Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 42 : Melihat Semuanya


__ADS_3

Saat dalam gendongan itu, terlihat Xiao Jiwu sangat senang. Dia sangat bahagia dalam gendongan ayahnya. Xiao Jiwu tersenyum dengan mata yang berbinar.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya pangeran dengan senyuman lebar.


Pangeran menundukkan kepalanya dan ingin menciumnya. Namun tangan mungil Xiao Jiwu menyentuh kedua mata ayahnya. Pangeran Xiao San menutup matanya dan membiarkan tangan putranya menyentuhnya. Cukup lama Xiao Jiwu menyentuh kedua mata ayahnya, namun tak kunjung ada tanda-tanda Xiao Jiwu akan melepaskan sentuhan itu. Selir kecil tersenyum lebar saat melihat tingkah ayah dan anak yang sangat aneh ini. Selir kecil mengangkat putranya dari gendongan pangeran.


"Sudah-sudah hentikan bermainnya. Biarkan aku memandikanmu pangeran kecil." ucap selir kecil.


Pamer Xiao San melepaskan gendongannya dan membiarkan selir kecil merawatnya. Dia hanya bisa mendengarkan selir kecilnya yang sedang merawat putranya dengan sangat baik. Dia cukup bersyukur dapat memiliki kebahagiaan ini di tengah ketidaksempurnaan dirinya. Dia memiliki istri dan anak yang tulus kepadanya. Dia menghela napas panjang, menutup matanya dan mengucap syukur atas harta berharga yang dimilikinya.


"Pangeran, tolong ambil pakaian daun itu." ucap selir kecil saat akan memakaikan pakaian ke putranya.


Mendengar panggilan selir kecilnya, dia membuka matanya. Namun sebuah keanehan muncul. Saat dia membuka matanya, dia melihat sesuatu yang sangat menyilaukan.


"Selir kecil, aku tidak dapat melihat." teriak pangeran kebingungan


"Pangeran, apa yang sedang kamu katakan. Jangan bermain-main lagi. Cepat ambilkan pakaian daun itu." ucap selir kecil yang tak percaya


"Selir kecil, aku tidak dapat melihat. Semuanya terlihat sangat silau." teriak pangeran semakin kebingungan.


Mendengar suara pangeran Xiao San yang terdengar kebingungan, akhirnya dia mengambil sendiri pakaian itu. Setelah selesai mengurus putranya, dia membawa putranya dalam gendongan untuk menghampiri pangeran Xiao San. Selir kecil terkejut saat melihat pangeran Xiao San yang sedang mengusap-usap matanya hingga berdarah.


"Pangeran, apa yang sedang kamu lakukan?" teriak selir kecil panik


Pangeran yang sedang panik, tak bisa mendengarkan teriakan selir kecil. Dia masih mengusap-usap matanya. Selir kecil berlari dan berusaha menahan tangan pangeran. Dia membantu pangeran untuk mengobati matanya yang terluka. Dia mencoba untuk menghentikan pendarahan di mata pangeran.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu, pangeran? Mengapa kamu melukai matamu sendiri?" tanya selir kecil khawatir


"Aku juga tidak mengerti. Mataku sangat silau. Aku sangat takut." ucap pangeran yang ketakutan.


"Tenang saja, aku disini. Aku bersamamu. Aku akan membantumu." ucap selir kecil mencoba menenangkan.


Selir kecil dengan perasaan penuh kecemasan, pergi menelusuri setiap bunga-bunga disana. Dia berharap ada yang dapat dijadikan obat untuk kedua mata pangeran. Sudah cukup lama dia menelusuri taman itu bersama dengan putranya. Tak ada satupun yang dapat dijadikan sebagai obat. Selir kecil duduk di atas tanah berpasir itu, dia menangis karena terlalu cemas. Dia terlalu berpikir banyak berpikir buruk terhadap kesehatan suaminya.


"Mengapa cobaan ini tak pernah berhenti?" ucap selir kecil sambil memukul dadanya.


