Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Shopping seharian


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertunangan Larasati, Raka setiap hari datang ketempat kerjanya untuk makan siang bersama. Kadang Wulan juga ikut, Wulan sengaja ikut karena ingin melihat Arman jika ada disana. Namun Arman selalu berdiri ditempat yang jauh, melihat Larasati jika ada Wulan dan Raka. Dia malas meladeni perempuan genit seperti Wulan, yang terlalu banyak tingkah.


Saat Larasati libur kerja Wulan sengaja datang ke toko bunga, karena sebelum Larasati menikah dengan Raka dia tinggal disana. Sedangkan Dimas tinggal dirumah Oma Astuti karena kedua orang tuanya sudah pulang ke kampung bersama orang tua Larasati diantar supir pribadi Oma Astuti.


"Assallamuallaikum mbak Laras."


"Waallaikumsallam, Wulan kamu ngapain ke sini pagi-pagi."


"Lho, mbak Laras lupa ya! Kan kemarin Wulan udan chat mbak Laras kalo hari ini mau ajak mbak Laras pilih baju pengantin."


"Bukannya mbak udah bilang sama kamu, kalo baju pengantin itu juga banyak ditempat mbak yang sewain."


"Masak sewa sih mbak! Tapi Oma kemarin udah pesen ke desainer langganan Oma suruh datang."


"Ya udah terserah kamu." Larasati hanya tidak mau terlalu berdebat dengan Wulan, tidak ada habisnya.


"Mbak ganti baju dulu sama ambil tas, kamu tunggu aja di sini dulu." Timpalnya meninggalkan Wulan didepan toko.


"Iya mbak."


Saat Larasati sudah pergi, Dewi terlihat baru kembali dari olahraga pagi. Dia membawa sarapan ditangannya.


"Itu bukannya cewek yang suka sama mas Arman." Batinnya


Dewi melihat Wulan dari jauh namun dia enggan menyapanya. Dia langsung berjalan lurus di samping Wulan.


"Ih, siapa sih nih cewek. Sombong amat. Judes kayak gitu, jauh jodoh." Umpatnya lirih.


Larasati yang sudah selesai mengganti pakaiannya, keluar kamar.


"Dewi, dari mana?" Tanya Larasati.


"Habis joging mbak, sambil beli gorengan." Ucapnya melepas sepatunya.


"Mbak Laras mau kemana? Rapi banget." Timpalnya dengan muka datar. Jika orang melihatnya pasti berfikir dia judes dan galak, padahal aslinya orang ramah dan cuek.


"Mau pergi cari baju buat acara nanti. Sekalian mau beli baju buat acara pernikahan temennya Wulan. Ya udah, aku pergi dulu ya!" Laras pun meninggalkan Dewi yang sedang duduk di bangku depan kamar mereka.


"Iya mbak, hati-hati."


"Iya."


Wulan mondar-mandir menunggu Larasati yang masih kunjung datang, dia sekilas melihat mobil Arman namun tidak berhenti.


"Sialan, kenapa perempuan itu setiap hari selalu sana kemari. Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain datang kesini." Batin Arman dari dalam mobilnya.


Padahal Arman juga sengaja ingin ke toko bunga untuk mengajak Larasati keluar walaupun dia sudah tau Larasati akan menikah dengan Raka. Sayangnya dia melihat Wulan yang ada disana, Arman pun mengurungkan niatnya dan pergi.


"Itu kayak mobilnya si ganteng gak sih yang lewat barusan." Gumamnya.


"Hey." Larasati menepuk punggung Wulan dari belakang.


"Eh!!" Sontak Wulan kaget memegang dadanya memejamkan matanya sesaat.


"Ya Allah mbak.......!!!!!! Bikin kaget aja." Gerutunya.

__ADS_1


"Kamu ngapin bengong?"


"Enggak apa-apa mbak, ya udah Ayok jalan." Wulan menggandeng lengan Larasati.


"Iya." Ucap Larasati.


"Siapa yang nyetir?" Tanya Larasati khawatir ke Wulan karena tempo hari dia sempat kecelakaan.


"Supir aku mbak, soalnya mama sama Oma gak izinin aku bawa mobil sendiri."


"Oh, syukurlah." Larasati merasa lega.


Mereka juga pergi sekalian menyiapkan kado untuk Lily dan Anggara yang akan menikah 2 minggu lagi. Lily dan Anggara bertunangan sudah lama sebelum Larasati datang ke Jakarta, Larasati belum tau tentang kabar itu sebelumnya karena sibuk mengurusi pak leknya. Dia tau karena Wulan yang cerita bahwa Lily dan Anggara akan menikah 2 minggu lagi. Padahal sebelumnya Larasati berkeinginan memilih calon suami seperti Anggara yang sangat menyayangi Lily dan penuh perhatian, belum sempat memilih sudah harus menikah dengan Raka.


