
Selir kecil menuju ke kediaman para dayang istana. Dia memeriksa apakah ada dayang istana yang mencurigakan. Dia tidak boleh menurunkan kewaspadaannya dan akhirnya lalai dalam menjaga keamanan ini. Disana terlihat ada satu dayang istana baru.
'Siapa kamu?" tanya selir kecil
"Salam hormat selir kecil, hamba dayang istana baru yang dibawa oleh kasim Li." jawab dayang istana itu
"Siapa nama kamu?" tanya selir kecil
"Jawab selir kecil. Nama hamba Ye Hua. Hamba keponakan dari kasim Li." ucap dayang istana terlihat sangat gugup.
"Hm, baiklah." ucap selir kecil tersenyum kecil.
Selir kecil memeriksa setiap sudut di dapur istana, namun dia tidak menemukan ada yang mencurigakan. Setelah memastikan bahwa dapur istana aman, dia meninggalkan dapur istana menuju tempat pemandian kaisar. Dia memeriksa semua dayang istana yang berada disana, namun ada satu dayang istana yang terlihat sangat cemas dan mencurigakan. Selir kecil menahan kecurigaan dan bersiap tenang. Dia memeriksa kondisi air, namun di air itu ada yang terlihat aneh. Sesaat air itu seperti air biasa, namun ketika air itu disentuh seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Diam-diam selir kecil membawa sedikit air pemandian kaisar untuk diselidiki.
"Siapa yang bertanggung jawab di tempat pemandian kaisar?" tanya selir kecil tegas.
"Maafkan hamba selir kecil. Hamba yang bertanggung jawab disini. Apakah hamba melakukan kesalahan?" tanya pemimpin dayang istana itu.
"Aku hanya ingin mengatakan, cek suhu air kaisar lebih ketat. Suhu ini terlalu panas untuk tubuh kaisar." ucap selir kecil mencoba memberikan kode kepada pemimpin dayang istana itu tanpa kecurigaan.
"Baik selir kecil." ucap pemimpin dayang istana.
Selir kecil meninggalkan tempat pemandian kaisar dan pergi ke tempat penyimpanan obat-obatan. Dia bertemu dengan Jiang Xi. Selir kecil menceritakan kejanggalan yang dia temukan di tempat pemandian kaisar.
__ADS_1
"Selidiki air ini. Aku harap ini bukan mercury seperti dugaanku. Diam-diam berikan obat ini untuk mencegah keracunan. Jangan sampai diketahui oleh siapapun." bisik Xixi.
"Akan aku lakukan." ucap Jiang Xi.
"Lalu apakah kamu sudah menemukan bukti yang dikatakan oleh mereka?" tanya selir kecil penasaran.
"Aku sudah menemukan buku akun itu " ucap Jiang Xi.
"Baiklah aku pergi. Jangan lupa segera beritahukan kepadaku selesai kamu teliti air itu." ucap selir kecil.
Jiang Xi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Selir kecil pergi meninggalkan tempat penyimpanan obat-obatan dan pergi menuju ke sebuah perpustakaan. Dia berharap mendapatkan buku yang dibutuhkan. Dia berharap di jaman ini sudah ada buku itu. Cukup lama dia mencari, namun tidak ada hasilnya.. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari perpustakaan dan menunggu pangeran di kolam teratai.
Kaisar sangat senang bisa melihat keadaan pangeran yang sudah pulih. Kaisar berbicara serius kepada pangeran. Kaisar mengatakan bahwa dirinya sudah tua dan ingin menyerahkan tahta itu kepada pangeran. Setiap hari kesehatan kaisar semakin menurun, kaisar hanya berharap sebelum kaisar pergi, pangeran sudah siap untuk menggantikannya. Pangeran menoleh keinginan kaisar, dia merasa belum siap untuk menerima tahta itu, dia sadar kebutaannya hanya akan membuat rakyat menderita. Dia tidak mungkin melindungi rakyatnya dalam keadaan buta. Kaisar sangat sedih mendengarkan perkataan pangeran. Mungkin suatu hari pangeran akan memiliki kepercayaan diri untuk memimpin kerajaan Xiao.
