
Akhirnya mereka bertiga sudah berada di bukit gua perak. Tak pernah ada menyangka kepergian pangeran Xiao San kali ini bukan hanya dapat menyembuhkan selir kecilnya, namun juga dapat menyembuhkan matanya bahkan keberuntungan berada di pihak pangeran. Bukan hanya mendapatkan selir kecilnya kembali namun juga mendapatkan seorang putra yang sangat pintar.
Setelah ketiganya kembali ke bukit gua perak, tiba-tiba saja pintu gua perak itu terbuka dan kini mereka dapat pulang kembali ke istana. Mereka berjalan menuju pintu gua perak itu, disana sudah menunggu seorang pria muda. Setelah melihat pintu gua perak terbuka, pria muda itu berlari dan berdiri di depan pintu gua perak. Pangeran Xiao San tersenyum saat melihat sosok pria muda itu.
"Tabib muda, kamu masih disini?" tanya pangeran dengan perasaan senang.
"Hm, hamba sudah berjanji untuk menunggu pangeran disini. Hamba senang dapat melihat pangeran lagi." ucap tabib muda dengan wajah sumringah.
"Apa kabar Chen Yi?" tanya selir kecil pelan.
"Kamu mengenalnya selir kecil?" tanya pangeran dengan wajah terkejut.
"Dia adik angkatku pangeran sekaligus murid kecilku." ucap selir kecil tersenyum.
"Kamu ternyata mengenal selir kecil? Mengapa kamu tidak mengatakan apapun?" tanya pangeran sedikit marah sambil menarik kerah baju Chen Yi.
"Maafkan hamba pangeran. Selir kecil melarang hamba untuk mengatakan kepada siapapun tentang identitas hamba." ucap Chen Yi yang merasa ketakutan.
"Sudah.. Sudah.." ucap selir kecil dengan lembut sambil melerai mereka.
Akhirnya mereka meluruskan kesalahpahaman ini dan pergi meninggalkan bukit gua perak. Mereka menaiki kereta kuda yang sudah disiapkan oleh Chen Yi. Pangeran Xiao San, selir kecil Xixi dan Xiao Jiwu berada di dalam kereta kuda sedangkan Chen Yi mengendarai kereta kuda itu. Selama berhari-hari mereka melakukan perjalanan sambil menyusun rencana untuk membalas perbuatan putri Ye Xiwu dan ayahnya.
__ADS_1
"Selir kecil, kita harus pergi dahulu ke wilayah perbatasan untuk bertemu dengan beberapa anak buahmu. Mereka diutus oleh Jiang Xi untuk menjadi pengawal kalian." ucap Chen Yi.
Kemudian Chen Yi membalikkan arah kuda itu dan pergi menuju ke perbatasan. Mereka memutuskan untuk berperang melawan semua penghianat yang ada di dalam istana. Siapapun itu tanpa terkecuali. Bagi mereka siapapun yang sudah menyakiti mereka dan rakyat itu adalah musuh mereka. Perjalanan yang mereka lalui cukup panjang. Namun kelelahan itu mereka tak rasakan demi menggapai keinginan mereka.
Akhirnya mereka sampai di wilayah perbatasan, disana terdapat ratusan pasukan yang bersedia untuk membantu selir kecil dan pangeran. Semua pasukan itu mengikuti kereta kuda pangeran menuju istana Xiao. Setelah dua bulan perjalanan, akhirnya mereka sampai di gerbang istana Xiao. Namun ada yang terasa aneh dengan kondisi istana saat ini. Istana itu terlihat sangat berbeda. Pangeran Xiao San mencoba untuk masuk ke dalam istana, namun para penjaga gerbang istana menghalangi. Mereka tetap bersikukuh untuk masuk dan akhirnya mendapatkan perlawanan dari penjaga gerbang istana. Para penjaga gerbang istana mengarahkan pedang ke arah mereka.
