
Malam yang sunyi Larasati duduk termenung menatap keluar jendela terbawa lamunannya, disaat itu juga ibu datang menghampirinya.
"Cah ayu, hayo lagi mikirin apa to ndhok?"tanya ibunya lirih.
"Laras bingung Bu." ucap Larasati sambil memeluk pinggang ibunya manja.
"Bingung kenapa to ndhok"tanya ibunya lagi sembari memperhatikan putrinya.
"Laras pengen kerja Bu, ikut Pak Lek ke kota. Pengen bantu ibu sama bapak, biar ibu sama bapak gak terlalu capek kerjanya. Laras kan juga gak ngapa-ngapain di rumah Bu." jawab Laras sambil memelas meminta persetujuan ibunya.
"kalo ibu sih terserah kamu ndhok, kamu kan juga udah besar ini udah dewasa. Berhak menentukan pilihan kamu, tapi tanya dulu sama Bapak kamu." ucap ibu sambil mengelus kepala anaknya itu dengan lembut.
"Iya Bu Laras ngerti, besok Laras coba ngomong sama bapak." timpal Larasati
"Ya sudah, udah malam juga, sana cepet tidur. Gak baik anak gadis tidur sampai malam." suruh ibu sambil tersenyum ke putrinya.
"Iya Bu, Laras tidur dulu ya. Malam Bu." jawab Larasati mengucapkan selamat tidur ke ibunya.
Malam pun berlalu begitu cepat. Pagi hari suara kokokan ayam mulai terdengar bising. Ibu Siti adalah nama ibu Larasati, sedang membuat sarapan di dapur, sedangkan Pak Parman ada di kandang ayam sedang mengurus ternaknya. Pak Parman nama Bapak Larasati, beliau memelihara 2 ekor kambing dan beberapa ayam, bebek dan unggas lainnya
Larasati bangun tidur dan langsung mandi, setelah selesai mandi dan bersih-bersih kamarnya dia menuju dapur menghampiri ibunya yang tengah memasak. Seperti biasa Larasati membantu ibunya membuat sarapan di pagi hari.
"Kamu udah bilang ke Bapakmu apa belum ndhok, kalo kamu mau izin pergi ke Jakarta."tanya ibu Siti mengingatkan Larasati.
"Belum Bu, nanti pas sarapan aja Laras bilangnya."jawab Larasati sambil memotong sayuran dan mencucinya.
Setelah mereka selesai membuat sarapan Larasati pun pergi menuju pekarangan belakang untuk memanggil Pak Parman sarapan pagi bersama seperti biasa.
"Pak sarapan dulu, ibu udah siapin. Sini Laras bantuin bersihin kandangnya." ucap Larasati sambil memegang sapu dan pengki.
Larasati berniat membantu bapaknya membersihkan kandang ayam supaya pekerjaan bapaknya cepat selesai, namun bapak Larasati menolaknya karena anaknya sudah mandi takut jika kotoran ayam mengenai badannya dan membuatnya kotor lagi.
"Gak usah ndhok, ini bapak juga udah mau selesai kok." timpal Pak Parman berdiri melangkah menuju putrinya yang tengah menghampirinya.
"Sudah ayok masuk, bapak cuci tangan dulu. Kamu kan sudah mandi, nanti kotor lagi."ucap Pak Parman
"Iya pak." jawab Larasati pelan melangkah menuju pintu masuk belakang rumahnya.
__ADS_1
Laras dan bapaknya melangkah masuk kedalam rumah. Saat makan Larasati membahas prihal dia ingin pergi ke Jakarta untuk ikut bekerja paman dan bibinya yang sudah dahulu pindah ke Jakarta.
"Ndhok..., katanya ada yang mau kamu omongin sama bapak." ucap ibu Siti memberi mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Memang mau ngomong apa?" tanya Pak Parman sambil memakan makanannya.
"Itu lho Pak.... emmm....itu Lo pak em..!" ucap Larasati sambil menelan ludah sembari memainkan jarinya
"A..em a..em.. , apa to ndhok?" timpal Pak Parman yang penasaran dengan tingkah putrinya, tidak biasanya putrinya itu segugup itu.
"Laras boleh gak pak ikut Pak Lek di Jakarta." jawab Larasati sambil menahan rasa was-was apa bapaknya memberikan dia izin atau tidak.
