
Esoknya Larasati beserta keluarganya berangkat ke rumah sakit untuk menjemput pak Kasman, dokter sudah mengizinkan untuk hari ini sudah boleh pulang tidak perlu menunggu esok.
Dirumah Dimas juga sudah ada Wulan, Lily, Oma Astuti, Susan dan teman-temannya. Mereka di datang setelah pak supir mengabarkan jika mereka pulang hari ini. Yang di rumah juga sudah mempersiapkan makanan. Sedangkan Arman dan Raka masih sibuk dengan pekerjaannya, mereka juga sudah ada rencana untuk datang kesana nanti malam.
"Mbak Lily ini buahnya taruh dimana?" Susan sembari m
"Ini taruh dimana makanannya mbak?" Tanya Susan ke Lily.
"Taruh di sebelah sana aja." Lily menunjuk ke lantai yang sudah merek siapkan karpet sebelumnya. Karena meja makan di sana terlalu kecil, jadi mereka memindahkan beberapa perabot diruang tamu supaya tempatnya lebih luas. Dan leluasa untuk makan, tidak berdesak-desakan.
Wulan yang memang hobi memasak pun sibuk di dapur, dibantu Rizky dan teman Dimas yang lain. Anggara tunangan Lily pun ikut datang membantu persiapan penyambutan kepulauan pak Kasman dari rumah sakit.
"Hufth! Capeknya!" Wulan sembari mengelap keringat di dahinya dengan lengannya.
"Capek mbak, sini saya aja yang gantiin." Ucap salah satu teman Dimas (Bagas)
"Eh...gak udah, nanti rasanya beda." Tolak Wulan sambil mengaduk masakannya.
"Mana ada mbak!" Ucap Bagas.
"Siapa sih yang bilang kayak gitu, tahayul itu!!" Timpalnya menegaskan membawa beberapa makanan yang sudah siap keruang tamu.
"Mbak Wulan lucu banget ya, pantesan si Dimas suka!" Celetuk Rizky yang tanpa sadar mengucapkan rahasia Dimas.
"Apa?? Kamu tadi ngomong apa??" Tanya Wulan yang tidak mendengar perkataan Rizky barusan.
"Ohhh.... Enggak mbak, gak apa-apa!" Sontak Rizky kaget dan terbata-bata, lupa jika itu rahasia antar mereka. Rizky pun mengalihkan pembicaraan mereka, dia merasa lega karena Wulan tidak begitu mendengar ucapannya tadi.
"Kamu tadi ngomong apa sih!" Tanya lagi Wulan yang masih penasaran.
"Enggak mbak, aku bilang pantes aja mbak suka masak." Hanya kata itu yang sontak keluar dari mulutnya, membuatnya semakin canggung.
"Maksudnya!!" Ucap Wulan menoleh ke arah Rizky.
"Enggak ada maksud apa-apa kok mbak, ini aku bantu Bagas aja mbak bawa makanannya ke depan." Rizky yang tak tau harus menjawab apa, dia mencari cara untuk kabur.
"Ihhhhhhhh, nih anak aneh banget!!" Ucap Wulan melanjutkan masak-masak.
"Mati gwe, untung aja mbak Wulan gak denger gwe tadi ngomong apa. Kalo sampai denger trus tanya ke Dimas, bisa berabe nasib gwe. Apa lagi kalo mbak Wulan bilang gwe yang ngasih tau, ih mampus gwe." Batinnya merasa lega.
Larasati dan yang lain sudah sampai kerumah, Wulan dan yang lain juga sudah selesai mempersiapkan makan malam. Mereka semua bergegas masuk kerumah, dan menikmati makan malam bersama. Oma Astuti yang baru sampai pun bergabung dan makan bersama, tak ketinggalan pak supir yang menyetir mobil bolak balik menjemput Oma Astuti.
"Gimana rasanya Mbak Laras?" Wulan yang ingin dipuji oleh Larasati.
"Enak kok, semuanya enak banget." Ucap Larasati mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalo mbak Laras suka." Wulan bersyukur karena yang lain juga menyukai masakannya, terlihat dari mereka yang sangat lahap memakan makanannya.
"Emang siapa yang masak?" Tanya Dimas sinis.
"Aku lah siapa lagi." Celetuknya memuji diri sendiri dihadapan semua orang.
