Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
Oma mengingatkan janji Raka


__ADS_3

Oma menjelaskan bahwa dia sudah melamar Larasati sebelumnya, dan itu pun belum ditolak oleh Larasati dan Bu Sumi. Bu Sumi meminta Oma Astuti untuk mengatakan langsung ke orang tua Larasati. Sekarang kan kedua orang tua Larasati ada di Jakarta, jadi Oma Astuti langsung saja mengatakannya sebelum mereka kembali ke kampung.


Suasananya sedikit tegang karena keberadaan Arman disana, soalnya Bu Sumi tau jika Arman juga menyukai Larasati. Bu Sumi tau dari Dimas diceritakan oleh Susan tempo hari padanya. Susan pun tak kalah khawatir dengan perasaan kakaknya, dia takut jika amarah Arman sewaktu-waktu meledak.


Bu Siti dan pak Parman tau sifat anaknya yang tidak enakan untuk menolak permintaan orang, Bu Siti pun lantas menyampaikan ke Oma Astuti untuk memikirkannya kembali. Pak Parman pun meminta keluarga Raka untuk menunggu sekitar 1 Minggu kedepan untuk berkunjung kembali kerumah beliau dan membicarakannya secara pribadi.


Keesokannya...


Di jam makan siang Raka menemui Larasati ditempat dia bekerja, Raka mengajak Larasati makan diluar untuk membicarakan hal penting dengannya. Disisi lain Arman juga hendak menuju toko bunga milik orang tuanya untuk mengajak Larasati makan siang bersama.


Raka keluar dari pintu mobil berjalan ke arah Larasati yang tengah menyiram beberapa bunga dengan semprotan air.


"Ehem" Raka mencoba menyapa Larasati tapi dia memang susah untuk berucap kata, seperti berat untuk membuka mulutnya.


"Ah!!!!" Teriak Larasati kaget melihat Raka yang sudah berdiri tegak dibelakangnya. Tanpa sengaja Larasati menyempurnakan air yang ada ditangannya ke muka Raka hingga basah.


"Hem." Raka hanya diam menatap tajam ke arah Larasati sembari menahan emosinya.


"Hem...maaf mas! (Dengan nada lirih) Habisnya mas Raka ngagetin aja, ngapain mas Raka kesini? Mau pesen bunga buat Oma?" Tanya Larasati sambil mengelus dadanya menenangkan jantungnya yang sempat dikagetkan oleh Raka.


"Kamu gak bisa apa jadi perempuan lebih lembut sedikit." Tegur Raka mengelap mukanya dengan sapu tangan yang ada di saku celananya.


"Itss...! Sambil menyebikkan bibirnya.


"Siapa suruh ngagetin, tau-tau dah berdiri dibelakang. Siapa juga yang gak kaget." Gumamnya.


Larasati mencoba mengulurkan tangannya untuk mengelap muka Raka.


"Kamu mau ngapain!" Tegasnya, menepis tangan Larasati.


"Katanya tadi minta pertanggungjawaban, ini kan mau bantuin lap lah!" Ucap Larasati.


"Gak perlu. Kamu gak lihat saya sedang apa?" Kata-kata Raka memang tegas dan sedikit kasar.


"Hilih, jadi cowok bawel amat." Umpat Larasati lanjutkan kerjanya.


"Kamu tadi bilang apa?" Tanya Raka yang melihat bibir Larasati seperti ledeknya.


"Ha, apa?" Tanya Larasati.


"Kamu tadi ngata-ngatain saya?" Cecar Raka.


"Ha!!!! Larasati heran melihat tingkah Raka akhir-akhir ini yang sedikit aneh terhadapnya.


"Siapa juga yang ngomongin mas Raka, lagian nih ya. Mas Raka akhir-akhir ini kenapa? Mas Raka sakit?" Sindir Larasati menatap tajam kearah Raka.


"Maksud kamu apa? Saya kesini mau ngajak kamu makan siang sekaligus membahas hal penting." Raka mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Hal penting apa?" Membuat Larasati penasaran.


"Yang jelas tidak bisa saya katakan disini." Tegasnya memalingkan pandangannya kearah lain.


"Hufffftt" Larasati hanya menghembuskan nafasnya.


"Ya udah mas Raka tunggu aja dikursi sebelah sana sebentar, masih 30 menit lagi baru jam istirahat makan siang. Laras mau semprot air bunga yang sebelah sana." Sambil menunjuk arah kursi dan bunga, Larasati berpindah kesudut toko.


"Iya." Raka melangkah menuju kursi yang ada dibawah pohon samping mobilnya parkir, memang agak jauh dari toko bunga. Tapi apa boleh buat, ditoko bunga tidak menyediakan untuk pelanggan.


Sambil menyemprot bunga-bunga Larasati melirik ke arah Raka "Sebenernya ituh orang mau ngomong apa sih, pake sok-sok rahasia segala." batinnya.


Arman sedang membereskan berkas-berkas dikantornya dengan terburu-buru, dia mempercepat pekerjaannya karena ingin menanyakan tentang lamaran Oma Astuti kemarin. Dia ingin tau apa Larasati akan menerima lamaran Raka atau tidak, bahkan dia sampai tidak bisa tidur nyenyak memikirkan jika Larasati menyetujui permintaan Oma Astuti.

__ADS_1


Raka terus memandangi semua gerak Larasati, tiba-tiba...


