
Hari ini xixi berencana untuk mengajak pangeran jalan-jalan ke luar istana. Pangeran yang malang ini, tidak pernah melihat tentang keindahan dan keseruan dunia ini. Setidaknya Xixi ingin pangeran merasakan keseruan itu dari indera pendengarannya. Dia ingin pangeran merasakan sekali saja kehidupan orang lain.
"Pangeran, apakah sudah bangun?" ketukan pintu terdengar dan terdengar panggilan dari Xixi
Pangeran yang masih setengah sadar, membuka matanya dan mencoba bangun dari ranjangnya. Dia mengambil tongkatnya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
"Ada apa? Mengapa kamu sangat berisik?" tanya pangeran sedikit kesal.
"Maafkan hamba pangeran." ucap Xixi dan membantu pangeran ke dalam kamarnya lagi.
"Aku sudah menyiapkan perlengkapan untuk mandi pangeran, setelah itu aku akan membantu pangeran sarapan kemudian aku akan mengajak pangeran bermain." ucap Xixi tanpa jeda sambil membereskan tempat tidur pangeran.
Xixi menyiapkan pakaian yang akan dipakai pangeran, dia membawa pangeran ke tempat pemandian dan membantunya membersihkan tubuhnya. Pangeran yang semula biasa saja dengan pelayanan Xixi, sejak kehilangan dirinya, pangeran mulai menyadari ada perasaan lain yang tumbuh di hatinya, dan dia merasa malu dengan pelayanan ini.
"Ada apa pangeran?" tanya Xixi dengan polos
"Bisakah aku melakukannya sendiri? Kita sudah dewasa." ucapan pangeran yang terasa aneh dengan wajah yang sudah memerah.
"Bukankah sudah beberapa tahun ini, hamba selalu membantu pangeran mandi?" ucap Xixi.
"Tapi sekarang usiaku sudah 18 tahun. Aku sudah bisa mandi sendiri." ucap pangeran yang langsung menarik handuk yang dipegang oleh Xixi.
"Baiklah, jangan marah. Hamba akan keluar. Panggil hamba jika sudah selesai." ucap Xixi sedikit menggodanya.
Pangeran mulai membersihkan tubuhnya. Wajahnya sangat merah karena perasaan malu. Dia tidak menyangka bahwa Xixi yang pertama kali menyentuhnya dan bukan calon istrinya. Pangeran semakin malu setelah sadar bahwa selama ini Xixi sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa pakaian.
__ADS_1
"Ah, sial. Kenapa aku baru menyadarinya." ucap pangeran penuh penyesalan.
"Pangeran, apakah sudah selesai?" tanya Xixi
"Aku sudah selesai. Biarkan aku memakai pakaianku sendiri." ucap pangeran dengan lantang.
Pangeran selesai berpakaian dan keluar dari pemandian. Xixi langsung membawa untuk sarapan. Seperti biasa Xixi menyuapinya dengan lembut. Pangeran sekali lagi merasa malu dan akhirnya makan sendiri. Pangeran memakan makanan itu dengan cepat dan lahap untuk menutupi rasa malunya.
"Pangeran apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mengapa pangeran bersikap aneh dari pagi?" tanya Xixi penasaran.
"Aku baik-baik saja." ucap pangeran dengan gugup.
Xixi terus memandanginya dan merasakan hal aneh lainnya. Sejak pagi wajah pangeran terus memerah seperti udang rebus. Xixi khawatir pangeran sedang sakit dan tidak ingin berkata jujur padanya. Xixi mencoba menatapnya dengan intens dan berharap dia mengetahui keadaan pangeran sebenarnya. Merasa tidak menemukan apa-apa. Xixi menempelkan keningnya ke kening pangeran untuk mengukur suhu tubuh pangeran. Pangeran yang merasakan kedekatan tanpa jarak ini, membuat jantung pangeran berdetak kencang dan tubuhnya gemetar. xixi merasakan kejanggalan itu, langsung menempel kepalanya di jantung pangeran. Dia mencoba mendengarkannya dan jantung itu berdetak semakin kencang.
"Apakah dia sudah tidak membutuhkan aku lagi?" tanya kata itu yang terucap dalam hatinya.
