Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 35 : Kehilangan (Part 1)


__ADS_3

Malam itu, di tengah malam pangeran datang ke kediaman selir kecilnya. Dia memeriksa keadaan selir kecilnya, dia merasa lega saat mengetahui selir kecil dapat tidur dengan lelap sepanjang hari ini. Dia memeriksa keadaan tubuh selir kecil, pangeran terkejut pemulihan tubuh selir kecil sangat baik. Tubuhnya mengalami pemulihan yang sangat cepat.


"Pangeran." panggil pelan selir kecil Xixi


"Selir kecil sudah bangun?" tanya pangeran suara yang menghangatkan


"Pangeran, aku sangat haus." ucap selir kecil dengan suara serak.


Pangeran mengambilkan air putih untuk selir kecilnya, suaranya terdengar seperti kekeringan. Pangeran memberikan minuman itu dengan hati-hati. Pangeran membiarkan selir kecilnya tertidur di pangkuannya. Dia mengusap kepala selir kecil Xixi dengan lembut. Dia ingin memberikan kenyamanan kepada selir kecilnya.


"Aku sangat bahagia melihatmu sudah pulih." bisik pangeran sambil mengusap-usap lembut kepala selir kecil.


Pangeran duduk dengan tenang untuk memberikan kenyamanan kepada selir kecil yang sedang tertidur di pangkuannya. Pangeran menatap lembut wajah selir kecilnya yang masih sedikit pucat. Pangeran menyentuh setiap bagian wajah selir kecilnya. Dia sangat merindukan wajah selir kecilnya yang terlihat sangat cantik dengan pipi mungil kemerah-merahan. Dia sangat merindukan senyum selir kecilnya yang terlihat sangat manis dengan bibir mungil yang berwarna merah muda.


"Aku sangat merindukan senyummu." bisik pangeran sambil menghela napasnya yang terdengar putus asa


Sepanjang malam itu pangeran hanya memandang wajah lembut selir kecil dan mengusap lembut kepala selir kecil. Kerinduannya untuk bersama dengan selir kecil semakin tak terbendung, ingin rasanya dia melarikan diri dari istana dan membawa pergi selir kecilnya. Namun semua itu tidak akan bisa dia lakukan karena keterbatasan fisik yang dia miliki. Pangeran tidak ingin menjadi beban bagi selir kecil di luar istana.


Matahari telah meninggi, sinarnya mulai memasuki kamar selir kecil. Secara hati-hati pangeran membaringkan selir kecilnya di ranjang dan pergi meninggalkan kediaman selir kecil. Pangeran mengecup lembur bibir selir kecil sebelum pergi.


"Sampai jumpa nanti malam." bisik pangeran lembut.


Tak lama pangeran pergi meninggalkan kamar itu, seorang dayang istana masuk ke dalam dengan membawa sebuah ember besar berisi air. Tanpa aba-aba dayang istana tersebut menyiramkan air tersebut ke tubuh selir kecil yang masih tertidur.

__ADS_1


"Bangun. Putri memanggilmu." teriak dayang istana dengan kejam.


Tubuh selir kecil basah semua. Rasa dingin itu membangunkannya. Selir kecil langsung menoleh ke arah dayang istana itu dengan tatapan yang dingin. Dayang istana yang tidak menyukai tatapan itu, dengan penuh kebencian dayang istana menampar pipinya.


"Berani-beraninya kamu melihatku seperti itu. Cepat bangun." teriak dayang istana dengan tatapan penuh hinaan.


Selir kecil bangun dari ranjangnya dengan pakaian yang sangat basah. Tanpa peduli dengan perkataan dayang istana itu, selir kecil mengganti pakaiannya. Dia bersikap dingin kepada dayang istana itu. Setelah selesai bersiap, selir kecil pergi mengikuti dayang istana menuju ke kediaman putri Ye Xiwu. Disana putri kejam itu sudah menunggu dengan tatapan penuh kekejaman.


"Ambillah." perintah putri Ye Xiwu.


