Semanis Senyuman Bunga

Semanis Senyuman Bunga
hari yang sibuk


__ADS_3

Dikemudian hari ada beberapa telfon dari pelanggan yang memesan bunga, salah satu diantaranya adalah Anggara. Dia memesan bunga seperti biasa, bunga lili dan beberapa tangkai mawar Untuk hiasannya. Larasati dan karyawan yang lain saling membantu merangkai bunga pesanan, beberapa yang lain melayani pelanggan yang datang langsung membeli ditempat.


Anggara memesan buket bunga untuk kekasihnya yang berada di rumah sakit dengan jasa kurir karena dia sedang ada dinas diluar kota. Hari ini cukup banyak yang memesan menggunakan jasa kurir, bahkan karyawan yang lain sampai kewalahan melayani pelanggan.


Para karyawan laki-laki ditempat Pak Maulana pun ikut mengantarkan beberapa pesanan dari toko bunga Berkah Melati. Pesanan Anggara pun diantara oleh Larasati dikarenakan yang lain tengah disibukkan dengan pesanan-pesanan yang lain, Larasati pun mengantarkan pesanan Anggara ke rumah sakit.


"Kring...kring...kring..." Telfon berdering


"Halo, dengan toko bunga Berkah Melati. Ada yang bisa kami bantu." Sapa salah satu karyawan terhadap pelanggan (Lia).


"Saya mau pesan bunga mbak, apa bisa diantar hari ini." Tanya pelanggan dalam panggilan.


"Sebentar ya mas, saya cek jumlah pesanan dulu. Apa sanggup atau tidak hari ini untuk mengantar pesanan anda." Jawab Lia dengan ramah.


Setelah mengecek banyaknya jumlah pelanggan yang sudah masuk hari ini, Lia terpaksa mengatakan bahwa jumlah pesanan pelanggan hari ini sudah penuh dan menyuruh pelanggan untuk memesan dikemudian hari atau ditempat lain.


"Maaf mas, untuk hari ini sudah penuh. Silahkan pesan lagi besok atau kalo mas nya butuh sekarang, bisa beli ke tempat lain. Mohon maaf ya mas sebelum, bukan kamu menolak Pelanggan. Tapi memang sudah tidak sanggup untuk menerima pesanan lagi." Tutur Lia menjelaskan ditelfon


"O...gitu ya mbak, ya sudah gak apa-apa mbak. Saya pesen ditempat lain saja kalo begitu, soalnya saya butuhnya hari ini." Ujar pelanggan


"Oh iya mas, silahkan." Ucap Lia


"Terimakasih mbak kalo begitu, assallamuallaikum." Ucap pelanggan itu mengakhiri panggilan


"Iya mas, sama-sama. Waallaikumsallam." Jawab Lia


Panggilan pun berakhir


Dewi menghampiri Larasati dan bertanya apa dia bisa mengendarai motor dan punya SIM.


"Mbak Laras bisa minta tolong gak?" tanya Dewi menepuk bahu Larasati


"iya mbak kenapa?" jawab Larasati dengan nada halus.


"Mbak Laras bisa anterin pesanan bunga mas Angga gak? soalnya yang lain masih pada sibuk, kurir pun dah gak sanggup." Dewi menjelaskan ke Larasati dan menjulurkan kunci motor yang ada ditangannya.


"Oh...iya, mbak Laras punya SIM gak.?" timpal Dewi lagi


"Tenang mbak Dewi, Laras punya kok." mengisyaratkan dengan menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum.


"Oh.. syukurlah kalo gitu mbak." Dewi pun tersenyum lega.


"Bunganya tadi sudah saya taruh dikeranjang belakang motor ya mbak, naik motornya pelan-pelan aja. Takut nanti bunganya rusak, kasian yang pelanggannya kecewa." lirihnya


"Iya mbak tenang aja, oh iya. Alamatnya dimana mbak??" tanya Larasati menengadahkan tangannya meminta alamat penerima.


"Alamatnya udah saya siapin di motor mbak." jelasnya


Setelah melihat alamat yang dituju, Larasati bergegas berangkat mengantarkan pesanan bunga ke Rumah Sakit tempat Lily dirawat. Larasati penasaran dengan sosok Lily yang sangat dicintai oleh Anggara, membuat rasa penasaran Larasati tidak fokus mengendarai sepeda motornya hingga menabrak pinggiran jalan membuat ban depannya kempes.


"Duorrrrr.........."


Ban motornya pun kempes membuat jalannya oleng, Larasati pun berhenti mengecek apa yang terjadi dengan motornya.

__ADS_1


"Yah...kempes!". batinnya dengan muka lesu dan pucat


Larasati kebingungan mencari dimana tempat tambal ban terdekat, sembari menuntun motornya.