"Kamu mau ngapain ikut Pak Lekmu." tanya Pak Parman sambil mengerutkan keningnya menatap tajam kearah putrinya yang sedang makan.
"Pengen kerja Pak." jawab Larasati dengan nada lirih sedikit takut, pak Parman memang sosok yang tegas dan berwibawa dimatanya.
"Bapak izinin."ucap Pak Parman tegas.
"Beneran pak! Beneran ini Laras diizinin." saut Larasati sembari tersenyum sumringah hatinya lega mendengar jawaban dari bapaknya itu.
"Tapi!" timpal Pak Parman.
"Kamu disana jangan sering-sering nyusahin Pak Lekmu, jaga dirimu sendiri baik-baik, jaga pola makan dan inget jaga kesehatan yang paling utama jangan tinggalkan sholat karena itu pegangan untuk kita, ngerti." tutur Pak Parman menasehati putrinya.
"Siap Pak." ucap Larasati sembari mengangkat satu tangannya sepertinya gerakan memberi hormat. Senyum lebar terpancar di wajahnya mendengar jawaban Bapaknya.
Selesai sarapan Larasati membantu bapak dan ibunya di ladang membersihkan hama tanaman. Malamnya Bapak Parman dan ibu Siti membahas kapan Larasati akan pergi ke Jakarta. Disaat yang bersamaan Pak Parman menghubungi adiknya yang ada di Jakarta untuk memberitahu perihal putrinya yang ingin menyusul mereka ke Jakarta.
Mereka menetapkan tanggal keberangkatan Larasati ke Jakarta yaitu 2 Minggu lagi Larasati akan berangkat ke Jakarta. Sebelum pergi Larasati berpamitan dengan neneknya yang tinggal bersama pak Dhenya, Kakak dari orang tuanya.
Siang itu Larasati pergi mengunjungi nenek dan pak Dhenya, yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
"Assallamuallaikum, Mbah ini Laras." teriak Larasati dari depen pintu masuk
"waallaikumsallam." jawab Bu Dhenya lirih dari dalam rumah.
"Tumben main kesini, mau jenguk si mbahmu ya?" tanya Bu Dhenya penasaran, tidak biasanya keponakannya itu datang berkunjung sendirian. Memang biasanya Larasati berkunjung menengok neneknya bersama ibunya, tentu saja Bu Dhe nya kaget.
__ADS_1
"Iya Bu Dhe, sekalian Laras mau pamitan sama Bu Dhe, Pak Dhe sama Si Mbah."jawab Larasati menjelaskan niat kedatangannya
"Lho..lho..lho.. kamu mau kemana to ndhok, kok mendadak pamitan." ucap Bu Dhenya
"Laras mau ke Jakarta Bu Dhe, mau ikut Pak Lek sama Bu Lek di Jakarta. Mau sekalian cari kerja disana." ucap Larasati sambil memeluk Bu Dhenya
"Ya sudah sini masuk dulu duduk, Bu Dhe buatin teh ya. sekalian Bu Dhe panggilan si mbakmu dikamar, kalo Pak Dhemu lagi ada pengajian dirumah pak Mamat." ucap Bu Dhenya
"Iya Bu Dhe." saut Larasati tersenyum
Setelah Larasati berpamitan kepada nenek dan Bu Dhenya, Larasati pun pulang kerumahnya dan berkemas-kemas mempersiapkan apa saja yang akan dia bawa ke Jakarta. Dia juga membeli perlengkapan mandi dan baju baru untuk dibawa ke Jakarta.
Larasati juga memecahkan celengan ayamnya, menghitung berapa uang yang sudah dia simpan didalamnya selama ini. Untuk berjaga-jaga dia membawa uang dari celengan ayam itu, siapa tau nanti diperjalanan atau dirumah Bu lek nya dia membutuhkannya.
Larasati belum mengetahui jika bapaknya menghubungi pak leknya yang berada di Jakarta untuk menjemputnya dari sana.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sebelumnya ππ»π€ππππ
selamat membaca. jangan lupa like dan komen.
dukungan anda sangat membantu sayaπ€π€
jangan lupa kasih saran yaβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1
jangan lupa kritikannya dan tinggalkan jejakπ€π€π€π€