
Setelah menyelamatkannya dari kematian, Jiang Xi membawa selir kecil Xixi ke tempat persembunyian organisasi mereka. Jiang Xi membawa selir kecil Xixi dengan tubuh yang masih lemah. Mereka pergi meninggalkan danau itu.
Di istana tepatnya di kediaman selir kecil Xixi terjadi kehebohan, pangeran Xiao San bersama para dayang istana serta pengawal istana mencari keberadaan selir kecil Xixi. Seluruh istana ditelurusi oleh mereka tanpa celah sedikitpun. Namun, mereka tidak mendapatkan hasil apapun. Semuanya nihil.
Seharian penghuni istana disibukkan dengan mencari keberadaan selir kecil Xixi. Semua penghuni kediaman selir kecil Xixi sangat cemas dengan hilangnya selir kecil mereka.
"Bagaimana hasilnya?" tanya pangeran sangat cemas.
"Kami tidak menemukan keberadaan selir kecil Xixi, Pangeran." ucap salah satu pengawal istana.
Malam semakin larut, semuanya terlihat sangat kelelahan. Pangeran memutuskan untuk menghentikan sementara pencarian. Pangeran membiarkan mereka untuk beristirahat. Pangeran dengan putus asa duduk di dalam kamar selir kecilnya dan menunggu kepulangannya dengan penuh harap. Dia berusaha untuk mengalahkan rasa kantuknya dan tetap membuka matanya agar bisa melihat kepulangan selir kecilnya. Ternyata rasa kantuk itu tak dapat terbendung lagi, hingga akhirnya pangeran memejamkan matanya dan tertidur di kamar selir kecilnya.
Sementara itu, selir kecil Xixi masih terbaring lemah dan tertidur di tempat persembunyiannya bersama Jiang Xi. Sejak pagi Jiang Xi menjaga selir kecil dengan ketat. Dia terus memeriksa keadaan selir kecil. Dia ingin memastikan tubuhnya baik-baik saja.
"Jiang Xi." panggil selir kecil dengan lemah.
"Kamu sudah sadar?" tanya Jiang Xi.
Selir kecil hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah dan tersenyum kecil. Matanya terlihat sangat sayup, wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya terasa sangat dingin. Selir kecil mencoba bangun dari ranjangnya, namun tak bisa. Jiang Xi membantu selir kecil bangun dan memberikan obat untuk pemulihan tubuhnya.
"Kita dimana?" tanya selir kecil sambil melihat ke sekelilingnya.
"Kita di gua bulan." ucap Jiang Xi.
"Bagaimana dengan kasim Li?" tanya selir kecil.
"Saat menyelamatkanmu, aku tidak melihat keberadaan kasim Li." ucap Jiang Xi.
"Apakah kamu melihat sesuatu yang aneh?" tanya selir kecil.
__ADS_1
"Aku tidak menemukan apapun." ucap Jiang Xi sambil menggelengkan kepalanya.
"Saat kasim Li mendorongku ke danau itu, aku merasakan ada yang aneh dengannya." ucap selir kecil penuh kecurigaan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jiang Xi.
"Kamu kembalilah. Aku akan disini untuk sementara waktu. Kemudian kamu diam-diam bertemu dengan pangeran dan ceritakan semuanya. Katakan padanya agar menyimpan rahasia ini. Aku masih ingin mencari kebenarannya." ucap selir kecil dengan jelas.
"Baiklah." ucap Jiang Xi.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya selir kecil.
"Mereka masih dalam kendali kita. Semua masih aman." ucap Jiang Xi.
"Bagus. Tetap perintahkan kepada seluruh anak buah kita untuk menjaga ketat mereka. Aku tidak ingin ada yang kabur dari pengawasan kita." ucap selir kecil dengan tegas.
"Sebaiknya selir kecil beristirahat. Aku akan kembali ke istana." ucap Jiang Xi.
Pagi itu Jiang Xi kembali ke kediaman istana. Dia kembali ke kediaman tempat para tabib istana dan beristirahat seolah-olah tidak ada yang terjadi. Jiang Xi secara diam-diam mengamati keadaan istana. Dia mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan pangeran.
