
Setelah makan bareng bersama Sheila, Glen mengantarkan kekasihnya itu pulang ke rumah, sesuai dengan janjinya tadi kepada Renata yang akan memulangkan Sheila tepat waktu. disamping itu juga Glen merasa cukup kelelahan sepulangnya dari Surabaya. seminggu kemarin ia sungguh sibuk mempersiapkan pembukaan Showroom baru disana.
Ketika mobilnya memasuki pekarangan, terparkir mobil SUV putih yang tak asing. Glen pun bergegas turun dan buru - buru masuk ke dalam rumah.
Glen tampak terpaku melihat sosok lelaki yang jarang sekali muncul di hadapannya, karena sibuk mengasingkan diri di Villa keluarga milik mereka.
Dia adalah Roy Zaldy, Papi Glen yang dalam setahun hanya beberapa kali berkunjung ke rumahnya.
Meskipun Papinya begitu dingin padanya namun Glen tetap bahagia mengetahui kedatangan Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
" Papi udah lama datang ??? " sapa Glen sembari mencium tangannya.
" Belum..." jawab Roy singkat, yah begitulah Papinya, tidak banyak bicara dan dingin, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat menyayangi anak - anaknya meski dengan caranya sendiri.
Tentu saja semua sikap dinginnya itu berawal sejak istrinya pergi meninggalkannya. Sejak saat itu Roy berubah menjadi tak sehangat dulu, ia bahkan masih memendam rasa sakit selama hampir 20 tahun. menikmati kesendiriannya dalam sunyi, di Villa yang dimiliki oleh Ayahnya dulu dan diturunkan padanya.
Setelah menyapa Papinya Glen berniat untuk pergi membersihkan diri lalu istirahat di kamarnya. tapi tiba - tiba Roy berkata...
" Sudah berapa usia kamu sekarang ??? " tanyanya datar pada Glen.
" 27 tahun Pih... " jawabnya.
" sudah saatnya kamu menikah dan memiliki keturunan.... " perkataan Roy yang mendadak itu mengejutkan Glen, sejak kapan Papi jadi begitu peduli tentang kehidupan ku, apalagi masalah menikah, sungguh aneh.
__ADS_1
" menikahlah dengan Angel.... hanya dia satu - satunya perempuan yang pantas bersanding denganmu, Papi kenal betul orangtuanya, dan kalian sudah saling mengenal sejak kecil. " Roy menambahkan, dia terlihat serius dan tak ingin dibantah. sungguh superior seperti biasanya.
mendengarnya membuat Glen naik pitam, seakan - akan Papinya berhak mengatur hidupnya sedemikian rupa. Secara mendadak dan tanpa basa basi, memangnya aku ini anak kecil!!! pikirnya kesal.
" Maaf Pih ..Glen gak mau nikah sama Angel..." Glen kali ini memberanikan diri untuk menolak permintaan Papinya, dengan penuh percaya diri. baginya, hanya Sheila satu - satunya perempuan yang akan ia nikahi, bukan Angel atau yang lainnya.
mendengar jawaban sinis anaknya membuat Roy emosi, terlihat jelas air mukanya berubah menjadi keruh. kurang ajar anak ini, sudah berani melawan orang tua ya!!! pekiknya kesal.
" jadi kamu menolak permintaan Papi ???!! beraninya kamu menolak Glen, kamu lupa siapa yang membiayai semua kebutuhanmu selama ini??? hah??? kamu lupa bisa sesukses sekarang karena siapa ??? jangan kamu lupa ya, tanpa semua yang Papi berikan, kamu itu bukan siapa - siapa, jadi jangan kurang ajar dan turuti kata - kata Papi!!!" teriak Roy dengan emosi yang meluap-luap. ia kesal karena kini Glen tumbuh menjadi anak yang tidak penurut.
" Papi pikir bisa seenaknya mengatur hidup Glen??? Glen sudah dewasa Pih, Glen bukan lagi anak ingusan yang bisa Papi atur seenaknya, ya Glen tau dan sadar kalau semua kemewahan ini berasal dari Papi, tapi apa Papi pernah bertanya sama Glen apa yang sebenarnya Glen mau??? Gak kan??? Papi cuma mikirin diri Papi sendiri, Papi ngerasa cuma Papi yang berduka atas kepergian Mami 20 tahun yang lalu!!!! tanpa Papi sadar bahwa Aku dan Mima juga sama menderitanya seperti Papi, Papi tuh EGOIS!!!! "
PLAKKKKKKKK.......
