Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 7 : Dia Dihukum Gantung


__ADS_3

Pagi itu Xixi dibawa oleh dua orang pengawal istana menuju ke lokasi tempat pengadilan istana. Dia duduk di sebuah bangku penyiksaan dengan keadaan tangan dan kakinya terikat kencang. Dia mengetahui bahwa dirinya tidak bersalah, namun untuk apa dia mencoba mengatakan yang sebenarnya jika pada akhirnya pangeran tidak akan pernah kembali. Tujuan dia kesini hanya untuk pangeran, jika pangeran pergi untuk apa dia hidup di dunia ini lagi.


Kepala hakim istana terus bertanya dan menginterogasinya. Mencari kebenaran dari kasur ini. Namun Xixi tetap bungkam. Siksaan demi siksaan dia rasakan. Pukulan dan cambukan dia rasakan saat itu. Tubuhnya sudah tidak dapat menahan siksaan itu dan akhirnya dia pingsan. Karena tidak adanya pengakuan apapun dari mulutnya dan bukti semua mengarah kepadanya. Akhirnya hakim istana memutuskan hukuman gantung kepadanya.


Xixi diberikan waktu 3 hari untuk mengunggu eksekusi hukumannya. Kaisar masih memandang jasanya terhadap pangeran Xiao San. Kaisar masih memberikan waktu agar dia mendapatkan sebuah keringanan hukuman. Namun, Xixi tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Dia tidak berbicara hanya tetap bungkam hingga akhir.


Tiga hari telah berlalu, hari ini adalah hari eksekusi hukuman gantung untuk Xixi. Dia dibawa oleh dua laki-laki bertopeng, seorang algojo istana. Dia dibawa ke tempat eksekusi yang berada di depan gerbang istana. Semua rakyat yang melihatnya mengutuknya, menghinanya dan merendahkannya. Mereka melemparkan apa saja yang ada di tangannya ke tubuh Xixi. Xixi hanya terdiam dan menatapi rakyat yang ada dihadapannya. Dia menatapnya penuh kebencian, begitu munafik sikap semua rakyat yang ada dihadapannya.


Xixi melihat satu persatu para pejabat yang menontonnya sambil tersenyum. Xixi benar-benar menahan semua siksaan ini dengan tatapan tajam. Dia hanya mampu meneteskan air mata kesedihan. Waktunya telah tiba dan wajah Xixi ditutupi dengan kain berwarna hitam. Dia dibawa untuk naik ke sebuah kursi, kedua algojo istana mengalungkan sebuah tali tebal ke leher lembutnya.


"Pangeran, waktuku telah tiba. Aku harap kita bisa bertemu kembali dan takdir tidak mempermainkan kita lagi." ucap Xixi dalam hatinya dan memejamkan matanya. Terlihat dipipinya tetesan air mata kesedihan dengan luka yang sangat dalam.


Gong berbunyi dan menandakan eksekusi segera dimulai. Kedua algojo menendang kursi itu dan akhirnya Xixi tergantung. Semua rakyat yang melihatnya sangat menakutkan.


"Tidakkk..." terdengar suara teriakan dari kejauhan.


Xixi membuka matanya dan mendengarkan suara teriakan itu. Suaranya tidak asing. Xixi menyadari itu suara pangeran. Suara pangeran yang menunggunya. Xixi memberontak. Dia menggerakkan tubuhnya secara paksa, dengan tenggorokan yang terasa sangat mencekik hingga membuat napasnya terasa sangat sesak. Xixi berusaha membuka ikatan tangannya dengan cepat dan ketika tali itu sudah terlepas dia mengerakkan tubuhnya hingga tangannya menggapai palang di atas kepalanya. dia memegang palang itu dengan satu tangan dan tangan yang lain berusaha melepaskan ikatan tali dari lehernya.


"Tidak itu suara pangeran. Aku harus hidup." ucap Xixi dalam hatinya.


Xixi berusaha keras melepaskan dirinya dan akhirnya dia berhasil. Dua algojo istana mencoba untuk menahannya, namun dihentikan oleh kasim Li.

__ADS_1


"Lepaskan dia." ucap Kasim Li.


Kedua algojo istana melepaskan. Dia melihat pangeran yang masih lemah dipapah oleh kasim Li. Xixi dengan sekuat tenaga menghampirinya dan mematikan bahwa pangeran baik-baik saja.


