Selir Kecil Kaisar Xiao San

Selir Kecil Kaisar Xiao San
Bab 37 : Bukit Gua Perak (Part 1)


__ADS_3

Pangeran Xiao San bersama tabib muda dan beberapa anak buah Jiang Xi melakukan perjalanan menuju ke bukit gua perak. Pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi berada dalam kereta kuda yang sama. Pangeran selalu meningkatkan kewaspadaannya agar tidak ada yang bisa mengikutinya. Meskipun selir kecil masih dalam kritis dan belum sadarkan diri, namun pangeran cukup bahagia masih bisa berada di samping selir kecilnya.


"Selir kecil, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku akan memberikan waktu istirahat yang cukup lama kepadamu." ucap pangeran pelan sambil mengecup kening selir kecil.


"Beristirahatlah dengan nyaman. Aku akan menjaga tubuhmu disini." ucap pangeran sambil memegang tangan selir kecil.


Sepanjang perjalanan, pangeran selalu memegang tangan selir kecilnya, terkadang dia akan memeluknya saat malam agar tubuh selir kecilnya tidak kedinginan karena udara malam. Waktu perjalanan yang cukup memakan waktu, menyebabkan tubuh pangeran mulai merasakan kelelahan. Tubuhnya mulai lemah. Hari itu pangeran jatuh sakit dan hanya terbaring lemah di samping selir kecil selama seharian. Sepanjang hari pangeran hanya menatap wajah kekasihnya yang masih terpejam. Dia tersenyum namun air matanya mengalir. Kesedihan dan kebahagiaan menyatu hingga membuat perasaan pangeran tak stabil.


"Aku hanya ingin kamu kembali padaku." ucap pangeran lemah dan akhirnya matanya terpejam.


Pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi terbaring di dalam kereta kuda. Mereka benar-benar sepasang bangau yang tak terpisahkan, meskipun itu adalah kematian. Saat malam hari, mereka memutuskan untuk beristirahat di tengah hutan. Udaranya sangat dingin dan suasananya sangat mencekam. Semua secara bergantian beristirahat dan berjaga. Masih ada waktu seminggu untuk sampai di bukit gua perak. Persediaan makanan mereka semakin menipis. Kini mereka hanya mengandalkan berburu hewan liar yang berlarian di tengah hutan.


"Pangeran sudah bangun?" tanya tabib muda.


"Hm." ucap pangeran singkat.


"Berapa lama lagi perjalanan kita?" tanya pangeran.


"Seminggu lagi. Sebaiknya pangeran beristirahat." ucap tabib muda.

__ADS_1


"Aku masih ingin berada di api unggun." ucap pangeran sambil menghangatkan telapak tangannya.


Tabib muda tersenyum kecil saat melihat kondisi pangeran yang sudah membaik. Sepanjang malam mereka berbincang. Pangeran meminta tabib muda untuk menceritakan mengenai bukit gua perak. Dengan senang tabib muda menceritakan semuanya. Setiap kali mendengar keajaiban dari bukit gua perak, ekspresi wajah pangeran akan berubah. Dia terlihat sangat menyukainya.


"Aku tidak sabar ingin melihat keajaiban bukit gua perak." ucap pangeran dengan senyuman kecil.


Beberapa jam lagi hampir pagi, pangeran kembali ke dalam kereta kudanya untuk menemani selir kecil yang sedang tertidur lelap untuk sementara waktu. Pangeran memeluk tubuh selir kecil dan beristirahat sampai pagi hari. Setelah matahari mulai terang, mereka melanjutkan perjalanannya. Waktu demi waktu, matahari berganti bulan, bulan berganti matahari. Mereka datang silih berganti. Tak terasa sudah seminggu berlalu, dan akhirnya mereka sampai di bukit. Bukit itu terlihat sangat hijau dan sejuk. Pemandangannya sangat indah dan ini semua tidak akan dapat dilihat di istana.


"Hah, udaranya sangat sejuk. Pemandangan sangat indah." ucap pangeran dengan suasana hati yang baik.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Dimana gua perak itu?" tanya pangeran penasaran.


