Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 15 : Dia Ingin Mengikutiku


__ADS_3

Sepanjang malam pangeran Xiao San memeluk erat jasad Xixi. Tidak ada ketakutan atau rasa jijik saat memeluk jasad orang yang sudah mati. Karena dalam hatinya hanya ada rasa kehilangan dan keputusasaan. Pangeran sejak lahir menjadi orang yang lemah, cacat dan kesepian. Namun beberapa tahun ini, sejak kedatangan Xixi, hidup pangeran mulai merasakan perubahan. Dia merasakan menjadi seseorang yang berbeda. Meskipun dia masih tidak bisa melihat apapun, namun dia merasa tidak kesepian lagi. Dia merasa bahagia karena menjadi orang yang lebih kuat. Dia kini mampu membaca dengan baik, mampu mengatur strategi perang dengan baik dan hampir seluruh penghuni istana sudah tidak memandang sebelah mata dirinya lagi. Kini dia telah menjadi sosok yang kuat dan mampu melindungi dirinya sendiri. Kini dia mampu untuk menahan segala penghinaan dan penindasan terhadap dirinya. Bahkan hidupnya sudah banyak mengalami perubahan, karena hampir sebagian besar penghuni istana ini yang sudah menerima keadaannya dan menghormati dirinya. Kini kelahirannya tidak dianggap lagi sebagai aib istana. Dia sangat senang dengan semua ini.


Dia tertidur dengan tenang. Sepanjang malam hanya menemaninya tidur. Dia masih berharap semua ini hanyalah mimpinya saja. Ketika dia membuka matanya, Xixi masih hidup dan sedang tidur di sampingnya.


Pagi itu dayang istana mencoba membangunkan pangeran. Namun dayang istana terkejut dan menjatuhkan baskom emas untuk cuci muka pangeran. Air tumpah membasahi lantai kamar itu. Dayang istana menahan mulutnya agar tidak berteriak saat melihat pangeran sedang tidur dengan seorang mayat. Dayang istana itu segera berlari menuju kediaman kasim Li. Dia berlari dengan ketakutan. Dia sangat bingung, mengapa pangeran bisa tidur dengan seorang mayat. Sesampainya di kediaman kasim Li, dayang istana menceritakan semuanya. Kasim Li membelalakkan matanya karena rasa terkejut. Kasim Li bergegas menunju ke kediaman pangeran.


Dia masuk ke dalam kamar pangeran dan terkejut melihat pangeran yang masih menutup matanya sambil memeluk erat Xixi. Pangeran yang tidak peduli dengan keadaan di sekitar, dia hanya diam dan berpura-pura tidak mendengar apapun. Kasim Li mencoba membangunkan pangeran dan memaksanya untuk turun dari ranjang itu. Namun pangeran menolaknya dan tetap berbaring dan memeluk Xixi.


"Aku mohon pangeran, bangunlah. Biarkan aku membawa jasad Xixi untuk disemayamkan." ucap kasim Li.


"Dia sudah mati empat hari yang lalu. Apakah pangeran tega melihat ruhnya yang tidak tenang karena jasadnya masih belum disemayamkan?" ucap kasim Li dengan pelan.


"Sstt.. Jangan berisik. Dayang istana Xixi sedang tidur." bisik pangeran terlihat sangat depresi.


"Pangeran aku mohon padamu. Tolong sadarlah." ucap kasim Li dengan lirih.

__ADS_1


"Aku bilang dia sedang tidur. Berikan waktu untuk dia beristirahat." ucap pangeran tanpa mempedulikan apapun.


Kasim Li menghela nafasnya berkali-kali. Dia tidak bisa membiarkan semua ini berlarut-larut. Kasim Li menyuruh beberapa pengawal istana untuk memaksa pangeran bangun dari ranjangnya dan membawanya ke kediaman sang kaisar. Sementara beberapa pengawal istana yang lain diperintahkan untuk membawa jasad dayang istana Xixi ke dalam peti mati. Beberapa dayang istana diperintahkan untuk mempersiapkan upacara kematian untuk menyemayamkan tubuh Xixi.


