
Malam itu Xixi keluar dari kamar pangeran Xiao San. Dia meninggalkan kediaman pangeran dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun saat dia berjalan keluar dari istana pangeran, dia merasakan ada seseorang yang sedang mengikutinya secara diam-diam. Xixi mencoba tetap bersikap tenang. Dia terus berjalan menuju ke kamarnya, namun di tengah perjalanan tiba-tiba dihadang oleh seorang laki-laki bertopeng dan menyerangnya.
Xixi mencoba melawan laki-laki bertopeng itu namun dia gagal. Akhirnya laki-laki bertopeng itu memukulnya hingga pingsan. Laki-laki itu membawa Xixi ke sebuah tempat tersembunyi dan mengikatnya disana. Xixi tak sadarkan diri hingga pagi hari. Dia mencoba membuka matanya namun dia terkejut disekelilingnya hanya ada ruangan kecil seperti gudang dan di dalamnya hanya terdapat tumpukan jerami. Xixi mencoba menenangkan diri dan berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.
Xixi melihat ada dua orang laki-laki bertopeng yang sedang berjaga di depan pintu itu. Mereka hanya berdiri tanpa ada yang berbicara. Xixi memanfaatkan kondisi ini untuk tetap berusaha melepaskan ikatan itu. Cukup lama menahan rasa sakit dari ikatan itu, akhirnya dia berhasil melepaskan ikatan di kedua tangannya. Kemudian dia ingin melepaskan ikatan di kedua kakinya namun diketahui oleh kedua laki-laki bertopeng itu. Kedua laki-laki itu langsung menahan tangan Xixi dan memukulnya kembali hingga Xixi tidak sadarkan diri.
"Xixi.. Xixi.." pangeran berteriak memanggil nama Xixi namun tidak ada respon apapun.
"Salam pangeran. Dayang Xixi sedang pergi membeli sesuatu untuk pangeran. Hamba disuruh dayang Xixi untuk memberikan sarapan ini. Dayang Xixi berpesan agar pangeran dapat beristirahat dan menunggu dayang Xixi di dalam kamar saja." ucap salah satu dayang istana.
Pangeran Xiao San percaya dengan ucapan dayang istana itu. Pangeran menyuruh dayang istana itu pergi dari kamarnya. Pangeran langsung memakan sarapannya dengan nikmat. Dia sangat senang, sejenak dia berpikir bahwa Xixi pergi untuk membelikannya buku baru. Pangeran Xiao San beristirahat di kamarnya sambil membaca buku lama. Sudah cukup lelah membaca buku, dia tertidur di atas ranjangnya.
Sore itu, kasim Li datang menghampiri pangeran membawa pesan dari kaisar Xiao Ge. Namun karena tidak ada respon apapun dari pangeran, kasim Li membuka paksa pintu kamarnya. Dia terkejut melihat tubuh pangeran yang sudah mulai menghitam. Kasim Li panik dan menyuruh pengawal istana untuk segera membawa tabib istana. Kasim Li mencoba memberikan energi murninya agar racun itu tidak menyebar ke seluruh tubuh pangeran.
__ADS_1
Tabib sampai kediaman pangeran dan mengecek kondisi pangeran, ternyata dia sudah dalam kondisi kritis. Kaisar Xiao Ge bersama dengan adiknya dan kedua sepupu pangeran datang. Mereka melihat keadaan pangeran dengan gelisah dan cemas.
"Bagaimana tabib, apakah pangeran baik-baik saja?" tanya kaisar sangat cemas.
"Maafkan hamba yang mulia, ternyata racun di tubuh pangeran sudah menyebar. Racun itu sudah menyerangnya sejak pagi." ucap tabib istana pelan.
Kasim Li melihat sisa makanan di kamar pangeran dan menduga bahwa racun itu berasal dari makanan ini. Kasim Li memanggil penyelidik istana dan memeriksa makanan itu.
"Siapa yang memberikan makanan ini?" tanya kaisar sangat marah.
"Dimana dayang Xixi? Bawakan dia kehadapan aku sekarang!" perintah kaisar kepada seluruh pengawal istana.
