
Mereka melakukan perjalanan yang sangat panjang. Meskipun terasa sangat melelahkan, namun itu tidak sepadan dengan keinginan mereka untuk membalas semua dendam mereka. Sepanjang perjalanan Xiao Jiwu selalu tidur dengan lelap. Dia merupakan seorang bayi kecil yang sangat pengertian dengan keadaan kedua orangtuanya. Pangeran Xiao San dan selir kecil Xixi secara bergantian mengendarai kereta kuda tersebut. Tak terasa perjalanan itu berlangsung selama dua bulan. Bukit Kehampaan itu terletak sangat jauh dan terpencil. Bahkan tidak semua orang dapat menemukannya karena tersembunyi diantara hutan yang sangat gelap.
"Selir kecil, keluarlah dari dalam kereta kuda. Coba lihatlah." panggil pangeran Xiao San dengan tatapan sangat tajam.
"Ada apa pangeran?" tanya selir kecil Xixi.
Selir kecil Xixi melihat pemandangan yang ada di depannya, dia melihat sebuah kabut gelap yang diselimuti dengan percikan kilatan petir yang seakan ingin menyambar. Kabut itu terdengar sangat sunyi karena tidak ada suara yang keluar namun kilatan itu sangat menakutkan. Kilatan itu seperti cambukan yang sedang mencambuk dengan liar.
"Pangeran masuklah ke dalam. Serahkan padaku." ucap selir kecil Xixi.
Pangeran masuk ke dalam kereta kuda dan menjaga Xiao Jiwu. Dia percaya bahwa istrinya dapat menanganinya. Selir kecil memegang tali kekang kuda itu dan mengarahkan arah jalan kuda itu agar dapat menghindari jebakan kabut itu. Selir kecil sekuat tenaga menghindari kabut itu, namun kabut itu semakin besar dan menyeramkan. Selir kecil mengeluarkan pedangnya dan mencoba membelah kabut itu dengan tangan kanannya sambil mengendalikan tali kekang kuda itu di tangan kirinya.
"Selir kecil, kamu baik-baik saja?" teriak pangeran dengan cemas.
"Aku baik-baik saja pangeran, jangan khawatir. Jaga putra kita dengan baik. Mungkin saja perjalanan kita sedikit terguncang." teriak selir kecil sambil melawan kabut itu.
Serangan pedang selir kecil tak memengaruhi kabut gelap itu, justru kabut gelap itu semakin besar. Selir kecil tak mau menyerah semudah itu, dia mengarahkan pedangnya ke arah kabut gelap itu dan berusaha menghancurkannya. Meskipun kilatan petir itu menyerang tubuh selir kecil hingga dipenuhi luka-luka, dia tidak mau mengalah. Dia terus mencoba menyerang kabut gelap itu. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kabut itu mulai hancur sedikit demi sedikit dan akhirnya selir kecil berhasil menghancurkannya. Setelah kabut gelap itu menghilang, selir kecil langsung memuntahkan darah. Rupanya serangan kabut itu melukai organ dalamnya.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pangeran dengan wajah panik.
"Hm, aku baik-baik saja. Biarkan aku memulihkan diri. Bisakah kita beristirahat di depan sana. Disana ada sebuah sungai kecil." ucap selir kecil sambil meringis kesakitan.
Pangeran mempercepat jalan kereta kuda itu dan memutuskan beristirahat di dekat tepian aliran sungai kecil. Dia membiarkan istrinya untuk beristirahat. Dia mengajak Xiao Jiwu untuk mencari makanan di dekat aliran sungai. Dia terus berjalan hingga menemukan pohon buah plum dan beberapa ikan yang dapat mereka bakar. Pangeran Xiao San tak lupa mencari beberapa tanaman liar untuk mengobati luka selir kecil.
"Apakah kita harus kesana, putra kecil?" tanya pangeran kepada putranya.
