Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 41 : Kelahiran Xiao Jiwu


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, kini usia kandungan selir kecil sekitar sembilan bulan. Mereka tidak sabar untuk menantikan kelahiran bayi mereka. Sepanjang hari itu selir kecil merasakan kontraksi di perutnya. Selir kecil sangat sensitif. Dia akan memarahi setiap tindakan yang dilakukan oleh pangeran. Selir kecil merasakan perasaan kesal, marah, dan sedih yang bercampur menjadi satu. Pangeran yang baru pertama kali mendampingi wanita melahirkan, ikut gelisah menghadapi tingkah selir kecilnya.


"Pangeran, bisakah kamu mengelus perutku. Rasanya sangat sakit" ucap selir kecil


Pangeran mengusapnya dengan hati-hati. Dia tidak ingin menambahkan rasa cemas kekasihnya.


"Pangeran, aku bilang pelan-pelan. Tak bisakah kamu membantuku." ucap selir kecil marah.


"Maafkan aku." ucap pangeran singkat.


Pangeran berusaha untuk menenangkan selir kecilnya. Dia bersabar menghadapi sikap selir kecilnya. Semakin lama kontraksi perutnya semakin kencang. Rasa sakit di perutnya semakin besar. Selir kecil mencoba mengatur napasnya. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya. Pangeran dengan tangan gemetar dan panik mencoba tenang dan membantu persalinan selir kecilnya. Dia membantu kelahiran bayinya sesuai dengan petunjuk yang diajarkan selama tiga bulan sebelum persalinan ini.


"Selir kecil, ayo coba atur napasmu. Ayo kita coba keluarkan bayi kita." ucap pangeran dengan tenang


Meskipun tangannya semakin gemetar saat melihat kepala yang keluar, pangeran mencoba untuk tenang agar bayi itu dapat keluar dengan selamat. Setelahnya seluruh tubuh bayi itu keluar. Pangeran melihat seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Bayi itu menangis kencang. Pangeran menyelimutinya dengan pakaian yang berasal dari pakaian selir dan pangeran yang disatukan. Kini bayi itu terdiam saat merasakan kehangatan.


"Putra kecilku" bisik pangeran sambil menggendong bayinya


"Putra kesayanganku." bisik pangeran sangat bahagia.


Selir kecil tersenyum bahagia saat melihat putranya lahir dengan selamat. Selir kecil sangat senang melihat kedua orang yang dicintainya berada dihadapannya.


"Pangeran, biarkan aku menyusuinya." ucap selir kecil lembut.


Pangeran memberikan bayinya kepada selir kecil. Bayi itu sangat sehat dan tampan. Dia menyusu sangat kuat. Selir kecil menitikkan air mata saat melihat bayinya yang lahir dengan sehat.

__ADS_1


"Selir kecil, apakah putra kita buta?" tanya pangeran secara tiba-tiba


"Apakah dia memiliki kekurangan sepertiku?" tanya pangeran cemas.


Selir kecil mencoba memeriksa bayinya. Selir kecil sangat bahagia saat mengetahui bayinya terlahir normal dan sempurna.


"Dia sangat sempurna pangeran." ucap selir kecil


Pangeran yang mendengar berita itu sangat lega. Dia sangat ketakutan bayinya akan memiliki nasib yang sama sepertinya. Dia tidak ingin bayinya akan memiliki masa depan yang buruk. Pangeran duduk disamping selir kecil sambil memegang tangan mungil bayinya. Kelahiran bayi itu membuat kehidupan pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi menjadi lenih lagi bahagia dan sempurna.


"Selir kecil, aku sangat ingin melihat wajah tampan putraku. Bisakah itu terjadi?" tanya pangeran sedih


"Pasti itu akan terjadi pangeran. Bersabarlah." ucap selir kecil lembut


"Apa yang sedang kamu katakan pangeran. Kita akan bersama selamanya." ucap selir kecil sambil mencium lembut pipi pangeran


Pangeran tersenyum mendengar perkataan selir kecilnya. Dia benar-benar sangat ingin melihat dua orang yang sangat berharga untuknya. Malam itu setelah kelahirannya, mereka selalu mencari cara untuk keluar dari dasar danau itu. Mereka ingin segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana. Sudah sebulan setelah kelahiran putranya, namun hanya ada jalan buntu. Tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk keluar dari tempat itu.


