
Aku berdiri di depan jendela, meniti hujan yang turun begitu deras membasahi bumi. Ini adalah hari ke 7 Bapak ninggalin aku, selama 7 hari itu pula aku tak hentinya menangis, karena rumah ini adalah saksi bisu kenangan tentang Bapak, disetiap sudut rumah masih terpatri betul kenangan Indah tentangnya.
Apakah memang sesakit ini jika kita kehilangan seseorang yang amat berarti....
Seandainya waktu bisa diulang kembali, ingin sekali rasanya aku menemani Bapak di rumah hingga kejadian tragis itu tak perlu terjadi, tapi tetap saja takdir Tuhan tidak dapat kita tolak. Tuhan tau mana yang terbaik untuk umat-Nya.
Di sudut Kamar Depan terdapat Mama yang sedang meringkuk sambil menangis di atas ranjangnya. Mama masih sangat berduka hingga kehilangan nafsu makannya, susah sekali membujuk Mama untuk makan, tatapannya bahkan begitu kosong dan dingin, seperti tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup.
ditambah kedua abangku yang juga merasa terpukul hingga lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya masing - masing.
*******
Keesokan harinya Tante Amel adik Mama datang dari Bandung bersama anaknya Luna. Tante Amel yang kebetulan sudah menjanda juga dan hanya bekerja sebagai buruh cuci karena mengalami kebangkrutan akibat almarhum Om Akbar yang gemar berjudi sehingga meninggalkan banyak hutang. Hingga terpaksa harus menjual rumah dan semua aset berharga selepas kepergian suaminya. Dan setelah mendengar Bapak meninggal Tante Amel dan anaknya Luna yang umurnya berada di atasku setahun memutuskan untuk sementara tinggal di sini menemani Mama yang masih terpukul dengan kepergian Bapak.
aku berharap kedatangan Tante Amel dan Luna membawa pengaruh baik untuk kesehatan Mama, supaya Mama bisa terhibur dan merasa jauh lebih baik.
" Turut berdukacita ya Mbak atas kepergian Mas Sony...Maaf baru sekarang bisa kesini karena keadaan yang gak memungkinkan " ucap Tante Amel ketika baru sampai di rumah kami, dia langsung memeluk erat Mama sambil menangis.
" iya gak papa Mel.... " jawab Mama pelan lalu menangis lagi.
Aku dan Luna tidak terlalu dekat, karna jarak rumah kami yang jauh, aku di Jakarta dia di Bandung, namun kami kerap bertegur sapa melalui WhatsApp dan sosmed.
Luna adalah gadis yang manis, dia sangat mirip dengan Tante Amel, rambutnya sangat tebal dan hitam dengan kulit hitam manis yang membuatnya terlihat eksotik.
" Tante Amel nanti tidurnya sama Mama aja ya, biar Luna tidur sama aku..." ujarku ketika Tante Amel hendak mandi.
" iya La... " jawab Tante Amel seraya tersenyum.
Kebetulan Minggu depan aku sudah mulai masuk kuliah, untung saja ada Tante Amel, jadi Mama ada yang nemenin selama aku kuliah.
Malamnya aku berbincang-bincang dengan Luna yang nasibnya kurang beruntung karena tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi akibat ulah Almarhum om Akbar yang membuat tabungannya habis untuk membayar hutang-hutangnya.
" Kamu beruntung La, masih punya kesempatan untuk lanjut kuliah, gak kaya Aku... huhu.. " ungkap Luna sedih, aku jadi merasa iba.
" kamu yang sabar ya Na, semoga nanti ada jalannya untuk kamu bisa kuliah ya.. " hiburku sambil mengelus bahunya dengan lembut. Luna yang tadinya menunduk sedih akhirnya mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
" kalau Gak kamu tinggal disini aja Na, terus nyari kerja deh disini, banyak kok lowongan kerjaan disini, kalau kamu mau kamu bisa kerja di tempat kerja aku kemarin. " tukasku.
" emang kemarin kamu sempat kerja La?? " tanya Luna heran. " lah bukannya kamu kuliah La, kok bisa " tambah Luna yang penasaran.
" iya tadinya aku kerja Na sehabis lulus sekolah, soalnya Bapak gak punya biaya lagi untuk kuliahin aku, eh pas jalan 2 bulan kerja aku dapet beasiswa hehe...trus aku keluar deh " jelasku, walaupun alasan yang sebenarnya aku bisa kuliah karena dibantu oleh Glen, Luna tidak perlu tau yang sebenarnya.
" wah kamu hebat La...bisa dapet beasiswa di universitas terbaik, hmmmm....gak kayak aku yang bodoh dan miskin ini...huft.. " keluh Luna sedih meratapi nasibnya.
" sabar Na...kalau kamu mau usaha keras, pasti ada jalannya kok...semangat ya.. " hiburku, aku tau pasti kamu berat banget jalaninnya Na, tapi kalau kita mau berjuang pasti Tuhan akan kasih jalan yang terbaik.
*******
Dalam beberapa hari saja Aku dan Luna sudah jauh lebih akrab, Luna ternyata anak yang supel alias mudah bergaul, dia pun cukup cerewet sehingga selalu ada saja hal yang bisa dibahas, membuat suasana selalu hidup.
