Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 28 : Menguasai Ketiga Ilmu Penting


__ADS_3

Katakan pangeran ada apa?" tanya selir kecil lembut.


"Aku sudah mengkhianatimu. Aku sudah menikah dengan wanita lain." ucap pangeran yang merasa bersalah.


"Dengan siapa kamu menikah pangeran?" ucap lirih selir kecil. Air matanya menetes perlahan.


"Dengan putri Ye Xiwu. Dia adalah anak dari menteri keuangan. Kami sudah menikah hampir empat bulan yang lalu. Kini dia telah menjadi istriku." ucap pangeran pelan yang tak mampu mendengar suara kesedihan selir kecilnya.


"Apakah kamu mencintainya pangeran?" tanya selir kecil.


"Tidak. Aku tidak mencintainya. Percayalah aku hanya mencintaimu." ucap pangeran sambil memegang erat kedua tangan selir kecil.


"Apakah kamu ingin aku pergi meninggalkanmu?" tanya selir kecil sedih.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak kamu pergi. Aku ingin kamu tetap di sisiku." ucap pangeran yang mulai gelisah dan ketakutan.


Selir kecil sangat mencintainya. Dia tidak mungkin meninggalkan pangeran hanya karena masalah kecil seperti ini. Dia sudah menyadari bahwa pernikahan ini akan terjadi. Pangeran yang akan menjadi kaisar selanjutnya harus memiliki permaisuri dan keturunan.


"Hm, aku memaafkan mu pangeran." ucap selir kecil dengan tenang.


"Sungguh?" tanya pangeran mencoba meyakinkan.


"Hm, aku baik-baik saja." ucap selir kecil.


Pangeran kembali tersenyum saat mendengar perkataan itu. Dia sangat lega karena selir kecil menerima pernikahan ini. Pangeran sangat takut kehilangan selir kecilnya. Dia rela mengorbankan tahtanya demi selir kecil. Selir kecil menyuapi pangeran dengan lembut. Pangeran meneteskan air mata dan bersikap manja kepada selir kecilnya. Selir kecil dengan penuh kasih sayang memberikan banyak kasih sayang dan kelembutan kepada pangeran. Malam itu pangeran tinggal di kediaman selir kecil dan tidak menemui putri.


Pagi itu matahari bersinar hingga masuk ke dalam kamar selir kecil. Suara kicauan burung yang merdu, sangat menenangkan pikiran dan hati. Udara yang terasa hangat membuat tubuh nyaman untuk beraktivitas. Selir kecil membuka matanya dan beranjak dari ranjangnya meninggalkan pangeran yang masih terlelap. Seir kecil pergi ke dapur istana untuk membuatkan sarapan kesukaan pangeran seperti biasa. Dua dayang istana kepercayaan selir kecil membantu membuat sarapan itu.

__ADS_1


"Selir kecil kami sangat senang dapat melihatmu baik-baik saja." ucap kedua dayang istana Lin er dan Min er.


"Aku juga senang melihat kalian berdua." ucap selir kecil tersenyum kecil.


"Selir kecil apakah pangeran sudah memberitahu tentang sesuatu selama selir kecil tidak sadarkan diri?" tanya dayang istana Lin er.


"Apa itu?" tanya selir kecil pelan.


Selir kecil dengan setia mendengarkan cerita kedua dayang istana kesayangannya. Sambil membuat sarapan untuk pangeran, selir kecil mendengarkan semua cerita itu. Selir kecil tersenyum kecil saat melihat ekspresi wajah kesal dan marah namun lucu dari kedua dayang istananya. Cerita yang menggebu-gebu menjadi hiburan tersendiri bagi selir kecil. Bagi selir kecil, kedua dayang istananya sudah dianggap seperti adik-adiknya. Selir kecil memperlakukan mereka dengan manja.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya selir kecil menggoda mereka.


"Walaupun putri Ye Xiwu akan menjadi permaisuri. Selir kecil tidak boleh mengalah. Kami akan selalu ada di sisi selir kecil jika putri menindas selir kecil." ucap Min er dengan penuh semangat.


"Baiklah. Aku percaya dengan kesetiaan kalian. Tapi kalian harus berjanji padaku. Sebelum aku memerintahkan kalian. Kalian tidak boleh mencari perkara dengan putri dan hareem." ucap selir kecil menegaskan.


