Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
tumpangan mencurigakan


__ADS_3

Ditempat lain Arman tengah makan dengan beberapa Klein nya disebuah restoran. Mereka sedang membahas proyek kerjasama mengenai penginapan untuk para traveler yang suka bertraveling ke beberapa tempat wisata.


Setelah mereka mendapatkan kerjasama dan investor juga sudah melihat proposal yang mereka ajukan, akhirnya tanda tangan kontrak pun sudah didapatkan Arman. Arman memang pemuda yang tegas dan dingin jika ditempat kerja aku lingkungan kantornya, berbanding terbalik kalo dia ada di rumah.


Arman memerintahkan assisten nya untuk merangkum semua materi yang tempo hari dibahas saat rapat di kantor dan memerintahkan menyerahkannya sesegera mungkin.


"Doni, saya minta laporan yang kemarin. Apa sudah dibuat??" Pinta Arman dengan muka datar


"Maaf Pak Arman, laporan masih belum selesai. Kemungkinan baru selesai lusa nanti." Jawab Doni cepat


"Oh ya, saya minta tolong untuk orang yang bekerja di lapangan juga memberikan laporannya segera. Saya ingin semua proyek ini lancar dan cepat." Perintah Arman dengan tegas


"Baik Pak!"


Mereka pun kembali kekantor mengendarai mobil kantor bertiga dengan supir. Sedangkan Larasati masih menunggu motornya yang tengah diperbaiki.


"Lama banget sih, hemmm.......kapan aku sampainya ke rumah sakit kalo kayak gini." Batinnya


"Semoga aja bunganya gak layu." Timpal lagi


Larasati pun berdiri melangkah mendekati tempat tambal ban, yang semula duduk dibawah pohon agak jauh dari tempat tambal ban.


"Pak....itu masih lama gak ya nambalnya???" Tanya Larasati membungkukkan badannya menengok tukang tambal ban yang tengah memperbaiki motor mogok disebelah motor miliknya.


"Belum mbak, tunggu sebentar ya. Itu masih dibakar dulu biar gak gampang lepas lemnya nanti." Ucapnya sembari menunjuk ke arah ban motor yang tengah dipanasi dengan api.


"Ohh....masih lama ya pak." Ucap Larasati memanyunkan bibirnya, muka sendu diwajahnya membuat dia semakin lesu.


"Memang kalo tambal ban itu lama mbak, tunggu aja ya mbak. Sabar!" Celetuk tukang tambal ban


Larasati melihat jam ditangannya menunjukkan jam makan siang, dia menoleh ke kanan-kiri melihat sekeliling mencari tempat makan atau warung. Perutnya sudah merasa kosong seperti ingin teriak "Cepat beri makan aku Laras"


Larasati pun bertanya pada tukang tambal ban itu "Pak, disini ada warung atau tempat makan terdekat gak ya?? Sudah waktunya jam makan siang, saya sudah mulai lapar nih!."


"Warung makan ya mbak! Ada mbak disebelah sana itu paling ujung, memang agak jauh dari sini. Ituh....di ujung paling ujung noh!" Menjelaskan menunjuk arah kejauhan yang terlihat di pertigaan jalan.


"Wahh...lumayan jauh ya Pak. Bapak gak makan siang dulu??" Tanya Larasati mengajak makan


"Gak usah mbak, saya nanti saja. Kalo saya makan nanti motornya siapa yang perbaiki." Menegaskan


"Eh...iya juga ya pak." Tiba-tiba mukanya tersenyum tipis karena baru sadar dia sudah salah bertanya.


Larasati pun pergi meninggalkan tempat tambal ban menuju warung makan diujung jalan, dia berjalan sembari memperhatikan jalanan kanan-kiri yang sepi kendaraan.


Dijalan kembali kekantor dari kejauhan Arman sepintas melihat Larasati, dia meminta supir memutar balik arah memastikan bahwa itu benar Larasati.


__ADS_1


Dan benar saja itu Larasati, Arman pun tersenyum menaikan sebelah bibirnya. Arman pun segera turun dari mobil dan bergegas menghampiri Larasati.


"Laras!!!" panggil Arman lembut dengan senyum tipis di bibirnya membuat assisten dan supirnya heran. karena itu baru pertama kali melihat Arman tersenyum karena sehari-hari hanya melihat bosnya itu bermuka datar dan dingin.