"Kurang ajar. Apakah kalian tidak mengenalku?" tanya pangeran Xiao San sambil menunjukkan plakat pangerannya.
"Kami hanya menjalankan perintah dari kaisar Xiao Ge. Pangeran dilarang untuk kembali ke istana karena dianggap sebagai seorang pengkhianat." ucap salah satu penjaga gerbang itu.
"Tangkap pangeran dan semua orang yang ada disekitarnya." perintah tegas salah satu penjaga gerbang istana.
"Jangan dilihat, jika pangeran belum siap untuk melihat hal buruk seperti ini." ucap selir kecil sambil menutup kedua mata pangeran dengan kedua matanya.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku harus terbiasa melihat hal buruk ini." ucap pangeran sambil melepaskan tangan selir kecilnya.
Pangeran Xiao San terus mengamati pertarungan itu, pangeran merasakan kecemasan. Bagaimana pun pasukan mereka kalah jumlah dengan pasukan istana. Secara perlahan, satu persatu pasukan pangeran tumbang di tangan pasukan istana. Pangeran mulai menampakkan ekspresi kecemasan, tanpa sadar dia memegang tangan selir kecilnya. Selir kecilnya tak bisa tinggal diam dengan semua ini. Dia memegang kedua pipi pangeran dan menatapnya dengan penuh keyakinan.
"Apakah pangeran percaya kepadaku?" ucap selir kecil lembut.
"Apa maksudmu?" tanya pangeran penasaran.
__ADS_1
Selir kecil memberikan Xiao Jiwu ke dalam gendongan pangeran Xiao San. Selir kecil mengambil pedang salah satu pasukannya. Dia memegang pedang itu dan mulai menghunuskan pedang itu kepada pasukan istana. Pada akhirnya satu persatu pasukan istana itu tumbang dengan serangan pedang selir kecil. Hingga akhirnya selir kecil dapat menyeimbangkan kekuatan pasukannya dengan pasukan istana. Meskipun tubuhnya sudah terasa lelah karena harus mengerahkan seluruh kekuatannya, namun dia mencoba tetap berdiri menopang tubuhnya untuk melawan pasukan istana.
"Selir kecil.. Awas.." teriak pangeran saat melihat salah satu pasukan istana menyerangnya.
Selir kecil yang sudah merasakan kelelahan, tidak dapat mendengar teriakan itu dan akhirnya dia tertusuk pedang salah satu pasukan istana. Melihat peristiwa itu, pangeran menyerahkan Xiao Jiwu kepada Chen Yi.
"Lindungi putra kecilku." ucap pangeran singkat.
Pangeran Xiao San menarik pedang salah satu pasukannya dan berlari untuk menolong selir kecilnya. Matanya memerah dan wajahnya berubah menjadi menakutkan. Rasa amarah mengendalikan dirinya, dengan penuh amarah dia menghunuskan pedang itu ke pasukan istana. Dia menebas leher pasukan istana yang menyerang selir kecil.
"Selir kecil, apakah kamu baik-baik saja?" tanya pangeran sambil membalut luka itu dengan kain.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." ucap selir kecil sambil menahan rasa sakit itu.
Pangeran mencoba membantunya berdiri dan memapahnya. Namun selir kecil menolaknya. Dia berusaha berdiri dan bertahan untuk melawan pasukan istana.
"Jangan khawatirkan aku. Sebaiknya pangeran membantuku untuk menghabisi mereka." ucap selir kecil sambil memegang lukanya.
Akhirnya keduanya bekerja sama untuk menyerang pasukan istana. Jurus pedang mereka sama, sehingga mereka bertarung dengan melakukan jurus pedang berpasangan. Keduanya mulai menghabisi pasukan istana. Butuh waktu yang cukup lama untuk membunuh mereka semua. Hingga pada akhirnya, semua pasukan yang menghalangi mereka terbunuh. Mereka berhasil masuk ke dalam istana Xiao. Mereka masuk dengan penuh kemenangan.
...~Bersambung~...
__ADS_1