Xiao Jiwu hanya tertawa kecil sambil menggerak-gerakkan kakinya. Pangeran Xiao San berjalan menyusuri sungai itu, hingga dia menemukan sebuah gerbang sangat tinggi yang terbuat dari sulur tanaman yang lebat. Dia mencoba untuk menerobos gerbang itu, namun tidak berhasil. Gerbang itu terlihat sangat aneh, ketika pangeran mencoba untuk menyentuhnya, tiba-tiba saja muncul lapisan cahaya tipis.
"Ada apa sebenarnya di dalam sana?" ucap pangeran dalam hatinya.
"Wah, anak ayah sangat ajaib." ucap pangeran sambil mencubit lembut pipi putranya.
Pangeran melangkahkan kakinya secara perlahan dan mulai memasuki gerbang itu. Dia sangat terkejut saat melihat sebuah hutan yang sangat indah di dalamnya. Di dalam hutan itu terdapat air terjun yang sangat deras dan indah. Di sekelilingnya terdapat bunga-bunga yang sedang bermekaran dan di atasnya terdapat banyak kupu-kupu dan burung yang sedang berterbangan. Di sekitar air terjun ada aliran sungai yang jernih dan menyegarkan yang di dalamnya terdapat ikan-ikan yang sedang berenang dengan damai. Di ujung hutan terdapat banyak pohon persik yang sedang menghasilkan buah yang sangat ranum. Pangeran sangat terpukau dengan keindahan hutan kecil itu
Pangeran yang masih terpesona dengan keindahan hutan itu, terus berjalan ke depan hingga menemukan sebuah lubang hitam yang sedang berputar-putar. Pangeran tidak dapat menghindarinya, tubuhnya seperti tertarik oleh lubang hitam itu. Pangeran Xiao San memegang erat putranya dan berusaha untuk melepaskan tarikan itu, namun dia gagal. Tubuhnya semakin ketarik dan mendekat dengan lubang itu. Kaki kanannya sudah masuk ke dalam lubang itu, namun dia terus berusaha untuk melepaskan tarikan itu.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Tubuh ini tidak mau bekerja sama." ucap pangeran sambil menahan kaki kirinya yang mulai masuk ke dalam lubang itu.
Sampai akhirnya, tiba-tiba saja ada tangan lembut yang menarik tangan pangeran. Dia melihat ke depan, dia terkejut ternyata itu adalah selir kecil yang sedang mencoba menolongnya. Pangeran Xiao San berusaha melawan daya tarik lubang itu dan selir kecil berusaha menarik tangan pangeran.
"Pangeran, fokuskan dirimu." ucap selir kecil berusaha menarik mereka.
Selir kecil menahan rasa sakitnya dan mencoba menyelamatkan suaminya. Selangkah demi selangkah, sekuat tenaga menarik mereka dan akhirnya berhasil. Setelah keluar dari lubang hitam itu, selir kecil menebas lubang itu dan menghilang. Pangeran yang masih terengah-engah karena ketakutan, berusaha menstabilkan napasnya. Dia tidak menyangka di dalam hutan yang sangat indah ini, ada hal aneh yang menakutkan.
"Apa itu tadi selir kecil? mengapa aku baru melihatnya?" tanya pangeran penasaran.
"Lubang hitam itu adalah pecahan dari kabut gelap yang kita lihat sebelumnya. Mereka berasal dari roh-roh gelap yang terjebak di hutan itu." ucap selir kecil menjelaskan dengan tenang.
"Aku tidak menyangka ada hal menyeramkan seperti itu." ucap pangeran sambil menghela napas
"Itu baru permulaan saja. Sebaiknya pangeran menyiapkan diri saat sampai di bukit kehampaan." ucap selir kecil Xixi
Selir kecil Xixi mengajak mereka kembali ke kereta kuda, andai saja selir kecil tak menyusul mereka, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka.
__ADS_1
...~Bersambung~...