
Glen merasa puas sekaligus canggung dengan sikap kejinya pada Sheila, tanpa sadar ia telah menghabiskan sebotol minuman keras dengan entengnya, membuat kepalanya menjadi pusing dan mabuk. Ya, mabuk adalah salah satu hobi terbaru Glen mengingat jiwanya yang tak sebaik dulu, bisa dibilang dia benci dirinya yang dulu, yang begitu lurus mencintai seseorang hingga akhirnya ia mendapatkan pengkhianatan yang menjijikan dari gadis yang sungguh ia sangat cintai dengan segenap hati.
Nuraninya sudah tersakiti, logikanya menjadi buta oleh dendam yang menyeruak dalam diri. Ia akan melanjutkan perhitungan nya pada Sheila, hingga hatinya merasa puas dengan menghukum gadis malang itu.
***
Sheila masih termenung di dalam kamarnya, matanya sudah bengkak sekali karena sejak kejadian keji pagi tadi ia tak hentinya menangis hingga tak sama sekali menyentuh makanan yang diberikan salah satu pesuruh Glen di villa itu. Ia tidak mau makan, rasanya ia ingin mati saja meratapi kesialannya ini. hatinya terluka melihat perubahan Glen yang seperti Monster, sungguh mengerikan dan menyakitkan. Ia kembali melihat dirinya di kaca, sungguh mengenaskan, begitu banyak jejak yang Glen tinggalkan di tubuhnya, bahkan Sheila masih merasa badannya begitu nyeri dan perih, ia sudah berganti baju dengan baju yang pesuruh Glen bawakan bersamaan dengan makanan tadi siang. Baju tidur berbahan satin berwarna abu muda.
pikirannya terus tertuju pada Ibunya dan Radith, mereka pasti cemas sekali menghadapi keadaan ini, dimana tiba - tiba dirinya menghilang tak tahu kemana.
" Mama....Sheila kangen sama Mama...maafin Sheila Ma sudah kecewain Mama...HIKS... " Isak Sheila mengingat betapa Mamanya pasti bersedih dan cemas luar biasa mendapati anaknya yang menghilang entah kemana.
" Maafin aku juga Dith...ini semua bukan kemauanku... " ujar Sheila pilu, ia menutup mukanya dengan kedua tangannya, tangisnya semakin dalam dan terisak, ia merasa hidupnya sudah hancur, dan tak ada lagi masa depan untuknya.
klekkk...
Tiba - tiba pintu kamarnya terbuka, ia terperanjat melihat sosok Glen yang menghampirinya dengan terhuyung.
" Kenapa Kamu menangis begitu??? " tanya Glen dingin tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" tidak usah pura - pura sedih, aku tahu kamu sangat menikmati permainan kita tadi pagi kan? HAHAHA...dasar murahan... " lanjutnya dengan tatapan mengejek.
deg...
kata - kata Glen sungguh brengsek, Sheila semakin membenci Glen, rupanya lelaki yang kemarin begitu ia puja dan kagumi tak lain adalah seorang lelaki jahanam. sudah lelah Sheila dihina begitu, ia tidak ingin menjadi Sheila yang polos dan bisa diinjak seenaknya saja.
Sheila beranjak turun dari ranjangnya dan menghampiri Glen dengan emosi, ia tidak terima diperlakukan sekeji ini oleh Glen. mengingat Glen yang sedang mabuk, ia ingin berusaha melumpuhkan Glen dan kabur dari tempat itu.
" Dasar kamu BRENGSEK!!!... " umpat Sheila dan hendak menampar Glen namun ditepis dengan cepat oleh Glen.
" Arghhhh....lepaskan tanganku... " seru Sheila berusaha melepaskan genggaman tangan Glen yang menahan tamparannya.
__ADS_1
dengan marah Glen mendorong tubuh Sheila hingga ia terhenyak ke atas ranjang, airmata Sheila kembali menetes. dengan cepat Glen mengunci tangan Sheila dan menindih tubuh gadis itu dengan amarah.
" Aku akan menghukum mu tanpa belas kasih.... !!!" ucap Glen dengan menyeringai, membuat hati Sheila seperti teriris pisau tajam, sungguh Glen sudah berubah menjadi Monster.
" LEPASKAN AKU!!!! Aku benci kamu Glen!!! kamu BRENGSEK!!! kamu biadab!!! kamu Monster!!! Aku benci kamu!!!! " teriak Sheila, kini perlawanannya semakin melemah karena ia sudah tak lagi bertenaga, makan pun ia tidak, ditambah rasa sakit hatinya sudah begitu besar hingga dirinya tak bisa lagi berbuat banyak. Melihat reaksi Sheila membuat Glen merasa agak iba, ia melihat sorot mata Sheila yang semula begitu teduh dan ceria kali ini berubah menjadi ratapan penuh kesedihan dan keputusasaan, sudah sejauh inikah dirinya menyakiti Sheila?? gadis yang sangat ia cintai, tapi tiba-tiba sisi negatif dari dalam diri Glen mengambil alih dirinya.
" Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, kamu Milikku!!! untuk selamanya!! " desis Glen dengan mimik kejam dan bengis.