"Apakah kamu baik-baik saja pangeran?" tanya Xixi dengan lembut.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu?" tanya pangeran dengan suara lemah.


"Hamba baik-baik.." tiba-tiba Xixi terjatuh sebelum melanjutkan perkataannya.


Pangeran panik dan ingin menolongnya, namun tubuhnya tak mampu untuk membantunya. Kasim Li yang memahami keinginan pangeran, dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Xixi ke kediaman pangeran. Xixi terbaring lemah dan tidak sadarkan diri di ranjang pangeran. Tabib istana memeriksa keadaannya. Tabib istana tak menyangka bahwa seorang gadis muda seperti Xixi memiliki tubuh yang begitu kuat untuk menahan rasa sakit.


"Dia baik-baik saja. Pangeran sebaiknya jangan terlalu khawatir. Sebaiknya pangeran juga mengistirahatkan diri, tubuh pangeran masih lemah." ucap tabib istana.


"Aku baik-baik saja." ucap pangeran singkat.


"Kasim Li, siapkan tempat tidur untukku. Biarkan Xixi tetap disana." ucap pangeran.


Pangeran memegang kedua tangan Xixi dan memandanginya dengan penuh kecemasan. Hampir saja dia kehilangan orang yang sangat dia sayangi, satu-satunya orang yang sangat tulus kepadanya.


"Maafkan aku terlambat menyelamatkan dirimu." pangeran mengecup tangan lembut Xixi.

__ADS_1


Pangeran membiarkannya beristirahat. Dia menyelimutinya dengan penuh kehangatan. Di dalam kamar yang sama mereka sama-sama beristirahat. Berharap ketika mereka bangun, semua ini sudah kembali seperti semula tanpa ada penderitaan.


Esok paginya kaisar bersama kasim Li menghampiri kediaman istana pangeran. Mereka melihat Xixi dan pangeran yang masih tertidur lelap. Xixi secara perlahan membuka kedua matanya karena mendengarkan suara langkah yang masuk ke dalam kamar. Dia melihat ke arah pintu dan sangat terkejut melihat kaisar yang sudah berada di dekatnya. Dia mencoba bangun, namun kaisar menahannya.


"Tetaplah berbaring, pangeran sudah mengijinkan beristirahat disini dan aku tidak melarangnya." ucap kaisar dengan bijak.


"Hamba baik-baik saja kaisar. Maafkan hamba yang sudah lancang." ucap Xixi dengan lembut.


"Beristirahat dengan baik. Temui aku jika tubuhmu sudah sehat." ucap kaisar.


Kaisar pergi meninggalkan kediaman istana pangeran setelah melihat keadaan mereka baik-baik saja. Kaisar memerintahkan kasim Li dan tabib istana agar mengawasi mereka dengan ketat. Semenjak pangeran sadar, kaisar baru mengetahui bahwa ada seseorang yang mencoba menjebak dayang Xixi dan meracuni pangeran. Orang itu masih belum diketahui dan kaisar berharap bahwa dayang Xixi memiliki bukti atas kasus ini.


Dengan adanya penjagaan yang ketat, kaisar berharap dia tidak akan lalai dalam menjaga keselamatan putra mahkotanya. Bagaimanapun pangeran Xiao San adalah satu-satunya pewaris tunggal kerajaan Xiao.


Setelah kepergian kaisar dan kasim Li, Xixi bangun dari ranjangnya dan menghampiri pangeran yang masih tertidur. Dia memeriksa keadaan pangeran dan memastikan tubuh pangeran sudah bersih dari racun. Dia membelai lembut wajah pangeran yang polos. Dia tersenyum bahagia dan bersyukur masih bisa melihat wajah pangeran.


"Pangeran hamba sangat bahagia masih dapat melihat wajahmu. Aku berjanji akan selalu melindungimu." ucap Xixi sambil menatap wajah pangeran dengan lembut.


Xixi tanpa sadar mencium lembut kening pangeran dan langsung kembali ke ranjangnya. Dia tidak ingin pangeran bangun dan mengetahui dengan apa yang dilakukannya.


Hari sudah mendekati siang, dayang istana membangunkan mereka untuk makan siang dan meminum obat mereka. Keduanya duduk bersama di meja makan. Mereka saling menatap dan tersenyum bahagia satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2