
Radith tak hentinya tersenyum mengingat esok adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. ia akan menikahi wanita yang ia cintai dan hidup berdampingan sampai maut memisahkan mereka berdua. ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah menganugerahkan wanita cantik dan baik untuk menjadi istrinya. Mimpi yang sempurna dan terkabul dengan baiknya. Mengingat betapa kelamnya masa lalunya, ia merasa begitu beruntung dan Tuhan begitu baik padanya. Ia terkekeh menertawakan dirinya yang bisa luluh pada wanita cantik dan polos sederhana seperti Sheila, bukan gadis - gadis dari dunia malam seperti yang selalu ia tiduri untuk kenikmatan sesaat.
lamunannya begitu jauh hingga Radith tidak menyadari kedatangan Rita ibunya.
" Mama gak nyangka Dith, besok kamu akan menikah ..rasanya baru kemarin Mama mengajari kamu memanggilku Mama, dan rasanya juga baru kemarin Mama mengajarkanmu melangkah untuk yang pertama kalinya...tapi anak laki-laki dihadapan Mama ini besok akan resmi menjadi suami seseorang dan kelak jadi seorang Ayah, ah waktu cepat sekali berlalu... " ucap Rita bahagia sekaligus terharu hingga menitikkan air mata.
Radith refleks memeluk Mamanya, mengelus pundaknya dengan lembut.
" Radith akan terus mencintai Mama sampai kapanpun, karena Mama adalah cinta pertama Radith, wanita yang selalu jadi yang terpenting dalam hidup Radith...Aku bersyukur karena sudah terlahir dari rahim wanita sebaik dan sehebat Mama... " bisiknya lalu mempererat pelukannya. Tanpa terasa air matanya pun menetes tak tertahan.
" Mama juga bersyukur punya kamu dan kedua adikmu Dalam hidup Mama Dith...kalian adalah anugerah terindah yang sudah Tuhan berikan kepada Mama setelah Papa kamu... " ucapan Rita membuat Radith terkenang akan mendiang Papanya yang pergi terlalu cepat, meninggalkan dirinya, Mamanya dan kedua adiknya. seandainya beliau masih hidup, pasti beliau akan sangat bahagia melihat dirinya menikah dengan Sheila.
" Terimakasih Ma...Radith sayang sekali sama Mama... " ungkap Radith dan mencium kening Rita penuh cinta.
" Mama juga sayang sekali sama Radith... " Rita membalas mencium kening Anak sulungnya itu.
***
Hati Sheila semakin berdebar tak karuan, bukan karena bahagia atau merasa tak sabar akan hari pernikahannya esok, justru sebaliknya, ia ingin sekali hari esok tidak pernah tiba dan ingin menghilang dari dunia ini.
ia termenung di teras depan rumahnya, kebetulan Renata, Luna dan Amel sudah lelap tertidur, karena tidak ingin esok bangun kesiangan.
Tiba - tiba sosok Pria berpakaian serba hitam dan memakai masker mengendap - ngendap menghampiri gadis yang sedang terbuai pada lamunannya itu, lalu menyergap Sheila dan menempelkan sapu tangan membekap gadis yang berubah menjadi panik tidak karuan, Sheila berusaha menepis sosok misterius dibelakangnya, ia meronta-ronta sejadinya, tapi sayang kesadarannya lama - lama melemah dan tak sadarkan diri.
Orang misterius itu pun segera mengangkat tubuh Sheila yang sudah pingsan kedalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah Sheila. Ia pun bergegas pergi membawa gadis itu pergi sejauh mungkin, berharap siapapun tidak bisa menemukannya.
***
Sheila merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya, ia mulai membuka matanya secara perlahan, ia tampak terkejut bukan main melihat ke sekelilingnya, sebuah kamar yang asing dan yang pasti ia bukan berada di kamarnya, rasa panik menyeruak dalam benaknya. Ia takut akan diculik seperti waktu itu lagi. bagaimana ini!!! pikirnya suram.
ia pun turun dari ranjangnya meneliti area sekitarnya. Matanya tertuju pada pemandangan yang ada di luar jendela kamarnya. terhampar luas kebun teh yang hijau dan pepohonan Pinus yang menjulang tinggi. " Astaga...dimana aku sekarang??? " serunya kaget melihat pemandangan didepannya. jelas sekali ini bukan rumahnya, dan tempat ini belum pernah ia datangi sebelumnya, ah pikirannya makin tak menentu, apalagi ini sudah pagi, bukankah sekarang adalah hari pernikahannya, ya Tuhan...ada apa ini...hiks.
klek....
__ADS_1
Sheila terkejut dengan suara pintu yang terbuka, ia kaget bukan main ketika melihat siapa orang yang membuka pintu kamarnya.
" GLEN.... " pekiknya kaget, ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" kenapa begitu terkejut ??? " tanya Glen dengan senyuman sinis dan perlahan mendekati Sheila dengan wajah dinginnya. ekspresi yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan pada Sheila.
" ma...maksud kamu apa Glen??? " ucap Sheila makin tidak mengerti tentang tingkah Glen yang sangat berbeda.
" kamu pikir, kamu bisa pergi dariku semudah itu hah??" seru Glen tersenyum penuh kengerian, semakin membuat Sheila takut. wajah Glen tampak agak berbeda, ada lingkaran hitam di matanya, sepertinya Glen kurang tidur.
" Aku gak ngerti maksud kamu Glen, kenapa kamu jadi aneh begini???!!! " Tanya Sheila dengan suara bergetar, sungguh ini bukan Glen yang ia kenal kemarin.