Pagi itu pangeran terbangun dengan kepala yang sedikit pusing. Rasa cemasnya membuat fisiknya menjadi lemah. Pangeran mulai mencari kembali keberadaan selir kecil. Dia memerintahkan seluruh penghuni istana baik di kediamannya maupun kediaman selir kecil untuk mencari ke luar istana. Pangeran berharap bahwa selir kecil hanya tersesat dalam perjalanannya. Pangeran dengan beberapa pengawal istana ingin keluar mencari selir kecilnya. Namun di depan gerbang istana, mereka dicegah oleh putri Ye Xiwu. Ternyata putri Ye Xiwu sudah mendapatkan titah dari kaisar Xiao Ge untuk melarang pangeran keluar dari istana.
"Sebaiknya pangeran tetap di istana atau pangeran akan dianggap sebagai pemberontak karena tidak melaksanakan titah kaisar." ucap putri Ye Xiwu dengan licik.
Pangeran hanya menatapnya dengan sinis. Dengan perasaan kesal, dia kembali ke kediamannya bersama para pengawal istana. Putri Ye Xiwu tersenyum licik dan memandang pangeran dengan penuh kepuasan atas kemenangannya.
"Jangan harap kamu bisa menemukan selir rubah itu pangeran." ucap putri Ye Xiwu.
"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan selir rubah itu. Akulah istrimu satu-satunya dan hanya aku sebagai pemenang." ucap putri Ye Xiwu penuh kesombongan.
__ADS_1
Pangeran kembali ke kediamannya dengan penuh amarah dan kesal. Dia semakin tidak menyukai perangai yang dimiliki oleh putri Ye Xiwu. Pangeran mencoba mengurung dirinya sambil memikirkan rencana yang tepat untuk keluar dari istana. Sepanjang hari dia terus memaksakan otaknya untuk memikirkan rencana yang tepat. Dia ingin segera menemukan selir kecilnya.
"Siapa itu?" teriak pangeran.
"Jiang Xi." bisik Jiang Xi.
Jiang Xi masuk ke kediaman pangeran secara diam-diam. Mereka duduk bersama di dalam kediaman pangeran. Jiang Xi mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa selir kecil. Pangeran memukul meja dihadapannya hingga meja itu retak. Dia sangat marah mengetahui bahwa kasim Li ingin membunuh selir kesayangannya.
"Apakah semua itu benar?" tanya pangeran dengan penuh amarah.
"Sebaiknya pangeran meredam amarah pangeran dan mulai mengikuti rencana selir kecil." bisik Jiang Xi.
"Bagaimana keadaan selir kecil?" tanya pangeran cemas.
"Tenang saja pangeran. Selir kecil sangat kuat. Dia baik-baik saja." ucap Jiang Xi menenangkan.
"Kalau begitu, hamba pamit pangeran." ucap Jiang Xi.
"Pergilah." ucap pangeran.
Jiang Xi segera meninggalkan kediaman pangeran untuk menghindari kecurigaan. Hati pangeran sedikit tenang mendengar berita dari Jiang Xi. Setidaknya saat ini pangeran harus tenang dan mengikuti rencana yang dibuat oleh selir kecilnya. Pangeran berpura-pura masih cemas mencari keberadaan selir kecilnya.
Malam itu, dayang istana membawa makanan untuk pangeran. Mereka melihat pangeran yang masih di atas ranjangnya dengan wajah suram. Mereka berpikir bahwa pangeran masih mencemaskan keberadaan istri kesayangan.
"Kalian tinggalkan kamar ini. Biarkan aku sendiri." perintah pangeran.
Semua dayang istana pergi meninggalkan kediaman pangeran dan membiarkan pangeran dalam kesendiriannya. Seperti api yang sedang menyambar kayu, berita kesedihan pangeran mulai tersebar di seluruh kediaman putri Ye Xiwu. Dayang istana kepercayaannya menyampaikan berita bagus itu kepada putri Ye Xiwu
"Haha.. Biarkan hati pangeran berada dalam kesedihan untuk sementara waktu. Setelah itu aku yang akan menghapuskan kesedihannya dan menghapus nama selir kecil dari hatinya." ucap putri Ye Xiwu dengan penuh kesombongan.
__ADS_1
Mendengarkan berita itu, suasana hati putri Ye Xiwu terlihat sangat senang.