"Pangeran, anda sudah kembali. Ayo memancing bersamaku?" teriak selir kecil yang melihat pangeran berjalan dari kejauhan bersama para pengawal istana dan beberapa dayang istana.
Pangeran tersenyum mendengar teriakan selir kecilnya. Dia selalu melalukan hal yang terduga yang membuat pangeran selalu menghela napas. Pangeran duduk di samping selir kecilnya dan memancing bersama. Menikmati udara sejuk di sore hari dengan dihiasi keindahan bunga teratai yang sedang mekar. Mereka menikmati sore itu dengan santai. Semenjak kedatangan selir kecil dalam hidupnya, kehidupan pangeran yang semula hitam putih berubah menjadi berwarna.
"Wah, aku umpan aku dimakan. Aku dapat ikan." teriak selir dengan gembira.
Selir kecil sangat senang mendapatkan ikan yang sangat besar. Pangeran terus tersenyum mendengarkan tingkah selir kecilnya.
"Wah, pangeran umpan kamu juga dimakan. Ayo tarik pelan-pelan, jangan sampai ikan kamu lepas." teriak selir kecil penuh kehebohan.
__ADS_1
Pangeran berusaha menarik kailnya agar ikannya tidak lepas. Selir kecil memberikan semangat dan pangeran terus berusaha mendapatkan ikan itu. Pangeran tertawa bahagia saat mendapatkan ikan itu, walaupun ikan itu ternyata lebih kecil dari milik selir kecilnya.
"Pangeran, sebaiknya kita pulang. Aku akan membuatkan ikan bakar untukmu." ucap selir kecil penuh semangat.
Selir kecil langsung menggandeng tangan pangeran dan mengajaknya kembali ke kediamannya. Sepanjang jalan keduanya saling berbincang dengan santai. Di bawah sinar matahari yang akan tenggelam, keduanya terlihat sangat serasi. Para dayang istana dan pengawal istana yang mengikuti mereka di belakang, sangat kagum dan iri melihat kemesraan mereka.
"Pangeran, apakah kau tahu? Kita sedang berjalan di tengah pemandangan yang sangat indah." bisik selir kecil.
"Apa itu?" tanya pangeran tersenyum kecil.
"Hm, kita sedang berada di bawah langit yang indah. Sinar matahari berwarna jingga menyinari tubuh kita seakan kita sedang memakai baju emas seperti kaisar dan permaisuri. Aku juga melihat burung-burung yang sedang terbang berkelompok menuju ke sangkarnya. Angin bertiup penuh kehangatan hingga menggerakkan dedaunan dengan lembut. Di samping kanan kiri terdapat kolam teratai dengan bunga teratai berwarna pink yang mekar sangat indah." ucap selir kecil menjelaskan semuanya dengan rinci.
"Hm, itu terdengar sangat indah. Aku harap aku bisa melihatnya denganmu." ucap pangeran tersenyum kecil.
"Ya aku menunggu hari itu pangeran." ucap selir kecil lembut
Keduanya kembali berjalan santai dan mesra. Meskipun Xixi hanya dapat diposisikan sebagai selir kecilnya, namun di hatinya Xixi selalu menjadi permaisurinya.
"Pangeran, aku akan berusaha mencari cara agar kamu dapat melihat kembali " ucap selir kecil dalam hatinya.
"Aku harap suatu hari dapat melihat wajahmu dan menikmati keindahan ini bersamamu." ucap pangeran dalam hatinya.
Mereka terdiam dan hanya menikmati sore itu sepanjang perjalanan. Pangeran menggenggam tangan selir kecilnya dengan erat. Berjalan berdampingan. Selir kecil menaruh kepalanya di bahu pangeran dan berjalan perlahan.
__ADS_1
Hari itu menjadi saksi ketulusan cinta mereka. Keduanya rela melakukan segalanya demi kebahagiaan kekasih yang dicintainya. Seakan alam ikut mendukung, terdengar suara gesekan dedaunan yang tertiup oleh angin dan kicauan burung yang sedang terbang menambah kemesraan perjalanan sepasang kekasih menuju ke kediaman pangeran.