Tamparannya memang sakit, tapi hati Glen lebih sakit, ia sekilas mengelus pipinya yang tampak memerah, dan matanya mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka Papinya bisa setega itu, ahh....ia memang Ayah yang tega, buktinya ia hanya mementingkan dirinya selama ini bukan??
Glen pun menyunggingkan senyuman penuh kengerian ke arah Papinya lalu berlari meninggalkan Papinya yang tampak menyesal telah menampar anak sulungnya itu. Ia merasa menjadi orangtua yang kejam dan tidak berperasaan.
ia sadar akan apa yang anaknya katakan tadi memanglah benar. Dirinya terlalu sibuk berduka hingga melupakan tanggungjawabnya kepada kedua anaknya yang sangat butuh perhatian dan kasih sayangnya. sayang, ia terlalu buta dengan sakit hatinya, sehingga ia lupa bahwa kedua buah hatinya pun memendam rasa sakit yang tak kalah besar.
di Dalam kamar Glen berteriak kencang meluapkan emosinya dan menghancurkan barang - barang yang ada di dekatnya membuat para pelayan yang sedari tadi menyaksikan perseteruan antara ayah dan anak itu ketakutan. Mereka tidak berani bertanya, tentu saja tidak.
Glen merasa diperlakukan secara tidak adil oleh orang dewasa yang EGOIS bergelar orangtua itu. Yang seenaknya saja mengatur hidup anaknya yang ia telantarkan begitu saja selama 20 tahun. Apakah lelaki itu pernah bertanya sekali saja apa yang anaknya inginkan, dasar EGOIS!!! pikir Glen geram.
__ADS_1
Ia pun membulatkan tekad untuk pergi meninggalkan rumah. Ia tidak ingin tinggal di rumah lelaki menyebalkan itu. yang begitu egois dan angkuh.
" ini semua memang miliknya, aku tak butuh harta dan kemewahan jika hidupku harus terjajah " pikirnya lalu membawa kembali koper yang ia bawa dari Surabaya yang belum sempat ia keluarkan isinya.
Ia berniat ingin pergi ke apartemen yang ia beli tanpa sepengetahuan Papinya.
Ketika beranjak keluar kamar ia Kaget melihat adiknya Mima yang baru pulang kuliah.
" Kakak mau kemana lagi ???" tanya Mima penasaran, dipikirannya kakaknya itu baru saja kembali dari Surabaya tapi kenapa ingin pergi lagi.
" Kakak ada keperluan...Kamu baik - baik ya di rumah..." Glen pamit pada Mima dan mencium kening adiknya yang tampak masih curiga dengan kepergian Kakaknya yang tak wajar. ditambah lagi Dengan kehadiran Papinya, mana mungkin Kakaknya pergi disaat seperti ini. Tapi dia memilih untuk tak banyak bertanya, karena tampang Glen yang kurang bersahabat membuatnya segan.
Glen pun pergi meninggalkan rumah tanpa mempedulikan tatapan sinis Papinya yang memanggil - manggil namanya dengan marah di lantai bawah, ia berlalu begitu saja dengan acuh.
Tante Lusi yang baru turun dari mobil pun menghampiri Glen yang sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi.
" Kamu mau kemana Glen??? bukannya kamu baru pulang dari Surabaya?? " tanya Lusi keheranan, melihat raut wajah Glen yang berbeda. Glen pun merespon pertanyaan Tante Lusi datar.
" kemana aja Tante yang penting gak ketemu sama lelaki EGOIS itu... " jawabnya ketus dan pergi begitu saja dengan mobil sedan hitamnya.
membuat Lusi kebingungan, tapi setelah melihat Mobil Roy terparkir di pekarangan, tampaknya Lusi mulai paham tentang kepergian Glen yang penuh emosi.
" Dasar Lelaki EGOIS itu memang menyebalkan !!! " pekik Lusi kesal melihat tingkah Abangnya itu.
__ADS_1