
Sudah 1 bulan berlalu, tinggal 1 bulan lagi acara pernikahan Larasati akan dilaksanakan dikampung tempat tinggal dan kelahiran Larasati dilakukan. Persiapan pun sudah dipersiapkan secara matang dan detail. Tinggal menunggu hari H. Saat ini Larasati masih bekerja di toko bunga, hanya saja jika nanti waktunya sudah mau menjelang pernikahannya. 2 minggu sebelum dilaksanakan dia akan mengambil cuti kerja selama kurang lebih 1 bulan, dia sudah melakukan kesepakatan dengan Raka sebelumnya. Walaupun mereka menikah, Larasati tetap meminta ke Raka untuk mengizinkannya bekerja di toko bunga sebagai syarat dia menikah dengan Raka.
Rumah Larasati di kampung juga sedang direnovasi Oma Astuti supaya lebih bagus, Oma juga memperkerjakan ART dirumah Larasati walaupun awalnya keluarga Larasati menolak tapi tetap tidak bisa membantah bantuan Oma Astuti.
Wulan datang ke rumah Oma, kebetulan Dimas sedang dirumah juga. Dimas dilarang kerja ojek online oleh Oma, Raka juga menawarkan pekerjaan untuk Dimas dikantornya jika dia mau kerja sambil kuliah. Namun Dimas tertarik di dunia pertanian dan perkebunan.
"Assallamuallaikum." Ucap Wulan didepan pintu masuk kediaman Raka.
"Waallaikumsallam. Eh...non Wulan, mari non silahkan masuk." Jawab mbok Ijah membukakan pintu untuknya.
"Iya mbok. Oh iya, Oma mana ya mbok?" Tanya Wulan.
"Oh Oma, kalo Oma katanya tadi keluar sebentar cek restoran non." Jawabnya sambil menutup pintu kembali.
"O...gitu ya!! Kalo Dimas ada mbok?" Wulan mencoba mencari keberadaan Dimas tapi tak terdengar suara apapun.
"Ada non, dilantai dua. Mbok lihat dari tadi ngerjain tugas." Jawab mbok Ijah, soalnya Dimas tidak menyalakan TV.
"Ya udah kalo gitu saya naik ya mbok." Ucapnya menuju tangga.
"Iya non silahkan, non mau sekalian bawain minum sama cemilan gak?" Mbok Ijah menawarkan makanan dan minuman ke Wulan.
"Em....boleh mbok."ujarnya.
"Ya udah non, mbok ke dapur dulu." Mbok Ijah pun pergi menuju dapur.
Wulan pun naik kelantai dua, dia menuju ruang keluarga yang ada dilantai dua. Dia melihat Dimas sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, beberapa hari yang lalu usianya menginjak 19 tahun. Sekarang hanya beda 5 tahun dengan Wulan, Yah walaupun masih terpaut lumayan jauh tapi tidak bisa Dimas pungkiri kalo dia memang menyukai Wulan.
"Hey ganteng." Teriak Wulan berlari kearahnya.
"Eh mbak Wulan. Lagi cari Oma ya!!?" Ucap Dimas.
"Enggak juga." Ujarnya singkat.
"Trus."
"Mau cari kamu."
"Saya!!!" Membuat Dimas kaget dan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu!" Tegasnya.
"Ada apa mbak?" Sambil mengerjakan tugasnya sesekali dia menoleh ke sosok perempuan ceria yang ada disebelahnya itu.
"Eh Dim, kamu temennya Susan kan?" Wulan mulai mengorek pertanyaan ke Dimas.
__ADS_1
"Iya kenapa mbak?? Mbak kenal sama Susan dari mana?" Dimas pun sedikit curiga, terlihat aneh dari biasanya.
"Emm.....em....dia itu adiknya si Arman kan?" Pungkasnya.
"Ooo..mas Arman! Iya kenapa mbak nanya itu?" Tanya Dimas berhenti mengerjakan tukas kuliahnya dan duduk di sofa sebelah Wulan, yang tadinya duduk dilantai supaya lebih mudah menulis dimeja kecil didepannya.
"Kamu deket gak sama Susan?" Mulai-mulai bertanya hal dasar.
"Mbak Wulan kenapa tiba-tiba bahas Susan." Batinnya penasaran.
"Deket!" Ucapnya singkat.
"Kalian temenan apa pacaran." Ucap Wulan lirih.
"Kok mbak Wulan nanyain itu, apa jangan-jangan dia cemburu sama Susan." Fikirnya.
