
Dua hari setelah memakan makanan yang telah diberikan oleh selir kecil. Putri Ye Xiwu mengalami kesakitan. Tiba-tiba saja perut putri menjadi sakit. Seharian dia harus bolak-balik ke kamar mandi. Selir kecil yang mendapatkan laporan dari dayang istana berpura-pura terkejut dan datang ke kediaman putri.
"Salam putri, hamba dengar putri sedang tidak sehat?" tanya selir kecil.
"Hm, tubuhku sedang tidak sehat. Seharian ini aku lelah harus bolak-balik ke kamar mandi." ucap putri dengan lemah.
"Biarkan hamba memeriksa kondisi putri." ucap selir kecil.
"Maafkan hamba tuan putri. Rupanya ada seseorang yang ingin meracuni putri. Racun ini tidak bisa dilihat dan dicium." ucap selir kecil berpura-pura cemas.
"Benarkah? Aku harus memanggil tabib istana sekarang." ucap putri dengan panik.
"Yu Er panggilkan tabib istana sekarang." perintah putri mulai ketakutan.
Selir kecil berdiri dengan tenang sambil melihat putri yang sedang cemas. Putri tidak tenang menunggu kedatangan tabib istana. Tabib istana akhirnya datang dan memeriksa keadaan putri.
"Katakan ada apa tabib?" tanya putri panik.
"Maafkan hamba putri, hamba tidak bisa mendeteksi penyakit putri." ucap tabib istana sambil bersujud ketakutan.
"Apa? Dasar bodoh." ucap putri.
"Cepat panggilkan pemimpin tabib istana." perintah putri.
"Maafkan hamba putri. Namun tabib istana tertinggi hanya dapat memeriksa kaisar dan pangeran." ucap tabib istana semakin ketakutan.
"Yu Er panggilkan ayahku kemari." ucap putri.
__ADS_1
Yu Er memanggil menteri keuangan untuk datang ke kediaman putri. Selir kecil semakin tertarik melihat drama putri manja ini. Dia ingin melihat sampai mana rasa ketakutan itu akan berakhir. Menteri keuangan dayang dengan cemas dan mulai bertanya kepada putrinya. Dia mendengarkan putri dengan seksama. Menteri keuangan langsung menampar tabib istana yang tidak dapat menyembuhkan putrinya.
"Salam selir kecil, apakah benar putri sedang diracuni?" tanya menteri keuangan.
"Jika menteri tidak mempercayai ilmu pengobatanku. Silahkan meminta kepada tabib istana tertinggi untuk memeriksa keadaan putri." ucap selir kecil dengan tegas.
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya menteri keuangan.
"Pertama anda harus membiarkan aku sendiri yang mengobatinya. Kedua kaisar dan pangeran tidak boleh mengetahui aku mengobati putri. Ketiga putri harus meminum obat yang aku berikan selama pengobatan tanpa mengeluh." ucap selir kecil dengan rencana liciknya.
Menteri keuangan dan putri akhirnya melakukan kesepakatan dengan selir kecil. Setiap pagi dan sore selir kecil akan pergi ke kediaman putri untuk melakukan pengobatan dengan akupuntur. Selama tiga hari berturut-turut selir kecil melakukan akupuntur untuk membuatnya tidak dapat mengendalikan nafsu makannya dan memberikan obat yang sebenarnya adalah obat penggemuk badan. Dalam tiga hari berat badan putri menjadi lebih berisi.
"Selir kecil apa yang terjadi dengan tubuhku?" tanya putri kebingungan.
"Tenang putri itu hanya efek dari pengobatan pengeluaran racun dalam tubuh putri saja. Setelah satu bulan, tubuh putri akan kembali ke bentuk semula." ucap selir kecil dengan tenang.
"Apa?" ucap putri yang terlihat terkejut.
"Kalian biarkan putri istirahat. Dia hanya lelah setelah pengobatan." ucap selir kecil tersenyum puas.