Sebuah tetesan air mata mengalir dipipinya. Pada akhirnya pikiran buruk menghantui pikirannya. Dia berpikir bahwa pangeran sudah tidak membutuhkannya lagi. Hatinya terluka dan kecewa. Kesedihan melanda dirinya. Pangeran yang sampai di kamarnya, duduk terdiam dan menyesali perbuatannya. Dia menyesal telah mendorong dan meninggalkan Xixi karena rasa malunya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Mengapa aku jadi pria pecundang?" ucap pangeran dalam hatinya sambil memukul-mukul kepalanya.
"Apakah dia akan marah padaku?" tanya pangeran dalam hati dengan perasaan cemas.
Pangeran duduk dengan gelisah. Dia menunggu Xixi datang kepadanya. Sepanjang hari dia hanya mondar-mandir di dalam kamarnya menunggu kedatangannya. Sudah hampir senja, namun Xixi sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi langkah seseorang menuju kamarnya. Terdengar bunyi ketukan pintu. Pangeran berjalan dengan cepat membukakan pintu itu. Ternyata yang datang dayang istana lain yang mengantarkan makan malam.
"Dimana dayang istana Xixi?" tanya pangeran.
__ADS_1
"Datang istana Xixi sedang ditugaskan oleh kaisar untuk pergi ke kediaman panglima istana. Kaisar menyuruhnya untuk mengantarkan surat perintah bersama beberapa pengawal istana." jawab dayang istana.
"Kapan dia kembali?" tanya pangeran penasaran
"Dalam tiga hari ke depan pangeran." jawab dayang istana.
"Pergilah." perintah pangeran.
Dayang istana itu pergi meninggalkan kediaman pangeran. Pangeran merasakan bahwa Xixi sedang marah dengannya, sehingga bersedia menjalankan perintah kaisar. Pangeran merasa gelisah. Dia tidak nafsu makan selama Xixi pergi. Pangeran memikirkan alasan yang akan dia berikan kepada Xixi saat Xixi kembali.
"Apa yang harus aku lakukan agar Xixi tidak marah lagi padaku?" ucap pangeran dalam hatinya.
Pangeran mencoba menuliskan alasannya melalui surat. Sepanjang malam dia memikirkan rangkaian kata yang pas. Namun selalu gagal. Berkali-kali dia menuliskan di surat itu, berkali-kali dia gagal. gumpalan kertas berserakan di dalam kamarnya. Tidak ada satupun kalimat yang dituliskan.
Di hari berikutnya pangeran mencoba membuatnya patung Xixi dan ingin menuliskan permintaan maaf di patung itu. Sekali lagi patung pun gagal dibuatnya. Patung yang dibuat oleh pangeran tidak sesuai dengan yang diharapkan. Patung Xixi gagal dibuat oleh pangeran. Kali ini pangeran tidak ingin menyerah, setelah dia kali gagal. Dia memutuskan untuk membuat lukisan. Melukis adalah bakat pangeran yang terpendam. Pangeran mulai melukis sebuah gambar yang memiliki makna permintaan maaf dengan tulus dan sebuah ekspresi rasa kerinduan serta cinta yang tidak bisa diungkapkan. Pangeran melukiskan semuanya ketulusan, berharap Xixi dapat memahami lukisannya ini.
Pangeran berjuang keras, meskipun tidak dapat melihat dengan matanya. Dia dapat melihatnya dengan perasaannya. Dia memiliki kemampuan melukis sesuatu yang indah dengan instingnya. Lukisan itu telah berhasil dibuat oleh pangeran dengan sangat indah. Dia hanya tinggal menunggu, Xixi datang ke kamarnya dan mau menemuinya.
"Aku harap kamu menyukainya." ucap pangeran dalam hatinya.
"Semoga kamu mau memaafkan aku." pangeran berkata penuh ketulusan.
"Aku akan mengatakan semua ini dengan jujur. Aku akan mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu." ucap pangeran dalam hatinya.
Malam itu di bawah sinar bulan purnama, pangeran berdoa ke langit berharap langit dapat mendukungnya dengan baik.
__ADS_1