
Xixi terkejut saat pangeran mendorong dirinya hingga terjatuh. Dia hanya menatap dengan mata penuh kesedihan. Dia tidak mampu mengejar pangeran, karena perasaan terkejut dan tak percaya. Saat dia mencoba untuk berdiri, tiba-tiba Kasim Li sudah berada di belakangnya dan memanggilnya.
"Dayang istana Xixi, apa yang sedang kamu lakukan disini?" ucap kasim Li yang mengagetkan Xixi.
Xixi langsung menengok ke belakang dan melihat kasim Li bersama beberapa pengawal istana.
"Maafkan aku kasim Li. Tadi aku terjatuh." ucap Xixi sambil tertawa kecil.
Kasim hanya menggelengkan kepalanya dan sedikit mengerutkan dahinya karena merasa tidak heran lagi dengan sikap dayang istana Xixi.
"Ikut aku. Kaisar ingin kamu menemuinya." kasim Li berkata sambil membantu Xixi berdiri.
"Apa yang ingin kaisar bicarakan padaku, kasim Li?" tanya Xixi penasaran.
"Nanti kamu juga akan mengetahuinya." ucap kasim Li singkat.
Kasim Li berjalan paling depan dengan diikuti beberapa pengawal istana dan Xixi. Mereka berjalan dengan cepat namun tetap terlihat tertib menuju ke istana timur.
"Hamba menghadap kaisar." ucap Xixi dengan bersujud di depannya.
"Bangunlah." perintah kaisar.
__ADS_1
"Aku ingin menugaskan kamu untuk mengantarkan surat ke kediaman panglima istana. Katakan kepadanya untuk segera menemui aku di istana" perintah kaisar.
"Hamba mengerti kaisar." ucap Xixi menerima tugas itu dan langsung pergi meninggalkan istana.
Xixi menerima tugas itu tanpa mengerti maksud dari perintah kaisar ini. Namun, bagi Xixi ini adalah kesempatan bagus untuk menyelidiki kediaman panglima istana. Xixi pergi dengan beberapa pengawal istana. Dia sangat penasaran dengan surat yang dipegangnya, namun dia tidak mungkin membukanya. Di tengah perjalanan, Xixi dihadang oleh seorang laki-laki bertubuh besar dengan pedang awan di tangan kanannya.
"Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" tanya Xixi tegas.
Laki-laki itu tak.menjawab pertanyaannya dan langsung ingin menyerang Xixi. Para pengawal istana langsung membentuk formasi untuk melindungi Xixi. Mereka menyerang laki-laki itu. Xixi memperhatikan cara bertarung laki-laki itu.dan mencari kelemahannya. Satu persatu pengawal istana tumbang oleh pedang awannya. Kini hanya tinggal Xixi sendiri.
"Ternyata kamu adalah master pedang awan. Maaf tidak mengenalimu. Aku pikir master pedang awan sudah mati karena sudah lama menghilang. Rupanya sekarang menjadi anak buah panglima istana." ucap Xixi sambil tertawa lebar.
Master awan sangat kesal mendengarkan ocehan Xixi. Tanpa mendengarkan perkataan Xixi, dia langsung menyerang Xixi. Dia menyerang dengan pedangnya. Tanpa henti dia terus menerus menyerang Xixi yang membalas serangan dengan tangan kosong. Setelah beberapa kali menghindar, Xixi tidak mampu lagi. Xixi terkena luka sayatan di tangan kanannya. Xixi tidak ingin kalah, masih ada yang perlu dia lakukan. Kali ini dia menggunakan senjata rahasianya. Dia mengeluarkan senjata yang berbentuk seperti jarum akupuntur yang sudah diolesi oleh racun yang terbuat dari 15 macam ular berbisa dan hanya dia yang memiliki penawarnya.