"Baiklah. Aku tidak akan menyia-nyiakan perjalanan ini. Aku akan sabar menunggu semua ini.". ucap pangeran dengan optimis.


Hari itu mereka semua hanya bisa menunggu hari esok. Mereka berburu kelinci untuk dibakar bersama arak yang dibawa dari istana. Mereka berusaha menghilangkan rasa lapar mereka dan menghangatkan tubuh mereka. Pangeran yang tidak ingin terlewatkan, berusaha menahan rasa kantuk di matanya.


"Sebaiknya pangeran tidur. Malam semakin gelap. Hamba akan membangunkan pangeran saat matahari mulai muncul " ucap tabib muda itu dengan bijak


"Baiklah." ucap pangeran.

__ADS_1


Pangeran kembali ke dalam kereta kudanya dan tertidur sesaat. Dia ingin memejamkan matanya sesaat agar tidak terlewatkan melihat lokasi gua perak. Menjelang pagi hari, pangeran dibangunkan oleh tabib muda. Pangeran berdiri bersama tabib muda menunggu gua perak. Matahari mulai meninggi dan dari kejauhan samar-samar terlihat sebuah gua perak yang tertutup kabut.


"Tabib, apakah itu gua perak?" tanya pangeran penasaran.


"Benar pangeran. Bukankah itu sangat indah?" ucap tabib muda.


"Hm, sangat indah. Andaikan saja selir kecil dapat melihat keindahan ini. Pasti aku lebih bahagia." ucap pangeran sedikit sedih.


Setelah menemukan letak gua perak, mereka memutuskan untuk segera pergi menuju ke gua perak. Namun bukan ujian namanya, jika tanpa halangan. Sampai di sekitar gua perak, yang dapat memasukinya hanya dua orang. Akhirnya yang dapat masuk ke dalam gua perak hanya pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi. Sebelum mereka memasuki gua perak, tabib muda memberikan petunjuk untuk mengobati selir kecil. Setelah memahami semuanya, pangeran bersama selir kecil memasuki sebuah pintu gua perak yang dilapisi oleh sebuah arai.


"Hati-hati pangeran. Kami disini untuk menjagamu." ucap tabib muda.


"Aku akan kembali." ucap pangeran dengan optimis.


Pangeran membawa tubuh selir kecilnya. Mereka memasuki gua perak. Pangeran dengan hati-hati membawa selir kecil. Sesampainya di dalam gua perak, pangeran sangat terkejut ternyata benar seperti yang dikatakan oleh tabib muda, di gua perak terdapat banyak sekali keajaiban. Pangeran melihat pemandangan yang sangat indah disana.


Di dalam gua perak, terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir air jernih dan segar. Di sekelilingnya terdapat banyak buah-buahan dan bunga-bunga yang sangat indah. Di tengahnya terdapat sebuah rumah kecil yang terbuat dari dedaunan. Di langit-langit berterbangan kupu-kupu nan cantik dan indah. Suasana di dalam gua perak sangat hangat dan tenang. Udaranya terasa sejuk yang membuat tubuh terasa lebih segar. Pangeran dapat merasakan banyak sekali energi murni yang dihasilkan di gua perak.


Pangeran yang terpesona dengan keindahan tersebut, baru menyadari bahwa dia masih membawa selir kecil. Pangeran langsung membaringkan tubuh selir kecil di rumah itu. Disana terdapat sebuah tempat tidur dari kayu yang sangat harum. Pangeran membaringkannya disana, tanpa terduga tiba-tiba saja dari tempat tidur itu keluar sulur yang membalut tubuh selir kecil. Sulur itu terbagi menjadi dua. Dimana sulur sebelah kiri seakan mengeluarkan racun dan energi kotor dari tubuh selir kecilnya. Sedangkan sulur sebelah kanan seakan memasukan obat dan energi murni ke dalam tubuh selir kecil.

__ADS_1


Pangeran sangat terkejut dan terpesona melihat kehebatan pengobatan sulur itu. Pangeran sangat senang melihat pengobatan ini. Pangeran Xiao San tanpa istirahat mengawasi pengobatan ini, dia tidak ingin ada kelalaian yang akan merusak pengobatan selir kecil.


__ADS_2