Luna bahkan tak segan berbagi cerita tentang mantan pacarnya Hendra yang habis ia porotin lalu ditinggal pergi begitu saja, ckck. sepertinya Luna adalah tipe anak yang terbuka, berbeda denganku yang tertutup. menceritakan tentang Glen saja aku tidak pernah selama beberapa hari Luna di rumahku. kebetulan Glen sedang melanjutkan kepentingan bisnisnya di Surabaya yang sempat terhambat kemarin, jadi ia belum ke rumahku selama 6 hari, baru besok rencananya akan kembali ke Jakarta, aku pun sudah rindu, dengan kekasih tampanku itu.
*******
setelah seminggu di Surabaya akhirnya Glen pulang ke Jakarta. Hatinya sudah terlalu lama menahan rindu pada kekasihnya, selama 7 hari mereka hanya bisa saling sapa lewat video call. baginya seminggu seperti seabad, ia selalu kepikiran tentang Sheila, bagaimana keadaannya?? sedang apa ??? dan dengan siapa??? ahh...dasar pencemburu.
Glen sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum, ia ingin memberikan surprise pada gadisnya. sengaja ia tak mengabari Sheila kalau ia sudah pulang dari Surabaya. ahhh...pasti dia akan terkejut sekali melihat aku tiba-tiba ada di depan rumahnya. kali ini tidak ada yang membuat Glen ragu, sebab Mama nya Sheila sudah mengetahui hubungan diantara mereka sehingga tidak ada lagi kata sembunyi - sembunyi.
tak lupa Glen sudah membelikan gadisnya oleh - oleh lebih tepatnya banyak sekali oleh - oleh. dari makanan, baju, tas, dll. Ya semua ada 2 koper oleh - oleh, seperti mau membuka kedai saja, ckck. Dia ingin membagikan semua anggota keluarga Sheila buah tangan, setidaknya ia berusaha menghibur keluarga pacarnya yang sedang dirundung duka.
Akhirnya Mobil mewah Glen sampai di depan rumah Sheila, ia pun keluar dari mobilnya. pelan - pelan ia membuka pintu pagar agar tidak ada yang mendengar.
tok...
tok...
tok...
Glen mengetuk pintu...
tak lama kemudian datang seorang perempuan yang asing baginya membuka pintu.
__ADS_1
" wah tampan sekali cowok ini " gumam perempuan itu sambil berdecak kagum melihat ketampanan cowok yang ada dihadapannya, seperti sedang melihat seorang artis di TV. Lama ia terdiam....membuat Glen merasa bingung. " Siapa sih dia???" tanya Glen dalam hati, sebelumnya ia tidak pernah melihat perempuan ini.
" maaf mba...Sheilanya ada?? " sapa Glen memecahkan keheningan sambil tersenyum.
" ahhh makin tampan aja kalau senyum " pikir perempuan yang ternyata adalah Luna, tanpa sadar ia senyum - senyum sendiri, kesemsem dengan ketampanan Glen.
" mbak..... " Glen kembali memanggil lawan bicaranya, kali ini suaranya lebih tinggi supaya sang lawan bicaranya sadar dari lamunannya.
" eh iya...maaf Mas...maaf...Cari Sheila ya??? " jawab Luna yang kaget sendiri dan jadi salah tingkah, sambil garuk-garuk kepala dia menjawab " Ada mas ada...saya panggilan dulu ya..." ujar Luna seraya bergegas masuk memanggil Sheila, Glen pun mengangguk.
" bahkan gw gak disuruh masuk, ckck " umpat Glen kesal, " siapa sih tuh cewek "
" La...ada cowok tampan nyariin kamu di teras... " ujar Luna pada Sheila yang sedang asyik nonton TV di kamarnya.
" cowok tampan???? siapa??? " tanya Sheila tidak paham dengan maksud Luna.
" eh iya aku lupa lagi tanya namanya, soalnya aku terpana sama ketampanannya La, ya ampun " ucap Luna seraya menutup wajahnya dengan malu dan tertawa geli.
duh makin gak jelas nih si Luna, aku samperin aja deh...pikirku.
aku pun beranjak dari atas tempat tidur menuju pintu depan.
" ahhhh kamu udah pulang???? " teriakku yang seketika lupa diri tidak lihat dimana aku berada. aku pun langsung buru-buru menurunkan nada suaraku.
" kamu gak gak kasih tau aku sih??? " tanyaku sambil mencubit perut Glen membuat kekasihnya itu menggeliat kesakitan.
" sengaja dong biar surprise, hehehe " ledek Glen lalu mencium kening Sheila dan memeluknya melepas rindu.
" jangan peluk - peluk disini ah nanti ada yang liat aku gak enak..." bisik Sheila pada telinga Glen, dengan refleks Glen melepas pelukannya.
" iya oke...aku ngerti.... " tukas Glen dengan raut wajah sedikit sebal.
" jangan marah dong, ntr gantengnya hilang..hehe " rayu Sheila sambil mengelus pipi Glen, membuat senyum di wajah lelaki itu kembali merekah.
tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tidak suka melihat keromantisan mereka.
__ADS_1
Bersambung