangannya menyentuh dadaku, membuatku sempat mengelak tapi caranya yang begitu lihai mampu membuat sisi wanitaku yang polos ini tidak berdaya untuk menolak, dalam benakku harusnya aku menolak dengan keras karena Bapak selalu menerapkan kedisiplinan dalam keluarga kami, namun gejolak ini sungguh baru untukku dan tak sanggup aku tolak. ' ahhh...kenapa aku jadi seliar ini ' pekikku kesal dalam hati.
" La....gimana kalo kamu resign aja dari kerjaan kamu...."
" maksud kamu apa Glen??? " ujarku sambil mengernyitkan dahi memotong pembicaraan Glen yang belum selesai.
" dengerin dulu Sayang..aku belum selesai, maksud aku, aku pengen kamu kuliah sayang, karna kamu kan masih muda, supaya masa depan kamu lebih baik." ucap Glen seraya mengelus rambutku sambil tersenyum.
" tapi kan kamu tau Glen keadaanku gimana, kalo keadaannya memungkinkan juga aku udah kuliah gak kerja kayak sekarang " jawabku sewot sambil melipat kedua tanganku di dada dan buang muka.
semenjak kami pacaran, aku sudah merasa begitu dekat dan nyaman padanya, jadi aku tidak pernah jaim di depan Glen, dan cowok keren itu tidak mempermasalahkannya.
__ADS_1
" jangan marah dulu dong...maksud perkataan aku tadi nyuruh kamu kuliah tentu aku yang biayain, kamu lupa pacar kamu ini ber'uang'??" ledek Glen mencoba menghiburku yang tampak Bete to the max.
" huuuuu sombongnya.... iya kamu emang beruang yang ada di ragunan.....weeekkkkk" ledekku balik yang disambut tawa geli dari Glen, ia merasa puas sudah bisa membuatku kembali ceria, ia pun mencubit gemas pipiku.
" kamu gak usah repot-repot Glen untuk sampe biayain kuliah aku, aku gak mau ah ngerepotin kamu, aku kan cuma pacar kamu Glen.... serius deh, aku gak papa kok" tolakku tentunya, aku merasa semua yang Glen berikan sudah lebih dari cukup bahkan sangat luar biasa banyak, aku takut dianggap cewek matre, ya meskipun aku tak pernah minta apa - apa, itu semua murni inisiatif Glen.
" justru karena kamu pacar aku dan suatu hari nanti akan jadi istriku, aku pengen memberikan masa depan terbaik untuk calon istriku kelak, kamu pikir aku cuma berniat macarin kamu aja ya??? hmmmm....gak gitu sayang....aku serius jalanin ini semua sama kamu" ucap Glen dengan mimik yang teramat serius.
deg.....
whattttt???? aku gak salah denger kan??? aku menangkap kata CALON ISTRI, are you kidding Glen???? pikirku tidak menyangka, kata - kata luar biasa itu dapat aku dengar keluar dari seorang Glen Mario Zaldy, yang terlahir dari keluarga kaya dan terpandang menginginkan aku yang miskin ini jadi calon istrinya ????? tampaknya aku sedang bermimpi!!!
" memang kenapa sayang??? ada yang salah dengan ucapanku ya?? " tanya Glen menatap wajahku lebih dalam lagi, dengan sorot mata yang begitu hangat dan tulus. membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di muka bumi ini.
tanpa terasa air mataku menetes, aku terlalu bahagia, bahkan tidak pernah membayangkan ini akan terjadi dalam hidupku yang beberapa saat lalu cukup malang hingga Glen datang secara mendadak dalam hidupku dan merubah segala sesuatunya dengan secepat kilat.
" hei...kenapa kamu nangis?? kata - kataku salah yah???" tanya Glen sambil mengusap air mataku dengan ibu jarinya dan terlihat raut wajahnya panik.
" nggak Glen...kamu gak salah, kamu hanya terlalu baik dan itu membuatku begitu bahagia sampai menangis,ini semua terasa seperti mimpi untukku huhuhu...." isakku kembali menangis, seketika Glen mendekapku dengan erat.
" kamu pantas mendapatkan nya sayang....Aku sayang sama kamu Sheila Rasty Pradipta...." ujar Glen lalu mencium pipiku.
" terimakasih Glen, terimakasih untuk semuanya.... Aku juga sayang kamu...." jawabku dan semakin erat memeluknya.
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