Putri Ye Xiwu melemparkan sebuah pisau kecil dan memerintahkan selir kecil untuk memotong rumput yang tumbuh di taman bunganya. Semua orang tahu dengan pisau kecil itu, dia bisa memotong semua rumput paling cepat dalam waktu satu hari. Tanpa berkata apa-apa, selir kecil pergi meninggalkan putri Ye Xiwu dan pergi menuju ke taman bunga. Sesampainya disana, selir kecil melihat rumput yang sudah meninggi dan lebat. Selir kecil hanya menghela napas kecil dan mulai bekerja.


Sudah setengah hari selir kecil memotong rumput-rumput disana. Dengan perut yang kosong, tenggorokan yang kering dan tubuh yang kepanasan karena teriknya matahari, selir kecil masih berusaha untuk menyelesaikan semuanya. Tubuhnya gemetar karena kelelahan dan kelaparan.


"Jiang Xi, ada apa?" tanya selir kecil pelan.


"Barang bukti yang kita kumpulkan, hilang semua tanpa jejak." ucap Jiang Xi.


"Apa?" teriak selir kecil yang terkejut.


Selir kecil sangat terkejut dengan berita itu, tubuhnya semakin gemetar dan akhirnya terjatuh lemah. Dia menangis tanpa suara. Hanya memberikan ekspresi bisu. Dia tidak percaya semuanya usaha yang dilakukan untuk mencari bukti-bukti itu telah hilang. Selir kecil Xixi merasakan keputusasaan terdalam. Sebelumnya dia bertahan dengan perlakuan ini, karena berharap bisa membalikkan keadaan. Namun kini semua penderitaan yang dia alami terasa sia-sia.


"Maafkan hamba selir kecil. Hamba akan berusaha untuk mendapatkannya kembali." ucap Jiang Xi mencoba menenangkannya

__ADS_1


"Haha.. Apa yang akan kamu dapatkan? Semua sudah hilang. Tidak ada lagi yang membuktikan bahwa putri Ye Xiwu dan menteri keuangan adalah otak dibalik semua fitnah ini." ucap selir kecil penuh keputusasaan.


Selir kecil tertawa sangat keras namun terdengar sangat menyakitkan. Dia tertawa semakin keras, namun air matanya terus mengalir dipipinya yang pucat dan lemah. Dalam sekejap suara tawa itu berubah sunyi. Wajah selir kecil berubah menjadi dingin dan datar. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Selir kecil hanya memberikan kode agar Jiang Xi pergi dari hadapannya. Seperti bukan jiwa selir kecil, dia berubah drastis. Dia hanya bungkam sambil menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya terluka dan berdarah karena goresan-goresan kecil memotong rumput itu. Rasa sakit di tangannya tidak terasa lagi, semua rasa sakit itu menghilang. Jiwanya sepertinya menghilang. Kini hanya ada raga seperti mayat hidup.


Pekerjaan memotong rumput itu akhirnya diselesaikan saat bulan sudah meninggi. Mungkin sekitar jam 11 malam. Dia kembali ke kediamannya. Dia berbaring di ranjangnya dengan tatapan dingin ke arah langit-langit kamarnya. Dengan ekspresi datar, dia menangis tanpa suara. Di tengah malam pangeran datang ke kamarnya, dia melihat selir kecil yang masih terbangun.


"Selir kecil belum tidur?" tanya pangeran dengan lembut.


Pangeran tersenyum dan mengecup kening selir kecil. Namun senyum di bibir pangeran langsung menghilang saat mendengar perkataan selir kecil Xixi.


"Bukti-bukti itu sudah menghilang. Kita kehilangan semuanya." ucap selir kecil pelan.


Pangeran terkejut dengan berita itu. Pangeran menghela napas kecewa, kini dia memahami ekspresi wajah selir kecilnya.


"Aku akan tetap melindungi mu. Aku akan mencari solusi dari semua masalah ini." ucap pangeran pelan.


"Pangeran, apakah ini semua adil untukku?" tanya selir kecil dengan suara lirih.


"Kamu jangan berkata seperti itu. Aku akan mendapatkan keadilan untukmu." ucap pangeran sedih.


"Pangeran, apakah lebih baik aku pergi. Aku ingin beristirahat yang lama." ucap selir kecil terdengar menakutkan.


"Jangan tinggalkan aku. Aku masih disini untukmu." ucap pangeran penuh permohonan.

__ADS_1


"Aku lelah pangeran." ucap selir kecil.


__ADS_2