
Seperti kata pepatah, ujian dan cobaan dayang sesuai kemampuan seseorang. Namun apakah pepatah itu benar. Sepertinya pepatah itu tidak berlaku untuk pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi. Berbagai jenis ujian dan cobaan yang menghampiri mereka, kini sudah tidak mampu mereka tanggung lagi. Kemampuan mereka sudah semakin melemah untuk menghadapi semuanya. Pangeran Xiao San yang melihat istrinya sedang menahan rasa sakit itu membuatnya kembali terpuruk. Dia sekali lagi merasa gagal telah menjadi seorang suami dan lebih bodohnya lagi, kini dia telah gagal menjadi seorang ayah bagi putranya yang belum lama hadir di dunia ini.
"Sungguh bodoh." pangeran Xiao San teriak sambil memukul-mukul dirinya.
"Pangeran apa yang kamu lakukan?" tanya selir terkejut saat pangeran menyakiti dirinya sendiri.
Pangeran Xiao San menghentikan dirinya saat melihat selir kecilnya merintih kesakitan. Pangeran Xiao San segera bergegas menghampirinya. Dia mencoba memeriksa keadaan selir kecilnya, dia terkejut saat melihat lukanya semakin parah. Luka itu mulai mengeluarkan nanah. Dia melihat wajah selir kecilnya yang kini berwarna pucat pasi. Tubuhnya sedikit menggigil karena kedinginan, namun terus mengeluarkan keringat karena menahan sakit.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Bisakah kamu menjaga Xiao Jiwu sebentar saja? Aku ingin beristirahat sebentar saja." ucap selir kecil dengan tatapan penuh derita.
"Hm, beristirahatlah. Aku akan menjaga putra kita." ucap pangeran Xiao San dengan tenang sambil mengecup kening selir kecil.
Selir kecil memejamkan matanya dan tertidur beralaskan jerami dan berselimutkan jubah pangeran Xiao San. Dia memeluk putranya yang sedang tertidur pulas, dia memastikan putranya tidak merasakan rasa dingin di dalam penjara kesedihan. Pangeran Xiao San hanya bisa menatap ke langit-langit penjara yang terbuat dari batu. Disekelilingnya hanya ada suara-suara teriakan seseorang yang sedang dicambuk atau suara-suara seseorang yang sedang menangis karena rasa kesepian dan ketakutan. Sepanjang malam, pangeran Xiao San hanya memeluk putranya dan menatap langit-langit penjara itu dengan tatapan kosong. Dia tidak mengetahui apakah itu masih malam atau bahkan sudah pagi. Dunia ini terasa terisolasi dalam penjara kesedihan.
"Selir kecil.. Selir kecil.." teriakan tabib muda menyadarkan pangeran Xiao San dari lamunannya.
"Ada apa? Katakan ada apa Chen Yi?" tanya pangeran dengan cemas.
"Pangeran, lihatlah. Pangeran, lihatlah." ucap Chen Yi dengan perkataan yang terbata-bata.
"Ada apa katakan dengan jelas" tanya pangeran Xiao San sambil memberikan tamparan yang keras untuk menyadarkannya.
__ADS_1
"Pangeran, selir kecil tidak bernapas lagi." ucap Chen Yi dengan suara lirih
"Apa?" teriak pangeran Xiao San dengan suara keras.
Pangeran yang tidak mempercayai perkataan tabib muda itu, duduk dan mencoba memeriksa napas selir kecilnya. Dia terkejut, saat mengetahui selir kecil tak bernapas. Dia mencoba menepis kenyataan itu, sekali lagi dia mencoba memeriksa detak jantung, namun kenyataan pahit dia temukan, pangeran tak mendengar suara detak jantung selir kecilnya.
"Selir kecil, aku mohon bangunlah." pangeran memanggil selir kecilnya dengan teriakan yang membuat seluruh penghuni penjara dapat mendengarnya.
"Selir kecil, aku bilang bangun." pangeran berteriak sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Tak ada respon apapun dari selir kecilnya, pangeran Xiao San terlihat sedikit menggila. Dia mencoba memberikan napas buatan, namun hasilnya tetap sama. Selir kecil Xixi tak bernapas lagi. Mengetahui tak ada harapan lagi, pangeran Xiao San semakin tak terkendali. Dia berusaha menghancurkan gembok penjaga itu dengan tangan kosong. Dia berusaha menghancurkan jeruji penjara itu. Namun itu semua sia-sia. Bukan jeruji atau gembok penjara itu yang hancur, justru tangannya yang hampir saja patah karena berusaha menghancurkan penjara itu.
"Kalian semua berengsek. Kalian semua pecundang. Lepaskan kami. Kalian semua biadab." pangeran terus berteriak tanpa henti dengan suara yang semakin putus asa.
"Aku tidak akan menyerah." ucap pangeran Xiao San sambil memukul-mukul gembok itu.
Setelah sekian lama berusaha, akhirnya gembok itu terbuka. Dia membawa tubuh selir kecil yang sudah mulai mendingin. Pangeran Xiao San berusaha memimpin jalan untuk melindungi istri dan putranya. Mereka terus berjalan menelusuri penjara kesedihan, hingga dia bertemu dengan seseorang yang tak disangkanya.
"Kasim Li?" panggil pangeran Xiao San saat melihat sosok pria pengkhianat itu.
Pangeran Xiao San berdiri dengan tegap di depan putranya dan menggendong erat selir kecilnya. Tatapannya penuh amarah, apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan orang yang sangat berharga bagi hidupnya.
__ADS_1
"Salam pangeran. Sebaiknya pangeran segera ikut denganku." ucap kasim Li pelan sambil melihat kesekelilingnya.
"Tidak. Aku tidak mempercayaimu. ucap pangeran sambil menepis tangan kasim Li.
"Aku mohon pangeran, percayalah padaku." ucap kasim Li sambil memperlihatkan plakat milik kaisar Xiao Ge.
"Itu adalah ..." ucap pangeran Xiao San sedikit ragu.
"Jika pangeran ingin mengetahuinya. Aku mohon ikut bersamaku. Sebentar lagi mereka akan datang." ucap kasim Li cemas.
Kali ini pangeran mencoba untuk percaya padanya. Dia mengikuti kasim Li untuk meninggalkan penjara kesedihan. Kasim Li memimpin jalan menuju ke jalan rahasia dan mereka mengikutinya dari belakang. Kasim Li membawa mereka ke sebuah pintu rahasia yang ada di dalam penjara kesedihan dan di balik pintu rahasia itu terdapat jalan bawah tanah seperti gua yang menghubungkan ke sebuah jalan keluar dari istana. Jalan bawah itu sangat kecil karena hanya mampu dilewati satu orang saja. Mereka harus berjalan perlahan agar dapat keluar dari jalan rahasia itu.
"Apakah masih jauh kasim Li?" tanya pangeran penasaran.
"Sebentar lagi pangeran. Sebentar lagi kita sampai." ucap kasim Li singkat.
Pangeran tak bertanya lagi. Dia terdiam dan mengikuti kasim Li. Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya dia melihat sebuah cahaya terang. Ternyata itu adalah sebuah pintu keluar. Saat dia keluar ternyata dia sampai di sebuah tempat. Tempat itu tidak asing, itu adalah sebuah toko buku percetakan milik selir kecil. Pangeran masih mengingatnya. Selir kecil pernah membawanya kesini.
"Chen Yi, bawa pangeran dan kakakmu masuk. Aku harus pergi." ucap kasim Li.
"Baik ayah." ucap Chen Yi yang membuat pangeran terkejut.
__ADS_1
...~Bersambung~...