Mereka selesai membuat sarapan itu dan membawanya ke kediaman selir kecil. Kedua dayang istana meninggalkan kediaman itu. Selir kecil melihat pangeran yang sedang duduk dengan wajah cemberut.


"Pangeran sudah bangun?" tanya selir kecil namun tidak direspon oleh pangeran.


"Ada apa pangeran, mengapa wajah tampanmu menghilang?" ucap selir kecil menggodanya.


"Kemana saja kamu? Mengapa tidak membangunkan aku?" tanya pangeran merajuk.


"Maafkan hamba pangeran. Hamba sedang di dapur istana membuatkan sarapan untukmu." ucap selir kecil tersenyum kecil.


Pangeran tetap merajuk seperti anak kecil. Dia masih bersikap manja kepada selir kecil.

__ADS_1


"Lihatlah, aku memasak bubur dengan potongan daging ayam di atasnya. Aku juga memasak sup iga domba untukmu. Dan aku juga membuatkan minuman buah persik untukmu." ucap selir kecil menggodanya.


"Jika pangeran tidak menginginkannya. Hamba akan memakannya sendiri." ucap selir kecil.


Pangeran yang tidak mau kehilangan makanan kesukaannya, langsung menghampiri selir kecil dan membuka mulutnya. Selir kecil tertawa kecil melihat tingkah kekanak-kanakan pangeran. Selir kecil mulai menyuapi pangeran. Dia makan dengan sangat lahap. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya makan dengan lahap dan tersenyum lebar layaknya seorang anak kecil. Pangeran sangat senang, perutnya juga telah kenyang dimanjakan oleh selir kecilnya.


"Hari ini mari kita jalan-jalan sebentar ke taman persik." ucap selir kecil.


Setelah selesai sarapan, keduanya pergi menuju ke taman persik. Disana selir kecil memberikan pangeran sebuah pedang. Pedang itu bernama pedang kesepian. Pedang itu merupakan salah satu pedang terbaik di dunia. Pangeran terkejut mendapatkan pedang kesepian itu.


"Aku tidak pantas mendapatkannya." ucap pangeran pesimis.


"Pedang ini sudah memiliki takdir denganmu. Ambillah." ucap selir kecil.


"Tapi aku tidak bisa bermain pedang?" ucap pangeran.


"Aku akan mengajarimu. Tapi pangeran berjanji jangan memberitahukan kepada siapapun mengenai pedang kesepian ini." ucap selir kecil tegas.


"Baiklah " ucap pangeran.


Hari itu selir kecil mulai mengajarkan dasar-dasar dalam mempelajari ilmu pedang. Secara perlahan tapi pasti, selir kecil mengajarinya. Pangeran dengan gigih mengikuti semua gerakan yang diajarkan oleh selir kecilnya. Meskipun terlihat seperi guru yang sangat galak dan kejam, namun pangeran tetap bertahan untuk menerima semua itu. Pangeran mempelajari setiap gerakannya dengan seksama. Melalui indera pendengarannya, pangeran dapat menyerang musuhnya melalui suara-suara yang terdengar di telinganya.


Matahari telah terbenam. Pangeran sangat tekun mempelajari ilmu pedangnya. Setiap hari pangeran belajar ilmu pedang ditemani oleh selir kecilnya di taman persik. Setiap hari ilmu pedang yang dipelajarinya semakin berkembang pesat. Pangeran pun tidak menyangka bisa mempelajari ilmu pedang ini dalam waktu singkat.


"Lihatlah aku sudah bisa mengendalikan pedang kesepian." ucap pangeran dengan gembira.


"Sangat bagus. Luar biasa." ucap selir kecil tersenyum dan bertepuk tangan untuk keberhasilan pangeran.

__ADS_1


Kini pangeran sudah memiliki tiga ilmu penting yang dapat menjadikannya sebagai kaisar yang hebat dan bijak. Ilmu pedang, ilmu strategi berperang, dan ilmu pengobatan. Ketiga ilmu ini mampu menumbangkan musuh dan melindungi rakyat kerajaan Xiao. Pangeran yang semula merupakan seorang pangeran pecundang dan cacat. Kini menjadi pangeran yang hebat. Semua kekuatan dan keahliannya akan dia tunjukkan ke semua orang yang menghinanya, ketika waktunya tepat.


__ADS_2