
Beberapa bulan kemudian pangeran memutuskan untuk mengadakan pernikahan sederhana dengan Xixi. Karena bagaimanapun juga hanya pernikahan pangeran dan putri yang boleh dilakukan secara besar-besaran. Pangeran mengadakan pernikahan sederhana itu di dalam kediamannya bersama para dayang istana dan pengawal istana di kediamannya itu. Meskipun terlihat sangat sederhana, namun kedua mempelai sangat bahagia. Tanpa dihadiri oleh kaisar dan para pejabat tinggi lainnya, pernikahan itu berlangsung dengan hikmat dan penuh haru. Kini Xixi dan pangeran telah menjadi sepasang suami istri.
Dengan didominasi warna merah. Terlihat begitu banyak hiasan pernikahan di dinding dan tiang-tiang istana. Setiap sudut istana itu dihiasi dengan bunga-bunga yang indah. Terdapat banyak tulisan yang berisi doa untuk kedua mempelai, yang dibuat oleh dayang istana dan pengawal istana. Para dayang istana membuat makanan sederhana namun lezat untuk para pengawal istana. Setiap para dayang istana maupun pengawal istana, diberikan uang koin emas sebagai rasa bahagia pangeran.
Xixi telah resmi menjadi istri pertama pangeran sekaligus menjadi selir kecil pangeran Xiao San.
"Apakah kamu bahagia?" tanya pangeran.
" Hm, aku sangat bahagia pangeran." ucap Xixi dengan penuh senyuman.
"Aku mencintaimu." ucap pangeran dengan tatapan penuh cinta
"Aku juga sangat mencintaimu." ucap Xixi membalas tatapan dengan cinta yang dalam.
Sepanjang malam pesta pernikahan berlangsung. Suka cita dan senyum bahagia terpancar di wajah pangeran dan Xixi. Begitu pula dengan pengawal istana dan dayang istana yang sangat bahagia dengan pernikahan ini. Mereka akhirnya mengakhiri pesta saat rasa mabuk itu membuat mereka lelah. Pangeran membawa Xixi kembali ke kamarnya, disana mereka menyempurnakan pernikahan mereka. Keduanya sangat bahagia. Pangeran mengecup lembut kening Xixi dan mulai melepaskan semua halangannya. Xixi menerima semuanya dengan pasrah. Dia menyerahkan segalanya secara utuh kepada pangeran di malam pernikahannya.
"Pangeran." ucap Xixi sedikit merintih.
"Panggil namaku." bisik pangeran lembut di telinga Xixi
"Ah, Xiao San." panggil lembut Xixi yang sedikit mendesah.
"Panggil lagi namaku." bisik pangeran pelan dengan napas terengah-engah.
Xixi terus memanggil nama pangeran sepanjang malam. Semakin malam suara mereka semakin tak terkontrol. Para dayang istana dan pengawal istana dapat mendengarnya dari luar hingga membuat wajah mereka tersipu malu. Di bawah sinar bulan purnama yang sinarnya sangat terang, keduanya menyempurnakan pernikahan mereka tanpa halangan.
Siang pun tiba, matahari sudah meninggi. Namun keduanya belum ada yang bangun dari tidur nyamannya. Hingga sebuah ketukan pintu membangunkan Xixi dari tidurnya. Xixi membuka pintu itu dan melihat Jiang Xi disana.
"Ada apa?" tanya Xixi
__ADS_1
"Bersiaplah. Ada yang ingin aku tunjukkan." ucap Jiang Xi.
"Tunggulah di gerbang istana." ucap Xixi
Xixi membangun pangeran untuk meminta ijin pergi sebentar. Namun pangeran tak menginginkan dan ingin mengikutinya. Xixi membawa pangeran menuju ke tempat tersembunyi bersama dengan Jiang Xi. Pangeran sangat terkejut bahwa Xixi dan Jiang Xi terlihat sangat akrab dan itu membuatnya cemburu.
"Kemana kita pergi selir kecil?" tanya pangeran.
"Nanti pangeran juga akan mengetahuinya. Pegang tanganku jika pangeran tidak nyaman." ucap Xixi.