Pangeran terus berteriak menolak untuk dibawa ke kediaman kaisar. Dia hanya ingin bersama Xixi untuk terakhir kali. Dia hanya ingin bersama Xixi. Pangeran terus berteriak di dalam kamarnya. Dia berharap ada seseorang yang akan membantunya keluar.


"Kaisar keluarkan aku. Aku mohon keluarkan aku. Kaisar.." teriak pangeran dengan keras dan mengulangi perkataan itu hingga membuat suaranya hampir hilang.


Pangeran terus berteriak namun tidak ada respon apapun. Semua tidak mempedulikannya. Mereka semua hanya diam. Sore itu tiba-tiba istana terasa sunyi, tidak ada teriakan lagi dari dalam kamar pangeran. Semua penghuni istana menyangka bahwa pangeran sudah menyerah dan berhenti berteriak. Salah satu dayang istana diperintahkan untuk membawa makan malam ke kamar pangeran. Dia membuka pintu kamar pangeran dan berteriak sangat kencang karena terkejut.


"Pengawal istana tolong, pangeran gantung diri." hanya itu yang diteriakkan dayang istana saat melihat pangeran sudah berada diposisi leher menggantung.


Saat itu pangeran sangat lelah untuk berteriak. Dia sangat paham, walaupun dia memaksakan diri seperti apapun, tidak ada yang akan mendengarkannya. Dia hanya ingin bersama Xixi. Dia hanya ingin melihat Xixi. Sampai akhirnya pangeran memiliki pikiran buruk. Dia memutuskan untuk menggantung dirinya.


"Xixi, jika memang kita tidak ditakdirkan bersama di dunia ini. Mungkin kita akan bertemu di dunia yang lain." ucap pangeran lirih.

__ADS_1


Saat itu pangeran sudah dalam posisi mengikatkan tali di lehernya. Dia memejamkan matanya dan menendang tumpukan buku yang menopang kakinya. Saat tumpukan buku itu jatuh, leher pangeran mulai terjerat oleh ikatan tali itu. Dia merasakan sakit yang luar biasa saat ikatan tali itu semakin kencang. Tenggorokannya sangat sakit dan napasnya secara perlahan mulai berhenti. Rasa sesak dan sakit itu membuat dia tak bisa menahannya.


"Xixi, sampai jumpa lagi." kata terakhir yang terucap dari bibirnya.


Tabib istana memeriksa kondisi pangeran. Dia mengalami kondisi kritis. Dia berada dalam kondisi vegetatif. Keputusasaan dalam dirinya, membuat dia tidak ingin hidup lagi.


"Bagaimana kondisi putra mahkota?" tanya kaisar sangat cemas.


"Maafkan hamba kaisar. Pangeran dalam kondisi kritis. Hanya keajaiban yang dapat menyembuhkannya." ucap tabib istana tak berdaya.


Seluruh tabib istana meminta pengampunan. Mereka terus bersujud meminta belas kasihan kaisar karena tidak mampu untuk menyembuhkan pangeran. Kaisar hanya terdiam. Tubuhnya gemetar, saat mengetahui putra tunggalnya sudah tidak ada harapan hidup. Lutut kaisar lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya. Akhirnya kaisar terjatuh di samping tubuh putranya. Kaisar berada dalam puncak kesedihan. Dia merasa sudah gagal dalam melindungi putranya. Kini kaisar hanya bisa memasrahkan dirinya. Berharap ada keajaiban yang bisa menyembuhkan putranya. Dia hanya ingin putranya kembali. Apapun itu akan dia lakukan agar bisa mengembalikan putranya.


"Kasim Li, bagaimana dengan jasad dayang istana Xixi?" tanya kaisar.


"Upacara kematian sudah disiapkan. Malam ini jasad Xixi akan dibakar." ucap kasim Li.

__ADS_1


"Hentikan itu. Beritahukan kepada tabib istana untuk mengawetkan jasadnya, agar setelah putraku sadar, biarkan dia melihat dayang istana itu untuk terakhir kalinya." perintah kaisar.


Kasim Li melaksanakan perintah kaisar. Dia bersama dengan beberapa tabib istana mencoba mengawetkan jasad Xixi. Mereka tempatkan Xixi di sebuah ruangan yang sangat dingin agar tubuhnya tidak membusuk.


__ADS_2