
Xixi meninggalkan pangeran secara diam-diam. Tanpa ijin pangeran, Xixi pergi meninggalkan kediamannya. Xixi pergi menuju ke suatu tempat yang terpencil. Dia pergi ke tempat para laki-laki bertopeng yang kemarin menculiknya. Xixi menemui mereka. Xixi melihat keduanya dalam keadaan sangat mengenaskan.
"Apakah kalian ingin bebas dari sini?" tanya Xixi dengan tatapan sinis.
"Maafkan kami nona. Bisakah nona melepaskan kami?" tanya salah satu dari laki-laki bertopeng itu.
"Aku bisa saja melepaskan kalian. Tapi katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian menjebak aku?" tanya Xixi dengan tatapan penuh intimidasi.
"Kami benar-benar tidak mengetahuinya identitasnya. Dia memakai topeng saat menyuruh kami untuk menculik nona. Kami diberikan banyak uang emas untuk menculik nona." ucap salah satu laki-laki itu menjelaskan.
"Baiklah, jika kalian tidak mau mengaku. Minum ini." ucap Xixi dengan sikap kejam.
"Aku akan melihat berapa lama kalian akan bertahan dengan racun itu." ucap Xixi mengintimidasi.
Kedua laki-laki bertopeng itu ketakutan. Mereka memohon kepada Xixi. Xixi hanya memandang mereka dengan penuh amarah tanpa berkata satu katapun. Dia masih sangat marah ketika mengingat pangeran yang kesakitan karena racun yang sama. Xixi masih menatap mereka dengan tatapan dingin, menunggu pengakuan mereka. Sudah hampir setengah hari, keduanya mulai kesakitan. Dada mereka mulai sesak, tubuh mereka mulai menghitam dan mereka mulai memuntahkan darah hitam yang bergumpal.
"Sepertinya waktu kalian sudah tiba." ucap Xixi dengan dingin.
Kedua laki-laki bertopeng itu semakin ketakutan. Mereka takut mati. Keduanya terus memohon.
"Katakan sebelum terlambat." ucap Xixi sambil mengangkat salah satu dagu laki-laki bertopeng itu.
"Baik, kami mengaku. Kami disuruh oleh salah satu pejabat di istana." ucap salah satu laki-laki bertopeng itu.
"Lanjutkan." ucap Xixi singkat.
__ADS_1
"Kami hanyalah rakyat biasa yang membutuhkan uang. Kami terikat utang piutang dengan pejabat itu. Dia berjanji akan membebaskan kami dari utang itu, jika kami berhasil menculik nona. Siapa orang yang meracuni pangeran, kami benar-benar tidak tahu nona. Tolong percaya dengan kami. Tolong berikan kami penawarnya." salah satu laki-laki bertopeng itu masih memohon penawar setelah menjelaskan semuanya.
"Siapa nama pejabat itu?" tanya Xixi.
"Dia adalah salah satu orang kepercayaannya kaisar. Dia adalah panglima istana." ucap salah satu laki-laki bertopeng itu.
"Sial. ternyata orang itu." ucap Xixi tak percaya.
Xixi memberikan penawarnya kepada kedua laki-laki bertopeng itu. Mereka selamat dari kematian. Xixi melepaskan mereka dan menjanjikan kepingan emas yang banyak dan melindungi mereka, jika mereka mau membantu Xixi. Keduanya setuju dan akhirnya bekerjasama membantu Xixi.
Kini dia sudah memiliki satu bukti. Dia harus mencari bukti yang lain. Dia sangat penasaran, tujuan sebenarnya pejabat istana itu. Apakah dia benar-benar ingin menyingkirkan pangeran Xiao San atau justru ingin menggulingkan tahta kaisar Xiao Ge. Dia harus mencari bukti sebanyak mungkin.
Malam harinya, Xixi sampai di kediaman pangeran. Xix sangat terkejut, istana itu terlihat sangat berantakan. Para dayang istana berkumpul di depan kamar pangeran dan menunduk penuh ketakutan. Para kasim istana pun tidak ada yang berani melihat ke dalam kediaman pangeran.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Xixi kepada salah satu dayang istana.
