
Di rumah Lily Wulan menceritakan tentang Omanya yang ingin menjodohkan sepupunya dengan Larasati membuat Lily sedikit kaget tapi juga ikut seneng, karena kara paman dan bibinya Larasati sosok perempuan yang baik dan cerita.
Pak Kasman saat bekerja merenovasi rumah paman Lily dia selalu menceritakan tentang keponakan yang akan datang dari kampung halamannya.
"Lili sayang." Teriak Wulan sambil memeluk sahabatnya.
"Eh tau gak!" Timpalnya
"Apa." Ucap Lily pelan
"Oma aku tuh ya pengen jodohin Raka sama itu lho cewek yang kemarin kita temuin pas keliling-keliling kompleks." Tutur Wulan sambil mengingat-ingat.
"Yang mana?" Tanya Lily singkat.
"Yang sama Dimas." Ujarnya
"Oo..mbak Laras." Jawab Lily masih cuek karena tau sifat Wulan itu kepoan dan kadang suka salah informasi.
"Iya." Ucap Wulan.
"Kok bisa, emang Oma ketemu mbak Laras dimana?" Tanya Lily yang sedikit penasaran.
"Katanya di toko bunga, kan kamu juga pernah bilang kenal sama mbak Laras pas dia nganterin pesenan bunga Angga kan!" Tutur Wulan menjelaskan detailnya ke Lily.
"Iya sih!" Gumamnya
"Kamu tau gak alamat toko bunganya?" Timpal lagi.
"Em...kayaknya ada deh, bentar aku tulis dulu . Emang kamu mau ngapain?" Jawab Lily sembari bertanya maksud Wulan meminta alamat tempat Larasati bekerja.
"Enggak ngapa-ngapain cuman pengen main aja." Celetuknya.
Lily pun mencari nama toko bunga yang sering Anggara datangi, dia memberikan alamat yang tertulis di kertas kuitansi pembayaran ke Wulan. Wulan pun menuju toko bunga ditempat Larasati bekerja, tanpa diduga dia bertemu sosok tinggi tampan yang waktu sempat ketemu. Saat melihat laki-laki itu ekspresi Wulan sumringah melihatnya. Dari kejauhan Wulan berlari menghampiri Arman dan mencoba mengajaknya berbicara.
"Hay." Sapa Wulan menghampiri Arman. Sedangkan Arman hanya cuek diam seperti tidak melihat keberadaan siapapun.
"Ih cuek banget sih" batin Wulan. Dia belum tau siapa Wulan, semakin dia cuek maka semakin membuat Wulan penasaran dan akan terus berusaha mendapatkan perhatiannya.
"Cuek banget sih, eh jadi cowok itu harus murah senyum." Ejek Wulan menengadah kan mukanya menghadap Arman.
Arman tetap saja bermuka datar dan tetap berjalan menuju toko bunga, Wulan mengikutinya dari belakang.
"Ngapain kamu ngikutin saya??" Ujarnya menegur Wulan.
"Siapa yang ngikutin kamu." Ucap Wulan bingung dengan dugaan Arman.
"Ini! Dari tadi kamu ngikutin saya." Ucap Arman kesal dia pikir Wulan sengaja mengikutinya dari tadi.
"Ih...gr banget, orang aku mau ke toko bunga didepan itu. Siapa juga yang ngikutin." Cibirnya menyebikkan bibirnya sembari melangkah mendahului Arman.
Arman hanya terdiam menatapnya dari belakang. Menatap punggung Wulan sampai dia memasuki toko bunga, Arman pergi menemui maminya. Sedangkan Wulan tengah clingak-clinguk mencari keberadaan Larasati.
"Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang karyawan (Tati)
Masih sambil mencari Wulan berkata "Mbak saya cari mbak Laras nya ada?" Tanya Wulan
"Oh mbak Laras, mbak Laras lagi bantuin yang lain mindahin bunga mbak." Ucap pelayan itu(Tati)
__ADS_1
"Oh...gitu, kalo saya mau ketemu bisa gak ya mbak?" Tanya Wulan
"Tunggu aja mbak nanti jam makan siang." Timpalnya
Sembari menunggu Larasati selesai bekerja, Wulan menikmati secangkir teh susu di cafe sebelah toko bunga milik orang tua Arman. 1jam, 2jam, akhirnya jam istirahat makan siang tiba. Larasati keluar dari toko bunga di ikuti Arman dari belakang, Wulan yang melihat Larasati dari dalam cafe bergegas keluar untuk memanggilnya. Tapi saat dia melihat Arman menghampiri Larasati seketika senyum diwajahnya memudar, dia melihat laki-laki yang dia sukai sepertinya menyukai orang lain. Wulan pun mengikuti mereka dari belakang.
Arman memang sedari tadi menunggu Larasati makan siang bersama. Saat Arman hendak mengajak Larasati makan siang, Larasati sempat menolak. Arman pun tidak menyerah terus menawarkan dan mengajak Larasati makan bersama.
Arman mengajak Larasati makan di restoran dekat toko bunga mengendarai mobilnya, di ikuti Wulan yang juga mengendarai mobil dari belakang.
