
Larasati pulang ke rumah menaiki kendaraan umum, sesampainya di rumah dia melihat Bu lek nya itu tengah mencuci sayuran untuk makan membuat malam. Larasati pun bergegas membantu pekerjaan Bu lek nya itu, Larasati memang gemar memasak.
"Lho sudah pulang ndhok." Sapa Bu Sumi berjalan ke dapur membawa sayuran segar.
"Sudah Bu lek." Ucap Larasati muka lesu dengan tubuh lemas.
"Gimana kerjanya hari ini, lancar" tanya Bu Sumi tentang pekerjaannya.
"Capek Bu lek." Menjawab sambil mengeluh lesu didepan Bu lek nya.
"Dimana-mana kerja itu capek, mau kerja apa aja pasti capek. Jangan kebanyakan ngeluh kalo kerja, disyukuri saja mau kerja apa aja yang penting halal kalo di Jakarta ini." Tutur Bu Sumi menasehati Larasati.
"Iya Bu lek, tapi emang kok. Hari ini tuh ya, pelanggan banyak banget samapi kita kewalahan." Larasati berbicara dengan nada menekan.
"Itu belum seberapa ndhok, Dimas adek kamu tuh pernah cerita ke Bu lek kalo pas hari perayaan tertentu, nikahan akau acara-acara besar pasti toko nak Susan itu sibuk banget. Dimas aja sering lho bantuin mereka juga." Ujar Bu Sumi
"Ah masak Bu lek." Ucap Larasati cepat
"Iya, makanya Bu lek tau." Celetuk Bu Sumi singkat
"Ya udah Laras pergi mandi dulu ya Bu lek, nanti habis mandi Laras bantuin masak." Ucap Larasati
"Gak usah ndhok, kan kamu dah capek gitu." Membalas ucapan Larasati
"Gak apa-apa Bu lek." Ucap Larasati tegas
"Ya udah sana mandi, nanti sayurannya ikut asem kena keringet kamu." Kekeh Bu Sumi membuat Larasati kesal.
"Ih...Bu lek." Teriak Larasati menyebikkan bibirnya melangkah pergi.
Setelah selesai mandi Larasati kembali ke dapur melanjutkan membantu Bu lek nya.
"Udah wangi belum sekarang Bu lek." Tanya Larasati sambil mencium wangi sabun di badannya.
"Udah sini bantuin Bu lek kupas bawangnya aja, sama itu nanti kalo sudah selesai bantuin Bu lek goreng ikan sama tempenya ya. Bu lek mau bikin sambal terus ambil jemuran didepan." Pinta Bu Sumi menyuruh Larasati.
"Iya Bu lek biar Laras yang masak aja." Ucapnya
"Memang ponakan Bu lek paling pengertian gak kayak itu tuh....tuh....!!!!" tunjuk-tunjuk ke arah sofa menyindir sosok yang tengah duduk santai memainkan ponselnya.
"Hahahaha......Bu lek bisa aja." Kekeh Larasati terdengar oleh Dimas, dan membuatnya seketika naik pitam
"Normal lah Bu, namanya juga anak laki-laki. Dimana-mana kan memang itu udah kerjaan perempuan masak." Celetuk Dimas dengan nada tinggi dan kesal melihat ibu dan mbak Larasati mengumpat tentangnya dibelakang.
Mendengat ucapan itu Pak Kasman segera berjalan mendatangi Dimas dan seketika memukul kepala anaknya dengan koran yang ada ditangannya,
"Plak....!!!!!"
"Aduh....sakit tau pak, bapak ini mah gak kira-kira. Anak sendiri dipukul!" Teriak Dimas kesakitan
"Hahahaha......!" Larasati tertawa melihat pak lek nya memukul Dimas.
"Kamu ini kalo ngomong sama ibu kamu gak bisa sopan sedikit." Ucap pak Kasman menatap dengan tajam ke arah puteranya itu.
"Kan itu ibu sama mbak Laras yang ledek Dimas duluan pak." Ucap Dimas dengan nada rendah karena takut dengan bapaknya itu, pak Kasman memang tegas dan seram seperti bapak Parman orang tua Larasati karena mereka saudara. Jadi bisa dibilang karena keturunan yang sama.
"Tapi kan kamu bisa diem aja, namanya juga perempuan cerewet sedikit wajar." Ucap pak Kasman singkat.
__ADS_1
"Hem..., Bela aja terus mereka." Ujar Dimas masih membantah, Dimas pun pergi meninggalkan mereka masuk kedalam kamar.
"ceklek...bleng!!!"
Suara keras Dimas menutup pintu, membuat semua tertawa melihat Dimas ngambek pergi, apa lagi Larasati yang memang suka usil ke adeknya itu. Bu Sumi pun membuat sambal dan pergi meninggalkan Larasati untuk mengangkat jemuran didepan rumah, pak Kasman kembali ke belakang melanjutkan membaca koran.