Setiap malam pangeran dan selir kecil akan tidur bersama diantara putranya, agar putranya tidak merasakan dingin. Kini putranya sudah berusia sebulan. Mereka mencoba bertahan hidup hanya dengan memakan biji-bijian dan air sungai yang mengalir. Meskipun energi murni di taman itu sangat baik untuk mereka bertiga, namun semakin lama biji-bijian itu tidak mampu mengenyangkan perut mereka. Rasa lapar selir kecil karena perutnya yang kosong, membuat produksi air susunya semakin berkurang. Putranya yang kuat menyusu mulai resah karena rasa haus kekurangan asi.


"Pangeran, bagaimana ini asiku semakin sedikit. Aku tidak ingin putra kita kelaparan." ucap selir kecil cemas


Pangeran menghela napasnya agar dapat menenangkan dirinya. Dia terus berkeliling dan mencari cara keluar dari tempat itu. Hingga dia menemukan sebuah lubang air yang mengeluarkan cahaya terang. Pangeran mencoba untuk mencelupkan kakinya dan ternyata lubang air itu sangat dalam. Dia merasakan bahwa ini adalah jalan keluar mereka. Pangeran mengajak selir kecil untuk mencobanya, namun selir kecil dipenuhi keraguan. Dia tidak berani untuk mencobanya. Bagaimana kalau mereka gagal dan akhirnya membunuh putranya sendiri.


"Selir kecil apakah kamu mau mencobanya" tanya pangeran pelan

__ADS_1


"Aku tidak tahu pangeran." ucap selir kecil bingung


"Tapi kita tidak mungkin berada disini hingga mati kelaparan." ucap pangeran.


"Lalu bagaimana kalau itu bukan jalan keluarnya? Bagaimana jika akhirnya kita mati karena tenggelam" ucap selir kecil sedikit emosi


Pangeran tidak ingin berdebat. Dia tidak ingin semakin membuat cemas selir kecilnya. Akhirnya pangeran mengalah dan menunggu selir kecilnya siap. Pangeran hanya menunggu kesiapan selir kecilnya. Selama itu dia berusaha untuk mencari makan untuk mengenyangkan perut selir kecilnya. Terkadang pangeran berpura-pura sudah makan agar selir kecil mendapatkan makanan untuk mengenyangkan perutnya. Lebih baik satu orang yang kelaparan, daripada dua orang. Pangeran berusaha mengorbankan segalanya untuk kesehatan selir kecil dan putranya.


"Pangeran, lihatlah asiku banyak lagi." ucap selir kecil tersenyum bahagia


"Baguslah. Aku sangat senang." ucap pangeran tersenyum kecil sambil menahan rasa laparnya selama tiga hari ini


Pangeran mengganjal perutnya dengan batu-batu yang diikatkan. Agar dia dapat menahan rasa lapar. Dia rela harus meminum banyak air hingga kembung, agar dapat mengenyangkan perutnya. Meskipun perutnya terasa sakit, semua itu terbayar saat mendengar tawa selir kecil dan putranya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya pangeran


"Kami sedang bercanda pangeran. Lihatlah wajah putra kita semakin tampan saat tersenyum." ucap selir kecil penuh semangat


"Benarkah? Aku ingin menggendongnya." ucap pangeran


Pangeran menggendongnya dan mencoba menyentuh bibir mungil putranya yang sedang tersenyum. Dari sentuhan itu dia dapat merasakan bahwa putranya sangat bahagia. Pangeran memeluk putranya dan mencium keningnya dengan lembut. Pangeran dapat merasakan wangi khas seorang bayi kecil. Wangi itu mampu menenangkan pikirannya yang dipenuhi kegelisahan dan kecemasan.


"Putraku sangat harum." ucap pangeran sambil mencium telapak tangan mungil putranya.


Pangeran terus menggendong putranya. Pangeran Xiao San mengayunkan putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2