
Akhirnya kedua laki-laki bertopeng itu menyerah. Mereka mengatakan semua yang terjadi. Mereka juga memberikan semua bukti-bukti yang mengarahkan kepada panglima istana. Pangeran sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa tangan kanan kaisar yang menjadi seorang penghianat. Kaisar pasti sangat sedih mendengar kenyataan ini.
"Berikan ini kepada mereka." ucap selir kecil.
Jiang Xi memberikan obat penawarnya. Mereka kembali ke keadaan semula. Mereka kembali dikurung di sebuah ruangan khusus.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang?" tanya pangeran.
"Jiang Xi akan ke kediaman untuk mencari akun buku yang dikatakan oleh mereka dan aku akan ke markas militer istana untuk mencari bukti lainnya secara diam-diam." ucap selir kecil.
"Kalian berhati-hati. Aku merasa panglima hanyalah sebuah pion." ucap pangeran.
"Kami mengerti." ucap selir kecil dan Jiang Xi bersamaan.
Pangeran dan selir kecil kembali ke istana. Mereka kembali ke istana tanpa sepengetahuan orang-orang di istana. Kedua meneliti kembali barang bukti yang didapatkan dan mulai menyusun rencana untuk menjatuhkan panglima istana. Mereka berbincang-bincang dengan serius hingga tiba-tiba sebuah anak panah meluncur dari luar dan hampir mengenai pangeran. Dengan sigap selir kecil menangkap anak panah itu. Dia melihat ada sebuah gulungan surat kecil dan di dalamnya tertulis ancaman.
"Apa isi surat itu?" tanya pangeran.
"Bukan apa-apa pangeran. Hanya sebuah surat ancaman." ucap selir kecil.
"Menurut kamu siapa dia?" tanya pangeran.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui pergerakan kita dan mengancam kita untuk menghentikan penyelidikan ini." ucap selir kecil.
Pangeran sangat khawatir dengan keadaan selir kecilnya. Dia tidak ingin selir kecilnya terluka lagi.
"Pangeran, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya selir kecil.
"Kemana kita pergi?" ucap pangeran.
"Kita akan berjalan-jalan di taman buah persik. Aku ingin berdua saja dengan pangeran." ucap selir kecil.
Pangeran langsung tersenyum dan bersiap-siap. Selir kecil sangat memahami perasaan pangeran. Hatinya sedang resah. Selir kecil mencoba mengalihkan kegelisahan hati pangeran. Dia ingin membuat hati pangeran bahagia.
Malam itu selir kecil membawa pangeran ke taman buah persik. Di bawah sinar bulan yang indah dengan udara yang sejuk. Mereka duduk berdua dan menikmatinya dengan meminum teh yang menyegarkan tubuh.
"Pangeran." bisik selir kecil di telinga pangeran.
__ADS_1
"Hm" ucap pangeran dengan tersipu malu.
"Aku mencintaimu." bisik selir kecil
"Aku juga mencintaimu." ucap pangeran lembut.
Selir kecil tersenyum bahagia. Dia menyadarkan kepalanya di bahu pangeran. Keduanya menikmati sinar bulan dengan penuh kemesraan.
"Pangeran, jika suatu hari kamu dapat melihat wajahku. Apakah kamu masih mencintaiku seperti ini?" tanya selir kecil.
"Hm, perasaanku tidak akan menghilang." ucap pangeran.
"Jika suatu hari aku pergi sangat jauh. Apakah kamu akan mencari aku?" tanya selir kecil
"Jangan katakan itu." teriak pangeran.
Selir kecil sangat terkejut. Dia menatap pangeran dan melihat pandangan pangeran yang penuh ketakutan.
"Aku mohon jangan katakan pertanyaan itu lagi. Aku tidak menyukainya." ucap pangeran kembali melembutkan suaranya.
Pangeran tak berkata-kata apa lagi. Dia hanya memeluk erat selir kecilnya. Dalam pelukan itu terasa ada rasa kesedihan dan tak mau kehilangan. Pangeran tak mampu lagi untuk berbicara dan hanya memeluk selir kecilnya sepanjang malam. Selir kecil menyesal telah mengatakan itu semua. Dia menyesal sekali lagi membuat orang yang dicintainya sedih. Meskipun pada kenyataannya, mungkin suatu hari dia terpaksa harus meninggalkan pangeran.