Glen mencium Sheila dengan beringas, tanpa ampun dan belas kasih, ia sungguh menyukai gadis itu jiwa dan raganya. Nafsunya begitu besar hingga ia tidak tahan menanti hari esok untuk menikmati Tubuh indah Sheila.
lelaki itu menikmati setiap jengkal tubuh Sheila dengan penuh gairah yang membara. Merasa tidak sanggup berhenti, karena terlalu nikmat. Perlakuan Glen membuat Sheila merasa tidak karuan, belum hilang rasa sakit akibat tindakan bengis Glen tadi pagi sekarang ia sudah merasakan sakit untuk yang kedua kalinya.
" tolong hentikan Glen!!! please.... " pinta Sheila dengan sisa - sisa kekuatan yang ia miliki.
" Awwww....Stop Glen SAKIT!!!!?? " keluh Sheila dengan tatapan tak berdayanya, namun Glen terus memacu dirinya untuk memasuki Sheila, sungguh siksaan yang menyakitkan.
Glen tampak begitu menikmati pusaran itu, tanpa peduli dengan ekspresi Sheila yang begitu tersiksa. Sheila merasa pandangannya mulai kabur seperti ada kunang - kunang yang beterbangan di sekelilingnya, dan tak lama ia pun tak sadarkan diri. Membuat Glen sadar bahwa gadis nya telah pingsan, sontak ia menghentikan tindakan kejinya.
" La...jangan bercanda La...ayo bangun!!! " Glen pun turun dari tubuh Sheila dan duduk disebelahnya lalu mengangkat tubuh Sheila kepangkuan nya. Wajah Sheila berubah begitu pucat, Glen semakin panik dan mulai menyesali perbuatannya yang sangat keji.
" La...ayo bangun sayang...Maaf...Maafin aku udah menyiksa kamu... " bisik Glen di telinga Sheila, airmata nya menetes, ia menyesal telah berlaku sejahat itu pada gadis yang sebenarnya sangat ia sayangi namun karena sakit hati mendengar perbuatan Sheila yang mengkhianati dirinya, Glen menjadi murka dan berniat membalas perbuatan Sheila. Tapi yang tersisa kini hanya penyesalan.
Glen buru - buru mengenakan pakaiannya dan memakaikan Sheila pakaiannya tadi lalu menggendong gadis itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Selama diperjalanan Glen merasa begitu khawatir dan menyesal, mengutuki dirinya yang begitu kejam dan bodoh, kalau sampai terjadi apa - apa pada Sheila, tentu ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
***
Radith merasa begitu terpukul mendapati kenyataan bahwa Sheila menghilang. Subuh tadi ia mendapatkan telfon dari Renata yang panik melihat Sheila tidak ada di rumah.
* Flashback *
__ADS_1
dirt...
dirt...
dirt...
Radith yang memang sudah terbangun dan selesai mandi menggapai ponselnya yang berdering sedari tadi, terlihat panggilan dari Tante Renata, ia pun mengangkatnya.
" Halo...pagi Tante Renata.. " sapa Radith membuka percakapan.
" Dith...Sheila Dith... hiks... " suara Renata panik sambil menangis, membuat Radith terkejut.
" ada apa Tante??? Sheila kenapa ??? " tanya Radith merasa ada yang tidak beres.
" Sheila hilang Dith...Sheila gak ada di rumah ...." Tangisan Renata semakin keras, Radith shock bukan main, ia tidak percaya akan apa yang ia dengar barusan, bagaimana mungkin Sheila hilang.
" ya ampun Tante... mana mungkin Sheila hilang begitu saja... " ujar Radith sedih, bagai tertikam pedang tajam.
" Tante juga gak ngerti Dith, Tiba - tiba pas Tante ketuk kamarnya kok gak ada jawaban, pas Tante buka kamarnya Sheila gak ada Dith...hiks...hiks... "
" apa Sheila kabur dari rumah Tan??? " tanya Radith penasaran,
" tapi Baju - baju Sheila utuh Dith, bahkan ponselnya pun masih ada, dompetnya juga... gak mungkin dia pergi gitu aja tanpa bawa apa - apa...Tante...Tante takut Sheila diculik Dith.... " Renata kembali terisak mengingat keberadaan anaknya yang entah sekarang dimana. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa anaknya.
" Ya ampun.... Yaudah Tante tenang dulu yah... Aku akan cari keberadaan Sheila sekuat tenaga aku, semoga aja Sheila baik - baik saja Tante...Tante tenang yah" ucap Radith mencoba tampak tenang walaupun hati dan pikirannya sudah tidak karuan. seharusnya ini adalah hari bahagianya tapi malah menjadi hari terburuk dalam hidupnya.
" iya makasih Dith...Mudah - mudahan Sheila gak kenapa - kenapa yah, Tante gak bisa tenang jadinya... " ucap Renata pilu.
" Amin Tante...Tante pokoknya tenang dulu dan jangan berpikir macam-macam, aku pasti akan menemukan Sheila. " ungkap Radith penuh keyakinan, dengan orang-orang suruhannya yang ahli pasti Sheila akan ditemukan.
bersambung
__ADS_1