Tabib istana berusaha mengeluarkan racun dari rubuh pangeran, namun tetap saja dia harus mendapatkan penawarnya. Kaisar memerintahkan seluruh tabib istana untuk mencari penawar racun dimanapun. Seluruh penghuni istana dibuat sibuk. Tabib istana mencari penawar racun untuk pangeran dan pengawal istana mencari Xixi yang diduga sudah melarikan diri.
__ADS_1
Saat malam tiba, Xixi tersadar kembali dan melihat dirinya yang sudah terikat kembali. Xixi tanpa rasa lelah mencoba kembali untuk melepaskan ikatan itu dan kini dia harus lebih hati-hati agar tidak ketahuan. Xixi secara perlahan mencoba melepaskan ikatan itu dan akhirnya dia berhasil. Dia mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya secara perlahan agar bisa melarikan diri. Namun sekali lagi di luar pintu itu kedua laki-laki bertopeng itu menyadarinya dan mencoba menyerang Xixi. Kali ini Xixi tidak ingin kalah, dia mencoba melawan kedua laki-laki bertopeng itu. Dia melemparkan sebuah bubuk rahasia yang dibuatnya hingga membuat mata kedua laki-laki bertopeng itu menjadi kesakitan. Dia mengikat kedua laki-laki bertopeng itu dan memeriksa tubuh mereka. Xixi menemukan sebuah surat, ternyata di dalam surat itu berisi surat perintah untuk menculiknya.
Ternyata Xixi menyadari bahwa ada seseorang yang ingin menjebaknya. Xixi menyembunyikan kedua laki-laki bertopeng itu untuk dijadikan sebuah bukti. Setelah menyelesaikan urusan dengan kedua laki-laki bertopeng itu, dia berjalan kembali menuju istana pangeran. Dia merasa pasti pangeran sangat mengkhawatirkannya. Sesampainya di istana, Xixi sangat terkejut. Dia disambut oleh puluhan pengawal istana yang menunjukkan tombak ke arahnya. Xixi tidak memahami apa yang sedang terjadi, dia dimasukan ke dalam penjara bawah tanah.
Xixi duduk terdiam di atas jerami dingin itu. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hingga kasim Li datang menjenguknya. Kasim Li bertanya padanya, apakah benar dia yang sudah meracuni pangeran. Xixi sangat terkejut mendengar cerita dari kasim Li. Xixi menangis mengetahui pangeran dalam kondisi kritis.
"Kasim Li aku mohon biarkan aku melihat pangeran sekali saja. Aku mohon" ucap Xixi penuh permohonan.
Kasim Li menghadap kepada kaisar dan meminta untuk membiarkan Xixi melihat pangeran sebelum mendapatkan hukuman yang berat. Kaisar mengijinkannya. Xixi memeriksa kondisi pangeran dan mengatakan bahwa dia dapat menyembuhkan pangeran. Kaisar memberikannya kesempatan untuk mengobatinya dengan diawasi oleh kasim Li. Xixi berhasil mengeluarkan racun di dalam tubuh pangeran, namun dia gagal membuat pangeran sadarkan diri.
"Pangeran, maafkan hamba yang tidak bisa melindungi dirimu." ucap Xixi meneteskan air matanya saat para pengawal istana memaksanya untuk kembali ke penjara bawah tanah.
Xixi duduk terdiam di dalam penjara bawah tanah yang sangat dingin. Dia menangis tanpa henti, menyesali dirinya yang tidak mampu melindungi pangeran.
__ADS_1
"Maafkan aku pangeran.. Maafkan aku untuk terakhir kalinya." ucap Xixi dengan suara lirih.
Dia terus menangis hingga membuat dadanya sesak dan lemah. Dia tidak mampu melakukan apapun. Semua seakan sudah terlambat. Dia memasrahkan dirinya. Jikalau memang inilah takdirnya, dia cukup menerima semua hukuman yang bukan karena kesalahannya. Matanya terpejam dan tertidur di alas yang dingin dengan pipi yang masih basah oleh air matanya yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Xixi kehilangan harapan karena tidak dapat menyembuhkan pangeran kesayangan itu.