
Tak terasa sudah setengah tahun mereka bersama di dalam bukit gua perak. Namun mereka belum menemukan jejak bunga ajaib seperti yang diceritakan oleh tabib muda. Meskipun tubuh selir kecil terlihat baik-baik saja, namun pemulihan tubuh ini tidak cukup. Selir kecil masih membutuhkan bunga ajaib itu untuk menyembuhkan dirinya secara sempurna dan meningkatkan kemampuannya. Tabib istana pernah mengatakan bahwa bunga ajaib ini dapat menyembuhkan penyakit apapun, pangeran sangat berharap dapat menemukan bunga ajaib itu untuk selir kecilnya.
"Pangeran, apakah kita harus berpencar untuk mencarinya?" tanya selir kecil.
"Tidak boleh. Kita akan mencarinya bersama-sama." perintah pangeran menegaskan.
"Baiklah." ucap selir kecil.
Pangeran dan selir kecilnya terus mencari tanpa mengenal lelah dan pantang menyerah. Dia terus mencari hingga waktu sudah berlalu selama 10 bulan di dalam gua perak. Mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah tempat yang terlihat sangat indah namun sunyi. Disana terdapat sebuah danau kecil berwarna hitam, di atas airnya mengapung banyak sekali daun teratai berwarna hitam namun tidak ada satupun bunga teratai yang tumbuh di atas daunnya. Pangeran dan selir kecil mencoba untuk menghampiri danau hitam tersebut, semakin mereka mendekati danau tersebut, air hitam itu mulai berubah warnanya secara perlahan.
"Pangeran, lihatlah warna air danau itu." ucap selir kecil sambil menunjukkan jarinya ke arah danau.
Pangeran melihat ke arah danau, dia terkejut saat melihat perubahan air warnanya. Pangeran menggandeng tangan selir kecil dan mengajaknya untuk mendekati danau itu. Mereka mempercepat jalan mereka dan ketika sampai di tepi danau itu, mereka terkejut melihat warna danau itu berubah menjadi jernih. Warnanya menjadi jernih dan bening, bahkan mereka dapat melihat semua yang ada di dalam danau itu. Mereka mencoba untuk melangkahkan kaki mereka ke dalam air danau itu, daun teratai yang semula berwarna hitam berubah menjadi hijau yang menyegarkan dan daun itu mengeluarkan tangkai bunga teratai. Tangkai itu berubah menjadi bunga teratai. Bunga teratai itu saling bermekaran dengan warna merah muda yang sangat cantik.
"Lihatlah bunga teratai itu sangat indah seperti wajahmu." ucap pangeran menggodanya.
Selir kecil hanya tersenyum kecil dengan wajah merah merona karena tersipu malu. Pangeran mencoba memetik salah satu bunga teratai itu, namun tiba-tiba saja bunga itu menghilang satu persatu dari danau itu. Mereka sangat terkejut, mereka takut melakukan perbuatan yang salah. Pangeran mencoba menarik selir kecil untuk membawanya kembali ke tepi danau, namun semua sudah terlambat. air danau tersebut tiba-tiba bergerak dan membuat gelombang tinggi. Air danau itu menenggelamkan mereka. Mereka terbawa hingga ke dasar danau. Pangeran yang panik mencoba untuk memegang erat tangan selir kecilnya dan tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
"Selir kecil jangan lepaskan. bertahanlah." teriak pangeran saat gelombang itu membawa mereka hingga ke dasar danau.
Pangeran dan selir kecil sampai di dasar danau. Mereka sampai di sebuah taman kecil yang dipenuhi dengan berbagai jenis bunga. Disana banyak sekali burung-burung kecil dan kupu-kupu yang hinggap di bunga itu. Mereka hanya terdiam di atas bunga-bunga itu seperti sedang menjaga sesuatu. Mereka berjalan menghampiri taman itu, hingga mereka melihat di tengah taman itu terdapat sebuah bunga berbentuk aneh. Bunga itu memiliki sembilan kelopak dengan warna yang berbeda. Bunga itu seukuran daun teratai, bunga itu tak memiliki daun dan tangkai, hanya memiliki mahkotanya bunga dan kelopaknya. Di tengah mahkota bunga itu terdapat putik dan benang sari yang berukuran sebesar buliran padi. Di setiap benang sari mengeluarkan cahaya berwarna-warni sama seperti warna kelopak bunganya.