" Kamu yang berubah La...kamu yang nyakitin aku!!! selama ini aku selalu sayang sama kamu, aku lakukan apapun untuk kamu, sampai aku memberikan seluruh cinta aku sama kamu, kami satu - satunya untukku La...tapi kamu mengkhianati aku sedalam itu, kamu rela menyerahkan kesucianmu pada lelaki brengsek itu, dasar murahan!!! " maki Glen dengan bengisnya.
Plakkkkkk....
Sheila mendaratkan sebuah tamparan pada wajah Glen, ia tidak menyangka Glen bisa se kasar itu padanya. mengatainya murahan, betapa sakit hatinya mendengar kata-kata itu. Apalagi terlontar dari orang yang ia cintai.
" kurang ajar kamu Glen...hiks...hiks... " Sheila menangis tersedu-sedu.
Glen hanya menatap Sheila dengan pandangan bengisnya, seperti tak bergeming dengan tangisan gadis dihadapannya, ia berusaha terlihat angkuh dan masa bodoh.
" Kamu pikir kamu sudah sempurna hah?? aku tahu aku bodoh karena telah menyerahkan kesucianku pada Radith, tapi aku tidak pernah berniat untuk itu, asal kamu tahu, rasanya aku juga ingin sekali menghilang dari dunia ini karena perbuatan bodohku itu... Hiks..." ujar Sheila penuh kesedihan dan penyesalan yang dalam.
Glen mendekatkan dirinya lalu merengkuh Sheila dan mencium bibir gadis itu dengan penuh emosi, membuat Sheila sekuat tenaga menolak dan mendorong tubuh Glen agar menghentikan ciumannya. Namun Emosi yang merasuk di diri Glen membuatnya gelap mata, ia menahan dengan begitu kuat tubuh Sheila lalu terus menghujani Sheila dengan ciuman kasar yang menuntut itu, membuat Sheila terpaksa menurut dan Glen melepas ciumannya karena sudah kehabisan nafas, begitupula dengan Sheila yang nampak terengah-engah, tatapannya penuh nanar melihat kekejaman Glen yang seperti itu.
" Glen please jangan_ " pinta Sheila dengan wajah sedihnya, berharap Glen akan menghentikan kegilaannya.
Namun lelaki yang sedang terbakar amarah itu kembali menciumi Sheila dengan kasar bahkan tangannya sudah meraba liar ke seluruh tubuh Sheila, hingga membuat Sheila mengeluarkan air mata, ia tidak mau Glen begini, ini tidak benar, dia sedang marah dan itu tidak baik.
Glen dengan kasar merobek baju Sheila, melemparnya asal, dan menyisakan tak sehelai benangpun di tubuh gadis itu. Sheila berteriak penuh ketakutan, ia terus memohon pada Glen untuk menghentikan aksi bejatnya, namun lelaki itu tampak kesetanan dan mengabaikan teriakan Penolakan Sheila.
' persetan kamu Sheila, aku akan memilikimu selamanya...tidak ada satupun yang bisa memiliki mu selain aku ' pekik Glen dalam benaknya.
__ADS_1
Sheila menangis meraung-raung dengan tak berdaya, tubuhnya sudah di kunci oleh Glen yang tampak sudah melepas semua pakaiannya.
" jangan berpura-pura seperti kamu baru melakukan hal ini La...karena kamu adalah gadis murahan... " ujar Glen dengan senyum penuh dendam, membuat Sheila menangis begitu pedih, sakit sekali rasanya... Sebegitu dalamnya Glen membencinya, hingga ia tega melakukan kekejian ini.
" Stop Glen, aku mohon.... jangan lakukan ini...Please.... " Sheila memohon dengan sisa - sisa harapan yang ada.
Plakkkkkk....
namun Glen dengan kejamnya malah menampar Sheila, hingga bibirnya terluka.
' sakitttttt sekali ya Tuhan...tega sekali dia padaku... ' lirih Sheila.
Tanpa rasa bersalah Glen melakukan kebejatannya pada Sheila yang sudah tampak begitu berantakan. Glen menyentuh dada Sheila dengan beringasnya, membuat banyak tanda cinta disekitarnya. Membuat Sheila kesakitan. tak lama Glen melancarkan serangannya pada bagian sensitif Sheila hingga gadis itu menangis dan mengerang dengan kencang.
" aakhhhhh sakit Glen, stop....aku mohon Glen.... " teriak Sheila, ia merasa seperti sedang bersama dengan monster yang kejam, yang tidak memberikan sedikitpun kelembutan padanya.
Glen tampak tak peduli, ia terus menyerang Sheila dengan kerakusannya.
Sheila merasakan perih yang teramat sangat, mengingat ia baru melakukan hal itu dengan Radith, membuat air matanya terus menetes, tapi kini ia menangis tanpa suara, karena tubuhnya merasa begitu lelah.
' sakit sekali ya Tuhan... '
Akhirnya Glen mengakhiri kegilaannya karena sudah mencapai klimaksnya, ia merebahkan dirinya di samping Sheila yang masih begitu shock dan menangis dalam diam. Tubuhnya sangat sakit dan nyeri, tapi hatinya lebih sakit, ia tidak menyangka jika Glen akan menginjak harga dirinya seperti ini, sungguh rasanya ia ingin mati saja.
tanpa sedikitpun rasa bersalah, Glen pergi meninggalkan Sheila di kamarnya lalu menguncinya, agar gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana.
Membuat Sheila menatap dengan pilu, melihat ketidak pedulian Glen dan perubahannya yang seperti Iblis.
" Aku benci kamu Glen.... " gumam Sheila penuh kegetiran.
*bersambung
like dan coment nya dong, jangan cuma jadi silent reader aja 😂*
__ADS_1