
Setelah persiapan mereka selesai, selir kecil bersama pangeran Xiao San melakukan perjalanan menuju ke bukit kehampaan. Mereka pergi bersama menggunakan kereta kuda terbaik. Dengan persiapan yang matang mereka melakukan perjalanan dengan lancar. Mereka menuju bukit kehampaan hanya bertiga tanpa ada satupun pasukan yang tersisa untuk menemani. Memang terasa sangat menyakitkan karena mereka harus merasakan rasa kehilangan karena pasukan mereka yang terbunuh oleh musuh-musuh mereka. Sepanjang perjalanan selir kecil terlihat lebih pendiam dari biasanya. Dia jarang tersenyum dan selalu memiliki pandangan kosong. Terkadang pangeran Xiao San melihat selir kecil Xixi hanya melamun dengan wajah datar. Walaupun mencoba menyembunyikan semua perasaannya, pangeran masih dapat melihat rasa kesedihan selir kecilnya.
Hari itu di tengah perjalanan kereta kuda mereka rusak. Mereka menghentikan perjalanan mereka dan beristirahat di sebuah hutan kecil. Selama menunggu perbaikan kereta kudanya, selir kecil Xixi mengajak Xiao Jiwu berkeliling menelusuri hutan kecil itu.
"Pangeran, bolehkah aku mengajak putra kecil bermain disana?" tanya selir kecil pelan.
"Hm, pergilah bersenang-senang. Aku akan memperbaiki roda ini." ucap pangeran dengan lembut.
Selir kecil menggendong putranya sambil berkeliling melihat-lihat pemandangan di hutan kecil itu. Selir kecil melihat sebuah sungai kecil yang di sampingnya terdapat pohon persik yang sedang mekar. Di pohon tersebut banyak sekali buah persik yang terlihat sangat segar. Selir kecil mendekati pohon itu dan memetik beberapa buah persik untuk dibawa pulang.
"Apakah kamu mau putra kecil" tanya selir kecil .
Xiao Jiwu yang terlihat mengerti perkataan selir kecil, tertawa kecil dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya seperti seseorang yang bahagia karena mendapatkan sesuatu.
"Rupanya kamu sangat menyukainya." ucap selir kecil tersenyum kecil.
Selir kecil memberikan buah persik itu untuk dipegang oleh Xiao Jiwu. Selir kecil terus berjalan menelusuri hutan kecil itu dan melihat sebuah taman kecil yang terdapat banyak bunga krisan. Selir kecil sangat menyukai bunga itu, dia menghampirinya dan duduk di tengah taman itu. Harum bunganya membuat hatinya terasa lebih nyaman. Dia memetik beberapa bunga krisan dan disimpan di dalam tasnya.
"Hm, aku akan membuat teh dari bunga ini untuk pangeran." ucap selir kecil sambil mencium keharuman bunga itu.
Setelah puas duduk di taman bunga itu, dia berjalan terus ke dalam hutan itu. Disana dia menemukan beberapa kelinci kecil berbulu putih yang sedang berlarian. Kelinci itu sangat imut menarik perhatian Xiao Jiwu. Xiao Jiwu menampakkan wajah ekspresi sumringah saat melihat kelinci itu. Selir kecil berlarian mencoba menangkap kelinci itu. Selir kecil dan Xiao Jiwu tertawa bahagia saat mencoba menangkap kelinci itu, mereka mengejar kelinci itu dan akhirnya tertangkap.
"Apakah kamu menyukainya, putra kecil?" tanya selir kecil sambil mendekatkan satu kelinci putih itu.
__ADS_1
Xiao Jiwu tertawa dan menggerak-gerakkan tubuhnya, tanda dia sangat menyukainya. Selir kecil tersenyum lebar, dia sangat senang melihat putra kecilnya yang tertawa bahagia.
"Ayo kita kembali ke ayah. Mungkin kereta kudanya sudah selesai diperbaiki." ucap selir kecil dengan lembut.