Di Restoran Wulan melihat Arman begitu perhatian ke Larasati, bahkan Arman membersihkan noda makanan yang tersisa di sudut bibirnya. Membuat Wulan semakin penasaran, apakan mereka ada hubungan dekat. Wulan sempat mengira bahwasanya Larasati akan cocok dengan sepupunya Raka, melihat itu Wulan sedikit ragu bukan hanya ragu tapi juga sedikit cemburu.
Wulan terus mengawasi dan mengintai gerak-gerik mereka selama di restoran.
"Laras kamu udah selesai makannya?" Tanya Arman yang sudah selesai memakan habis semua makanannya.
"Udah." Jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.
"Ya udah aku bayar ke kasir dulu, kamu tetap tunggu disini sebentar." Ucap Arman meminta Larasati menunggunya.
"Iya mas." Jawab Larasati menganggukkan kepalanya, Larasati mulai nyaman dengan sikap Arman yang perhatian padanya. Entah itu mulai sejak kapan.
Saat Arman pergi, Wulan mencoba mendekati Larasati dan berpura-pura bahwa kebetulan mereka bertemu.
"Eh mbak Laras bukan." Sapa wulan
"Iya, benar." Jawab Larasati bingung
"Siapa ya?" Timpalnya
"O... temennya mbak Lily." Ucap Larasati berdiri dari duduknya.
"Iya, kebetulan banget ya mbak kita ke temu lagi disini." Ujar Wulan mencoba basa-basi.
"Iya." Ucapnya singkat.
"Mbak Laras lagi apa?" Tanya Wulan pura-pura penasaran.
"Kebetulan saya tadi lagi makan siang." Jawab Laras menengok ke arah kasir.
Wulan ingin mengajak Larasati pergi ngobrol bersama tapi jam makan siang sudah habis, Wulan pun berinisiatif untuk menemui Larasati sepulang kerja. Karena Larasati tidak bisa menolak, dia mengiyakan ajakan Wulan. Sebelum Wulan pergi dia meminta nomor telfon Larasati supaya lebih mudah untuk menghubunginya, Wulan juga ingin mencari tahu tentang Arman dari Larasati.
Saat pulang kerja Wulan sudah menunggu Larasati dipinggir jalan, dia duduk didalam mobilnya.
"Udah lama nunggunya." Tanya Larasati yang berlari dari depan toko menghampiri Wulan yang berada didalam mobil.
"Lumayan mbak, yuk langsung naik aja." Pinta Wulan.
"Emang mau kemana?" Tanya Larasati yang penasaran ingin dibawa kemana.
"Kita makan dulu sambil ngobrol." Jelasnya ke Larasati.
Larasati hanya tersenyum tipis dan naik ke dalam mobil Wulan. Wulan mengajak Larasati makan di restoran milik keluarganya.
"Mbak Laras ada hubungan apa sama cowok tadi siang?" Pertanyaan kepo Wulan mulai keluar.
__ADS_1
"O...mas Arman, dia itu anak pemilik toko bunga ditempat saya kerja mbak." Tutur Larasati menjelaskan.
"O...namanya Arman, anak pemilik toko mbak Laras kerja. Apa jangan-jangan Arman suka lagi sama mbak Laras.
Hem...gak boleh, Oma dah pesen sama aku buat cari tau tentang mbak Laras." Batinnya tidak ingin membuat Omanya kecewa.
"Memangnya kenapa??" Larasati bertanya balik.
"Enggak mbak, kirain pacar mbak Laras!" Celetuk Wulan.
"Bukan kok." Jawabnya singkat tersenyum
Saat mendengar itu Wulan sedikit lega, tapi dia juga masih belum bisa memberitahukan bahwa Omanya ingin meminta Wulan bisa mengajak Larasati makan dirumah Oma Astuti.
"Mbak Laras kapan-kapan ada waktu gak?" Tanya Wulan.
"Emang mau ngapain?" Tanya Larasati membuat Wulan bingung tadi dia mau mengatakan apa.
"Emm...gak pa-pa, gak jadi. Kapan-kapan aja." Ujarnya sembari tersenyum dan tertawa kecil.
"Ya udah, mbak Laras udah selesai makan kan. Kuta pulang sekarang yuk, Wulan anter." katanya sambil berdiri mengajak Larasati pulang.
"Tapi mbak ini kan belum dibayar." ucap Larasati mengingatkan Wulan.
"Oh iya aku lupa bilang mbak Laras, ini restoran keluarga saya mbak. Tadi saya juga udah bilang ke pelayan buat dimasukin bill saya, saya bisa bayar kapan saja. Gak bayar juga gak apa-apa." ucapnya menjelaskan ke Larasati tidak perlu khawatir.
Setelah mengantar Larasati, Wulan pergi menemui Omanya dan mengatakan bahwa jika Omanya tidak segera bertindak. Larasati akan jadi milik orang lain, padahal Wulan sendiri juga takut jika Larasati jadian dengan Arman. Wulan masih ingin mengenal Arman, dia cinta pada pandangan pertamanya dan Wulan masih belum ikhlas jika Arman jadi milik orang lain.
Setelah Wulan tau bahwa Arman anak pemilik toko bunga ditempat Larasati bekerja, Wulan lebih sering mengunjungi Larasati. Supaya Arman tidak bisa sering-sering mengajak Larasati makan siang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