
Sampai di penginapan, Xixi dengan kedua pelayan milik panglima berjalan ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak. Kedua pelayan itu pergi meninggalkan Xixi, ketika dia sudah tertidur pulas. Kedua pelayan itu dipanggil oleh panglima Chen Zhen. Panglima memiliki rencana jahat kepada Xixi. Kedua pelayan itu diperintahkan untuk memberikan makanan beracun. Kedua pelayan mematuhi perintah tuannya, meskipun mereka tidak sanggup untuk membunuh Xixi. Xixi merupakan wanita yang baik, yang selalu menghargai mereka sebagai manusia.
Malam itu kedua pelayan membangunkan Xixi untuk mandi, sementara mereka menyiapkan makan malam untuk Xixi. Xixi telah selesai mandi dan menunggu mereka di dalam kamarnya. Tak lama kemudian kedua pelayan itu datang membawa beberapa makanan lezat.. Keduanya terlihat sangat aneh. Xixi menyadari keanehan itu. Dia melihat kedua tangan pelayan itu gemetar saat membawa makanan itu.
"Taruh makanannya disini. Mari kita makan bersama." ucap Xixi dengan senyuman lembut.
"Maaf nona, kami tidak bisa menemani nona. Tuan memanggil kami. Apakah nona tidak apa-apa makan sendiri disini?" tanya salah satu pelayan itu.
"Tidak apa-apa. Tenang aja. Pergilah." ucap salah satu pelayan itu.
"Sebaiknya nona habiskan makanan itu, agar nona kembali fit." ucap salah satu pelayan dengan wajah cemas.
Xixi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. Kedua pelayan itu meninggalkan kamar. Xixi memeriksa makanan itu dan benar sesuai dugaannya. Salah satu dari makanan itu sudah diberikan racun. Xixi mencium makanan beracun itu dan Xixi terkejut ternyata baunya seperti racun yang diberikan kepada pangeran Xiao San. Xixi semakin yakin bahwa panglima yang sudah meracuni pangeran.
Xixi memakan makanannya itu sampai habis kecuali makanan beracun itu. Dia menyimpan makanan beracun itu dan berpura-pura menghabiskannya. Tak lama kemudian kedua pelayan itu kembali memeriksa apakah Xixi sudah memakan makanan itu sampai habis.
"Wah, makanan ini sangat lezat. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan semuanya." ucap Xixi sambil memegang perutnya yang kekenyangan.
__ADS_1
Kedua pelayan itu tersenyum dan merapikan semua piring bekas makanan itu. Mereka ke luar membawa semua piring itu. Xixi memperhatikan mereka yang terlihat sangat takut. Setelah mereka pergi, Xixi meminum sebuah obat yang menunjukkan gejala seperti racun itu, sehingga dia bisa berpura-pura sedang keracunan. Xixi menunggu reaksi obat itu. Dia memejamkan matanya.
Tak lama kemudian panglima Chen Zhen dan kedua pelayan istana masuk ke dalam kamar. Mereka melihat tubuh Xixi yang mulai menghitam. Panglima memeriksa denyut nadi dan napas Xixi, namun ternyata sudah tidak ada. Dari mulut Xixi keluar darah yang sudah menghitam. Panglima tersenyum kecil, setelah memastikan Xixi sudah mati.
"Kabarkan ke kaisar bahwa dayang istana Xixi sudah mati." ucap panglima dengan lantang.
"Masukan mayatnya ke dalam peti mati. Kita akan membawanya ke istana. Kalian tidak boleh ada yang bicara satupun kepada siapapun. Jika kalian mengatakan semuanya, jangan salahkan aku akan membuat kalian menyusulnya di neraka." panglima mengancam keduanya dengan kejam.
Kedua pelayan itu menangis tersedu-sedu. Mereka sangat menyesal telah melakukan perbuatan jahat ini. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanyalah rakyat jelata yang tidak memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu.