"Enggak kok mbak, aku cuman temenan aja sama Susan. Lagian juga dia udah punya pacar." Tuturnya menjelaskan ke Wulan supaya Wulan tidak salah faham hubungannya dengan Susan.
"Ooo....aku fikir kalian pacaran. Hem." Ucapnya.
"Kenapa mbak Wulan kelihatan kecewa gitu." Dimas bingung menyipitkan kedua alisnya menatap Wulan.
"Em...Susan pernah cerita tentang Arman gak ke kamu?" Tanyanya dengan tatapan penuh penasaran mengarah ke Dimas, membuat Dimas semakin tegang. Pasalnya Susan pernah cerita jika Arman menyukai Larasati, dia takut kalo Wulan nanti bertengkar dengan Larasati. Padahal Wulan juga sudah tau jika Arman menyukai Larasati, tapi sekarang berbeda. Walaupun Arman menyukai Larasati dia tidak akan cemburu karena Larasati akan menikah dengan Raka kakak sepupunya.
"Enggak mbak. Emang kenapa ya!" Dimas asal menjawab tapi dia masih sedikit tegang.
"Yah!" Wulan sedikit kecewa, padahal tadinya dia mau mencari tahu soal Arman dari Dimas.
"Emang Susan gak pernah gitu cerita soal, misalnya nih ya. Kesukaan kakaknya, makanan favoritnya, kebiasaannya atau hobinya . Kayak gitu deh pokoknya, emang gak pernah?" Kalimatnya terlihat jelas seperti dia sedang mencari tau orang yang dia suka.
"Ooo...!!!! Apa... jangan bilang mbak Wulan suka sama mas Arman!!" Dimas mulai menebak dan ternyata itu benar. Dari jawaban Wulan yang menganggukkan kepalanya. Dimas sedikit kecewa hatinya sedikit perih tapi dia mencoba biasa saja dihadapan Wulan.
"Sejak kapan mbak suka sama mas Arman?" Tanya Dimas mengubah expresinya menjadi datar.
"Sejak pertama kali bertemu." Wulan pun tersenyum meresapi perasaannya Sambil memeluk dirinya sendiri.
"Ihhhhhh....., Kamu kenapa sih kok kayak gak suka gitu lihat orang senang." Saat melihat wajah Dimas yang terlihat tidak suka.
"Apa sih mbak, ganggu aja orang mau ngerjain tugas." Dimas mencoba mengalihkan pembicaraannya mengenai Arman, semakin dia mendengar nama Arman dari mulut Wulan. Hatinya semakin merasa sakit.
"Ternyata mbak Wulan suka sama mas Arman, aku berfikir terlalu jauh." Batinnya.
Dua Minggu sebelum menjelang pernikahannya, Larasati, Dimas dan semua keluarga Raka berangkat ke kampus Larasati. Dewi dan yang lain juga akan menyusul tapi nanti jika sudah menjelang hari H, sekarang mereka tengah sibuk dengan pekerjaannya. Bu Melati sudah menyiapkan bus mini untuk mereka naiki nanti jika akan datang ke acara pernikahan Larasati. Mereka akan datang 3 hari sebelum menjelang hari H karena perjalanannya lumayan jauh, membutuhkan waktu sekitar 1hari 1malam untuk sampai di kampungnya.
Saat Larasati pulang kampung menyambut hari besar, Arman sekarang jarang ketoko bunga. Bahkan hampiri tidak pernah datang berkunjung walaupun hanya menengok.
__ADS_1
"Mas, gak makan? Hayo makan dulu, mama sudah manggil dari tadi." Susan mencoba membujuk kakaknya itu untuk makan, sudah beberapa hari ini kakaknya tidak nafsu makan. Walau makan pun hanya beberapa suap membuat mamanya khawatir.
"Mas gak laper, kamu duluan aja. Nanti mas nyusul." Ucapnya menyuruh Susan pergi, dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia membawa pekerjaannya pulang ke rumah supaya tidak terlalu memikirkan Larasati.
Susah menuju meja makan dengan wajah pasrah dan lesu.
"Gimana dek?" Tanya mamanya terlihat dari mukanya sangat khawatir.
"Masih aja sibuk ma. Gak mau diganggu." Ujarnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah kalo gitu, biarin aja dia tenang dulu beberapa hari kedepan. Tapi jika masih seperti itu, papa nanti yang akan bicara sama kakak kamu. Ya udah sekarang kita makan dulu." Ucap pak Maulana menghibur istri dan putrinya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ
__ADS_1