
Arman ingin menemui Larasati untuk mengajaknya makan siang bersama sekaligus ingin mengajak Larasati jalan-jalan keliling kota Jakarta. Karena semenjak Larasati sampai di Jakarta dia belum sempat jalan-jalan karena langsung kerja.
"Wih mas Arman tumben siang-siang gini ganteng banget, mau pergi kemana." Ledek Susan yang penasaran dengan dandanan kakaknya, biasanya hari minggu kakaknya hanya akan dirumah duduk di kursi ruang kerja seharian.
"Anak kecil diem aja." Kalimatnya membuat suana semakin penasaran.
"Hah...." Susah kaget dan membuka mulutnya lebar-lebar.
" Mas punya pacar ya." Sindirnya
"Em... enggak."jawabnya gugup membuat adiknya semakin bersemangat untuk menjaili kakaknya itu.
"Mami mas Arman mau pergi keluar nih, kayaknya gak mau makan siang dirumah. Dia mau jemput pacaran." Teriak Susan berlari ke dapur menghampiri mamanya yang sedang memasak capcay kesukaannya.
"Diem gak." Dengan emosi Arman menarik tangan Susan dan menutup mulutnya.
"Enggak Mi, Arman lagi ada janji makan siang sama klien." Ujarnya mencari alasan untuk membohongi maminya.
"Hari minggu begini memang masih kerja, bukannya kamu bilang kalo minggu kamu gak akan pernah ambil kerjaan." Ungkap maminya sembari memasak.
"Heleh, mi paling nih ya. Mas Arman lagi naksir cewek." Celetuk Susan, tangan Arman seketika mencubit pinggang adiknya itu.
"Udah jangan ngomong yang gak bener." Tegur Arman menatap tajam adiknya.
"Mi, Arman pergi dulu ya. Takut telat!" Ungkapnya melangkah pergi meninggalkan Susan dan maminya yang tengah memasak di dapur.
Susan masih penasaran dengan kakaknya itu, dan menggunjingnya dengan maminya.
"Mi kayaknya mas Arman beneran lagi jatuh cinta deh, soalnya dari kemarin Susan perhatiin mas Arman makin sering mampir ke toko bunga kita mi." Bisiknya sambil memasang mimik muka curiga.
"Masa sih, kamu ini ada-ada aja. Orang mas kamu bilang mulai sekarang dia mau makan siang bersama." Maminya juga ikut penasaran tapi masih berfikir positif.
"Hilihhhh... bersama apanya, orang dia aja ke toko bunga terus. Jangan-jangan nih ya mi, mas Arman naksir sama salah satu karyawan mami deh. Coba aja nanti perhatiin gerak-gerik anak kesayangan mami itu." Pinta Susan ke maminya untuk mengawasi kakaknya.
"Hus!!!!! Sudah-sudah...jangan ngomong kakak kamu terus, gak baik. Mending sini bantuin mami masak!" Bu Melati memotong pembicaraan Susan.
"Hehehehe..." Kekeh Susan.
"Kan mami tau Susan gak bisa masak, masak air aja pancinya gosong." Imbuhnya
Susan pun pergi meninggalkan maminya memasak dibantu pembantunya. Didepan rumah Susan ada pak Dadang tulang kebun yang sedang merapikan tanaman menyapanya.
"Siang non." sapa pak Dadang sembari memotong rumput disudut halaman yang sudah mulai memanjang.
"Siang bapak yang rajin, istirahat dulu pak. Dah siang, nanti kalo agak sore'an aja lanjutin lagi." pinta Susan dengan lembut dengan gaya lenjehnya
"Nanti aja non, bentar lagi." ujarnya
"Eh...ehh...pak Dadang tau gak mas Arman tadi mau pergi kemana." tanya Susan ke tukang kebunnya siapa tau dia tadi nanya kemana kakaknya itu pergi.
"Oh...deh Arman ya non, tadi bapak tanya bilangnya mau pergi makan siang sama temennya non." jelasnya kepada Susan yang penasaran
"Terus..terus...!!" timpal lagi
"Terus katanya mau sekalian keliling gitu, keliling apa bapak juga gak ngerti."
__ADS_1
"Oh gitu ga!" bisiknya
"Tuh kan bener tebakan Susan, mas Arman ini lagi nyembunyiin sesuatu kalo enggak pacar pasti lagi jatuh cinta nih. Gak biasanya dia hari minggu dandan ampe ganteng gitu." batinnya
"Ya udah non, kalo gitu bapak mau lanjut dulu nyapu rumputnya." ucap pak Dadang
"Oh iya pak." celetuk Susan
Arman mengenai mobilnya menuju ke arah rumah Dimas, sesampainya di sana. Arman bingung harus mengucapkan apa untung mengajak Larasati pergi makan siang bersama.