"Mbak ini bagus deh, mbak Laras mau yang mana?" Wulan menyodorkan beberapa pakaian ke badan Larasati.


"Ehhhhh.., ini bagus kayaknya cocok juga di kulit mbak Laras." Gumamnya.


"Udah gak usah banyak-banyak, ini kebanyakan." Larasati menolaknya.


"Mbak Laras gak boleh nolak, ini perintah Oma. Nanti kalo mbak Laras nolak, aku lagi yang kena marah Oma." Wulan memperlihatkan tampangnya yang memelas. Tentu saja Larasati susah menolaknya.


Wulan dan Larasati tengah memilih beberapa pakaian dan aksesoris. Wulan banyak memborong pakaian untuk Larasati, dan kado yang akan mereka berikan ke Lily juga sudah mereka beli. Larasati tidak perlu mengeluarkan uang karena semua itu yang bayar Oma Astuti bukan Wulan. Oma memberikan kartu kreditnya ke Wulan untuk mereka gunakan. Walaupun Larasati sedikit sungkan tapi dia tetap tidak bisa menolaknya. Karena Wulan tidak akan mengizinkannya menolak, wataknya sama persis seperti Oma Astuti. Mereka asyik shopping seharian.


Ditempat lain, Arman yang sudah samapi rumah langsung pergi keruang kerjanya menyelesaikan pekerjaannya dibandingkan harus terpuruk dalam kesedihan. Dia lebih memilih menyibukkan diri walaupun masih tetap tidak bisa melupakan Larasati sepenuhnya, baru juga beberapa hari.


Sedangkan Dewi yang habis oleh raga pergi jalan-jalan sendiri ke taman.


"Dewi kamu mau kemana?" Tanya Tati.


"Jalan-jalan bentar cari angin." Sambil mengikat tali sepatunya.


"Emang orang itu gak boleh keluar apa? Sekali-kali kan gak apa-apa." Ucapnya.


"Boleh titip makanan gak?" Tanya Tati semangat jika tentang makanan.


"Hem." Gumamnya hanya melirik sahabatnya itu. Sedangkan Gandari masih asik tidur nyenyak dengan mimpinya oppa-oppa Korea.


"Bakso atau ayam panggang kalo ada!"


"Ayam goreng gak mau?" Tanyanya.


"Bosen."


"Ya udah iya, nanti kalo ada aku bawain." Dewi pun langsung pergi.


Di taman Dewi berpapasan dengan Marwa dan Lia yang tengah foto-foto pose cantik. Dewi hanya menyunggingkan senyum.


"Eh Dewi sini." Panggil Lia yang melihat Dewi dari kejauhan. Dewi pun menghampiri mereka.


"Tumben keluar kamar, biasanya asik tuh ngelonin hp." Celoteh Marwa yang memang hobi meledeknya.


"Hem." Dewi hanya tersenyum.


"Sini-sini foto bareng." Lia menarik tangan Dewi untuk berfoto bersama

__ADS_1


"Kekanak-kanakan." Celetuknya, tapi tetep aja ikut foto-foto. Walaupun jawabnya ketus langsung nusuk. Mau bagai mana lagi, itu sudah karakternya.


"Heleh gayanya, bilang aja takut difoto." Cibir Marwa.


"Ngapain sih takut, gak bakal hilang kok mukanya. Masih tetep utuh." Ucap Lia ngedumel dengan nada ngotok.


"Hem." Dewi masih tetap hanya tersenyum.


Mereka pun makan-makan bersama, habis makan Marwa dan Lia berencana ingin nonton bersama. Sedangkan Dewi malas keluar terlalu lama, dia berpisah dengan mereka berdua dan kembali ke toko bunga membawa pesanan makanan yang diminta Tati ayam bakar dan bakso.


"Nih." Dewi menjulurkan tangannya ke Tati.


"Wah, beneran di beliin!" Ucap Tati berbunga-bunga melihat makanan yang Dewi bawa untuknya, melebihi makanan pesanannya.


"Hem." Tersenyum seperti biasa melihat temannya bahagia.


"Ih, makasih banget lho ya. Emang kamu sahabat yang paling baik." Tati bergaya manja membuat Dewi geli melihat tingkah lakunya.


"Iya kalo ada maunya ngomongnya lembutttttttt.......banget." sindirnya.


"Udah sana makan!" Timpalnya, langsung pergi ke kamar dan berbaring. Melanjutkan mimpinya rebahan seharian.


"Iya." Ucap Tati singkat.


Saat sore Wulan dan Larasati baru pulang dari jalan-jalannya. Larasati membawa banyak barang belanjaan, dia juga membelikan beberapa pakaian untuk dia bagikan ke teman-temannya yang bekerja di toko bersamanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


__ADS_2