Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 36 : Kehilangan (Part 2)


__ADS_3

Pangeran memeluk erat tubuh selir kecilnya. Dia memeluknya seakan tidak ingin selir kecilnya pergi meninggalkannya. Pangeran dengan napas yang terdengar tak beraturan, mencoba menahan tangisan karena ketakutan ditinggalkan oleh kekasihnya.


"Pangeran, aku lelah. Aku sangat lelah. Bisakah biarkan aku untuk beristirahat yang sangat lama?" tanya selir kecil dengan suara lirih.


"Baiklah. Aku disini menemanimu. Beristirahatlah. Aku akan menjagamu saat kamu beristirahat." ucap pangeran dengan lembut.


Selir kecilnya memeluknya dengan erat. Pelukan itu dibalas oleh pangeran dengan erat. Pangeran mencoba memberikan kehangatan dalam pelukan itu. Pangeran menyanyikan sebuah lagu yang diajarkan oleh selir kecil yang membuat dirinya selalu tenang. Pangeran menepuk-nepuk punggung selir kecilnya untuk memberikan ketenangan. Pangeran menyanyikan lagu itu secara berulang-ulang hingga membuat selir kecilnya tertidur. Pangeran mencoba menahan kesedihan dan kepedihan, berusaha untuk bersikap tenang. Dia mencoba menahan air matanya yang akan terjatuh di pipi kekasihnya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap pangeran dalam hati yang ingin menangis.


Pelukan itu awalnya terasa sangat erat. Cukup lama pangeran memeluk tubuh kekasihnya. Namun pelukan itu semakin lama semakin merenggang. Tubuh hangat selir kecilnya berubah menjadi dingin. Napas dan detak jantungnya semakin terdengar melemah. Pangeran mencoba membaringkan selir kecilnya untuk memeriksa keadaannya. Namun saat ingin meluruskan kaki selir kecilnya di atas ranjang itu, tanpa sengaja dia merasakan semua cairan yang mengalir di kaki selir kecilnya. Pangeran terkejut, dia mencoba menyentuh dan mencium cairan itu. Ternyata itu adalah darah.


"Apa ini?" tanya pangeran terkejut.


"Xixi.. Xixi.. Apakah kamu mendengar suaraku?" panggil pangeran dengan panik


"Xixi.. Xixi.. Aku mohon jawab aku." panggil pangeran semakin panik.


Dia memeriksa nadi selir kecil, namun detak jantungnya tidak dapat dirasakan lagi. Dia mencoba mendekatkan telinganya ke hidungnya untuk merasakan napasnya, namun napas itu sangat lemah.

__ADS_1


"Xixi.. Aku mohon. Jangan pergi." teriak pangeran sambil menggoyang-goyangkan tubuh selir kecilnya.


Cukup lama dia berusaha memanggil dan membangunkannya. Namun tidak ada respon apapun dari selir kecilnya. Pangeran berlari mencari tabib manapun yang dapat memeriksanya. Dia berlari sangat kencang, meskipun harus berkali-kali terjatuh. Hingga di tengah jalan dia menabrak seorang tabib muda.


"Pangeran baik-baik saja" tanya tabib muda itu


"Siapa kamu?" tanya pangeran.


"Hamba tabib muda yang baru saja lulus dari istana." ucap tabib muda itu.


Tanpa bertanya lagi, pangeran membawa tabib muda itu menuju ke kediaman selir kecil. Tabib muda menuntun pangeran agar tidak terjatuh. Sesampainya disana, tabib muda itu terkejut melihat tubuh selir kecil yang terlihat sangat mengenaskan. Tubuhnya sudah dingin, darah sudah mengalir diantara kedua kakinya.


"Tolong periksa selir kecil." ucap pangeran dengan cemas.


"Bagaimana?" tanya pangeran penuh ketakutan.


"Maafkan hamba pangeran. Selir kecil sedang dalam masa kritis. Dia juga kehilangan banyak darah akibat keguguran." ucap tabib muda pelan.


"Apa? Keguguran? Apa maksudnya?" tanya pangeran terkejut.

__ADS_1


"Selir kecil selama ini sedang mengandung. Namun selir kecil selalu menggunakan energi tubuhnya untuk melindungi bayi itu. Namun hamba tidak mengerti, jiwa selir kecil ingin pergi sehingga energi itu menghilang dan tidak ada lagi yang melindungi bayi itu." ucap tabib muda menjelaskan perlahan.