Malam semakin larut, pangeran membawa selir kecil kembali ke dalam kamarnya. Pangeran yang masih gelisah, hanya mampu memeluk tubuh selir kecilnya saat tertidur. Dia tidak ingin saat bangun nanti, selir kecilnya menghilang.
Pagi menjelang. Suara kicauan burung di pagi hari membangunkan pangeran dari tidur tidak tenangnya. Pangeran meminta bantuan dayang istana untuk menyiapkan sarapan selir kecil untuk pertama kalinya. Pangeran membangunkan selir kecilnya dengan mesra dan lembut.
"Selir kecil bangunlah." bisik pangeran.
Selir kecil membuka matanya dan tersenyum kecil menyapa pangeran. Selir kecil bangun dan mulai bersih-bersih. Dia menemani pangeran sarapan. Selir kecil sangat senang melihat wajah pangeran yang sudah mulai berseri kembali.
"Pangeran." ucap selir kecil
"Hm" jawab pangeran.
"Mengapa pangeran hari ini sangat tampan." ucap selir kecil sambil mencubit lembut pipi pangeran.
"Karena aku memang ditakdirkan untuk tampan." ucap pangeran penuh kepercayaan diri.
__ADS_1
Selir kecil tertawa kecil mendengar perkataan pangeran. Dia tidak menyangka pangeran dapat menunjukkan sikap narsis. Mendengarkan tawa bahagia selir kecil, membuat pangeran ikut tertawa. Mereka melanjutkan sarapan mereka dan pergi menuju kediaman kaisar setelahnya.
Tanpa terduga, mereka melihat panglima istana sedang berada di kediaman kaisar. Mata penuh tatapan tajam dan penuh intimidasi menatap kejam ke arah pangeran dan selir kecil.
"Pangeran dan selir kecil disini? Salam untuk pangeran dan selir kecil." sapa panglima istana penuh basa-basi
"Salam untuk panglima istana." balas sapa pangeran dan selir kecil bersamaan.
"Selamat untuk pernikahan pangeran dan selir kecil. Hamba doakan kalian hidup dengan bahagia." ucap Panglima istana.
"Terima kasih panglima." ucap pangeran dengan senyum penuh kepura-puraan.
Panglima istana pergi meninggalkan mereka. Pangeran mencoba untuk tenang, datang menyapa kaisar. Pangeran hanya ingin melihat keadaan kaisar. Pangeran sangat lega setelah melihat kondisi kaisar yang baik-baik saja. Selir kecil meninggalkan keduanya. Kedua ayah anak itu berbincang-bincang santai di kediaman kaisar.
"Kasim Li." teriak selir kecil dari kejauhan saat melihat sosoknya.
"Mengapa kamu berteriak seperti itu? Perhatikan statusmu sekarang." ucap kasim Li tegas.
"Maafkan aku." ucap selir kecil pelan.
Selir kecil menundukkan kepalanya seperti seorang ayah yang memarahi putrinya.
"Hah, sudahlah." ucap kasim Li dengan helaan napas panjang.
Kasim Li dan selir kecil berbincang di bawah pohon. Mereka mengobrol penuh keseruan seperti ayah dan putrinya yang sudah lama tak bersua.
"Apakah kamu menjaga pangeran dengan baik?" tanya kasim Li dengan tatapan penuh keraguan.
"Jangan menatapku seperti itu kasim Li. Kamu bisa mengandalkan aku. Aku menjaga pangeran dengan sangat baik." ucap selir kecil dengan manja.
"Hm, aku tahu watakmu. Jangan membuat aku kecewa." ucap kasim Li.
"Tenanglah. Aku sangat hebat dalam menjaga pangeran." ucap selir kecil
Keduanya tertawa kecil saat mendengarkan perkataan selir kecil. Kasim Li sangat senang melihat selir kecil yang sangat bahagia. Dia sudah menganggap selir kecil sebagai putrinya. Walaupun kasim Li sangat tegas dengan selir kecil, namun di lubuk hatinya terdalam, dia sangat menyayangi selir kecil.
"Sudahlah aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Kamu jangan bermain-main terus." ucap kasim Li penuh kasih sayang.
__ADS_1