"Lho...mas Arman!" Larasati kaget tanpa sadar dia membuka mulutnya membuat Arman tersenyum lebar


"kamu ngapain disini???" tanya Arman penasaran


"Mau makan mas, Laras laper belum makan siang." membuat muka bulat hingga pipinya mengembang naik membuat Arman merasa itu sangat menggemaskan


"Ngapain makan disini??". timpal lagi


"Tadi Laras mau nganterin pesenan bunga untuk mbak Lily, cuman pas di perjalanan ban motornya kempes. Laras kira hanya butuh angin, taunya bannya bocor nabrak batu. Tadi Laras kurang hati-hati nyetirnya mas, hehehehe!!!!!" kekeh Larasati


"Hem..." kekeh Larasati menular ke Arman


"Ya sudah kamu ikut aku makan aja, nanti sekalian aku anter ke rumah sakit. Jadi kamu gak bakalan telat nganter bunganya." padahal itu hanya alasan Arman supaya dia bisa mengantar Larasati dan bisa makan siang bersama, bahkan Arman menyuruh assistennya kembali ke kantor naik taksi dan menyuruh supirnya untuk menunggu motor Larasati diperbaiki kemudian mengantarkannya ke toko bunga.


"Doni, emmm......kamu segera kembali kekantor naik taksi!" perintah Arman membuat Doni seketika kaget dengan permintaan bosnya itu, dia bingung sekaligus heran. Tumben bosnya itu mementingkan perempuan selain pekerjaannya, memang kadang dia memenangkan perempuan tapi setau dia itu hanya terhadap adik perempuannya saja.


"Baik Pak!" ucap Doni dan segera pergi mencari taksi


"Pak supir, tolong bapak tunggu motor dari toko bunga mama saya selesai diperbaiki dan juga antarkan ke tempat toko bunga keluarga saya. Dan bias saya saja yang menyetir sendiri!!" tegas Arman dengan muka datar.


"Baik Pak, ini kunci mobilnya." supir pun menyerahkan kunci mobil ke pada Arman.


"Gak apa-apa, oh iya mana kunci motornya?" pinta Arman menjulurkan tangannya meminta kunci motor.


"Akhirnya!!!!!!"batin Arman


Arman pun mengajak Larasati makan di restoran, sejak mengantarkan Larasati pulang tempo hari. Arman merasakan hal aneh di dadanya, dia merasa ingin bertemu dengan Larasati. hanya dengan melihat senyum dari Larasati saja membuat dia damai, seolah-olah senyuman itu hanya miliknya. Setelah mereka makan, Arman mengantar Larasati ke rumah satik. Diperjalanan Arman mencoba membuka obrolan.


"Gimana kerjanya hari ini Laras?" tanya Arman membuka obrolan memecah suasana yang sunyi.


"Alhamdulillah mas lancar-lancar aja, tapi tumben hari ini sibuk banget. Bahkan bang Widi sama yang lain juga ikutan nganterin bunga karena kurirnya pada kewalahan." ujar Larasati menceritakan situasi di toko Bunga.


"Habis nganter bunga kamu mau kemana?" tanya Arman sambil menyetir mobilnya.


"Ya balik lagi ke toko lah mas, kan belum jam pulang."ucap Larasati sambil tersenyum tertawa kecil karena pertanyaan konyol yang diucapkan Arman.


kenapa Arman bisa salah tingkah didepan Larasati. membuat keduanya tertawa mengingat pertanyaan barusan. Arman juga baru menyadari jika pertanyaannya itu tidak masuk akan, dia sudah tau Larasati bekerja di toko bunga milik orang tuanya tapi masih bertanya mau kemana.


Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit, Larasati bergegas turun dari mobil. Dia tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Arman, Arman bahkan menawarkan untuk menunggunya tapi Larasati menolak takut terlalu merepotkan Arman. Sedangkan Arman sendiri juga seharusnya balik kekantor malah repot-repot mengantarkan dia ke rumah satik.


Larasati masih menunggu samapi mobil Arman pergi jauh, Larasati pun masuk kedalam dan bertanya ke resepsi yang tengah bertugas.


Apa jangan-jangan Arman jatuh cinta dengan Larasati🤔🤔🤔🤔🤔???????

__ADS_1


Apa Larasati juga memiliki perasaan yang sama🤫🤫🤫🤫🤫🤫


Aku juga kepo dengan kelanjutannya ceritanya ☺️☺️


terimakasih ya sudah mampir membaca.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Senyuman Semanis Bunga


jangan lupa like dan coment ya😉

__ADS_1


tinggalkan masukan dan kritiknya


__ADS_2