Diperjalanan Larasati melihat beberapa kendaraan melintas tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau berhenti menolongnya, tiba-tiba ada sebuah truk bermuatan berhenti didepannya. Turunlah seorang laki-laki dari kemudi depan dan menghampirinya.


"Kenapa neng motornya????" tanya supir truk itu dengan santai


"Bannya bocor pak." jawab Larasati dengan lesu kelelahan mendorong motornya.


"Mau saya tolongin gak neng???"


hemmmm......tapi harus ada ini nya." mengisyaratkan dengan menurun naikkan alisnya dan tangan sembari memainkan jari meminta imbalan kepada Larasati.


" Berapa pak?." tanya Larasati tiba-tiba wajahnya berubah cuek.


"Gak perlu banyak-banyak neng, cukup Rp 100.00;- aja." jawabnya membuat Larasati membuka mulutnya karena heran.


"Rp 40.000:- boleh gak pak??" tawar Larasati.


"Gak bisa neng, itu pun kalo mau. Gimana??? daripada dorong nyari tukang tambal ban jauh, kecapekan, keringetan." ledek supir truk itu.


" Mahal banget pak, bapak ini mau nolongin saya apa ngerampok." ucap Larasati dengan kesal


"Ya udah neng, kalo gak mau gak apa-apa." jawab sopir truk itu dan langsung melangkah menuju truknya dan pergi.


"astaghfirullah, kok ada ya orang mau nolongin tapi bukan karena pahala tapi malah minta imbalan." lirihnya dalam hati.


Beberapa menit kemudian, dari kejauhan Larasati melihat tukang tambal ban.


Larasati menghentikan langkahnya tepat didepan tempat tambak ban, dan dia segera meminta ban motornya untuk diperbaiki. Larasati pun menelfon ke toko bunga untuk menjelaskan kecelakaan yang menimpanya menimbulkan dia telat mengantarkan pesanan bunga ke rumah sakit.


Larasati fikir dia akan kena marah, tapi ternyata tidak sama sekali. karena pelanggannya itu bukan orang yang mempermasalahkan hal sepele semacam itu. Lily bukan tipe orang yang suka membesar-besarkan masalah.


"Kring...kring...Kring..."


"kring...kring...kring..."


"kok gak diangkat-angkat sih, apa masih pada sibuk kali ya."Hem.... telfon lagi kali ya."batin Larasati


"kring...kring...kring..."


"Halo, dengan toko bunga Berkah Melati. Ada yang bisa kami bantu." ucap salah satu karyawan dengan ramah(Marwa)


"Mbak ini Laras."sapa Laras


"Assallamuallaikum." timpal Larasati


"Waallaikumsalam. Iya, kenapa mbak Larasati. Ada masalah apa?" tanya Marwa


"Ini mbak, tadi ditengah jalan ban motornya kempes. Ini lagi Laras tambalin di tulang tambal ban pas mau berangkat." jawab Larasati


"Berarti bunganya belum diantar sampai tujuan doang mbak?" tanya Marwa dalam panggilan.

__ADS_1


"Belum mbak, gimana ya?? pelanggannya nanti bakalan marah gak ya? Laras takut diomelin mbak, ini kan pertama kalinya Laras antar pesanan." jelas Larasati dengan panik


"Gak apa-apa, pelanggannya pasti ngerti kok keadaan kamu. Apa lagi kalo mbak Lily, gak bakalan dimarahin kok. kamu tenaga aja ya. saya jamin!" Marwa mencoba menenangkan Larasati yang tenang panik.


"Ohhh...gitu ya mbak, syukurlah kalo gitu." ucap Larasati lega mendengar ucapan Marwa.


"iya mbak, ya udah. Saya lanjut kerja dulu ya, kasian yang lain masih pada sibuk. Oh iya mbak Laras, tadi kata Bu Melati kalo mbak Laras pulangnya telat. Mbak Laras makan siang aja sekalian diluar pake uang dari bunganya ya."Marwa menjelaskan perintah dari pemilik toko itu karena pemilik toko itu mengutamakan kesehatan untuk para karyawannya supaya tidak telat makan dan sakit.


"Iya mbak Marwa, makasih ya mbak. Assalamualaikum!." ucap Larasati mengakhiri panggilan.


"Waallaikumsalam, sama-sama mbak." Marwa mematikan telfon.


Akhirnya Larasati bisa duduk tenang sembari menunggu motornya diperbaiki, dia merasa tidak khawatir lagi masalah bunga.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih sudah membaca Senyuman Semanis Bunga

__ADS_1


jangan lupa like dan coment yaπŸ˜‰


tinggalkan masukan dan kritiknya


__ADS_2