"Dengarkan aku. Jika putri sudah sadar, katakan bahwa racun sudah diatasi. Aku tidak perlu datang kesini lagi. Sedangkan putri harus bersabar menunggu penyusutan berat badannya agar kembali ke semula. Apakah kalian paham?" tanya selir kecil tegas.
"Hamba mengerti selir kecil." ucap seluruh dayang istana.
Dengan wajah penuh kepuasan, selir kecil pergi meninggalkan kediaman putri. Setidaknya balasan yang didapatkan oleh putri atas perbuatannya terhadap pangeran sudah terjadi. Selir kecil merasa sangat puas dengan rencananya.
"Aku sudah bilang, tidak ada yang boleh menyentuh pangeran." ucap selir kecil dalam hati.
__ADS_1
Dia berjalan di antara bunga-bunga persik yang sedang mekar dengan tenang. Hari itu udara terasa lebih sejuk meskipun sinar matahari sedang meninggi. Seakan-akan awan sedang berada di atas kepalanya, untuk melindungi selir kecil dari sinar matahari.
"Selir kecil, anda disini?" tanya kasim Li
"Ada apa kasim Li?" tanya selir kecil sedikit cemas.
"Tidak ada apa-apa. Bisakah anda ikut bersamaku?" tanya kasim Li.
Selir kecil menganggukkan kepalanya dan mengikuti kasim Li dari belakang. Selir kecil mengikutinya namun tempat itu terasa aneh. Pertama kali selir kecil menemukan tempat seperti ini di dalam istana. Dia berjalan ke sebuah lorong kecil dan melihat ke sekelilingnya hanya ada obor yang menerangi lorong kecil itu. Tanpa bicara dan bertanya, selir kecil terus mengikuti kasim Li. Hingga akhirnya dia keluar dari lorong itu dan di depannya terdapat danau yang belum pernah dilihatnya. Ternyata danau itu berada sangat jauh dari istana.
"Dimanakah kita kasim Li?" tanya selir kecil.
"Kita berada di luar istana. Ini bernama danau plum. Karena di kanan kiri danau terdapat pohon plum." ucap kasim Li.
"Apa yang kamu inginkan kasim Li?" ucap selir kecil dengan tenang.
Kasim Li yang tidak mengatakan apapun, langsung mengacungkan pedangnya ke leher selir kecil. Selir kecil terkejut dan mencoba melawan, namun karena pergerakan yang secara tiba-tiba membuat goresan di leher selir kecil.
"Sebaiknya selir kecil dapat bekerja sama atau pedang ini yang akan bicara." ucap kasim Li dengan wajah dingin.
Selir kecil diikat dengan sebuah tali dan didorong ke dalam danau itu. Akhirnya selir kecil tenggelam dan masuk ke dalam dasar danau. Dia mencoba untuk melepaskan tali itu dan berenang menuju ke permukaan air. Dia terus berjuang untuk naik ke permukaan, namun di tengah perjalanan, kakinya tersangkut di sebuah bebatuan. Dia tidak bisa melepaskan kakinya, napasnya semakin berkurang, dadanya mulai sesak karena kehilangan banyak oksigen. Sampai akhirnya dia pingsan di dalam air.
Kasim Li pergi meninggalkan danau itu setelah memastikan selir kecil sudah tewas tenggelam. Tak lama meninggalkan danau, tiba-tiba saja ada seorang pria yang masuk ke dalam danau dan menyelamatkannya. Ternyata pria itu adalah Jiang Xi. Jiang Xi membawa selir kecil ke daratan.
"Xixi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Jiang Xi sambil memberikan napas buatan.
"Xixi, aku mohon bangunlah." ucap Jiang Xi dengan cemas.
__ADS_1
Jiang Xi terus memberikan pertolongan napas buatan kepada selir kecil. Dengan penuh ketakutan, dia berusaha menyelamatkan selir kecil. Hingga akhirnya selir kecil tersadar dan menumpahkan semua air yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja." ucap Jiang Xi sambil memeluk erat wanita yang sangat dicintainya.