"Ndhok, pak lek nanti tolong buatkan kopi ya cah ayu." Pinta pak kasman pada Larasati.
"Iya pak lek." Menganggukkan dagunya Menyanggupi permintaan pak lek nya itu.
"Bu lek ke depan dulu ya ndhok, mau ambil jemuran dulu. Sekalian Bu lek mau lipatin, kamu masak sendiri gak apa-apa to." Pinta Bu Sumi pada Larasati.
"Iya Bu lek, tenang aja kalo sama Larasati. Pasti beres." Tersenyum menaik turunkan alis sekaligus mengangkat jempolnya memberi isyarat ke Bu lek nya.
Selesai makan Larasati masuk ke kamar, karena kelelahan Larasati tertidur lelap. Karena efek kelelahan Larasati bermimpi tentang sosok pria tinggi, gagah tampan dan berwibawa datang mengulurkan tangannya ke arah Larasati yang tengah berbaring di atas rerumputan yang hijau, seperti sedang berbaring disebuah tanah lapang yang sangat asri.
Sontak saja Larasati langsung terbangun dari mimpinya, karena dia tidak bisa kembali tidur, dia membuka pintu jendela memandang keluar jendela.
"Bulan begitu terang, suasana tenaga mendampingiku. Kapan aku akan bertemu dengan sosok itu, sosok yang sempat datang dalam mimpi ku." Batinnya sembari melamun dibawah sinar rembulan.
"Hem!"Sembari menghembuskan nafasnya.
"Ah...mimpi sialan, bikin orang bangun malam-malam kan. Jadi gak bisa tidur lagi." ucapnya kesal, mengumpat sendirian ditengah malam.
Saat sarapan pagi pun Dimas masih ngambek ke Larasati dan orang tuanya, dia makan sambil cemberut.
"Masih marah." Ledek Larasati meliriknya sekilas
"Hemmmm...." Hanya itu yang keluar dari mulut Dimas.
"iya...!" jawab Dimas singkat.
"ih..cowok kok ngambekkan, nanti mbak ceritain ah ke Susan kalo sampai toko." celetuk Larasati ejek Dimas.
"Hilihhhh....mbak Laras bisa ya ngancem!!!" jawab Dimas emosi.
"Beneran nih mbak bilangin ke Susan, biar di bilangin ke temen-temen kampus." ledek Larasati menatap sinis.
"Eh...jangan mbak, iya iya gak marah." ucap Dimas dengan muka pasrah.
"Sudah-sudah, sarapan yang bener." timpal Bu Sumi
Selesai sarapan Dimas mengantar Larasati ke toko bunga, di tengah jalan Dimas bertanya ke Larasati bagaimana dengan kerjaannya di tempat Susan karena Larasati sudah hampir 2 bulan bekerja di sana.
"Mbak Laras, gimana kerja di toko. Betah gak mbak, nanti kalo mbak ngerasa terlalu berat atau pengen cari kerjaan ditempat lain. Dimas usahain cari buat mbak Laras, kan mbak tau sendiri Dimas suka keliling-keliling sembari ambil kerja sambilan ojek online." ucap Dimas sembari bertanya ke Larasati.
"Alhamdulillah, mbak betah kok. Gak perlu cari kerja ditempat lain, walaupun mbak capek di sana orang-orangnya bikin mbak semangat terus. Dah gitu baik-baik. Apa lagi pak Maulana dan Bu Melati, pengertian banget ke semua pegawainya. jarang lho bisa dapetin bos kayak gitu Dim!" kalimat Larasati membuat Dimas merasa lega mendengar bahwa keluarga Susan sangat baik ke Larasati.
"Mbak kan tau, Dimas gak bisa marah sama mbak lama-lama. Maaf ya mbak yang tadi pagi Dimas ketus." ucap Dimas
"Iya gak apa-apa, mbak tau kok. hehehehe...!" kekeh Larasati membuat Dimas sedikit gemes dengan tingkahnya
Sesampainya di toko bunga Dimas menurunkan Larasati, Dimas pun memutar motornya mengarah ke kampus dan pergi. Seperti biasa Larasati merapikan bunga-bunga yang ada didalam dan memajang beberapa bunga didepan toko untuk menarik pelanggan. Bunga-bunga sana memang sangat segar karena seminggu pemasok bunga akan datang langsung dari perkebunan ke toko mereka.
Larasati melihat mobil pengantar bunga sudah datang, dia dan beberapa karyawan lain segera menurunkan bunga-bunga itu dengan hati-hati supaya tidak rusak.
Siapa ya kira-kira sosok laki-laki yang ada didalam mimpi Larasati. apa itu mungkin Anggara atau Arman, hemmmm...... atau jodoh Larasati yang akan datang.
__ADS_1
yuk nantikan kelanjutannya kisah
Semanis Senyuman Bunga
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ
tinggalkan masukan dan kritiknya
__ADS_1