Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
pertunangan yang lancar


__ADS_3

Esok harinya Dewi membereskan barang-barangnya yang akan dibawa pindah ke toko bunga bersama Tati. Di toko bunga sudah ada Gandari dan yang lain sedang berkenalan, ada juga Arman yang tengah membantu Gandari membereskan barang-barangnya. Saat Dewi melihat Arman, dia termenung beberapa saat. Tapi dia tidak bisa mengatakan apapun.


Larasati meneleponnya dan meminta tolong padanya untuk menyampaikan izin cuti hari ini karena dirumahnya akan ada acara lamaran dengan Raka. Hanya acara kekeluargaan saja, jadi tidak banyak orang yang diundang.


Dewi bingung harus menyampaikan apa ke Arman. Dia sama sekali tidak berani memberitahukan hal itu ke Arman tapi langsung ke Bu Melati.


Dewi pun pergi keruangan Bu Melati seusai membereskan barang-barangnya dikamar belakang.


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan pintu.


"Siapa?" Ucap Bu Melati yang tengah duduk menghitung jumlah omset bunga.


"Permisi Bu, saya Dewi. Apa saya boleh masuk?" Jawab Dewi dari depan pintu.


"Oh iya silahkan." Bu Melati mempersilahkannya masuk.


"Oh kamu, iya. Kenapa Wi?" Imbuhnya ketika melihat Dewi.


"Ini Bu, tadi saya ditelepon sama mbak Laras. Kayanya hari ini dia minta izin soalnya nanti malam mau ada acara dirumahnya. Jadi mbak Laras minta saya bilangin ke ibu."


"Oh gitu, memang ada acara apa?" Tanya Bu Melati yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Em...gimana ini jawabannya." Batinnya bingung.


"Aduh...aki harus ngomong apa!" Imbuhnya dalam hati.


"Eh..em.. mbak Laras. Katanya mbak Laras nanti malam mau tunangan Bu, dia bilang sudah menerima lamaran dari seseorang. Tapi saya juga kurang tau." Jawabnya.


"Tunangan!" Bu Melati sontak saja kaget mendengarnya, sambil berfikir. Pasalnya dia tau anak laki-lakinya juga menyukai Larasati.


"Kalo gitu saya permisi dulu ya Bu." Ucapnya lirih.


"Em...ya sudah kamu boleh keluar." Jawab Bu Melati.


Saat dirumah Bu Melati Melihat anak laki-lakinya yang baru pulang dari kantor segera memintanya duduk, Susan yang dari dapur melihat itu segera ikut nimbrung duduk disampingnya maminya itu.


"Kak baru pulang?" Tanya maminya pada putranya itu yang baru saja masuk rumah.


"Iya mi." Jawabnya lemas terlihat jelas dia sedang kecapekan.


"Sini dulu kak. Mami mau ngomong penting." Pinta maminya.


"Kenapa mi?" Ucapnya lembut.


"Sudah sini duduk dulu!" Pintanya lembut.


"Papa mana mi?" Tanya Arman menaruh tasnya diatas meja.


"Papa kamu masih sibuk di toko."


"Ada apa mi?" Tanya Susan berlari dari dapur menuju ruang tamu.


"Ssttttt! Kamu diem aja dulu." Ucap maminya meminta anak perempuannya untuk tidak ikut campur.


"Ih mami."celetuknya.

__ADS_1


"Mami lagi mau ngomong serius sama kakak kamu!" Tuturnya


"Hem!!" Susan kesal memanyunkan bibirnya seperti bibir bebek.


"Ya udah, mami mau ngomong apa sama Arman?"


"Kayaknya serius banget, emang mami mau ngomong apa sih kok aku jadi makin penasaran. Gak biasanya mami kayak gini!!" Batin Susan.


"Kata salah satu karyawan mami, Laras malam ini mau bertunangan. Apa kamu sudah tau?" Tuturnya menceritakan apa yang disampaikan karyawannya tadi siang.


"Apa? Tunangan!!!" Ucap Arman kaget dia teringat ucapan Wulan kemarin menjadi kenyataan. Tapi dia masih belum percaya.


"Tu..tu..tunangan!! Kok Susan gak tau soalnya ini mi. Dimas juga gak ngasih tau Susan." Karena Susan kaget dan ingin memastikan kebenaran itu. Dia langsung lari ke kamar mencari handphonenya untuk menghubungi Dimas.


Arman pun langsung berdiri bergegas untuk pergi ke rumah Dimas.


"Kamu mau kemana kak?" Tanya Bu Melati khawatir pada putranya.


"Arman mau memastikannya langsung mi." Ucapnya tegas.


"Hem." Bu Melati hanya bisa membiarkan anaknya itu pergi.


"Semoga kamu bisa mengikhlaskannya kak, mami tidak bisa membantu kamu. Mungkin kalian memang bukan jodoh." Batin Bu Melati melihat putranya sudah pergi mengendarai mobilnya.