"Nona maafkan kami." ucap kedua pelayan itu.
Xixi meminum obat khusus yang membuatnya tertidur seperti orang mati selama seminggu. Setidaknya selama beberapa hari ke depan, Xixi terlihat seperti sudah mati. Dari kejauhan, sang sahabat Jiang Xi selalu memantau keadaan Xixi. Sebelumnya Xixi sudah mengatakan rencananya kepada Jiang Xi. Sehingga dengan hati-hati Jiang Xi mengawasinya.
Kabar duka itu sudah sampai di istana. Kaisar sangat terkejut menerima berita itu. Dia tidak sanggup untuk menyampaikan berita ini kepada pangeran Xiao San. Kaisar sangat memahami, berita ini akan membuat pangeran depresi dan menderita.
"Kalian semua yang ada disini, jangan ada yang menyampaikan berita ini ke telinga pangeran." perintah kaisar.
__ADS_1
Semua dayang dan pengawal istana yang sudah mengetahui berita ini terpaksa membungkam mulut mereka. Mereka tidak ada yang berani menyampaikan kebenaran ini.
Panglima terus berjalan menuju ke istana. Semua pasukan berhenti di tengah hutan. Saat itu panglima bertemu dengan seorang laki-laki bertopeng. Dia memberikan sebuah gulungan surat kepada laki-laki bertopeng itu. Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan. Jiang Xi hanya bisa memantau dan tidak boleh ikut campur. Setelah itu, panglima Chen Zhen kembali melanjutkan perjalanannya.
Secara diam-diam Jiang Xi mengikuti laki-laki bertopeng itu dan memukulnya dari belakang hingga pingsan. Dia melihat gulungan surat itu dan menyalin isinya. Jiang Xi terkejut saat mengetahui kepada siapa surat gulungan itu ditujukan. Dia segera pergi meninggalkan laki-laki bertopeng itu dan kembali mengawasi pergerakan panglima.
Di hutan berikutnya dia bertemu dengan seorang wanita muda cantik. Panglima memberikan sebuah batu giok kepada wanita muda itu. Jiang Xi yang melihatnya sangat curiga. Apa tujuan panglima memberikan sebuah batu giok kepada wanita muda itu. Jiang Xi mencoba melukis wanita itu dari kejauhan, dia tidak mungkin mengejar wanita muda itu. Setelah tugas ini selesai, dia akan mencari wanita muda itu.
Perjalanan sudah hampir sampai. Malam telah tiba, panglima memutuskan untuk bermalam di hutan ini. Mereka mendirikan tenda dan beristirahat. Penjagaan di tenda itu tidak terlalu ketat, sehingga Jiang Xi dapat memeriksa keadaan Xixi. Dia ingin memastikan bahwa Xixi tetap baik-baik saja. Jiang Xi ikut tertidur di atas pohon, agar dia bisa memantau dengan jelas. Malam itu mereka semua beristirahat dengan tenang.
Pagi menjelang. Bunyi kicauan burung membangunkan mereka dari tidur lelapnya. Panglima memeriksa jasad Xixi, setelah memastikan semua baik-baik saja, panglima melanjutkan perjalanan mereka. Perjalanan tanpa henti, hingga mereka hampir sampai di istana. Pasukan terus berjalan menuju ke istana, tanpa lelah dan mengeluh. Mereka mengikuti perintah panglima Chen Zhen.
"Percepat jalan kalian, sebentar lagi kita sampai di istana." teriak panglima Chen Zhen.
Semua pasukan dengan penuh semangat terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di gerbang istana. Kasim Li dan beberapa pengawal istana sudah berada di gerbang istana untuk menyambut rombongan pasukan panglima.
"Silahkan panglima. Kaisar sudah menunggu di kediamannya." ucap kasim Li
__ADS_1
"Kaisar Xiao Ge memerintahkan kami semua untuk mengurus jasad dayang istana Xixi." ucap kasim Li dengan tenang.