Setelah perburuan yang panjang, akhirnya selir kecil membawa banyak hasil buruan. Di dalam tasnya dia menyimpan buah persik segar, bunga krisan harum dan kelinci putih lucu. Keduanya sangat senang setelah melakukan perburuan yang seru. Akhirnya keduanya kembali ke kereta kuda mereka. Mereka melihat pangeran yang sudah selesai memperbaiki kereta kudanya.
"Apakah sudah selesai pangeran?" tanya selir kecil.
"Hm, sudah selesai. Kita bisa melanjutkan perjalanan lagi." ucap pangeran sambil memeriksa keadaan kudanya.
"Makanlah dulu. Kamu pasti lapar. Akan aku buatkan teh hangat untukmu. Malam ini kita akan beristirahat sejenak." ucap selir kecil sambil mengusap lembut pipi pangeran.
"Hm, baiklah." ucap pangeran dan menerima buah persik itu.
"Sudah kenyang pangeran?" tanya selir kecil dengan lembut.
"Hm, aku sudah tak mampu lagi memakan semuanya." ucap pangeran sambil menepuk-nepuk perutnya
Selir kecil tersenyum kecil. Setelah makan malam selesai, keduanya duduk bersama di depan api unggun untuk menghangatkan tubuhnya. Mereka duduk bersama sambil menikmati malam dingin yang tenang ini. Selir kecil memeluk pinggang pangeran dan menyandarkan kepalanya di bahu pangeran. Malam ini dia terlihat sangat manja kepada suaminya. Pangeran membalas sikap manja itu dengan menaruh tangannya di bahu selir kecil. Dia mengusap lembut kepala selir kecil yang sedang bersandar di bahunya.
"Pangeran.." panggil selir kecil tanpa menoleh.
"Hm, ada apa selir kecil?" tanya pangeran sambil memegang tangan selir kecil dengan mesra.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bersamamu sepanjang malam ini." ucap selir kecil sambil menatap ke arah wajah pangeran.
"Aku akan selalu berada di sisimu selama yang kamu mau." ucap pangeran dengan lembut.
Keduanya kembali menatap api unggun dan saling bersandar sambil menikmati keindahan sinar bulan malam ini. Selir kecil hanya ingin merasakan ketenangan bersama pangeran sebelum sampai di bukit kehampaan. Dia ingin bersantai bersama pangeran malam ini, meskipun hanya sesaat.
"Apakah ada yang ingin kamu katakan padaku selir kecil?" tanya pangeran khawatir.
"Hm, tidak ada. Aku hanya ingin bersama suamiku malam ini." ucap selir kecil sambil memegang tangan pangeran dengan erat.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi yang aku tahu, aku disini hanya untuk kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan hatimu merasa sendirian. Aku tidak ingin membiarkan perasaanmu terluka." ucap pangeran Xiao San dengan lembut.
"Hm, aku tahu itu. Pangeran adalah suami terbaik. Aku sangat beruntung memiliki pangeran." ucap selir kecil Xixi dan memeluknya dengan erat.
Meskipun sebuah pohon selalu diterpa angin kencang hingg merontokkan daunnya. Meskipun pohon selalu diterpa hujan deras hingga mematahkan rantingnya. Pohon itu akan tetap bertahan hingga menghasilkan buah yang ranum. Begitu pula dengan selir kecil, meskipun hidupnya selalu diterjang dengan ujian dan cobaan yang yang tiada akhir, tetap dia percaya suami dan putranya akan selalu menjadi obatnya.
"Aku mencintaimu." ucap pangeran Xiao San tersenyum kecil.
"Aku juga mencintaimu." ucap selir kecil Xixi tersenyum kecil.
Pangeran Xiao San mengecup kening selir kecil Xixi dengan lembut. Dia menatap selir kecil dengan penuh kerinduan dan cinta. Selir kecil membalas tatapan itu dengan penuh kasih sayang. Keduanya bergandengan tangan dan bersandar di bawah sinar bulan purnama.
...~Bersambung~...
__ADS_1