Xixi menyuruh seluruh dayang istana dan kasim istana meninggalkan kediaman pangeran. Xixi mencoba memasuki kamar pangeran secara perlahan. Pangeran yang dapat mendengar suara langkah pelan itu langsung marah dan melemparkan pedangnya. Xixi terkejut dan mencoba menghindari pedang itu.
"Pangeran ini hamba." ucap Xixi singkat.
"Xixi apakah itu kamu?" pangeran langsung berjalan menuju sumber suara.
Pangeran berjalan dengan menggunakan pendengarannya menuju ke arah Xixi. Dia memeluk Xixi dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Dari mana saja kamu? Aku kira kamu meninggalkan aku sendirian disini." ucap pangeran dengan penuh kesedihan.
__ADS_1
"Hamba tidak ingin mengganggu pangeran yang sedang beristirahat. Jadi hamba pergi sebentar ke luar istana." ucap Xixi dengan lembut.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya pangeran penasaran.
"Sebaiknya pangeran melepaskan pelukan ini, mari kita duduk dan membicarakan ini dengan tenang." ucap Xixi dengan lembut.
Pangeran tidak mau melepaskan pelukan itu dan semakin erat memeluk Xixi hingga membuat Xixi tidak bisa bernafas. Pangeran sangat takut kehilangan dirinya. Dia baru mau melepaskan pelukan itu saat Xixi terlihat kesulitan bernapas. Mereka duduk berhadapan, Xixi mulai menceritakan semua penyelidikan yang sudah dikerjakannya. Dia menceritakan semuanya secara rinci. Pangeran terkejut bahwa panglima istana yang menjadi dalang kasus ini. Xixi mengatakan kepada pangeran untuk menyimpan bukti ini untuk sementara, sampai mereka menemukan bukti yang lebih kuat.
"Baiklah aku paham." ucap pangeran sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu langkah selanjutnya?" tanya pangeran.
"Kita biarkan semua mengalir begitu saja. Kita bersikap seolah-olah kasus ini sudah tidak diangkat lagi. Biarkan dia lengah dan saat waktunya tiba. Kita akan menangkap mereka dan membawa mereka ke hadapan kaisar dengan semua bukti-bukti itu." ucap Xixi dengan tenang.
Pangeran yang mendengar strategi yang dijelaskan oleh Xixi merasa sangat kagum. Bagi pangeran, Xixi merupakan guru yang hebat.
"Baiklah, kita bahas lagi nanti. Hamba dengan pangeran menolak untuk makan. Jadi biarkan hamba menyiapkan makanan untuk pangeran." ucap Xixi dengan lembut dan pergi meninggalkan pangeran.
Pangeran hanya tersenyum dan menunggu Xixi. Pangeran menunggu Xixi sambil membaca buku baru yang dibawa Xixi tentang strategi berperang. Sudah ada puluhan buku tentang strategi berperang yang dibelikan oleh Xixi dan bahkan Xixi mengajarkan secara pribadi sesuai ilmu berperang dalam buku itu.
"Pangeran, makanan sudah siap. Biarkan aku membantumu." ucap Xixi sambil membantu pangeran ke meja makan.
Xixi sendiri yang memasak semua makanan kesukaan pangeran. Dia menyuapi pangeran dengan penuh kasih sayang. Xixi benar-benar menjaga pangeran dengan hati-hati. Pangeran selalu tersenyum saat makan malam itu. Sikapnya selalu seperti anak kecil yang manja saat berada disisi Xixi. Jadi tidaklah mengherankan, jika Xixi tiba-tiba Xixi menghilang darinya, dia akan sangat ketakutan seperti seorang anak kecil yang ditinggalkan ibunya.
"Xixi, jangan lakukan ini lagi. Aku mohon." pangeran memegang tangan Xixi dan memohon.
__ADS_1
"Hamba tidak akan mengulanginya lagi. Hamba akan meminta ijin sebelum pergi. Hamba tidak akan membuat pangeran khawatir." ucap Xixi lembut.
Xixi sangat menyayanginya dan begitu juga pangeran yang tidak bisa kehilangan dirinya. Apakah itu karena cinta atau saling membutuhkan, faktanya kedua insan ini sudah saling bergantung satu sama lain.