"Apa salahku di dunia ini? Mengapa ini tak berakhir?" teriak selir kecil penuh amarah


Dia berteriak dan menangis tersedu-sedu. Tangisan itu semakin tak tertahankan, hingga membuat dadanya sesak. Selir kecil tak menyadari keberadaan putranya yang masih digendongnya. Dia terus menangis. Ini merupakan puncak keputusannya. Rasanya dia tak sanggup lagi menghadapi cobaan ini. Dia tidak dapat menghentikan tangisan itu. Namun sebuah tangan mungil muncul dari arah belakang. Tangan itu menyentuh pipi selir kecil. Seketika selir kecil tersadar dan menahan tangisannya.


"Maafkan ibumu yang tidak berguna ini, Xiao Jiwu." ucap selir kecil pelan


"Kamu memang anak pintar." ucap selir kecil sambil mencium kening putranya.


Selir kecil kembali menggendongnya dan kembali ke tempat pangeran. Selir kecil mulai membuat obat dari bunga putih itu dan membalurkannya di kedua mata pangeran. Selir kecil menjaga pangeran sepanjang malam, untuk mengganti obat itu setiap 3 jam sekali.. Pangeran tertidur sangat lelap bersama putranya di sampingnya. Selir kecil tersenyum saat melihat kedua orang ini sebagai obat hatinya yang terluka.


"Aku mencintai kalian." ucap selir kecil saat melihat suami dan anaknya


Malam telah berakhir, pagi sudah terlihat di depan mata. Pangeran Xiao San terbangun. Dia membuka matanya secara perlahan. Masih terlihat cahaya menyilaukan yang terlihat. Pangeran kembali menutup matanya.


"Ada apa pangeran?" tanya selir kecil.

__ADS_1


"Mataku masih menyilaukan." ucap pangeran sedih.


"Coba buka matamu sekali lagi." ucap selir kecil


Pangeran Xiao San membuka matanya kembali secara perlahan. Saat dia membuka matanya secara perlahan, cahaya silau yang terlihat semakin lama semakin memudar. Hingga dia berhasil membuka matanya secara sempurna. Dia terkejut saat melihat sosok wanita cantik yang ada dihadapannya.


"Selir kecil?" ucap pangeran sambil menyentuh pipi lembutnya


"Apakah matamu masih silau pangeran?" tanya selir kecil yang sedang cemas


Dengan perasaan tak percaya, dia menyentuh setiap bagian wajah istrinya. Dia tersenyum lebar, saat mengetahui bahwa semua ini nyata.


"Aku dapat melihatmu." ucap pangeran dengan perasaan bahagia


"Benarkah?" tanya selir kecil sedikit ragu


Pangeran Xiao San akhirnya mencium bibir mungil istrinya. Dia mencium setiap bagian wajah istrinya. Dia mengatakan setiap bagian yang dicium nya untuk membuktikan semua perkataannya.


"Apakah kamu masih tidak percaya?" tanya pangeran dengan lembut.


"Hm, aku percaya. Aku sangat bahagia." ucap selir kecil dan kembali membalas ciuman itu.


Ciuman itu akhirnya saling terjalin. Keduanya berciuman sangat intens. Tidak ada satupun yang mau mengalah. Aktivitas keduanya berakhir saat putranya menangis karena terbangun. Keduanya menghentikan ciuman itu dan menghampiri putranya. Ketiganya saling berpelukan. Mereka berharap tidak ada lagi yang memisahkan mereka.


"Apakah kamu lapar? Aku akan mencari makan." ucap pangeran

__ADS_1


Pangeran dengan perasaan bahagia, pergi mencari buah-buahan untuk mereka. Dia yang terbiasa dengan kegelapan, sangat canggung dalam berjalan. Dia berjalan dengan sempoyongan seperti anak yang baru belajar berjalan. Dari kejauhan selir kecil tertawa kecil saat melihat tingkah suaminya. Pangeran berjalan secara perlahan untuk menyeimbangkan jalannya. Dia mencari buah-buahan itu. Banyak sekali buah-buahan yang sudah terkumpul. Akhirnya dia membawanya ke tempat istrinya Mereka makan bersama dengan nikmat.


...~Bersambung~...


__ADS_2