Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 45 : Kembalinya Pangeran Xiao San (Part 2)


__ADS_3

Setelah keduanya memenangkan pertarungan itu, mereka bergegas masuk ke dalam gerbang. Pangeran Xiao San memapah selir kecil yang sedang menahan luka tusukan itu.


"Apakah kamu masih bisa bertahan selir kecil?" tanya pangeran sangat cemas.


"Tenang saja. Aku masih bisa bertahan." ucap selir kecil sambil memegang lukanya.


Tabib muda Chen Yi berada di belakang pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi. Dia ditempatkan di belakang mereka, karena sedang menggendong Xiao Jiwu. Keduanya ingin melindungi putranya. Mereka sadar keadaan istana telah berubah dan mereka harus lebih waspada dengan musuh yang akan menyerang mereka secara tiba-tiba.


"Chen Yi, tetap di belakang kami. Jangan lengah." perintah tegas pangeran Xiao San.


Keduanya berada paling depan memimpin pasukan yang masih tersisa untuk masuk ke dalam istana. Saat mereka berhasil masuk ke dalam halaman istana, ternyata disana sudah menunggu putri Ye Xiwu bersama sepupunya Xiao Fang dan Xiao Feng dengan pedang di tangan kanan mereka. Wajah mereka terlihat sangat licik dan sombong.


"Dimana kaisar Xiao Ge?" tanya pangeran Xiao San dengan wajah khawatir.


"Haha.. Rupanya kamu berani kembali kesini pangeran." ucap putri Ye Xiwu.


"Aku berhak atas istana ini. Aku adalah putra mahkota. Katakan dimana kaisar Xiao Ge?" tanya pangeran Xiao San dengan lantang.


"Pelayan bawa kaisar kemari." perintah Xiao Fang.


Tak lama kemudian seorang pelayan istana datang membawa sebuah papan nama dan memberikannya kepada Xiao Fang.


"Ini ayahmu. Ambillah." ucap Xiao Fang dengan lantang sambil tersenyum penuh penghinaan.

__ADS_1


Ternyata di atas papan nama itu tertulis nama kaisar Xiao Ge. Mereka mengatakan bahwa setahun lalu kaisar Xiao Ge telah meninggal dan memberikan wasiat bahwa tahta akan jatuh ke tangan Xiao Fang sebagai pengganti putranya. Pangeran Xiao San tak percaya dengan perkataan mereka, namun mereka memberikan surat wasiat yang dituliskan kaisar Xiao Ge.. Pangeran Xiao San tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kini tahta itu telah jatuh ke Xiao Fang dan dia menikahi putri Ye Xiwu sebagai permaisurinya.


"Kalian semua penghianat. Aku tahu semua ini adalah manipulasi kalian semua." teriak pangeran Xiao San dengan wajah penuh amarah.


"Penjaga, tangkap mereka semua. Mereka adalah para pengkhianat. Masukan ke dalam penjara kesedihan." perintah tegas Xiao Fang.


Para penjaga istana mulai mengepung mereka, kini mereka terjebak di kelilingi oleh para pasukan istana. Pangeran Xiao San bersiap untuk bertahan dari serangan itu. Selir kecil selalu berada di sampingnya. Meskipun luka itu semakin parah, namun selir kecil masih bertahan untuk melindungi pangeran Xiao San.


"Kami tidak akan membiarkan kalian menguasai kerajaan Xiao." ucap pangeran Xiao San sambil memegang pedang itu dengan kuat.


"Serang..." teriak putri Ye Xiwu memerintahkan pasukan istana.


Seluruh pasukan istana menyerang pangeran Xiao San dan selir kecil beserta pasukannya. Mereka bertarung dengan sengit. Pedang mereka saling beradu satu sama lain. Pedang mereka sangat haus dengan darah. Setiap pedang itu ingin menghabisi semua orang yang ada di depan mereka. Xiao Fang berusaha menyerang pangeran Xiao San sedangkan Xiao Feng berusaha menyerang selir kecil Xixi. Mereka bertarung dengan sengit. Wajah mereka penuh amarah dan ambisi untuk membunuh musuh mereka masing-masing.