Dewi datang ke acara pertunangan yang digelar keluarga Larasati dan Raka tanpa diundang. Tapi sebelum dia sudah menghubungi Larasati jika dia akan datang ke acara pertunangan mereka dan menanyakan apa yang sebelumnya terjadi di resto tempo hari.


"Permisi, assallamuallaikum." Dewi pun memakai pakaian rapi karena dia tau jika Larasati akan bertunangan, dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.


"Waallaikumsallam." Sambut beberapa kerabat Dimas.


"Mbak siapa ya? Cari siapa?" Ucap Dimas mendekati Dewi.


"Oh temennya Laras tho, mari masuk ndhok." Ucap pak Parman.


"Mbak Laras nya ada dimana ya pak?" Tanya Dewi ke pak Parman bapak Larasati sambil menoleh mencari keberadaan Larasati.


"Oh Laras, dia masih dikamar ndhok. Masuk aja." Ucap ibu Siti.


Malam sebelum acara pertunangan dilakukan, Dewi masuk ke kamar Larasati dan bertanya prihal kemarin. Dewi meminta Larasati jujur padanya sebenarnya ada masalah apa.


"Mbak Laras." Ucapnya dari depan pintu dan segera masuk ke kamar Larasati dan menutup pintunya dengan rapat.


"Dewi!" Ucap Larasati kaget


"Kamu ngapain kesini?" Tanyanya.


"Apa mbak Laras masih tegang." Dewi melihat raut wajah Larasati yang terlihat berkeringat dingin.


"Iya mbak, sedikit." Ujarnya.


Setelah Larasati menceritakan semuanya kepadanya, Dewi pun hanya terdiam. Dia sendiri tidak tau harus berbuat apa jika ada diposisi Larasati.


"Jadi karena masalah uang dan sepupunya menyukai mas Arman, mbak Laras harus menanggung semua ini." Batinnya.


Dia saja sedang kesusahan uang karena kakaknya mengalami kecelakaan, jadi dia tau posisi Larasati seperti apa.


Mobil keluarga Raka pun sampai, ada Lily dan Anggara juga. Pak Husen, Bu Olivia, Firman dan Zaki keluarga Lily juga datang menjadi saksi pertunangan. Dan beberapa tetangga terdekat. Orang tua Wulan tidak bisa hadir karena masih diluar kota.

__ADS_1


Susah sedari tadi menelfon Dimas berkali-kali tapi tidak direspon, tidak diangkat sama sekali membuat susah kesal. Dimas tengah sibuk membantu menyiapkan semua perlengkapan, makanan dan perabotan makan tidak sempat mengangkat teleponnya yang dia letakkan dikamar. Dia lupa membawanya hingga tidak tau jika Susan menghubunginya berkali-kali.


๐Ÿ“žTut...Tut...Tut...


๐Ÿ“žTut...Tut...Tut...


โ˜Ž๏ธMaaf nomor yang anda tujuh tidak menjawab, coba beberapa saat lagi**.


Selalu seperti itu berkali-kali.


"Ini mana sih Dimas." Ihhhhhh....ngeselin banget sih, gak diangkat-angkat. Apa dia sengaja gak mau ngasih tau aku." Batinnya kesal.


Dimas saja sedikit kaget saat mengetahui jika Larasati menerima lamaran Raka tempo hari, Dimas fikir jika Larasati akan menolaknya.


Arman pun sampai dirumah Dimas, dia turun dari mobilnya melihat Larasati dan Raka dari kejauhan bertukar cincin pertunangan.


"Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu Laras, saya mungkin tidak bisa memiliki kamu. Tapi jika dia menyakiti kamu, saya tidak akan tinggal diam." Ucapnya dalam hati.


Dari kejauhan Dewi melihat Arman yang berdiri di samping mobilnya memperhatikan rumah Dimas dari kejauhan, sebenarnya Dewi tidak tega melihatnya tapi dia tidak bisa apa-apa.


Dewi ingin memberitahu Arman tapi dia juga tidak tega menghancurkan acara pertunangan Larasati saat Larasati mengatakan jika Oma Astuti sakit jantung.


Jika penyakit jantung Oma Astuti kambuh sewaktu-waktu, pasti di yang ada di salahkan oleh semua orang.


Pernikahan mereka sudah ditentukan dua bulan lagi karena tidak semudah itu mengurusi semua berkas-berkasnya dengan tergesa-gesa. Butuh persiapan panjang.


Pertunangan Larasati dan Raka pun berjalan dengan lancar, dan pernikahan mereka akan dilakukan dikampung halaman Larasati 2 bulan lagi. Itu permintaan orang tua Larasati, soalnya neneknya Larasati sudah tua tidak bisa bepergian jarak jauh. Dua hari kemudian orang tua Larasati dan orang tua Dimas pulang kampung. Dimas mengantar kan mereka. Larasati yang tidak mau merepotkan Oma Astuti untuk tinggal dirumahnya memilih untuk tinggal di toko bunga ikut teman-temannya yang lain.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment ya๐Ÿ˜‰


__ADS_2