"Bayiku?" ucap pangeran sangat sedih.


Pangeran menangis penuh rasa kehilangan. Dia menangis tersedu-sedu hingga membuat dadanya sesak. Air mata itu sudah tidak terbendung lagi. Pangeran merasakan kegagalan dan penyesalan. Bukan hanya tidak dapat melindungi istrinya namun juga calon bayinya. Dia kehilangan semuanya. Tubuh pangeran menjadi lemas dan terjatuh dengan penuh keputusasaan.


"Aku adalah suami yang paling pengecut." ucap pangeran dengan penuh penyesalan.


Dia terus mengulangi kata-kata itu dan menampar pipinya berulang. Semuanya telah hancur karena kelemahannya. Semua telah hilang karena kekurangan fisiknya. Dia semakin menyesali hidupnya yang hidup dengan kebutaan. Dia tidak dapat melindungi orang yang sangat dicintainya. Orang yang paling berharga untuknya.


"Istriku.. Bayiku.. Aku kehilangan mereka." teriak pangeran dengan suara yang sangat menyedihkan.


Tabib istana berusaha menenangkan pangeran. Tabib istana mengatakan bahwa masih ada sedikit harapan untuk selir kecil. Mendengar perkataan itu, pangeran berusaha tenang. Dia mencoba menenangkan dirinya dan mendengarkan penjelasan tabib muda. Pangeran mendengar semua penjelasan itu dengan baik.


"Meskipun pangeran telah kehilangan calon bayi pangeran. Namun pangeran harus fokus untuk mengobati selir kecil. Hamba akan memberikan sebuah pil kepada selir kecil untuk menahannya dari kematian. Kita harus membawa selir kecil ke luar dari istana ini dan membawanya ke sebuah gua di bukit perak. Disana memiliki energi murni yang bagus untuk pengobatan selir kecil. Disana juga terdapat sebuah bunga ajaib yang mampu mengobati penyakit apapun." ucap tabib muda menjelaskan dengan detail.


"Sekarang pangeran, pergi mengumumkan kematian selir kecil. Pangeran harus berusaha untuk menyemayamkan selir kecil di luar istana, bilang saja di kampung selir kecil. Kemudian pangeran meminta kepada kaisar untuk pergi berduka selama beberapa bulan. Katakan ini sebagai upaya perpisahan untuk selir kecil dan calon bayi pangeran. Hamba yakin kaisar akan mengabulkannya." ucap tabib istana. Setelah memahami semua penjelasan dan rencana tabib muda. Pangeran pergi menemui kaisar Xiao Ge. Dia mengatakan sesuai rencana yang dikatakan oleh tabib istana.


Putri Ye Xiwu yang mendengar berita kematian selir kecil dan juga kegugurannya sangat bahagia. Ternyata semua penyiksaan itu membawa dampak yang sangat hebat. Rencananya telah berhasil. Kini tidak ada lagi rubah licik yang akan merebut posisinya. Kini pangeran Xiao San hanya memilikinya. Dia adalah pemenang sejati. Putri Ye Xiwu tertawa keras dan bahagia.

__ADS_1


Setelah mendengarkan penjelasan dari pangeran, kaisar menyetujui permintaan putranya. Dia mengijinkan pangeran untuk berduka selama dua tahun ke depan. Namun pangeran harus memenuhi keinginan kaisar, setelah pangeran kembali dari kedukaan itu, dia mau menerima penyerahan tahta itu. Kaisar Xiao San sudah merasakan kelelahan dengan tahtanya. Kaisar ingin hidup tenang dengan menyerahkan tahta itu. Demi menjalankan rencananya, pangeran memenuhi persyaratan itu. Dia akan memenuhi janjinya untuk menjadi seorang kaisar kerajaan Xiao.


Tiga hari kemudian pangeran bersama beberapa pengawal istana pergi mengantarkan jasad selir kecilnya. Tanpa curiga, para pengawal istana yang dibawa oleh pangeran adalah anak buah Jiang Xi yang sedang menyamar. Pangeran berusaha untuk menghindari utusan mata-mata yang mencoba menghalangi rencananya ini.


__ADS_2