Karena teriakan selir kecil, pangeran Xiao San dapat menghindar dan menyerang balik. Akhirnya pedang pangeran Xiao San berhasil mengenai tangan Xiao Fang hingga robek. Mereka terus bertarung tanpa henti. Meskipun tubuh mereka sudah semakin melemah, mereka tidak akan berhenti atau mengalah sampai salah satu dari mereka akhirnya mati.


Tabib muda Chen Yi berusaha mencari tempat yang aman untuk melindungi Xiao Jiwu. Tabib muda itu terus mengamati pertarungan mereka. Tabib muda sangat khawatir dengan keadaan pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi. Tabib muda yang terlalu fokus dengan pertarungan itu, tak menyadari bahwa di belakangnya sudah berdiri putri Ye Xiwu dengan mengarahkan pedang ke leher tabib muda itu. Tabib muda itu kini berada di bawah kendali putri Ye Xiwu.


"Kalian hentikan." teriak putri Ye Xiwu sambil menodongkan pedang ke leher tabib muda.


"Jika kalian tidak menyerah, jangan salahkan aku jika putra kalian akan menemui kakeknya." putri Ye Xiwu mencoba mengancam.


Mendengar ancaman dari putri Ye Xiwu, akhirnya pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi melepaskan pedangnya dan menyerah. Putri Ye Xiwu memerintahkan pengawal istana membawa mereka ke penjara bawah tanah di penjara kesedihan. Selir kecil dengan luka yang semakin parah, masih tetap bertahan untuk menggendong putranya. Meskipun pada akhirnya dia harus mengorbankan nyawanya, dia rela. Jika memang semua itu dapat menyelamatkan suami dan putranya.

__ADS_1


"Jalan lebih cepat." teriak salah satu pasukan istana sambil mendorong selir kecilnya yang sudah lemah.


"Jangan sentuh istriku." ucap pangeran sambil memukul pasukan istana itu.


Salah satu pasukan istana itu tak terima dengan sikap pangeran, dia mencoba memukul pangeran namun dihadang oleh selir kecilnya hingga membuat selir kecil terpukul dan berdarah.


"Aku mohon tenanglah." ucap selir kecil mencoba menenangkan.


Melihat putranya yang menangis dan selir kecil yang semakin terluka, membuat pangeran mencoba menahan amarahnya. Mereka terus berjalan dan sampai di penjara kesedihan. Mereka ditahan dalam satu ruangan yang sempit dan kotor. Disana tidak ada ventilasi udara. Di penjara itu hanya ada jerami sebagai alas tidur mereka. Ruang penjara yang sempit itu hanya dapat menampung dua orang saja, namun kini ruangan itu ditempati oleh empat orang yang membuat ruangan semakin sesak.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang pangeran?" tanya Chen Yi sangat ketakutan


"Sekarang periksa dulu keadaan selir kecil. Pastikan kamu dapat menghentikan pendarahan pada luka selir kecil. Biarkan aku memikirkan rencana selanjutnya." ucap pangeran Xiao San dengan tenang.


Pangeran memeluk putranya dan memberikan kenyamanan agar dapat tidur dengan lelap. Tabib muda Chen Yi memeriksa keadaan selir kecil dan mencoba menghentikan pendarahan pada lukanya. Dengan tubuh sedikit gemetar, Chen Yi berusaha untuk tenang agar dapat mengobati selir kecil.


"Tenanglah. Aku tidak akan membiarkanmu mati. Kamu adik kecilku. Aku akan melindungimu." ucap selir kecil mengusap kepalanya sambil menahan rasa sakit itu.


Tabib muda itu menangis seperti anak kecil sambil membalut luka selir kecil. Bagaimanapun dia hanya memiliki selir kecil sebagai kakak dan gurunya. Dia tidak ingin kehilangan keluarganya. Selir kecil mencoba menenangkannya. Dia tersenyum kecil dan memegang tangannya untuk memberikan keyakinan.


"Apakah kamu baik-baik saja selir kecil?" tanya pangeran mencoba berpura-pura tenang.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2