Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 23 : Hari Eksekusi Keluarga Chen


__ADS_3

Pagi itu langit terasa sedikit mendung. Sinar matahari tak terlihat terang seperti biasanya. Para pengawal istana membawa panglima Chen Zhen beserta keluarganya menuju ke tempat eksekusi. Seluruh keluarga Chen dibawa dengan kasar, mereka semua diperlakukan layaknya seorang pengkhianat. Tidak ada sikap baik atau halus baik kepada pria, wanita, bahkan anak kecil. Mereka semua dianggap sama sebagai seorang pengkhianat.


Seluruh keluarga Chen di dudukan di depan gerbang istana, seluruh mata mereka ditutup dan mereka duduk menghadap ke seluruh rakyat istana Xiao. Panglima Chen Zhen duduk di paling depan. Mereka menunggu selama 30 menit sebelumnya akhirnya nanti dieksekusi. Baik pejabat ataupun rakyat istana Xiao, mereka semua menghina, mencaci, bahkan melemparkan apapun yang ada di tangan mereka. Mereka mendapatkan hinaan yang begitu rendah. Hinaan ini setara dengan perbuatan yang dilakukan panglima istana.


Selir kecil menatap penghinaan itu dengan senyum puas. Tatapan di wajahnya begitu menakutkan. Hati selir kecil sedang diselimuti sifat jahat. Tak ada belas kasihan. Tidak ada pengampunan. Bagi selir kecil ini adalah karma yang harus didapatkan oleh keluarga Chen karena sifat buruk dan tamak panglima istana Chen Zhen.


"Semoga langit mengampuni keluarga mereka yang tidak bersalah." ucap selir kecil dalam hatinya.


Kaisar menatap kekecewaan sekaligus kesedihan yang mendalam kepada sahabat kecilnya itu. Kaisar hanya bisa menyaksikan peristiwa memilukan ini. Dari kejauhan ada seseorang yang mengamati semuanya. Orang itu terlihat sangat marah. Dia mengepalkan tangannya tanda kemarahan yang begitu besar.


"Tuan sebaiknya kita kembali." ucap anak buahnya.


"Baiklah." ucap orang itu.


Mereka pergi meninggalkan tempat eksekusi itu. Mereka menghilang di tengah keramaian orang-orang yang sedang menonton eksekusi itu. Tiga puluh menit telah berlalu. Waktunya untuk eksekusi. Seluruh algojo istana dikerahkan untuk memberikan semangkuk racun yang pernah diminum oleh pangeran. Dalam hitungan mundur, seluruh keluarga Chen meminum racun itu. Hanya dalam hitungan detik racun itu bereaksi di tubuh mereka. Seluruh keluarga Chen memuntahkan darah hitam yang sangat kental dan satu persatu nyawa mereka melayang.


Kaisar dan pangeran menutup kedua matanya, mereka tidak sanggup untuk melihat eksekusi ini. Tanpa sadar air mata kaisar menetes di pipinya sebagai tanda kesedihan karena kehilangan seorang sahabat. Namun tatapan selir kecil itu berbeda, dia terus menatap reaksi obat dari tubuh panglima Chen Zhen. Dia terus mengamati panglima istana itu. Dia tidak ingin rencananya gagal. Tatapan itu terlihat begitu menakutkan.


"Selir kecil, mari kita kembali." ucap pangeran lembut.


"Baiklah." ucap selir kecil lembut.


Selir kecil mengubah ekspresi wajahnya. Dia tersenyum kecil dan pergi meninggalkan eksekusi bersama dengan pangeran. Selir kecil menemani pangeran di kediamannya hingga sore hari. Selir kecil memberikan pangeran obat tidur, agar dia dapat tidur dengan lelap dan tidak mengetahui rencana tersembunyi.

__ADS_1


"Maafkan hamba pangeran. Ini semua demi kebaikan dirimu." bisik selir kecil dalam hati.


Selir kecil meninggalkan kediaman pangeran secara diam-diam. Dia menanyakan seluruh jasad keluarga Chen kepada salah satu anak buahnya yang menyamar sebagai pengawal istana.


"Dimana jasadnya?" tanya selir kecil.


