Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 12 : Penyelidikan (Part 3)


__ADS_3

Setelah makan malam, seluruh penghuni di kediaman panglima Chen Zhen beristirahat. Xixi mencari waktu yang tepat untuk mencari bukti itu. Di tengah malam, Xixi mulai bergerak mencari bukti-bukti itu ke setiap sudut rumah itu. Dia mencari dengan hati-hati. Sepanjang malam dia mencarinya, namun hasilnya nihil. Tidak ada bukti apapun yang ditemukan. Menjelang pagi, Xixi kembali ke kamarnya. Dia memutuskan untuk kembali tidur. Berharap dia masih bisa mencarinya lagi malam ini.


Pagi itu, Xixi dibangunkan oleh pelayan untuk sarapan bersama panglima. Sama seperti kemarin,. perbincangan itu terlihat santai dan tenang.


"Panglima bolehkah hamba ijin ke taman persik di belakang rumahmu? Sepertinya itu terlihat bagus?" ucap Xixi.


"Silahkan. Biarkan pelayan itu menemanimu." ucap panglima.


Xixi memperhatikan ekspresi wajah panglima. Dia melihat panglima memberikan kode kepada pelayan itu. Xixi yang mengetahuinya hanya tersenyum kecil. Panglima Chen Zhen meninggalkan Xixi untuk mengurusi persiapan untuk kembali istana. Sedangkan Xixi ditemani oleh pelayan itu pergi ke taman persik di belakang kediaman.


"Duduklah dan nikmat buah persik ini." ucap Xixi memberikan buah persik yang dipetiknya.


Pelayan itu memakan buah persiknya dengan lahap, bagi seorang pelayan buah persik ini adalah barang mewah yang tidak mungkin bisa dimakannya. Pelayan dengan senang memakan buah persik itu tanpa curiga. Setelah buah persik itu dimakan habis tanpa sisa, barulah efek obat bereaksi. Pelayan itu tertidur. Ternyata buah persik telah diberikan obat tidur oleh Xixi.


"Tidurlah dengan tenang disini. Aku akan berjalan-jalan sebentar." bisik Xixi sambil mengusap lembut kepala pelayan itu.


Xixi bergerak mencari kembali di setiap sudut kediaman panglima. Namun dia tetap tidak menemukan apa-apa. Hingga dia berada di sebuah ruangan. Ruangan itu milik anak laki-laki panglima yang masih berusia 5 tahun. Kamarnya kosong dan tanpa penjagaan. Disana hanya terdapat beberapa mainan yang berantakan di lantai dan beberapa mainan yang berada di lemari paling atas. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


"Dimana bukti itu, aku sudah mencarinya." ucap Xixi sedikit putus asa.

__ADS_1


Xixi secara hati-hati berusaha untuk keluar dari kamar itu, tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang janggal. Di atas lemari itu terdapat patung kucing emas namun memiliki mata merah, berbeda seperti mainan lainnya. Xixi mencoba untuk menariknya, namun tiba-tiba ada sebuah pintu rahasia yang terbuka. Pintu kamar itu menghubungkan ke sebuah ruangan kecil. Xixi mencoba masuk ke dalam ruangan itu. Xixi terkejut melihat seorang pelayan wanita yang dikurung dan tak berdaya.


"Siapa kamu?" tanya Xixi


Pelayan wanita itu tak berbicara, dia hanya menatap dengan penuh penderitaan. Tubuhnya berlumuran darah dengan dipenuhi bekas cambukan. Bibirnya kering dan perutnya kempes seperti tidak diberikan makan dengan layak.


"Tolong aku." bisik pelayan wanita itu.


Xixi berusaha untuk menolongnya. Dia mencoba membuka sel penjara itu dan melepaskan pasung itu. Xixi membantunya. Dia memberikan makanan dan minuman agar tubuhnya tidak menderita.


"Aku akan membawamu dari sini. Bertahanlah sampai malam ini saja." ucap Xixi dengan lembut.


"Maaf nona, apakah aku tertidur? Tolong jangan memberitahukan ini kepada panglima." ucap pelayan itu dengan ketakutan.


"Aku tidak akan memberitahu tuanmu. Coba lihatlah, apakah ini bagus?" tanya Xixi berpura-pura.


Pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya. Xixi tersenyum kecil melihat kepanikan pelayan itu dan menepuk lembut pundak pelayan itu. Mereka kembali ke dalam dan menemui panglima yang sudah kembali. Xixi menyapa panglima dan menunjukkan hasil lukisannya. Panglima tersenyum memuji hasil karyanya, namun dibalik senyuman itu masih ada rasa kecurigaan. Setelah Xixi kembali ke dalam kamarnya, pelayan itu diperintahkan untuk menceritakan semua yang terjadi saat dia pergi meninggalkan kediaman.


Pelayan dengan hati-hati menceritakan semuanya. Panglima mendengarkan pelayan itu dan menampakkan ekspresi dingin.

__ADS_1


"Aku harap itu sudah semua dan tidak ada yang dibohongi." panglima berkata dengan tatapan tajam.


Pelayan itu mencoba tenang dan menundukkan kepalanya. Pelayan meninggalkan panglima setelah menceritakan semuanya. Panglima yang tidak percaya begitu saja, menyuruh seluruh penjaga untuk berjaga malam ini. Penjagaan malam ini sangat ketat. Xixi yang mendengar perintah itu, membuatnya harus merencanakan semuanya dengan lebih hati-hati lagi. Di dalam kamarnya, dia memikirkan cara agar bisa membawa pelayan wanita itu.


Xixi diam-diam mengirimkan gulungan surat dengan merpati ke sahabatnya. Dia meminta sahabatnya untuk membantunya membawa pelayan wanita itu. Sahabat Xixi bersama Jiang Xi. Dia adalah seorang pedagang buku sekaligus salah satu teman dari perkumpulan milik Xixi. Malam itu, Xixi tidak melakukan pergerakan dan hanya beristirahat di dalam kamarnya, agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Esok harinya, panglima kembali ke tempat pasukan untuk mempersiapkan keberangkatannya ke istana. Namun, kali ini penjagaan di rumah itu juga semakin ketat. Xixi mencoba mencari cara agar seluruh penjaga ini lengah. Xixi melemparkan sebuah gas tak berwarna dan berbau yang sudah diberikan obat tidur ke arah penjaga dan pelayan di rumah itu. Setelah lima belas menit, obat mulai bereaksi. Seluruh pelayan dan penjaga tertidur.


Xixi mulai melakukan aksinya. Dia mencoba mengeluarkan pelayan wanita itu. Jiang Xi yang sudah tiba di kediaman itu membantu Xixi membawanya ke tempat persembunyiannya. Saat malam tiba, semua pelayan dan penjaga terbangun. Mereka tidak ada yang curiga. Panglima kembali ke kediamannya. Melihat ke sekelilingnya, namun semua terlihat biasa saja.


"Anda sudah kembali panglima." sapa Xixi dengan senyuman kecil.


"Besok kita akan kembali ke istana, bersiaplah." ucap panglima.


"Baik panglima." ucap Xixi dengan senyuman kecil namun terlihat sangat mencurigakan.


Malam itu, Xixi belum bisa tidur tenang. Sepanjang malam dia memastikan panglima Chen Zhen tidak memasuki ruang rahasia itu. Dia memaksakan dirinya untuk tetap mengawasi pergerakan panglima. Tak terasa pagi sudah hadir. Sinar mentari menyinari kediaman panglima dengan sinar yang terang. Suasana hari itu terasa lebih hangat. Panglima bersama Xixi dan para pasukannya bersiap menuju istana. Xixi yang berada di belakang bersama para pelayan berjalan mengikuti panglima dari belakang.


Selama perjalanan Xixi masih terus waspada, dia tidak boleh lengah. Dia tidak percaya panglima akan bersikap santai. Dia berpikir bahwa panglima akan mencari kesempatan untuk membunuhnya agar tidak sampai ke istana. Xixi melakukan perjalanan ini dengan rasa lelah, namun dia harus bertahan. Hingga dia sampai di suatu tempat penginapan. Semua pasukan menginap malam itu di penginapan itu. Xixi berusaha mengistirahatkan tubuhnya untuk sejenak.

__ADS_1


__ADS_2