
Panglima Chen Zhen bersama beberapa pasukannya menuju ke kediaman kaisar Xiao Ge. Kaisar sudah menunggunya di singgasana.
"Salam hormat kaisar." ucap panglima yang bersujud.
"Bangunlah." perintah kaisar.
Panglima duduk berseberangan dengan kaisar. Kaisar meminta panglima untuk menceritakan semuanya. Panglima dengan kepura-puraan dan penuh kedustaan menceritakan semua kejadian itu tanpa terlihat kecurigaan. Kaisar percaya dengan cerita panglima. Kaisar sangat menyesali peristiwa ini. Dayang istana Xixi sudah banyak berjasa kepada istana. Kaisar tidak menyangka, tugas yang diberikan kepadanya justru merenggut nyawanya.
Kasim Li mengurus jasad Xixi, dia membawanya ke kediaman Xixi. Di sepanjang jalan, dayang istana dan pengawal istana menangis mendengar berita kematian Xixi. Semua menangis tersedu-sedu melihat jasad Xixi di dalam peti mati itu. Hanya pangeran yang berada di dalam kamarnya yang belum mengetahui berita duka ini.
Pangeran Xiao San sedang fokus melukis lukisan untuk Xixi. Dia berharap Xixi mau menerima lukisan ini dan memaafkannya. Sudah lebih dari tiga hari berlalu, namun Xixi tak kunjung datang. Pangeran merasa sangat cemas di dalam kamarnya. Dia selalu menunggu kedatangan Xixi. Selama Xixi meninggalkan istana, pangeran selalu menyendiri di dalam kediamannya.
Tok.. Tok..
Bunyi suara ketukan pintu. Pangeran dengan tergesa-gesa membukanya, berharap itu adalah Xixi. Dia membawa lukisan itu untuk ditunjukkan kepada Xixi.
"Maafkan hamba pangeran. Hamba ingin mengabarkan sesuatu." ucap salah satu dayang istana dengan gugup.
"Katakan." ucap pangeran sedikit kecewa.
"Hamba ingin mengabarkan berita." ucap dayang istana terbata-bata.
"Cepat katakan." teriak pangeran sedikit marah.
"Dayang istana Xixi.." ucap dayang istana yang belum selesai berkata.
"Xixi, dia kembali?" tanya pangeran.
__ADS_1
Pangeran yang belum selesai mendengarkan dayang istana berkata, pangeran langsung pergi meninggalkannya dan mencari Xixi di kediamannya. Pangeran berjalan cepat agar sampai di kediaman Xixi dengan membawa lukisan itu. Dia tersenyum sangat senang, mendengar Xixi telah kembali.
Namun sampai di depan kamar Xixi, pangeran terkejut melihat banyak dayang istana dan pengawal istana yang berdiri di depan kamar Xixi dan menangis tersedu-sedu. Pangeran bingung apa yang sedang terjadi disana. Tiba-tiba dia melihat kasim Li keluar dari kamar Xixi. Pangeran berlari menghampiri kasim Li.
"Kasim Li, apa yang sedang terjadi? Dimana Xixi?" tanya pangeran dengan wajah penuh kebingungan.
Kasim Li tidak menjawab pertanyaan dan hanya menepuk lembut pundaknya. Pangeran melihat kasim Li menunjukkan kepalanya dan menangis. Pangeran semakin bingung. Dia penasaran dan mencoba masuk ke dalam kamar Xixi. Dia masuk ke dalam kamar itu dan melihat sebuah peti mati. Pangeran terdiam membeku. Dia hanya berdiri dari kejauhan melihat peti mati itu. Tubuhnya gemetar, dia berharap itu bukan Xixi. Pikirannya melayang tidak tahu kemana, pandangannya kosong dan hampa.
Dia berjalan secara perlahan menuju ke arah peti mati itu. Dia melangkahkan kakinya secara perlahan,. seakan kakinya terasa sangat berat. Dia tidak berani melihat ke dalam peti mati itu, lututnya terasa lemas. Dia seperti ingin jatuh. Dia berusaha memegang salah satu tepi mati itu untuk menopang tubuhnya yang sudah lemas.