Jiang Xi yang melihat adegan itu mencoba menutupi rasa cemburu dan sedihnya. Jiang Xi telah lama merasakan patah hati. Cintanya tak terbalas dan akhirnya terpendam di dalam hatinya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah tempat tersembunyi itu. Disana pangeran merasakan bau darah. Meskipun tak dapat melihat di sekitarnya, namun pangeran mengetahui bahwa tempat ini bukanlah tempat biasa. Pangeran terus menggenggam tangan Xixi dan mengikutinya. Hingga pangeran sampai di sebuah ruangan kecil. Disana terdengar suara teriakan beberapa orang yang sedang merintih kesakitan.
"Siapa mereka selir kecil?" tanya pangeran penasaran.
"Mereka adalah pria bertopeng yang berusaha menculik aku dan juga seorang dayang istana yang berusaha untuk meracuni pangeran." ucap selir kecil Xixi.
"Mereka sudah aku sembunyikan sejak beberapa bulan yang lalu. Aku sengaja menyembunyikan mereka, untuk mendapatkan bukti lebih kuat." ucap selir kecil.
"Apakah kamu tahu siapa dalang semua ini?" tanya pangeran.
"Untuk sementara ini, semua bukti mengarah ke panglima istana." ucap selir kecil.
"Jangan tampakkan bukti ini sebelum bukti itu kuat. Aku tidak ingin bukti lemah ini justru menjadi bumerang bagimu selir kecil." ucap pangeran khawatir.
"Aku memahaminya pangeran." ucap selir kecil.
Pangeran duduk di dalam ruangan itu dan hanya bisa mendengarkan interogasi yang sedang dilakukan oleh Jiang Xi dan selir kecilnya. Butuh waktu sepanjang hari untuk mendapatkan banyak bukti dari orang-orang itu. Mereka tak mau berbicara dan tetap bungkam. Jiang Xi dengan kasar tak akan membiarkan mereka nyaman. Siksaan demi siksaan diberikan namun mereka tetap setia dengan majikannya.
__ADS_1
"Jiang Xi, berikan ini kepada mereka." ucap selir kecil.
"Apa itu?" tanya Jiang Xi
"Berikan saja. Nanti kamu akan mengetahuinya setelah obatnya bereaksi." ucap selir kecil dengan senyuman sedikit jahat.
Jiang Xi tanpa ragu langsung memberikan obat itu kepada mereka. Butuh waktu 1 jam untuk melihat reaksi dari obat itu. Jiang Xi memperhatikan reaksinya. Tubuh mereka mulai memerah dan panas. Napas mereka mulai terengah-engah. Mata mereka mulai kosong seakan sedang berada di tempat lain. Selir kecil Xixi tersenyum kecil dan melihat reaksi mereka.
"Tolong tuan, mengapa tubuh hamba terasa panas dan sakit." ucap salah satu dari laki-laki bertopeng itu.
"Tuan, tolong lepaskan tangan hamba. Hamba tidak bisa menahannya lagi. Ini sangat menyiksa tubuh kami." ucap laki-laki bertopeng lainnya.
Jiang Xi dan pangeran yang melihat reaksi mereka, kini mengerti obat apa itu. Bagi mereka itu terlihat sangat kejam. Jiang Xi dan pangeran merasa sedikit takut dengan kekejaman Xixi yang tidak biasa itu.
"Lepaskan dayang istana itu" perintah selir kecil.
"Apakah kamu yakin selir kecil?" tanya pangeran.
"Percayalah padaku pangeran." ucap selir kecil lembut.
Jiang Xi melepaskan dayang istana itu. Dayang istana itu tidak dapat menahan reaksi obatnya dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Kedua laki-laki bertopeng itu semakin menderita dengan apa yang dilihatnya. Dayang istana semakin tidak terkontrol dan mulai mendekati keduanya . Dayang istana itu mulai menyentuh tubuh kedua laki-laki bertopeng itu secara perlahan namun dengan rasa yang menggebu-gebu.
"Tolong tuan kami tidak sanggup lagi." ucap kedua laki-laki bertopeng itu.
"Katakan semuanya jika kalian ingin bebas dari siksaan ini." ucap selir kecil tegas dan penuh intimidasi.
"Kami akan mengatakan semuanya. Tapi tolong lepaskan siksaan ini." ucap keduanya.
"Katakan terlebih dahulu." ucap Xixi dengan kejam.
__ADS_1
Akhirnya kedua laki-laki bertopeng itu menceritakan semuanya dibawah tekanan hasrat mereka.