"Mereka semua ditempatkan di lubang besar di belakang istana. Jasad mereka ditumpuk di lubang besar itu dan sebentar lagi akan dibakar." ucap pengawal istana itu.


Selir kecil dibantu oleh Jiang Xi pergi menuju tempat pembakaran jasad keluarga Chen. Mereka mencari jasad panglima Chen Zhen di dalam tumpukkan itu. Jiang Xi membawa jasad panglima istana ke tempat persembunyiannya.


"Bawa jasadnya ke tempat persembunyian. Lalu minumkan pil ini setiap 3 jam. Jika dia siuman, beritahukan padaku." ucap selir kecil.


"Baiklah." ucap Jiang Xi singkat.


"Pangeran sudah bangun?" tanya selir kecil pelan saat melihat pangeran yang membuka matanya.


"Hm, mengapa aku tidur lebih awal?" tanya pangeran.


"Sepertinya pangeran kelelahan. Makanya tubuh pangeran ingin beristirahat dan tidur." ucap selir kecil lembut.


"Apakah pangeran ingin makan?" tanya selir kecil.


Pangeran hanya menganggukkan kepalanya. Selir kecil pergi ke dapur istana dan menyiapkan makan malam untuk pangeran. Dia memasakkan sup ayam ginseng yang berkhasiat untuk kesehatannya. Pangeran sangat menyukai keterampilan memasak selir kecil. Semenjak kejadian peristiwa racun itu, selir kecil tidak membiarkan dayang istana manapun memasakan makanan untuk pangeran.

__ADS_1


"Lihatlah apa yang aku masak. Ini sangat lezat." ucap selir kecil lembut.


"Terlihat sangat lezat." ucap pangeran dengan penuh semangat.


Selir kecil menyuapinya seperti biasa. Kasih sayang yang diberikan oleh selir kecil sangat besar dan tulus. Kasih sayang itu melebihi siapapun. Ketulusan yang besar itu hingga membuat selir kecil mampu untuk membalas siapapun dengan kejam jika mereka berani menyebut tubuh pangeran walaupun itu hanya goresan kecil.


"Makanlah yang banyak." ucap selir kecil.


Pangeran tersenyum dan makan dengan lahap. Selir kecil sangat senang melihat pangeran yang tersenyum bahagia. Pangeran kembali beristirahat di atas ranjangnya setelah makan malam.


"Selir kecil, ambilkan buku strategi perang. Aku ingin membacanya." perintah pangeran.


Selir kecil membawa semua buku strategi perang milik pangeran. Sepanjang malam pangeran membaca bukunya. Selir kecil menemaninya dengan melihat dari meja makan. Selir kecil tersenyum kecil saat melihat wajah pangeran yang sangat tampan saat sedang membaca buku dengan serius. Selir kecil yang terlihat lelah, tidak mampu menemani pangeran membaca. Selir kecil akhirnya tertidur disana. Selir kecil tidur dengan sangat lelap. Pangeran yang selesai membaca bukunya, membawa selir kecil ke atas ranjangnya dan menidurkannya dengan nyaman.


"Selamat malam." bisik lembut pangeran.


Pangeran mengecup lembut kening selir kecil dan tidur di sampingnya. Malam itu keduanya tertidur pulas hingga pagi hari.


Pagi itu kicauan merdu burung-burung membangunkannya. Dia membuka matanya dan melihat tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang pangeran. Selir kecil tersenyum kecil melihat wajah tampan pangeran yang sedang tertidur.


"Terima kasih." bisik lembut selir kecil.


Selir kecil bangun dari atas ranjangnya dan bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan pangeran. Hari ini dia bermaksud untuk mengajak pangeran ke taman persik. Selir kecil ingin mengajari ilmu beladiri kepada pangeran. Agar pangeran memiliki teknik dasar untuk mempelajari ilmu yang lebih tinggi. Dia ingin membentuk diri pangeran menjadi calon kaisar yang kuat dan bijak. Agar dia dapat melindungi rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya sepenuh hati. Selir kecil pergi meninggalkan kediaman pangeran menuju ke kediamannya untuk mengambil pedang yang sudah dibuatnya khusus untuk pangeran belajar

__ADS_1


__ADS_2