Arman menunggu didepan rumah Dimas sekitar 1jam lamanya tapi tetap tidak berani turun dari mobil, dia masih memikirkan harus berbicara apa.
Akhirnya dia pergi meninggalkan rumah Dimas karena bingung harus berbuat apa, siang bingung nanti jika orang tua Dimas dan Larasati bertanya tentang keperluannya datang ke sana untuk apa. Karena lapar Arman berhenti di depan restoran Delicious food Resto.Tanpa sengaja dia menabrak seorang perempuan cantik yang baru saja keluar dari dalam restoran tersebut.
"Bruk..!!"
"Aduh!" Teriaknya sepontan.
"Maaf." Ucap Arman dengan nada dingin dan muka datar
Seketika sosok perempuan itu mendongak ke atas melihat sosok tampan dan gagah, tiba-tiba wajahnya berubah senyum tipis. Dia terpesona oleh pandangan pertama pada sosok laki-laki yang tengah berlari didepannya itu.
"Tolongin." Pinta dengan nada manja
"Bantuiiinnnn....kan kamu yang nabrak aku barusan, sakit tau." Perempuan itu pun mengulurkan tangannya meminta tolong dengan gaya manjanya.
"Hem!" Hanya itu kalimat yang keluar dari gumamnya sembari mengulurkan tangan cuek.
Membuat perempuan itu semakin menyukainya, setelah berdiri. Dia memperkenalkan dirinya kepada Arman, tentu saja Arman tetap cuek dan dingin. Tidak membuat perempuan itu jera.
Hanya saja Arman tetap cuek dan mendongak ke atas membaca nama resto dan berbalik pergi. Tiba-tiba dengan nekat Wulan merogoh saku celananya Arman untuk mengambil handphone Arman tanpa seizinnya.
"Apa yang kamu lakukan, kembalikan." Bentaknya mengerutkan kedua alisnya menatap tajam sosok wanita didepannya itu.
"Enggak." Celetuknya tanpa takut sedikitpun.
"Lancar sekali." Bentaknya masih emosi dengan tingkah perempuan nekat satu ini.
Wulan hanya tersenyum sinis dan menaik-turunkan alisnya. Sesegera mungkin dia mengetik nomor ponselnya di handphone Arman aman untuk menelfon kontak nomornya sendiri supaya nomor Arman masuk ke handphonenya. Cara yang pintar dan cerdas.
Setelah panggilan masuk Arman seketika merebut handphone kembali dan berkata.
"Dasar perempuan gila" hujatnya pergi meninggalkan Wulan.
Disisi lain Wulan sangat antusias bertemu dengannya lagi.
"Sampai jumpa lagi." Teriaknya tanpa malu.
Didalam mobilnya Arman masih memaki-maki Wulan.
"Dasar perempuan gila, lancang sekali dia." Umpatnya dalam hati.
Arman pun pulang dengan penuh kesal, bahkan dia sampai lupa jika dia belum makan siang. Disepanjang jalan Arman masih memaki-maki perempuan yang ditemuinya didepan restoran.
Sesampainya dirumah, Arman pergi ke dapur melihat dimeja makan semua sudah dibersihkan. Semua sudah selesai makan siang sedangkan dia tengah kelaparan, dia pergi ke dapur belakang mencari bibi untuk membuatkan makanan.
__ADS_1
"bik.."panggil ya
"bik ina..." teriaknya
"Iya den ada apa ya?" jawab bi Ina yang dari pekarangan.
"Tolong bibi buatkan saya makan siang." meminta dibuatkan makanan karena kelaparan.
"lho bukannya Aden tadi keluar mau makan siang ya" ucap bi Ina.
"Ah...udah bibi gak usah banyak tanya. Buatkan saja saya makanan cepat." pintanya dengan emosi.
"Perempuan gila tadi sudah membuatku kelaparan, awas saja kalo sampai ketemu lagi." ancam nya dalam batin
Bi Ina pun ke dapur karena makan siang yang mereka buat tadi sudah habis terpaksa bi Ina membuatkan Arman nasi goreng komplit yang praktis dan mudah.
Disisi lain Wulan sangat bahagia bisa bertemu laki-laki idamannya yang gagah, tinggi, tampan, putih dan berwibawa seperti Arman.
Dengan wajah yang berseri-seri dia terus memikirkan Arman, sampai-sampai dia tidak bisa tidur nyenyak karena membayangkan muka Arman. Dia ingin segera menemui sahabatnya untuk menceritakan itu padanya, Wulan sangat antusias. Wulan belum pernah pacaran sebelumnya, jadi itu bisa dibilang cinta pertamanya. Sejak sekolah dia belum menemukan pria idamannya seperti yang dia impikan seolah ada di diri Arman.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga
jangan lupa like dan coment yaπ
__ADS_1
tinggalkan masukan dan kritiknya