"Pangeran, apakah ini bunga ajaib?" tanya selir kecil penasaran.
"Mungkin saja. Bentuknya sama persis dengan yang diceritakan oleh tabib muda." ucap pangeran ragu
"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya selir kecil.
"Kita akan memetiknya. Hanya saja ada satu syarat yang harus dilakukan." ucap pangeran sedikit ragu.
"Bunga ajaib ini merupakan tanaman langka yang hidup seratus tahun sekali. Bunga ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan bunga ini juga dikenal dengan bunga kesuburan. Karena bunga ini dapat memberikan banyak anak dengan keturunan yang terbaik." ucap pangeran menjelaskan dengan rinci.
"Owh." ucap selir kecilnya dengan ekspresinya yang sangat menggemaskan.
"Bunga itu tidak dapat dipetik begitu saja. Hanya sepasang kekasih yang memiliki ketulusan dan cinta saja yang dapat memetik bunga ini. Sebelum kita memetik bunga ajaib ini, kita harus menyatukan energi yin dan yang milik kita, kemudian menambahkan darah milik kita di bunga itu." ucap pangeran dengan ekspresi merona.
__ADS_1
Mendengarkan penjelasan pangeran, wajah selir kecil pun ikut merona. Persyaratan itu sangat memalukan bagi mereka. Keduanya hanya terdiam dan tersipu malu.
"Apakah kamu ingin melakukan semua persyaratan itu?" tanya pangeran malu-malu.
Selir kecil tidak menjawab dan hanya mencubit manja lengan pangeran. Pangeran hanya tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya. Dia mengusap lembut kepala selir kecil dan mencium kepalanya dengan lembut.
"Ayo, kita lakukan malam ini." ucap pangeran lembut.
Pangeran menggandeng tangan selir kecil dan mengajaknya jalan bersama mencari sesuatu untuk dimakan. Di taman itu terdapat sebuah bunga yang memiliki biji-biji kecil berwarna merah seperti ceri. Selir kecil mencoba memetik biji itu dan memeriksanya.
"Pangeran, sepertinya biji ini tidak beracun. Mungkin saja bisa dijadikan makanan untuk kita." ucap selir kecil.
Selir kecil mencoba memakannya dan rasanya sangat enak. Rasanya manis sedikit asam, namun terasa segar dan mengenyangkan.
"Pangeran cobalah. Buah ini sangat lezat." ucap selir kecil sambil menyuapinya.
"Hm, sangat lezat." ucap pangeran tersenyum kecil.
__ADS_1
Mereka memakan beberapa biji itu untuk mengenyangkan perut mereka. Setelah perut mereka terisi, tiba-tiba saja mata mereka terasa sangat mengantuk. Mereka mencoba untuk membuka mata mereka, namun rasa kantuk itu sangat besar hingga akhirnya mereka tertidur pulas. Kedua tertidur sangat lelap. Tak terasa mereka tidur sangat lama seperti putri tidur. Matahari dan bulan datang silih berganti. Waktu demi waktu terus berjalan. Sepasang kekasih ini terus tertidur di dalam mimpi mereka. Mimpi indah mereka membuat mereka terbuai. Mereka tenggelam dalam mimpi mereka sendiri.
Pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi memiliki mimpi yang sama. Mereka bermimpi dapat hidup bersama selamanya, mereka bermimpi memiliki banyak buah hati yang mereka sayangi. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dikelilingi pemandangan yang sangat indah. Mereka hidup bersama buah hati mereka dengan nyaman, tanpa ada tahta ataupun perebutan kekuasaan. Hanya ada mereka. Hidup dalam kedamaian yang sangat indah dan berharga.