Lily dan yang lain makan sembari melihat tingkah mereka yang sudah seperti biasa kalo bertemu. Pak Kasman hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang memang suka sekali adu mulut, bahkan dengan Larasati saja juga seperti itu.
"Eh...!!! Ternyata si genit jago masak juga ya." Ejekan senyum seringai membuat Wulan geram.
"Dari pada elu, bisanya cuman makan." Sindirnya karena kesal.
"Eiiittttsss.....jangan salah mbak. Begini-begini Dimas juga lumayan jago masak lho." Gayanya menyombongkan diri..
"Ayam panggang kan!!! Sama sate, itu doang yang kamu bisa Dim." Saut Larasati timpal meledek Dimas.
"ishhh.....!!! Apaan sih mbak, ikut campur aja." Gerutunya.
"Prffffff....." Wulan menutup mulutnya, menahan tawa.
"Udah makan aja, gak usah bawel. Inget LAKI!!!!!" Larasati teriak dengan mengangkat tangannya sembari bergaya.
Sontak saja semua orang tertawa terbahak-bahak , memang mereka itu pembawa keceriaan jika bersama. Itu juga yang membuat Oma Astuti sangat ingin meminang Larasati untuk Raka cucunya yang kaku dan dingin.
Mereka melanjutkan makan malam dengan nikmat. Tak selang berapa menit terdengar suara klakson mobil Raka di iringi dari belakang mobil Arman, Sedangkan mami dan papinya tidak ikut karena sibuk.
Din...Din....Din...
Din...Din....Din...
"Eh...itu kayaknya suara mobil mas Raka deh Oma!" Tebak Wulan menoleh ke arah Omanya.
"Sepertinya cucu Oma sudah sampai." Senyum seringai Oma membuat Larasati sedikit tegang.
"Semoga aja Oma gak bahas perjodohan didepan ibu sama bapak, kalo ibu sama bapak tau pasti heboh nanti"batinnya.
Larasati takut jika nanti Oma Astuti membahas tentang dia ingin melamar Larasati untuk Raka cucunya didepan kedua orang tuanya, Larasati takut jika kedua orang tuanya menyetujui permintaan Oma Astuti. Larasati tau jika kedua orang tuanya memang sudah lama menginginkan Larasati mencari calon pendamping karena usianya, biasanya perempuan seusia Larasati dikampung memang sudah memiliki pasangan bahkan anak.
"Itu siapa yang dateng?" Ucap Bagas menoleh ke arah pintu masuk.
"Mungkin mas Arman udah Samapi, aku keluar dulu ya." Ucap Susan berdiri bergegas menjemput kakaknya masuk.
Wulan pun tak mau kalah, dia meminta izin Omanya untuk menghampiri Raka keluar.
"Oma, Wulan keluar juga ya." Ucap Wulan yang tak mau kalah cepat.
__ADS_1
"Hati-hati." Ucap Oma Astuti menghembuskan nafasnya.
Wulan dan Susan bersaing menghampiri saudaranya masing-masing, seperti sedang bersaing untuk mendapatkan kakak ipar.
"Aku gak akan ngalah" batin Wulan sambil melirik ke arah Susan yang menghampiri kakaknya.
"heh" Susan memalingkan wajahnya seolah meledeknya.
Mereka pun masuk kedalam, dan ikut makan bersama. Selesai makan mereka duduk diruang tengah, ditengah perbincangan mereka. Oma Astuti mengatakan kepada semua orang yang tengah berada disana untuk meminang Larasati menjadi cucu mantunya, tentu saja Susan dan Arman kaget tidak terima. Hampir saja Arman mengangkat tangannya ingin memukul Wajak Raka, Susan yang melihat kakaknya mengepalkan tangan sontak menggandeng erat lengan Arman dan menenangkannya.
"Mas tenang, sabar dulu." Bisiknya ke telinga Arman pelan sambil tetap menggandeng erat lengannya.
"Disini banyak orang, gak baik mas bikin kesan buruk didepan orang tua mbak Laras." imbuhnya mengelus tangan kakaknya.
Bu Siti dan pak Parman kaget karena tidak menau apa-apa tentang hal yang dibicarakan oleh Oma Astuti, hanya Larasati, Bu Sumi dan Dimas yang tau hal itu. Mereka tidak menyampaikan ke Bu Siti dan pak Parman takutnya mereka syok.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