Xixi melemparkan senjata itu di ketiga titik yang dapat melumpuhkan lawan dalam sekejap. Master pedang awan mulai merasakan reaksinya, saat dia mengayunkan pedangnya tiba-tiba pedang terjatuh. Tangannya terasa gemetar dan akhirnya tidak bisa memegang senjata apapun. Xixi mengambil kesempatan itu untuk melemparkan belati yang juga sudah diolesi oleh racun tepat di jantungnya. Racun yang sudah masuk ke dalam alirannya darah dan jantung membuat master pedang awan tidak mampu bertahan dan mati dalam keadaan kaku dan menghitam. Racun itu ternyata sangat ganas. Kini Xixi seorang diri, dia mengambil salah satu kuda milik pengawal istana dan menaikinya. Dia melanjutkan tugasnya menuju kediaman panglima istana, setelah mengobati tangannya yang terluka terkena sayatan.
Akhirnya dia sampai di kediaman panglima istana. Sang panglima sangat terkejut melihat Xixi yang masih hidup. Dengan ekspresi wajah tidak bersalah, panglima istana menyambutnya. Xixi memberikan surat yang diberikan oleh kaisar kepadanya. Rupanya surat itu berisi pembatalan penyerangan ke perbatasan wilayah utara. Panglima istana diperintahkan untuk melatih pangeran dalam berperang di istana. Panglima istana mencoba menahan emosi kekecewaannya atas keputusan kaisar. Namun, dia menampakkan wajah penuh kepalsuan di hadapan Xixi agar terlihat bahwa dia menerima titah kaisar itu.
"Sampaikan terima kasih atas kebajikan hati kaisar." ucap Panglima istana setelah menerima titah itu.
"Sebaiknya dayang istana Xixi beristirahat selama beberapa hari ini disini, supaya dapat memulihkan lukamu. Kaisar sudah memintaku untuk menyambut kamu dan pengawal istana, namun ternyata kamu datang sendirian." ucap panglima istana dengan kepura-puraan.
__ADS_1
Panglima istana itu bernama Chen Zhe. Dia adalah pejabat tinggi terkuat sekaligus tangan kanan kaisar yang sudah dipercayai selama 20 tahun. Kaisar sangat mempercayai dirinya mengurus keamanan istana serta pasukan khusus yang dimiliki oleh istana. Xixi masih tidak mengetahui, dengan siapa dia bekerja dan tujuan dibalik penghianatan ini. Dia harus mencari bukti itu dengan hati-hati.
"Hamba sangat berterima kasih kepada tuan Chen Zhe." ucap Xixi dengan senyum kecil.
Pelayan itu mengantarkan Xixi ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Selama melewati setiap sudut kediaman itu, Xixi mengingatnya dengan rinci. Dia tidak boleh gagal dalam kesempatan kali ini. Dia harus mendapatkan bukti itu.
"Silahkan nona." ucap pelayan dengan sopan.
"Terima kasih." ucap Xixi dengan lembut.
Pelayan itu keluar dari kamarnya dan meninggalkannya sendiri. Xixi mulai mengatur rencananya. Dia berpikir keras memikirkan hal yang terbaik untuk dilakukan. Perjalanan itu sangat melelahkan, sehingga Xixi tak dapat menahan rasa kantuknya dan akhirnya tertidur lelap. Malam itu seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya untuk makan malam. Xixi yang mendengar suara ketukan pintu itu, akhirnya terbangun dan membuka pintu itu.
"Nona, anda ditunggu oleh tuan untuk makan malam." ucap pelayan itu.
"Terima kasih. Aku akan kesana." ucap Xixi yang masih mengantuk.
Xixi berjalan menuju ke meja makan. Dia makan bersama keluarga panglima Chen Zhen. Xixi menanggapi setiap perbincangan panglima Chen Zhen dengan baik. Perbincangan itu terlihat santai namun ada rencana busuk di dalamnya. Panglima Chen Zhen diam-diam sedang mencari tahu sampai di tahap apa Xixi mengetahui kasus pangeran Xiao San. Setiap pertanyaan santai yang diutarakan oleh panglima terasa penuh intimidasi. Xixi mencoba menahan kecemasannya dan menampakkan ekspresi wajah tenang.
Malam itu, Xixi akhirnya memahami bahwa panglima itu sedang mencoba menjebaknya. Xixi menyadari panglima sedang mengincarnya. Mungkin saja dia mengetahui bahwa Xixi sudah memiliki bukti dari laki-laki bertopeng itu.
"Sebaiknya aku lebih berhati-hati disini. Panglima ini sangat licik." ucap Xixi dalam hatinya.
__ADS_1