Dia menarik napasnya dalam-dalam. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia mencoba untuk berdiri tegap. Dia secara perlahan melihat ke arah peti mati itu. Dia melihat peti mati itu dan terkejut melihat sosok wanita yang dia cintai sudah terbaring membeku.
"Xixi.. Xixi.." panggil pangeran dengan pelan.
"Xixi.. Xixi.. Bangunlah.. Ini aku.." panggil pangeran dengan suara lemah.
"Xixi, apakah kamu masih marah padaku?" bisik lembut pangeran.
"Xixi, jawab aku. Aku mohon." ucap pangeran dengan suara lirih.
Air mata pangeran terus menerus menetes di pipinya. Dia berusaha untuk membangunkan Xixi. Dia masih mempercayai bahwa Xixi sedang tidur.
"Xixi, aku mohon bangun. Bangunlah." ucap pangeran terdengar putus asa.
"Xixi, aku di sini. Tolong buka matamu. Lihat aku membuat lukisan untukmu." ucap pangeran semakin putus asa.
"Xixi, aku mohon bangunlah. Aku mohon bangunlah." pangeran berteriak dengan kencang secara tiba-tiba, membuat seluruh pengawal istana dan dayang istana yang berada di sekitarnya sangat terkejut.
__ADS_1
Kasim Li yang mendengar teriakan pangeran, langsung berlari masuk ke dalam. Dia melihat pangeran yang terus berusaha membangunkan jasad Xixi. Pada akhirnya ketakutan kaisar terjadi, pangeran tidak bisa menerima takdir ini. Dia terguncang dan menderita.
"Ayo pangeran, kita kembali ke kediaman pangeran." ucap kasim Li dengan lembut.
Pangeran menolaknya dan terus memegang tangan Xixi. Dia tidak mau meninggalkan Xixi sendirian. Dia hanya ingin menemani Xixi.
"Aku tetap disini kasim Li. Jangan menghalangiku." teriak pangeran penuh amarah
Pangeran terus menatap penuh kesedihan jasad Xixi. Dia menatap Xixi dengan penyesalan. Sementara waktu dia hanya terdiam dan menatap jasad Xixi. Kasim Li memerintahkan kepada semua pelayan istana dan pengawal istana untuk meninggalkan tempat ini. Kasim Li memberikan waktu kepada pangeran untuk berpamitan dengan jasad Xixi. Kasim Li hanya bisa menghela napas.
"Xixi, apakah kamu merasa tidak nyaman disana?" tanya pangeran pelan.
Tanpa terduga, pangeran mengeluarkan Xixi dari peti mati itu dan membawanya secara diam-diam ke dalam kamarnya. Dia menaruh Xixi di atas ranjangnya. Dia membiarkan jasad Xixi terbaring di ranjangnya.
"Apakah sekarang sudah nyaman?" bisik pangeran.
Pangeran tidur di samping Xixi dan memeluknya dengan erat.
"Tubuhmu sangat dingin. Biarkan aku menghangatnya." bisik pangeran sambil memeluknya.
Pangeran memeluk Xixi dengan erat dan menangis tanpa henti. Dia merasakan kehilangan yang sangat dalam. Dia sudah kehilangan gurunya, temannya, bahkan kekasihnya. Hanya dia yang dengan tulus menyayanginya. Pangeran sangat menyesal dengan perbuatannya di masa lalu. Andai saja dia mengetahui bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhirnya, dia tidak akan melukai hati Xixi. Dia tidak akan menjadi seorang pecundang dan akan berani mengatakan bahwa dia sangat mencintai Xixi.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." ucap pangeran sedih.
Dia kembali memeluknya dan mencium keningnya. Dia sangat kehilangan, hingga memiliki pemikiran yang buruk. Pangeran sepanjang malam hanya berbaring di atas ranjangnya dan menemani Xixi. Pikirannya sangat kalut, matanya hanya mampu menangkap Xixi yang sudah membeku. .
"Jika kita bisa bertemu kembali, aku berjanji akan berani untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku akan meminta kepada kaisar untuk menjadikan kamu sebagai permaisuriku. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi. Bagiku kamu adalah segalanya. Aku bersedia menyerahkan posisi putra mahkota demi bersamamu." bisik pangeran pelan.
__ADS_1