Kring...kring...kring...


Telfon dari Oma Astuti yang sedang bersama Wulan. Raka mengedipkan mata dan menggelengkan kepalanya menyadarkan diri dari lamunannya yang tertuju ke Larasati. Dia pun mengangkat telepon dari Omanya.


"Assallamuallaikum." Ucap Oma Astuti.


"Waallaikumsallam." Jawab Raka.


"Kamu lagi dimana?" Tanya Oma.


"Bukannya kemarin Oma minta aku untuk bawa Laras makan siang, ini aku lagi nunggu dia selesai kerja." Raka mengingatkan Oma tentang permintaannya kemarin kepadanya.


"Oma pikir kamu bohong sama Oma." Ujarnya seperti anak manja.


"Enggak lah Oma." Jawabnya singkat.


"Kamu masih inget kan janji kamu kemarin." Oma mengingatkan Raka tentang janjinya yang akan meminta Larasati menerimanya sebagai suaminya.


"Iya Oma sayang, ini juga Raka lagi coba usahain. Oma sabar dulu ya, Raka gak lupa kok!" Raka mencoba merayu Omanya supaya tidak terus-menerus mendesaknya.


"Janji ya, kalo kamu sampai bohong nanti sakit jantung Oma kambuh lagi." Ancamannya.


"Hem, Raka gak akan lupa." Uapnya dingin dengan muka datarnya.


"Awas kalo kamu sampai bohongin Oma, Oma gak akan minum obat." Tegasnya


"Iya Oma, iya. Bakalan Raka usahain, janji!" Raka mencoba membuat Omanya percaya.


"Ya sudah kalo gitu Oma tutup dulu." Oma pun sedikit lega.


"Assallamuallaikum." Oma mengakhiri pembicaraannya.


"Waallaikumsallam." Raka pun menutup panggilannya.


Setelah Raka mengakhiri telfonnya, dia melihat kembali ke arah Larasati. Raka memperhatikan Larasati, kenapa Omanya dan Wulan bisa sesuka itu dengan Larasati.


Beberapa saat kemudian Larasati menghampirinya.


"Udah selesai." Tanya Raka.


"Udah, emangnya mas Raka mau ajak Laras makan dimana? Trus mau ngomong masalah apa? Apa sampai sepenting itu?" Larasati mencecar banyak pertanyaan ke Raka.


"Kamu masuk mobil aja dulu, kita bicarakan ditempat lain." Suruhnya memerintah Larasati mematuhinya


"Hem." Gumamnya.


Larasati pun masuk kedalam mobil, Raka membawa Larasati makan di restoran milik keluarganya.


Disisi lain Arman yang seselai membereskan berkas-berkas dikantornya bergegas ke toko bunga milik keluarganya. Sayangnya Larasati sudah pergi makan siang duluan bersama Raka.


"Mbak, Laras mana ya? Kok saya dari tadi gak lihat dia?" Tanya Arman ke salah satu karyawan yang ada disana.


"Ohh...mbak Laras. Tadi sudah pergi sama cowok mas, katanya mau makan siang." Jawab Lia sambil mengemasi beberapa bunga yang masih berserakan diatas meja.


"Cowok." Ucap Arman sedikit penasaran.


"Iya mas!" imbuhnya.


"Siapa mbak?" Arman bertanya kembali.

__ADS_1


"Kita juga kurang tau mas, tapi orangnya tinggi, putih ganteng lagi." Jawab Dewi sambil tersenyum memujinya.


"Sialan!!!!" Umpatnya.


"Beraninya kau Raka, kau fikir aku akan menyerah begitu saja. Lihat saja nanti siapa yang akan jadi pemenangnya." Batinnya.


Terlihat jelas diraut wajahnya, amarah yang dari kemarin dia pendam meledak. Arman pun tanpa sadar menepis pot bunga yang ada di pintu masuk hingga terjatuh dan pecah, tanahnya berserakan.


"Ahhh!!!!!" Beberapa karyawan berteriak kaget.


Arman pun pergi dari toko bunga milik orang tuanya dengan amarah yang masih meluap-luap. Beberapa karyawan toko pun penasaran dan panik.


"Itu tadi kenapa mbak?" Tanya Tati yang dari kejauhan melihat kejadian itu.


"Aku juga gak tau tadi kenapa." jawab Lia yang juga bersama Dewi pas dilokasi kejadian.


"Emang tadi dia nanya apa mbak?" Saut Marwa yang juga penasaran.


"Nanya mbak Laras, trus saya yang jawab kalo mbak Laras pergi makan siang sama cowok ganteng. Udah itu aja kok." Tuturnya menjelaskan kronologi permasalahan.


"Ooooooo......mungkin aja mas Arman cemburu sama cowok tadi." Lia pun berasumsi.


"Mungkin itu, bisa jadi. Orang dilihat sampai semarah itu." saut Marwa yang juga penasaran.


"Iya kali ya." celetuk Dewi.


"Mungkin aja, kan selama ini mas Arman emang kelihatan banget perhatian cuman sama mbak Laras." timpalnya menegaskan (Tati).


"Udah-udah yuk beresin dulu, nanti jam makan siang kita habis lagi cuman buat ngobrol." Dewi pun membubarkan kelompok tukang gibah.


Mereka pun membereskan kekacauan yang baru saja terjadi, dilanjutkan makan siang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Semanis Senyuman Bunga


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2